Sejak kecil, Alkina selalu tahu bahwa dirinya berbeda di mata kedua orang tuanya. Di rumah, Sisil selalu mendapatkan apa pun yang diinginkan. Ketika Sisil meminta uang, orang tua mereka memberikannya tanpa banyak bertanya. Ketika Sisil melakukan kesalahan, mereka selalu mencari alasan untuk membelanya. Bahkan ketika Alkina berprestasi dan berusaha membuat orang tuanya bangga, keberhasilannya dianggap biasa saja. Berbeda dengan Sisil, Alkina justru selalu dituntut untuk mengalah. "Kamu itu jangan egois... Apa susahnya sih mengalah." Kalimat itu sudah terlalu sering ia dengar. Alkina terbiasa melihat hadiah mahal diberikan kepada Sisil, sementara dirinya hanya mendapatkan barang bekas. Ia terbiasa bekerja membantu pekerjaan rumah, sementara Sisil bebas menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Sampai Alkina berada di titik dimana ia berhenti berharap. Ia tidak lagi meminta dibelikan sesuatu. Tidak lagi menceritakan prestasinya. Tidak lagi menunggu ucapan bangga dari kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fianaqila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 3 pergi tanpa dicari
Pagi itu rumah keluarga Wiratmaja tampak sibuk seperti biasa.
Ranti dan Sisil sedang sarapan bersama sambil membahas pesta ulang tahun mewah yang tinggal beberapa hari lagi.
“Mama, nanti dekorasinya warna putih gold ya. Aku nggak mau yang murahan, aku akan malu banget nanti kalau sampai itu terjadi.” ujar Sisip manja sambil memainkan ponselnya.
Ranti tersenyum lembut.
“Tentu sayang. Semua yang terbaik buat kamu, nak. Mama akan pastikan pesta ulang tahun kamu akan sangat mewah dan megah.”
“Makasih ya mama, mama memang paling sayang aku.” Ucapnya manja. Sisil sengaja melakukan itu untuk membuat Alkina iri dan menunjukkan bahwa dirinya adalah satu-satunya anak kesayangan mamanya.
Sementara di dapur, Alkina berdiri diam sambil menuangkan teh. Matanya sembab karena semalaman tidak tidur, namun tidak ada yang peduli, tidak ada yang bertanya apakah ia baik-baik saja, tidak ada yang sadar bahwa hatinya sudah benar-benar hancur.
“Alkina!”
Bentakan Ranti terdengar lagi. Alkina buru buru menghampiri mamanya.
“Kamu tuli ya? Nasi gorengnya asin banget, kamu mau bunuh saya hah!”
Ranti langsung berdiri lalu menekan kepala Alkina hingga wajah Alkina mengenai nasi-nasi yang ada di dalam piring milik Ranti, wajah Alkina langsung memerah karena nasi gorengnya masih sangat panas.
“Maaf, bu…” hanya itu yang keluar dari mulutnya, tidak ada teriakan kepanasan karena wajahnya terkena nasi goreng panas.
“Kerja aja nggak becus, dasar beban, pembawa sial kamu!”
Sisil tertawa kecil sambil menyeruput jusnya. Biasanya Alkina hanya akan diam dan menahan semuanya, namun pagi ini terasa sangat berbeda.
Ia sudah sangat lelah, menanggung semua beban, penderitaan yang sumber utamanya adalah mama kandungnya sendiri.
Kali ini Alkina tidak lagi menunduk seperti biasanya, tatapannya perlahan tertuju pada Ranti.
“Kalau Ibu memang sangat membenciku…”
Suasana mendadak hening, Sisil yang sarapan sambil bermain ponsel pun menghentikan aktivitasnya dan sekarang perhatiannya tertuju pada anak dan ibu kandung itu.
“…kenapa dulu melahirkan aku? Kenapa tidak gu***kan saja aku, kalau pada akhirnya aku ini tidak diinginkan, hanya beban bagi kalian.”
Deg.
Wajah Ranti langsung berubah dingin.
“Sudah mulai berani kamu ya?”
“Aku capek…” suara Alkina bergetar. “Aku benar-benar capek disalahkan terus.”
“Berani sekali kamu melawan!”
“Aku tidak memb*nuh bang Arkan!”
Plak! Plak!
Dua tamparan kali ini jauh lebih keras dari biasanya. Tubuh Alkina sampai jatuh membentur meja makan.
“Jangan sebut nama Arkan!” Ranti berteriak histeris. “Kamu tidak pantas menyebut nama dia!”
Air mata Alkina jatuh. “Aku juga kehilangan dia…”
“Kamu penyebabnya!” Ranti menunjuk Alkina dengan tangan gemetar.
“Seharusnya malam itu yang ma** kamu, bukan putra aku!”
Kalimat itu membuat dunia Alkina runtuh seketika sunyi. Bahkan Sisil yang biasanya senang melihat Alkina disiksa pun tampak terkejut.
Alkina itu perlahan berdiri, da*ah tipis mengalir dari sudut bibirnya akibat benturan tadi.
“Kalau gitu bu*** aku sekarang.” Ucap Alkina menyodorkan pis** buah yang tergeletak di atas keranjang buah yang ada di atas meja makan.
Ranti terdiam, ia tidak menyangka anaknya bereaksi seperti itu. Apa anaknya benar-benar sudah lelah bertahan atau berpura-pura untuk menarik perhatiannya?
Sementara Setiawan yang baru turun dari lantai atas membeku mendengar ucapan istrinya.
“Ranti!” bentaknya marah, Setiawan juga langsung membuang pis** yang ada di tangan anaknya itu, namun semuanya terlambat, karena mata Alkina sudah kehilangan cahaya.
Ia menatap mamanya lama sekali. Tatapan yang mengandung makna dalam, tatapan itu seperti tatapan terkahir untuk mamanya. Tidak ada kebencian di sana. Hanya luka, luka yang terlalu dalam untuk dijelaskan, luka yang terlalu dalam untuk disembuhkan.
“Baik,” bisiknya lirih.
Ranti masih terengah emosi. “Mau bikin ulah apa lagi?”
Alkina tersenyum tipis senyum paling menyedihkan yang pernah Setiawan lihat.
“Aku akan pergi. Aku tidak akan muncul lagi di hadapan ibu.”
Jantung Setiawan langsung terasa jatuh. “Alkina jangan bicara seperti itu nak…”
“Tapi setelah ini…” air mata gadis itu mengalir deras, “tolong jangan cari aku lagi. Biarkan aku hidup di luar sana atau pun ma** di luar sana tanpa kalian melihatnya.” Setelah mengucapkan itu, Alkina pergi dari sana.
Sisil yang mendengar itu sangat bahagia, tanpa ada yang menyedari ia tersenyum bahagia, karena ia akan menjadi satu-satunya anak dari keluarga Wiratmaja, akan menjadi putri tunggal keluarga Wiratmaja
******
Malam harinya rumah terasa aneh, erlalu sepi. Tidak ada suara langkah kaki Alkina. Tidak ada suara piring dicuci, tidak ada aroma makanan sederhana yang biasa ia buat oleh Alkina.
Karena gadis itu benar-benar pergi, ia hanya membawa tas kecil berisi beberapa pakaian dan uang yang ia miliki.
Tidak ada surat, tidak ada pesan, hanya kamar kosong yang tersisa. Setiawan berdiri mematung di depan kamar putrinya. Sementara Ranti mencoba terlihat biasa saja.
“Paling juga balik lagi,” katanya dingin, namun jemarinya gemetar saat berbicara.
Sisil duduk di sofa sambil diam. Entah kenapa suasana rumah terasa tidak nyaman sekarang. Biasanya ia senang saat Alkina dimarahi, tapi kali ini ia benar-benar pergi dan rumah itu mendadak terasa kosong.
******
“untung saja aku mendapatkan kosan.” Alkina bersyukur karena ia bisa mendapatkan kosan seblum tengah malam.
“semoga ini awal yang baik.” Ucap Alkina penuh harap.
Meskipun ia berat meningalkan keluarganya namun ia juga sudah tidak sanggup terus tinggal bersama mereka yang selalu menyakiti dirinya.
Hari pertama tidak ada kabar.
Hari kedua. Ponsel Alkina tidak aktif, Setiawan mulai panik, sementara Alkina baru saja mendapatkan pekerjaan, ia bekerja di sebuah restoran mewah dengan gaji yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya.
“Alhamdulillah, akhirnya aku mendaptkan pekerjaan.” Ucap Alkina penuh syukur.
Ia bekerja sebagai pencuci piring di restoran itu.
Hari ketiga. Setiawan semakin panik dan khawatir.
“Kamu dimana nak?”
“Kamu terlalu lebai deh mas, dia pasti balik.”
Sungguh Setiawan tidak habis pikir dengan istrinya. Istrinya masih saya yakin anaknya akan kembali, padahal sudah sangat jelas tidak akan kembali.
“Aku mau lapor polisi,” katanya tegas. Ia tidak mau buang waktu lagi. Ia tidak mau menyesal untuk yang kesekian kalinya.
Ranti langsung berdiri. “Untuk apa? Dia cuma cari perhatian!”
“Cukup! Sampai kapan kamu seperti ini hah? Alkina Itu anak kita!” Ranti terdiam sesaat, namun egonya masih terlalu besar.
“Dia akan kembali kalau sudah lapar. Kamu jangan terlalu berlebihan. Dia itu tidak punya tempat untuk di tuju, tidak ada yang akan menampung dia... dia juga tidak akan mampu bertahan hidup di luar sana. Dia tidak punya uang untuk ia gunakan di luar sana.”
“Aku rasa yang kamu ucapkan tidak akan terjadi, dia punya tekad yang kuat dan dia punya prinsip. Entah mengapa aku merasa dia tidak akan pernah kembali lagi. Dia punya kemampuan, dia bisa bekerja.”
“kamu mulai lagi deh mas... Aku bisa pastikan dia akan kembali ke rumah ini.” meskipun begitu dalam hatinya, ia meragukan apa yang telah ia ucapkan tadi.