NovelToon NovelToon
Tuhan,Izinkan Aku Berdosa

Tuhan,Izinkan Aku Berdosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Teen / Penyelamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: ulva k

Aku Laila, santriwati hafizah yang dianggap calon ustadzah. Malam itu, tangan yang biasa memegang tasbih merobek kerudungku di ruang khusus pondok. Aku lapor, aku malah diusir dan dibilang fitnah kyai.

Aku kabur ke Seruyan, melepas hijabku, dan menyamar jadi cewek nakal demi satu tujuan: membongkar topeng Kyai Rahman, sugar daddy berkedok agama yang sudah menghancurkan banyak santriwati.

"Tuhan, izinkan aku berdosa sekali saja, untuk membuka dosa orang suci."


Dengan HP jadul dan nyali yang tersisa, ia masuk ke dalam lingkarannya. Ia merekam, mengumpulkan bukti transfer, chat mesum berkedok dalil, dan daftar korban lain yang jumlahnya belasan.

Tujuannya cuma satu: naik ke panggung pengajian akbar yang dihadiri ribuan orang, dan memutar semua kebusukan itu di depan mata sang kyai.

Mampukah seorang santriwati yang sudah dilepas hijabnya mengalahkan seorang kyai yang dianggap wali?

Atau justru Laila yang akan hancur untuk kedua kalinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ulva k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 17

Ustadz Mahmud di depan pintu masih senyum. Tapi senyumnya sudah beda. Kaku.

"Laila, jangan buat drama di tahlilan ibumu sendiri. Sini kasih ke Ustadz. Ustadz simpan. Nanti kalau memang bukan fitnah, Ustadz balikin."

Dia ulur tangan lagi. Lebih dekat. Sekarang jaraknya cuma 2 meter dari aku yang duduk di pojok belakang.

Bapak yang berdiri nyuruh colokin flesdisk nya bingung. Mau bela anaknya, tapi yang di depan itu Ustadz pimpinan pondok. Orang yang selama ini Bapak percaya.

"Ustadz, kalau mau ambil flashdisknya, ambil Di tengah. Di depan foto almarhumah. Jangan di luar kayak maling. Biar semua bapak bapak dan  ibu-ibu lihat, Ustadz dari pondok ngambil paksa barang anak yatim yang ibunya baru dikubur kemarin."

Ustadz Mahmud tidak bisa maju. Kalau dia maju ke tengah dan ambil paksa di depan foto almarhumah, ibu-ibu yang lagi tahlilan pasti teriak.

Aku lihat Mami. Mami angguk ke aku. Pelan.

Aku tahu artinya. Di awal, Mami pernah bilang Jangan pernah kasih bukti asli di tempat rame. biar yang lihat cuma yang berkepentingan.

Tapi kali ini beda. Surau kayu ini rame. Tapi yang berkepentingan cuma satu Bapak ku.

Aku berdiri. Aku jalan pelan mendekati bapak

Aku tidak jalan ke Ustadz Mahmud. Aku jalan ke Bapak yang masih berdiri

"Pak..." suaraku kecil, cuma Bapak yang denger. "

Aku keluarin flashdisk merah asli dari saku. Lumpur keringnya rontok, 

Flashdisk merah itu kotor. Penuh kerak merah. Tapi tutupnya masih rapet.

"Pak, ini bukan data keuangan pondok," aku bisik, biar cuma Bapak dan Mami yang denger . "Ini video CCTV kancing ku. Di Hotel Melati Sampit. Kamar 07. Yang di dinding kos pink pudar itu 4 nama, salah satunya Kyai Rahman. Kyai Rahman itu teman Ustadz Mahmud."

Bapak lihat flashdisk kotor itu. Bapak lihat muka Ustadz Mahmud yang  sudah mulai keringetan, peci putihnya miring.

Bapak tidak ambil flashdisk itu. Bapak tarik tangan ku.

Bapak bawa aku keluar dari depan surau. Keluar dari halaman surau kayu. Ke halaman becek yang jadi kolam karena hujan semalam.

Ibu-ibu semua lihat. Ustadz Mahmud juga lihat.

Di halaman becek, ayam Bapak yang mati dua ekor kelelep kemarin masih ngambang.

Bapak berhenti di bawah pohon jambu air dekat sumur. Tempat ibu ku biasa cuci piring.

Bapak baru ngomong, kencang. Biar Ustadz Mahmud yang di pintu surau dengar juga.

"Laila, Bapak tanya sekali lagi. Di Sampit kamu jadi apa?"

Aku diam.

"Jadi LC, Pak," akhirnya aku jawab. Keras. Bukan bisik. Biar satu surau dengar dari halaman. "Alia. LC 07 di kos pink pudar Sampit. Yang Mami Asih rawat."

Satu surau yang dari tadi lanjut Yasin pelan-pelan, berhenti lagi.

Bapak  kaget. Bapak  dengar kata LC .  dengar langsung dari mulut anaknya sendiri.

Bapak jongkok. Bapak pegang ujung gamis putih ku yang kena lumpur merah kuburan ibu.

"Gamis putih ini ibu kamu setrika jam 3 subuh sebelum meninggal biar kamu pakai pas pulang jadi santriwati tapi kamu pulang jadi begini..."

Bapak nangis. Di bawah pohon jambu. Di halaman becek.

Ustadz Mahmud dari pintu surau lihat itu. Dia senyum lagi. Menang.

"Kan, Pak Haji? Sudah saya bilang, Laila itu sudah rusak di Sampit. Makanya kami mau bawa balik ke pondok untuk dibina. Sini, Laila, ikut Ustadz. Flashdisk itu biar Ustadz yang..

Apa?pak ustat nantang saya!

Apa perlu saya sebar isi flesdisk ini detik ini juga,biar semua orang tau siapa sebenarnya orang munafik yang sok suci berkedok agama itu!

Satu halaman becek yang jadi kolam itu diam. Ayam mati yang ngambang pun diam.

Ustadz Mahmud yang tadi senyum menang, senyumnya hilang total. Pecinya jatuh ke tanah becek. 

Dua santri senior di belakangnya langsung pungut peci itu. Tapi pecinya sudah kena lumpur. Putihnya jadi merah.

Mami Asih yang masih berdiri didepan surau,berjalan mendekat ke aku dan bapak

"Laila! Jangan disebar  di sini! Nanti Bapak kamu malu depan orang sekampung! Colok nanti malam di rumah! Biar Bapak lihat sendiri!"

Aku turunin tangan ku. Flashdisk merah masih di genggaman. Panasnya sudah hilang. Jadi dingin lagi. Sedinding lumpur kuburan ibu.

Jam 10.35. Tahlilan hari pertama belum selesai. Nasi berkat masih utuh di surau kayu.

Ustadz Mahmud berdiri di pintu surau, peci putihnya berlumpur di tangan santrinya, sepatu putihnya juga sudah berlumpur karena berdiri di halaman becek.

Dia tidak jadi ambil flashdisk ku. Karena sekarang kalau dia ambil paksa di halaman becek depan orang sekampung, semua akan bertanya tanya

Dia balik badan. Jalan pelan ke jalan becek. Tanpa ngomong lagi.

Dua santrinya ikut. Bawa peci berlumpur.

Aku masih berdiri di bawah pohon jambu, pakai gamis putih berlumpur kuburan ibu, pegang flashdisk merah yang isinya bisa bikin pondok itu tutup.

Bapak masih jongkok 

1
Garrel
semngat laila💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!