NovelToon NovelToon
Langgur: Peti Emas Di Bawah Pohon Keramat Revan

Langgur: Peti Emas Di Bawah Pohon Keramat Revan

Status: tamat
Genre:Horor / Penyelamat / Reinkarnasi / Tamat
Popularitas:152
Nilai: 5
Nama Author: Una Lam

Desa Langgur gempar. Tanah yang sudah basah, sumur berubah air merah, dan galian di bawah pohon mangga menemukan sesuatu yang seharusnya tidak ditemukan.

Ara tidak tahu, di bawah rumahnya ada tambang, di bawah pohon keramat Revan ada peti emas berdarah yang dijaga arwah leluhur.

Sejak peti itu dibuka, teror datang. Rumah Ara dibakar, sidang adat di kota, dan Langgur harus merdeka dari kutukan.

Pohon Revan yang tidak mau mati itu menuntut tumbal.

Apa isi peti emas di bawah akar itu? Dan kenapa bayi Revani bisa melihat Revan?

Kisah horor thriller tanah Maluku yang bikin merinding dari Bab 1 sampai Bab 35 Tamat!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Lam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 Jebakan Tanah leluhur

Kabar Dion kabur dengan motor curian menyebar cepat ke seluruh Langgur. Dalam waktu setengah jam, semua laki-laki dewasa berkumpul di balai desa yang bangunannya dari kayu dan atap seng. Wajah mereka semua tegang dan marah. Beberapa membawa parang, beberapa membawa tombak adat yang sudah berkarat, beberapa hanya membawa kayu balok.

Bapak Simon yang sudah tobat, duduk di sudut balai desa dengan kepala tertunduk malu. Luka memar di matanya masih biru. Di depannya ada Pak RT Unus, Ara, Mama Ino, dan Bu Ani yang menggendong anaknya.

"Dion pasti balik lagi. Dia anak orang kaya, dia punya uang banyak. Dia bisa sewa polisi, sewa tentara, sewa preman dari kota. Kita cuma warga kampung biasa, kita tidak bisa lawan mereka pakai parang saja," kata Pak RT Unus dengan suara berat. Tongkat kayunya diketuk-ketuk ke lantai kayu balai desa.

Jali mengangkat parangnya. "Kita lawan saja Pak RT! Kita sudah dua kali menang lawan mereka! Pohon keramat kita kuat!"

"Tidak," potong Ara dengan cepat. Semua orang langsung menoleh ke Ara yang masih memakai jaket hitam Revan yang berlumuran darah pohon yang sudah mengering menjadi warna coklat kehitaman. "Pohon keramat kita baru sembuh. Tadi pagi daunnya baru tumbuh tunas kecil. Kalau kita paksa dia perang lagi sekarang, dia bisa mati beneran. Revan juga masih lemah, aku dengar detak jantungnya pelan tadi."

Mama Ino mengangguk setuju. "Ara benar. Kita tidak bisa pakai kekuatan arwah terus. Kita harus pakai kekuatan manusia. Otak kita."

Bapak Simon yang dari tadi diam, tiba-tiba mengangkat kepalanya. "Saya... saya tahu cara mereka. PT. MALUKU EMAS SEJAHTERA itu punya cara kotor. Mereka akan bawa surat palsu yang bilang tanah Langgur adalah tanah negara, bukan tanah adat. Mereka akan bawa polisi untuk bilang kita duduki tanah negara secara ilegal. Lalu mereka akan gusur paksa. Saya pernah lihat mereka lakukan itu di desa sebelah, Desa Ohoi, tahun lalu. Desa Ohoi hilang sekarang, jadi lubang tambang besar."

Mendengar cerita Desa Ohoi yang hilang, semua warga merinding ketakutan. Mereka tidak mau Langgur jadi lubang tambang.

"Lalu kita harus gimana, Bapak Simon? Kamu kan Kepala Desa, kamu yang tahu urusan surat-surat," tanya Bu Ani dengan nada masih marah tapi sudah lebih pelan.

Bapak Simon berdiri dengan kaki masih gemetar. "Kita harus buktikan kalau tanah Langgur adalah tanah adat yang sudah ada ratusan tahun sebelum Indonesia merdeka. Kita harus cari bukti tua. Di rumah adat tua di ujung hutan, ada batu tulis peninggalan nenek moyang Kei. Di batu itu tertulis batas-batas tanah adat Langgur. Kalau kita bisa temukan batu itu dan bawa ke kota untuk dilegalkan, perusahaan tambang tidak bisa gusur kita, karena tanah adat dilindungi undang-undang."

Pak RT langsung menepuk jidatnya. "Batu Tulis Leluhur! Ya ampun, saya lupa! Batu itu ada di dalam hutan larangan, hutan yang tidak boleh dimasuki sembarangan karena banyak arwah penjaga! Sudah lima puluh tahun tidak ada yang berani masuk ke sana!"

Semua warga saling pandang. Hutan larangan itu memang terkenal angker di Langgur. Konon, siapa yang masuk tanpa izin adat akan hilang dan tidak pernah kembali. Bahkan pemburu babi hutan yang paling berani sekalipun tidak berani masuk ke sana.

Ara yang mendengar itu, tanpa ragu langsung berdiri. "Aku yang masuk. Aku pakai jaket Revan, Revan pasti jaga aku. Aku harus ambil batu itu sebelum Dion balik lagi. Dion pasti balik besok pagi, kita tidak punya banyak waktu."

"Jangan, Ara! Terlalu berbahaya! Kamu masih kecil! Biar bapak-bapak yang masuk!" teriak Mama Ino panik sambil memegang tangan Ara erat.

Tapi Ara sudah bulat tekadnya. "Mama, cuma aku yang bisa bicara sama Revan dan arwah penjaga. Kalau bapak-bapak yang masuk, bisa-bisa malah dimakan arwah hutan larangan. Aku yang harus masuk."

Akhirnya, setelah debat panjang, diputuskan Ara akan masuk ke hutan larangan ditemani oleh Jali dan Edo, dua pemuda yang paling berani dan yang sudah ikut menggali kubur Revan. Pak RT Unus akan pimpin doa adat di depan mulut hutan untuk minta izin masuk.

Sore itu juga, jam empat sore, ketika matahari sudah mulai miring ke barat dan kabut kuning sudah hilang total, Ara, Jali, dan Edo berjalan menuju hutan larangan di ujung utara Langgur. Hutan itu terlihat gelap dari luar, pohon-pohonnya sangat besar dan tinggi, akarnya melilit-lilit seperti ular raksasa. Tidak ada suara burung di dalam hutan itu, hanya keheningan yang mencekam.

Di mulut hutan, Pak RT Unus sudah menunggu dengan obor dan sesajen berupa sirih pinang dan beras kuning.

"Ingat, jangan bicara kotor di dalam, jangan ambil apa pun selain batu tulis, dan jangan menoleh ke belakang kalau dengar ada yang panggil nama kalian dari belakang. Itu bukan manusia, itu penjaga hutan," pesan Pak RT dengan suara serius.

Ara mengangguk, memeluk jaket hitam Revan erat, dan melangkah masuk pertama kali ke dalam hutan larangan.

Begitu masuk lima langkah, udara langsung berubah sangat dingin, padahal di luar panas terik. Cahaya matahari tidak bisa masuk karena daun-daun pohon yang sangat lebat di atas. Tanah hutan itu lembab dan penuh lumut tebal. Bau tanah tua yang lembab menyengat hidung.

Jali dan Edo yang di belakang Ara mulai gemetar ketakutan.

Baru berjalan sepuluh menit masuk ke dalam, mereka mendengar suara gamelan pelan dari dalam hutan, padahal tidak ada orang yang main gamelan di Langgur. Suara gamelan itu diikuti dengan suara tawa anak-anak kecil yang bermain.

"Jangan menoleh! Terus jalan lurus! Cari batu besar yang ada ukiran!" bisik Ara sambil terus berjalan, jantungnya berdebar sangat kencang, tapi jaket hitam Revan di badannya terasa hangat, seperti ada yang memeluknya dari belakang.

Setelah berjalan hampir setengah jam di dalam hutan yang gelap dan dingin, mereka melihat cahaya kecil berwarna putih di kejauhan, di tengah hutan.

Mereka berjalan mendekati cahaya itu.

Cahaya itu berasal dari sebuah batu besar setinggi dua meter, batu hitam yang berdiri tegak di tengah hutan. Batu itu penuh dengan ukiran aksara kuno Kei yang tidak bisa dibaca Ara, tapi di bawah ukiran itu ada ukiran peta sederhana yang menggambarkan pantai, gunung, dan pohon mangga besar. Dan di atas batu itu, duduk seorang perempuan tua berambut putih panjang yang kemarin muncul bersama Revan di atas pohon mangga raksasa, nenek moyang keluarga Ara.

Nenek moyang itu tersenyum melihat Ara.

"Kamu akhirnya datang, cucu. Aku sudah tunggu kamu lima puluh tahun," kata nenek moyang itu dengan suara lembut tapi menggema di seluruh hutan.

Ara berlutut di depan batu itu. "Nenek, kami butuh batu ini untuk selamatkan Langgur. Perusahaan mau ambil tanah kami."

Nenek moyang itu mengangguk pelan. "Ambil. Batu ini memang untukmu. Tapi ingat, kalau kamu bawa batu ini keluar, kamu harus jaga tanah ini sampai mati. Karena darahmu sudah bercampur dengan darah pohon keramat itu. Kamu sudah jadi penjaga baru."

Nenek moyang itu menyentuh dahi Ara dengan jarinya yang dingin. Seketika itu juga, semua ukiran aksara kuno di batu besar itu menyala terang berwarna emas, dan batu besar itu mengecil dengan sendirinya menjadi batu kecil seukuran buku tulis, ringan dan bisa dibawa.

Jali dan Edo yang melihat itu langsung bersujud ketakutan.

Ara mengambil batu kecil yang menyala emas itu dan memeluknya. Batu itu hangat, seperti detak jantung.

Dari luar hutan, tiba-tiba terdengar suara deru mesin truk yang sangat banyak dan suara sirine polisi yang meraung-raung.

Dion sudah kembali, lebih cepat dari yang mereka kira. Dia tidak menunggu besok pagi, dia kembali sore ini juga.

Dan dari dalam hutan, terdengar suara Revan berteriak dari arah desa, "Ara! Cepat! Mereka bakar rumahmu!"

Ara, Jali, dan Edo langsung berlari keluar dari hutan larangan sambil membawa batu tulis leluhur yang menyala emas itu, berlari sekencang mungkin kembali ke desa yang sudah terlihat asap hitam tebal membubung tinggi di langit sore.

Rumah Ara dibakar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!