Empat kehidupan, satu takdir terlarang. Di balik aura Antartika sang putri tersembunyi, ada pengawal Yakuza yang rela menantang maut demi melindunginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KimiHaruka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka....
Malam makin melarut saat jarum jam di dinding kayu kediaman utama klan Uchiha menunjuk ke angka sebelas malam.
Dua saudara kembar Uchiha yang baru saja keluyuran membelah malam kota Tokyo naik motor Ducati akhirnya tiba di rumah. Suara deru mesin superbike Sasuke meluruh seiring pintu garasi yang tertutup rapat.
Begitu melangkah masuk ke lorong rumah utama, dua bocah ini menunjukkan kelakuan yang bener-bener bertolak belakang.
Sasuke, dengan wujud si kadal gurun yang malas, langsung ngeloyor masuk ke kamarnya tanpa niat mandi sedikit pun. Baju jaket kulitnya dilempar asal ke lantai, dan dalam hitungan detik, dia sudah nempel di atas kursi gaming-nya, menyalakan Monitor OLED curved 49 inci milik pribadinya, lalu hanyut dalam dunia game online sambil teriak-teriak sendiri lewat headset.
Sementara itu, Yoona melipir ke kamarnya untuk membersihkan diri. Rasa lengket bekas angin malam di atas motor langsung dibasuhnya di bawah guyuran air hangat.
Usai mandi, Yoona berganti pakaian menggunakan gaya casual-chill favoritnya.
Yoona mengenakan Moon Embroidered Tank Top warna putih bersih dari Kuddy—sebuah atasan tank top crop berpotongan ketat yang memamerkan pinggang mulusnya dengan bordiran bulan sabit kecil di bagian dada. Bawahannya dipadukan dengan Loose Cargo Pants warna hitam yang bagian pinggangnya sengaja diturunkan dan dilipat putih gaya folded-waistband, membungkus kakinya yang jenjang dengan sangat modis. Rambut hitamnya yang masih agak basah diikat asal gaya messy bun.
REFERENSI OUTFIT by JENNIE BLACKPINK
Padahal, sebelum pulang tadi Yoona dan Sasuke sudah sempat makan. Tapi dasar Yoona, menjelang tengah malam begini perutnya mendadak berulah. Lidahnya gatal pengin makan yang pedas-pedas dan berkuah.
"Pengin Samyang kuah telur..." gumam Yoona sendirian di depan cermin.
Dengan langkah santai, putri tunggal klan Uchiha itu melangkah menuju dapur bersih di area tengah rumah.
Di sinilah bencana yang sesungguhnya dimulai.
Selama ini, seluruh urusan perut dan kenyamanan Yoona di rumah selalu dilayani penuh oleh Hatake Kakashi. Mulai dari menyeduh teh, memotong buah, sampai memasak makanan hangat tengah malam, Kakashi adalah koki pribadi yang paling siap siaga. Yoona pada dasarnya adalah seorang putri yang manja dan tahu bersih.
Tanpa kehadiran Kakashi malam ini, Yoona nekat mau unjuk gigi di dapur.
Yoona mulai menyalakan kompor induksi, menaruh panci stainless steel kecil, dan memotong sedikit daun bawang untuk garnish.
SRET!
"ADUH!" jerit Yoona kaget, mengibaskan tangannya cepat-cepat.
Baru saja tiga detik memegang pisau dapur, ujung pisau stainless steel itu sukses menyayat tipis ujung jari telunjuk kirinya! Darah merah segar menetes kecil. Yoona merintih sambil menyumpah-nyumpah di depan talenan.
"Dapur sialan! Kenapa pisaunya tajam banget sih?!" omel Yoona kesal, cepat-cepat membilas jarinya di air kran dan menempelkan plaster transparan asal-asalan.
Tak kapok, Yoona lanjut memasukkan mi Samyang pedas ke dalam air mendidih. Begitu mi matang, Yoona yang tidak sabaran langsung menjangkau tangkai panci tanpa menggunakan lap kain penahan panas.
SZZZT!
"ARGH! PANAS! ANYING!" jerit Yoona heboh, refleks melepaskan tangkai panci hingga air kuahnya sedikit berkecimpung.
Kulit telapak tangan dan ibu jari mulusnya seketika memerah akibat memegang besi panas tanpa pelindung. Yoona memegangi tangannya yang terasa terbakar dan berdenyut nyeri, matanya sampai berkaca-kaca menahan perih.
Dan puncak kesialan malam itu terjadi hanya sepuluh detik kemudian.
Saat Yoona sedang meringis sambil mengibas-ngibaskan tangannya yang merah, siku tangannya tanpa sengaja menyenggol ponsel baru berharga puluhan juta—iPhone 18 Pro Max warna titanium milik pribadinya—yang tergeletak di tepi meja marmer.
PRANG! BRAK!
Ponsel canggih itu melayang dan jatuh menghantam lantai marmer keras dengan posisi telungkup!
Keheningan melanda dapur selama tiga detik.
Yoona berdiri mematung. Tangan kirinya berdarah kena pisau, tangan kanannya merah merona kena panci panas, dan ponsel barunya kini tergeletak meratapi nasib di lantai marmer dapur.
"ANYINGGGGGGG APESS BANGET HIDUP GUE KALAU GAK ADA KAKASHI!" jerit Yoona frustrasi setengah mati, hampir nangis di tempat sambil memukuli udara kosong.
Dengan emosi membuncah dan fisik terluka tipis-tipis, Yoona akhirnya menuangkan mi Samyang-nya ke dalam mangkuk porselen, menyambar ponselnya yang untungnya dilapisi cased tebal, lalu berjalan tertatih ke living room.
Yoona menghabiskan mi pedas maut itu di atas sofa sambil menonton TV dengan muka cemberut maksimal. Usai kenyang dan rasa perih di tangannya mulai mereda oleh rasa kantuk yang berat, Yoona bahkan tidak sanggup membereskan mangkuk kotornya di atas meja kaca. Yoona meringkuk di sofa kulit, memeluk bantal, lalu tertidur lelap begitu saja.
Sementara di saat yang bersamaan... puluhan kilometer dari rumah utama, suasana di kawasan gudang tua Pelabuhan Tokyo berada di titik paling berdarah.
RAT-TAT-TAT-TAT!
BANG! BANG! BANG!
Suara muntahan peluru otomatis dari senapan serbu menggema memecah kegelapan malam dermaga pelabuhan. Percikan api menyala-nyala di antara tumpukan kontainer besi.
Malam ini adalah malam pembantaian.
Di balik asap tebal dan kilatan peluru, sosok Hatake Kakashi bergerak bagaikan malaikat pencabut nyawa yang tak terlihat. Pria berusia 30 tahun itu mengenakan taktis kemeja hitam yang lengannya digulung rapi, dengan masker hitam menutupi wajahnya. Tangan kanannya menggenggam pistol Glock-17 bersenang suppressor (peredam suara).
CHKP! CHKP!
Dua tembakan presisi tanpa suara bersarang tepat di kepala dua prajurit bayaran musuh yang mencoba menahan posisi. Kakashi bergerak lincah, memutar tubuhnya, lalu mengunci leher pengawal ketiga dengan lengan kekarnya sebelum mematahkannya dalam satu sentakan dingin.
KRAK!
Di sisi lain gudang, Yamato beraksi dengan gaya brutalnya yang mengerikan.
Pria bertato itu tidak menggunakan senapan panjang. Yamato maju menyerak barisan peretas musuh hanya berbekal sepasang pisau komando Yakuza (tactical blade). Tatanan tato naga di lengan tegapnya berkilat terkena cipratan darah musuh. Yamato menebas, menusuk, dan meratakan lima orang lawan yang mengepungnya dalam waktu kurang dari satu menit, sebelum menyapu kaki musuh terakhir hingga tersungkur di lantai semen yang basah.
"Gudang sektor barat bersih, Kakashi-san," ujar Haneda lewat earpiece, sambil menenteng laptop taktis yang baru saja merebut seluruh server data peretas secara paksa.
Kakashi melangkah pelan di antara puluhan tubuh musuh yang tergeletak di lantai. Aura membunuh (killing intent) yang dipancarkan Kakashi malam ini bener-bener berada di level paling pekat dan mengerikan. Siapa pun yang berani mengganggu kestabilan Uchiha Group dan keselamatan Yoona tidak akan dibiarkan bernapas.
Tiba-tiba, dari balik bayangan kontainer yang gelap, seorang sisa anggota musuh yang terluka nekat menarik pelatuk submachine gun.
TA-TA-TAK!
Kakashi bereaksi secepat kilat, memutar badan dan menembak mati pria itu tepat di dadanya. Namun, satu gesekan peluru nyasar (grazing bullet) sempat menyapu lengan atas tangan kiri Kakashi.
SREK!
Kain kemeja hitam Kakashi robek tipis, memperlihatkan luka goresan panjang yang mengeluarkan darah segar mengalir menyusuri lengan bertatonya.
Yamato yang melihat hal itu melangkah mendekat dengan pisau bersimbah darah. "Kakashi-san, lengan Anda terluka."
Kakashi melirik lukanya sekilas dengan tatapan mata yang sangat dingin dan tak berkedip. Bagi seorang eksekutor Yakuza veteran, luka goresan peluru seperti ini tidak ada bedanya dengan gigitan nyamuk.
"Hanya goresan," sahut Kakashi datar, menurunkan peredam suara pistolnya. "Bersihkan tempat ini tanpa sisa. Saya harus segera pulang."
"Siap," sahut Yamato lempeng, mulai mengoordinasikan tim pembersih bawah tanah untuk meratakan tempat itu.
Pukul tiga subuh.
Suara deru mesin Range Rover hitam milik Kakashi mendarat halus di pelataran rumah utama Uchiha. Angin malam yang dingin berhembus lembut mengiringi langkah tegap Kakashi yang memasuki kediaman tradisional tersebut.
Aroma bau bubuk mesiu dan sedikit jejak darah masih menempel di kemeja hitamnya yang robek di lengan kiri. Kakashi melepaskan sepatu botnya, melangkah perlahan di koridor kayu agar tidak membangunkan penghuni rumah.
Tujuannya hanya satu: memeriksa keadaan Yoona.
Begitu melangkah masuk ke area living room, pandangan mata Kakashi seketika melunak hangat.
Di atas sofa kulit yang luas, Yoona sedang tertidur lelap.
Gadis itu meringkuk miring dengan gaya tidur yang sangat manis dan polos. Tank top putih Kuddy dan celana cargo hitamnya tampak sedikit berantakan. Selimut tipis yang biasanya terpasang rapi sudah merosot ke lantai.
Di atas meja kaca di depannya, tergeletak mangkuk porselen bekas mi Samyang yang sudah dingin, bersama satu botol minuman dan sebuah ponsel iPhone 18 yang posisinya miring di dekat meja.
Kakashi menyunggingkan senyum hangat yang luar biasa tampan di balik maskernya. Pria dewasa itu menggeleng-gelengkan kepala pelan melihat pemandangan menggemaskan di depannya.
Kakashi melangkah mendekati sofa tanpa suara. Dia membungkukkan tubuhnya, mengambil mangkuk kotor bekas makan Yoona, lalu meletakkannya di pantry dapur dengan pelan agar tidak menimbulkan bising.
Namun, saat Kakashi kembali ke sofa dan hendak menarik selimut untuk membungkus tubuh Yoona, matanya yang tajam menangkap sesuatu.
Kakashi terpaku.
Di tangan kanan Yoona, kulit telapak tangan dan ibu jari halus gadis itu tampak memerah memar bekas luka bakar ringan. Dan di jari telunjuk tangan kirinya, menempel sebuah plaster transparan yang terpasang asal-asalan dengan sisa noda darah kering.
DEG.
Aura dingin Yakuza yang tadinya menyelimuti Kakashi seketika sirna total, berganti dengan rasa iba, bersalah, dan kehangatan yang dalam.
"Nuna..." bisik Kakashi sangat halus.
Kakashi duduk bersimpuh di lantai kayu tepat di sebelah sofa Yoona. Tanpa memedulikan lengan kirinya sendiri yang masih meneteskan darah tipis dari balik kemeja robeknya, Kakashi berfokus penuh pada tangan Yoona.
Dengan gerakan yang amat sangat lembut—seolah sedang menyentuh porselen paling rapuh di dunia—jemari besar Kakashi meraih tangan Yoona. Pria berusia 30 tahun itu mengusap lembut bagian kulit Yoona yang memerah bekas kena panci panas, membiarkan kehangatan ibu jarinya menenangkan kulit halus sang putri.
Sensasi usapan lembut itu membuat Yoona terusik tipis dari tidurnya.
"Eunngg..." lenguh Yoona halus.
Mata jernih Yoona terbuka sedikit, masih sangat berat oleh kantuk subuh. Penglihatannya samar-samar menangkap sosok tinggi tegap yang sedang berlutut di sebelah sofanya. Aroma familiar—perpaduan antara wangi kayu cendana, aroma dingin malam, dan sedikit jejak mesiu—seketika menyapa indera penciumannya.
"Ka... Kakashi?" gumam Yoona serak dan manja, suaranya khas orang baru bangun tidur.
Kakashi menurunkan masker hitamnya hingga ke bawah dagu. Pria tampan itu mengukir senyuman yang begitu tulus, lembut, dan penuh pengabdian di depan wajah Yoona.
"Saya pulang, Nuna," bisik Kakashi sangat pelan.
Yoona memajukan wajahnya sedikit, meraih lengan Kakashi. Tapi saat jemarinya menyentuh lengan kiri Kakashi, Yoona merasakan kain kemeja pria itu basah dan lengket.
Mata Yoona seketika terbuka lebar, kantuknya hilang separuh. "Kakashi! Lengan kamu... darah?!"
Kakashi tersenyum tipis, meremas tangan Yoona yang terluka dengan sangat lembut. "Hanya goresan kecil, Nuna. Tidak perlu khawatir."
Kakashi lalu menatap telapak tangan Yoona yang memerah dan jari bertempel plaster. "Lebih penting ini... kenapa tanganmu bisa terluka seperti ini, hm? Apa yang kamu lakukan di dapur saat saya tidak ada?"
Mendengar pertanyaan itu, Yoona seketika mengerucutkan bibirnya manja maksimal. Sisi ice queen dan baddest girl-nya meluap tanpa sisa di depan Kakashi.
"Aku... aku tadi mau bikin Samyang kuah," aduh Yoona serak sambil menyembunyikan wajah cantiknya di dada tegap Kakashi. "Terus pisaunya jahat, jariku terpotong! Terus pancinya panas banget, tanganku terbakar! Terus HP baruku jatuh! Dapur rumah ini jahat banget kalau gak ada kamu!"
Kakashi terkekeh rendah—sebuah tawa serak yang amat sangat hangat dan seksi di kesunyian subuh.
Tangan besar Kakashi melingkar erat di pinggang Yoona, menarik tubuh gadis itu ke dalam dekapan hangatnya. Kakashi mendaratkan ciuman dalam dan hangat di dahi Yoona, lalu berpindah menyapu luka bakar memerah di telapak tangan Yoona dengan kecupan-kecupan lembut penuh kasih sayang.
"Maafkan saya, Nuna... maafkan saya karena terlambat pulang dan membiarkanmu terluka," bisik Kakashi dalam dan serak tepat di telinga Yoona. "Mulai besok... kamu tidak boleh menyentuh dapur sama sekali. Biar saya yang menyiapkan apa pun yang kamu mau, kapan pun kamu butuh."
Yoona menyunggingkan senyum cantiknya yang amat sangat manis. Yoona menyusupkan wajahnya di leher Kakashi, menghirup aroma tubuh pria yang sangat dicintainya itu dengan tenang.
"Janji ya?" gumam Yoona manja.
"Janji, Nuna. Selamanya," sahut Kakashi lembut, mengangkat tubuh Yoona dari sofa dan membawanya ke dalam dekapan hangatnya untuk beristirahat bersama menyambut fajar Tokyo.
...----------------...
FYI : Cerita ini mengandung sedikit unsur kekerasan, adegan dewasa dan Age Gap (Cinta beda usia), bagi yang tidak suka boleh skip aja.
Cerita ini hanya fiksi belaka, tidak ada hubungan dengan tokoh atau organisasi manapun. Mohon bijak dalam membaca dan berikan komentar, saran, atau kritik yang sopan dan membangun. Arigatou Gozaimasu.