NovelToon NovelToon
Zombie Cordyceps

Zombie Cordyceps

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Zombie / Hari Kiamat
Popularitas:227
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Ketika kebocoran fasilitas riset menyebarkan mutasi jamur pembawa wabah kematian, dunia runtuh dalam hitungan hari dan mengubah manusia menjadi mayat hidup yang dikendalikan spora ganas. Di tengah kekacauan Kota Mati, Luna harus memimpin empat penyintas lain, Steve si petarung, Nancy sang peretas, Endru si tenaga medis, dan Onad sang mekanik humoris. untuk bertahan hidup dari kejaran monster cordyceps dan ancaman kejam kelompok penyintas manusia lainnya. Di antara semak sisa peradaban, adegan penjarahan yang menegangkan, serta benih-benih cinta yang hangat di tengah malam kelam, mereka harus memperebutkan satu-satunya wilayah safe zone yang tersisa. Mampukah naluri survival dan ikatan manusiawi membawa kelimanya selamat, ataukah mereka justru hancur oleh kejamnya sesama penyintas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35 - PETA WILAYAH

Raungan halus mesin diesel berturbo milik truk rakitan Onad bergema tenang membelah kesunyian Jalan Utama Distrik Barat. Setelah berhasil mengisi penuh empat jeriken besi serta tangki utama kendaraan di SPBU, perjalanan mereka terasa jauh lebih mantap. Onad mengarahkan truk berlapis baja itu memasuki sebuah gang pemukiman yang terlindung di balik deretan ruko tua, mematikan mesinnya di bawah naungan atap garasi terbuka bekas area ekspedisi barang.

Keheningan kembali menyelimuti area sekitar tatkala deru mesin benar-benar padam. Di atas bak truk yang berdinding plat baja tebal, kelima penyintas berkumpul melingkar. Embusan angin pagi yang sejuk membawa kesegaran di antara mereka, mengusir sisa-sisa aroma minyak solar dan darah kering dari pertempuran di pelataran SPBU tadi.

Nancy meletakkan tablet digitalnya di atas kotak kayu logistik. Jarinya yang lentur dengan lincah menggeser peta Sistem Informasi Geografis (SIG) berbasis data citra satelit lokal yang berhasil diunduh secara luring sebelum jaringan internet kota terputus total.

"Perhatikan layar ini," tutur Nancy seraya membetulkan kacamata tebalnya dan menatap seluruh rekan-rekannya.

Steve memajukan tubuh tegapnya, menopang kedua tangannya di atas paha seraya mengamati pendaran garis-garis hijau dan merah di layar tablet. Luna berdiri tegap di sisi kanan, memosisikan busur recurve-nya di bahu seraya memperhatikan fokus taktis yang ditunjukkan Nancy.

"Ini adalah pemetaan zonasi Distrik Barat," terang Nancy dengan vokal jernih yang memancar kecerdasan.

"Titik biru ini adalah posisi kita sekarang di area pemukiman sepi. Jika kita menyisir ke arah timur sejauh delapan ratus meter, di persimpangan jalan komersial utama, ada sebuah minimarket besar bertingkat dua," paparkan Nancy mendetail seraya memperbesar tampilan peta di layarnya.

Endru yang duduk merapat di samping Nancy memiringkan kepalanya, mengamati nama minimarket yang tertera di peta digital tersebut.

"Minimarket 'Giga Mart' ini..." gumam Endru seraya membetulkan posisi kacamatanya yang agak miring.

"Aku ingat tempat ini, Nancy. Ini minimarket grosir terbesar di Distrik Barat yang biasanya menyuplai kebutuhan bahan pangan untuk puluhan toko kecil di sekitarnya," tambah Endru membagikan memorinya.

Nancy berpaling menatap Endru, menyunggingkan senyum manis yang hangat dari balik kacamatanya. "Tepat sekali, Endru. Karena fungsinya sebagai pusat grosir lokal, minimarket ini punya kapasitas gudang bahan makanan yang sangat melimpah."

Onad yang merangkak naik ke bak truk seraya membawa botol air minum menyela seraya menyunggingkan cengiran tirusnya dari balik kacamata merah.

"Aduh, Mbak Nancy Cantik! Minimarket sebesar itu bukannya pasti sudah ludes dijarah warga waktu hari pertama kiamat ya?" tanya Onad seraya memanyunkan bibirnya dramatis.

"Logikanya memang begitu, Onad," jawab Nancy tenang dan penuh keyakinan.

"Tapi aku sudah memeriksa data sistem keamanan terpadu dan rekaman sinyal darurat kota sebelum jaringan terputus. Waktu kebocoran lab pertama kali memicu kepanikan massal, pengelola Giga Mart langsung menurunkan pintu rana baja otomatis (*rolling door*) tebal di seluruh akses masuk utama untuk mengunci gedung dari luar," jelas Nancy membeberkan analisa data intelijennya.

Luna menyipitkan matanya, mengamati struktur bangunan di layar tablet dengan cermat. "Artinya, isi di dalam minimarket itu kemungkinan besar masih utuh dan belum pernah tersentuh oleh penjarah."

"Persentase kemungkinan ketersediaan pasokan makanan kaleng, air mineral botolan, hingga bahan pokok di dalamnya mencapai delapan puluh lima persen," tegas Nancy mantap.

Steve menepuk meja kayu kencang seraya tertawa bangga, menatap Nancy dengan rasa kagum yang tinggi. "Luar biasa, Nancy! Pemetaanmu ini benar-benar harta karun buat keselamatan kelompok kita!"

Nancy merona merah mendengarkan pujian Steve, menunduk malu seraya merapatkan jemarinya di tepi tablet. Endru yang berada di sisinya tersenyum lembut, menyentuh pelan punggung tangan Nancy untuk menyalurkan apresiasi tulus atas kecerdasan wanita tersebut.

"Kemampuan teknologimu luar biasa, Nancy. Tanpa kamu, kita cuma bergerak meraba-raba di dalam kegelapan," bisik Endru dengan vokal penuh kehangatan emosional.

Nancy menatap balik mata Endru dari balik kacamata tebalnya, merasakan gelombang kedekatan yang kian erat membalut hubungan mereka di tengah kepungan dunia Cordyceps.

Onad memutar-mutar kunci inggris raksasanya di udara seraya mengibaskan sarung tangan kain merahnya dengan gaya centil.

"Aduh, Eke sudah membayangkan lorong-lorong makanan kaleng itu!" seru Onad riang seraya mengedipkan sebelah matanya.

"Ada sosis kaleng, daging kornet, biskuit renyah, sama teh kemasan manis! Perut Eke yang kencot ini rasanya langsung menyanyikan lagu gembira!" lanjut Onad memancing tawa renyah dari seluruh anggota kelompok.

Luna yang berdiri memantau kondisi lingkungan luar dari atas bak truk memutar tubuhnya, memfokuskan perhatian pada taktik pergerakan selanjutnya.

"Sektor minimarket itu adalah target operasi logistik utama kita," kata Luna dengan nada vokal yang mantap dan tegas.

"Tapi ada satu hal penting yang harus kita perhitungkan dalam rute pergerakan ini," lanjut Luna seraya mengarahkan pandangan matanya ke jalur lorong di luar garasi.

Steve menegakkan posisi duduknya, menatap Luna penuh kesiapan. "Maksudmu akses jalan menuju ke sana, Luna?"

Luna mengangguk halus. "Jalur menuju Minimarket Giga Mart menembus lorong pemukiman padat dan persimpangan komersial yang dipenuhi oleh bangkai mobil pribadi yang terbengkalai. Lorongnya terlalu sempit dan penuh hambatan fisik untuk dilalui kendaraan berat seperti truk Onad."

"Kalau kita paksakan bawa truk masuk ke gang sempit itu, raungan mesinnya bakal memancing kerumunan 'Toge Mentah' dari dalam rumah-rumah toko, dan truk kita bisa terjebak tidak bisa putar balik," tambah Luna membeberkan risiko taktisnya.

Onad memanyunkan bibirnya, mengangguk setuju seraya menepuk bodi baja kendaraan kesayangannya. "Ibu Komandan benar pisan! Mobil ganteng Eke ini jagoannya jalan raya lebar, tapi kalau disuruh masuk gang tikus yang penuh mobil rosok, nanti baret-baretnya makin parah!"

"Jadi apa rencana taktis kita, Luna?" tanya Steve mantap seraya mencengkeram erat pipa besi tebalnya.

Luna menyapu pandangan ke wajah keempat anggotanya satu per satu, menyalurkan arus kepemimpinan yang dingin namun amat menenangkan jiwa.

"Kita amankan truk Onad di tempat tersembunyi ini," perintah Luna jelas.

"Lalu seluruh tim akan bergerak menyusur rute pemukiman sepi menuju minimarket secara berjalan kaki," pangkas Luna menentukan strategi pergerakan.

"Berjalan kaki memberi kita fleksibilitas bergerak senyap, memanfaatkan celah bangunan untuk bersembunyi, dan menghindari deteksi suara dari kerumunan monster," lanjut Luna menerangkan pertimbangan taktisnya.

Steve mengacungkan jempol tegapnya seraya menyunggingkan senyum khasnya yang penuh keberanian. "Setuju penuh! Pipa besiku dan panahmu siap menjaga barisan jalan kaki kita."

"Aku sudah mencetak rute jalan kaki paling sepi melintasi gang-gang perumahan di tablet ini, Luna," kata Nancy siap seraya menyerahkan lembar peta digitalnya.

Endru membetulkan tali pipa besi hollow-nya, berdiri tegap di samping Nancy dengan senyum yang memancarkan keteguhan hati. "Aku siap melangkah bersama kalian."

Di balik atap garasi tua yang aman dan terisolasi itu, kelima penyintas utama telah menyatukan tekad dan strategi pergerakan mereka. Dengan Peta Wilayah yang jelas di tangan, ketajaman analisis Nancy, kepemimpinan taktis Luna, serta rasa saling percaya yang makin kokoh, kelompok ini siap melangkah menembus lorong pemukiman sepi menuju target logistik utama di Kota Mati Cordyceps.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!