Zhafira Nayara Humaira, gadis berparas cantik, namun yatim piatu. Memiliki kepribadian lembut, ramah dan tegas dalam bersikap. Kini sedang berkuliah lewat jalur beasiswa.
Tak sedikit Mahasiswa yang ingin menjadikan pacar tapi selalu ia tolak secara halus, karena ia tak ingin fokusnya terganggu. Hingga ia menerima Bryan, pria yang selalu ada untuknya. Mereka memutuskan untuk menikah siri dan tinggal di aparteman yang sama.
Setelah wisuda selesai, Bryan izin pulang ke Jakarta, Zhafira sering mual dan muntah. Di tengah ketidaknyamanan, Zhafira tak sengaja menyaksikan siaran langsung di TV. Brian, suaminya sedang melangsungkan pertunangan dengan wanita cantik, elegan.
Seketika dadanya seperti tertusuk jarum besar, perih dan menyakitkan. Bersamaan itu ia baru saja mengetahui kalau dirinya sedang hamil.
Bagaimana ia menghadapi kenyataan pahit itu? Mampukah ia bertahan demi nyawa yang dikandungnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tientien AQuariuzz Girllzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 KEJUTAN
Hari ini Fira dan dua sahabatnya akan melakukan sidang skripsi.
Tasya meremas tangan Fira erat, jemarinya terasa dingin karena gugup. "Fir, aku benar-benar deg-degan Fir!" suara lirih Tasya terdengar sedikit gemetar.
Elena yang juga ikut memberikan dukungan kepada ketiga sahabatnya, lalu menepuk pundaknya Tasya dengan lembut, "Kamu itu harus tenang, Sya. Kamu sudah menyiapkan semuanya berbulan-bulan lamanya Jangan sampai hanya perkara gugup, semua itu lenyap dalam ingatanmu. Padahal semua data, analisis dan jawaban-jawaban sudah kamu hafal di luar kepala. Kalau kamu terus-terusan gugup nanti saat masuk ke dalam ruangan sidang kamu akan kesulitan menjawabnya. Percayalah pada kerja kerasmu sendiri selamanya ini."
Fira menggenggam tangannya Tasya sambil menepuknya pelan-pelan. "Benar yang diucapkan Elena, Sya. Kamu harus tenang, kita sudah berjuang sampai titik ini. Ingat juga, apapun hasilnya nanti ini adalah kerja keras kita selama hampir empat tahun. Yuk narik napas, lalu buang pelan-pelan dan ulangi beberapa kali, Insya Allah kamu tenang kembali. Lihat Zafran saja, tenang," ujar Fira menyemangati sahabatnya, meskipun ia sendiri gugup.
Belum sempat mereka mengobrol lebih lama, petugas pengumuman memanggil nama-nama yang pertama akan masuk ke dalam ruang sidang.
Nama yang pertama kebetulan yang panggil Tasya dan Zafran. Mereka menghela napas sambil menyemangati dirinya sendiri.
"Tasya, Zafran kamu pasti bisa!" seru Elena dan Fira.
Mereka berdua berjalan ke arah pintu ruang sidang. Zafran mengetuk pintu, lalu masuk ke dalam ruang sidang.
Detik berubah berganti menit, namun pintu ruangan sidang belum juga terbuka, Fira dan Elena saling pandang mendoakan Tasya dan Zafran semoga nggak ada masalah dan bisa menjawab semua pertanyaan dari dosen penguji.
Tiba-tiba ada bunyi pintu dibuka. Muncullah dua sahabat mereka yang keluar dari sana dengan wajah penuh kelegaan.
"Bagaimana sidangnya, Sya, Fran?" tanya Fira dan Elena dengan serempak.
"Huh" bunyi helaan mereka berdua.
"Alhamdulillah kami lulus, Fir, El!" teriaknya Tasya langsung memeluk tubuh kedua sahabatnya sambil menangis bahagia, segala cemas dan takut yang tadi mendera lenyap begitu saja digantikan rasa haru dan suka cita.
"Alhamdulillah selamat buat kalian berdua!" serunya Fira dan Elena lagi.
Sementara Fira gantian yang di panggil untuk masuk ke dalam ruang sidang bersama satu teman lain kelas.
Mereka bertiga gantian mendoakan Fira semoga nggak ada masalah. Sejauh ini rahasia pernikahan mereka masih terjaga rapat. Bryan sengaja memilih menunggu di rumah, agar keberadaan nggak ada yang curiga.
Meskipun ia nggak hadir, tapi doa selalu dipanjatkan untuk kelancaran sidang istrinya.
Pintu ruangan sidang terbuka perlahan dari dalam, dan keluarlah Fira dengan wajah ceria penuh kebahagian.
"Wah lihat itu! Wajahnya kelihatan ceria banget pasti lulus. Nggak mungkin salah hahahaha?!" seru Tasya dengan agak keras, Fira berlari memeluk tubuh kedua sahabatnya itu.
"Alhamdulillah, aku mendapatkan nilai sempurna hahahaha," ujar Fira dengan heboh.
"Wah selamat, Besty! Kamu memang yang terbaik pokoknya! Gimana nih mau dirayakan sekarang atau kita nunggu sidangnya Elena besok pagi. Kan Elena sidangnya besok, biar bisa senang bareng-bareng. Kalau sekarang kasian Elena, ia harus konsentrasi dulu dengan sidangnya," usul Tasya.
Zafran mengangguk setuju, "Mending besok saja, setelah Elena dinyatakan lulus baru kita rasakan bareng-bareng atau kita langsung liburan ke Villa saja. Untuk mendinginkan kepala yang sudah mendidih ini."
Mereka mengangguk kepala serempak tanda setuju, lalu beriringan menuju area parkir sambil saling mengobrol sesekali mereka tertawa.
Sesampainya di parkiran mobilnya, Fira berucap, "Kalian harus hati-hati. Untuk Elena harus istirahat yang cukup jangan begadang, takutnya besok justru nggak bisa bangun pagi!" pesan Fira kepada para sahabatnya
"Siap, Fir. Kalau begitu kami pulang dulu, kamu juga harus hati-hati bawa mobilnya."
Setelah saling perpamitan, Fira lalu masuk ke dalam mobilnya. Ia menjalankan pelan-pelan keluar dari area parkiran.
☆☆☆♡♡♡♡☆☆☆
Sementara Bryan yang sudah mendapatkan kabar, kalau Fira lulus sidang skripsinya. Ia langsung membuat kejutan kecil-kecilan untuk istrinya.
Sepuluh menit berlalu, pintu pagar terbuka otomatis, Bryan berdiri di belakang rumahnya.
Begitu Fira membuka pintu, matanya seketika membelalak lebar tak percaya. Di hadapannya suaminya mengulurkan bufet bunga mawar merah yang tersusun indah, rapi, jangan lupakan bau harumnya.
"Selamat atas kelulusanmu, Sayang. Semoga kedepannya kamu menjadi wanita karier yang sukses. Tapi jangan sampai lupa kewajibanmu sebagai istri ya, Yang," ucap Bryan tegas, seakan tak mau dibantah.
Fira terharu, matanya berkaca-kaca mendapatkan kejutan dari suami tercintanya. "Terima kasih ucapannya, doanya dan kejutannya, Mas. Semoga besok kamu juga lulus dengan nilai yang memuaskan," ucap Fira tulus sambil mengambil buka dari tangan suaminya.
"Amin amin ya robbal'alamin."
"Cantik!" seru Fira.
"Masih cantikan kamu, Yang!" seru Bryan menanggapi ucapannya Fira.
Fira yang mendapat gombalan dari suaminya, seketika wajahnya berubah merah, malu. Ia langsung berlalu dari hadapan suaminya, masuk ke dalam rumah.
"Huh, kamu itu belajar gombal dari siapa sih, Mas?" tanyanya setelah duduk di sofa ruang keluarga.
Bryan terkekeh melihat pipi istrinya bersemu merah, lalu ia mengikuti istrinya masuk ke ruang keluarga dan duduk di sebelahnya.
"Aku nggak perlu belajar dari orang lain, Yang. Kalau untuk berbicara romantis denganmu, hahahaha," jawab Bryan sambil tertawa.
Tiba-tiba rumahnya di ketuk dari luar, Bryan beranjak dari duduk berjalan ke arah pintu rumahnya. Ia langsung membuka pintunya.
Tra..taa!
Terdengar suara cempreng Elena yang bersorak, dikuti Tasya, Zafran dan kedua orang tua Zafran sudah berdiri di depan pintu rumahnya.
Fira yang menyusul suaminya ke depan kaget siapa yang datang ke rumahnya. Katanya tadi mau besok syukurannya tapi ini apa? Mereka ke rumahnya membawa beberapa kantong plastik di tangan mereka.
"Ayo silahkan masuk dulu, Pa, Ma. Katanya besok saja sekalian nunggu Elena dan Mas Bryan sidang. Kok sekarang sudah bawa makanan yang banyak begitu?" ucap Fira sambil tersenyum heran dan menyuruk mereka masuk ke dalam rumahnya.
Bryan membantu membawakan makanan itu ke meja makan, suasana yang biasanya sepi hanya Bryan dan Fira. Sekarang ramai dengan kehadiran ketiga temannya dan orang tuannya Zafran.
Nyonya Sintya tersenyum lembut mendengar pertanyaan dari Fira, "Ini bentuk syukur kita semua, Nak. Dan kali ini Mama yang mentraktir kalian semua. Katanya besok setelah kalian selesai sidangnya, kalian punya rencana mau berlibur ke Villa kan?"
"Terima kasih, Ma...semoga rezekinya bertambah banyak!" seru mereka bertiga dengan serempak.
Fira mengambil piring, sendok dan gelas secukupnya. Sementara itu Tasya membantu membuka makanan, lalu dipindahkan ke dalam piring yang sudah disiapkan oleh Fira.