NovelToon NovelToon
Dipaksa Menerima Wanita Itu

Dipaksa Menerima Wanita Itu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mandul / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati
Popularitas:140.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Empat tahun lamanya mengarungi bahtera rumah tangga, dan tepat di ulang tahun pernikahan yang seharusnya disambut bahagia, Arjanti harus menelan kecewa, dipaksa memberi izin suaminya menikah lagi.

Mertuanya terus menekan, melimpahkan kekurangan ada pada dirinya yang tak kunjung hamil, sementara mereka ingin segera menggendong cucu.

Sang suami yang awalnya menentang keras saat dipaksa menikah lagi, lama kelamaan setuju dengan alasan ingin menimang anak.

Pada akhirnya, Arjanti harus berbagi suami. Tinggal satu atap dengan wanita bermuka dua, berambisi menjadi istri tunggal.

Lantas, bagaimana kehidupan Arjanti pasca pria yang dicintai segenap jiwa itu menghadirkan wanita lain selain dirinya?
Apa benar kalau dia memang mandul?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DMWI : 20

“Aku hamil!” Saila mengacungkan stik pipih dan sebuah benda mirip pengukur suhu tubuh.

“Ha — hamil?!” Darti melotot sempurna, mulutnya menganga.

Herlan menjatuhkan sendok dalam genggaman. Dia bak orang linglung mendengar kabar telah dinanti sekian tahun dari istri pertama, namun tak kunjung datang. “Sai, Saila … cintaku, kamu barusan bilang apa?”

“Hamil, Mas. Aku hamil!” Saila memekik, lalu sebelah tangan mengelus perut tertutup gaun tidur selutut. “Di dalam sini ada anak kita, Sayang. Bayimu!”

“Apa?!” Herlan otomatis beranjak, mendorong kursi hingga berbunyi berderit. Dia mengikis jarak, matanya berkaca-kaca ketika merengkuh tubuh Saila.

“Sayangku, cintanya Mas, terima kasih sudah mewujudkan keinginan yang sebelumnya hanya sebatas mimpi tanpa berani meminta lebih ke wanita tak bisa memberi keturunan.” Wajah istri muda dicium bertubi-tubi. Dia tidak melihat sosok berdiri membelakangi lainnya, sedang mencuci piring.

Arjanti tetap membilas alat makannya sendiri. Baru saja menghabiskan semangkuk sereal sebagai menu sarapan pagi. Tak ada perubahan pada ekspresi tenang, sebaliknya, dia mengusap perutnya.

“Aku terharu, seneng banget, Mas. Gak nyangka bisa hamil disaat usia pernikahan kita baru sebulan,” Saila tergugu dalam dekapan lembut suaminya.

“Kalau aslinya subur ya gitu, cepat hamil. Gak perlu nunggu bertahun-tahun, tiap hari minum vitamin, jamu penyubur kandungan, eh, tau-tau sudah mengandung,” sengaja volume suaranya dinaikan agar sang menantu pertama mendengar jelas.

“Sini Saila, Mama pengen ngelus perut kamu. Mau tau gimana rasanya menimang cucu masih dalam kandungan ibunya!” pintanya dengan antusias berlebihan.

Saila melepaskan pelukan suaminya, lalu mendekati sang ibu mertua.

“Sehat-sehat ya, Nak! Kalau bisa laki-laki, biar nanti jadi penerus bisnis keluarga Doko.” Darti mengusap-usap perut masih datar.

Doko pun berseru. Mimik mukanya sumringah. “Bawa Saila ke toko mas, belikan apapun yang dia mau. Terus ajak juga jalan, belanja sana! Biar Bapak yang bayari!”

Wajah Saila berseri-seri. Tentu senangnya bukan main. Koleksi perhiasan akan bertambah. “Terima kasih, Pa.”

Darti pun tidak mau kalah. “Makannya di restoran mahal, jangan pedagang kaki lima. Mulai perkenalkan pada calon cucuku tentang status sosial orang tuanya yang kaya.”

“Pasti, Ma.” Herlan merangkul pundak Saila. “Apapun permintaan Saila bakalan aku turuti.”

Lewat kaca jendela dapur, Arjanti menatap sepasang suami-istri berpelukan, dan tidak tau tempat berciuman bibir meski sekedar kecupan dalam.

Pembantu baru bernama mbak Lasti, mencuri-curi pandang ke wanita yang seolah tidak terpengaruh. Istri pertama Herlan tampak tenang, santai.

“Ma, apa boleh aku minta sesuatu?” Saila mulai memanfaatkan kesempatan atas kehamilannya.

“Katakanlah, Nak!” ucap lembut suara wanita yang apabila berbicara dengan menantu pertama selalu bernada tinggi, sinis.

“Selama trimester pertama kehamilan ini, apa boleh mamaku tinggal disini. Soalnya aku sedikit takut, ini memang bukan kehamilan pertama, namun menjadi hal pertama aku mengandung dengan status istri kedua.” Ekor matanya melirik Janti yang mengelap tangan sehabis mencuci mangkok.

Tanpa berpikir dua kali, Darti langsung mengiyakan. Besannya baru pulang ke rumahnya sendiri dua minggu lalu. “Sampai kamu melahirkan pun boleh. Mama malah seneng punya temen ngobrol, biar sedikit reda sakit kepala kalau udah kepikiran perempuan gagal jadi wanita karena gak bisa hamil.”

Astuti terkikik. Dia asik makan kue putu bambu sembari menonton gosip pagi dari ponselnya.

Setelah sekian menit larut dalam euforia menyambut calon anaknya, Herlan baru sadar kalau disana ada istri pertamanya.

Diapun mendekati Janti, menarik lembut tangan kurus itu tanpa permisi.

“Sayang, bentar lagi Mas bakalan punya anak. Kamu juga akan menjadi ibu meski bukan dirimu yang mengandung, melahirkan. Tapi tetap saja, buah hati Saila, juga anakmu.” Herlan berdiri di depan istri kedua.

Saila bersedekap tangan. Sengaja menekan bagian bawah dada agar gaun tidurnya mengetat pada perut.

Tentu Janti paham apa yang diinginkan oleh wanita hendak pamer itu. Ia pun tersenyum tipis. Jenis senyum lepas tanpa beban, apalagi menyimpan dendam.

“Selamat ya, Saila. Jangan lupa, segera periksakan kehamilanmu ke rumah sakit. Dan kamu, Mas.”

Janti memeluk lengan pria yang sedari tadi terus menerus tersenyum bahagia. “Dampingi Saila, tanyakan betul ke dokter kandungan maupun bidan, usia kehamilannya sudah berapa minggu.”

“Apa maksudmu, Janti?!” Saila tersinggung, terlebih melihat mimik muka biasa saja. Padahal dia sudah membayangkan istri pertama suaminya bakalan menangis, paling tidak matanya berkaca-kaca.

“Gak ada maksud apa-apa. Sungguh!” Bahu naik turun, bersikap acuh tak acuh. “Kan wajar mempertanyakan usia kehamilan ke bidan? Biar nanti gak salah hitung, dan tepat waktu membeli perlengkapan bayi. Bukankah kamu sudah pernah hamil dua kali, masa gak paham akan hal itu?”

“Tapi nadamu, tatapan mata juga, seolah meragukan kalau bayi yang aku kandung ini anaknya mas Herlan!” suaranya meninggi.

“Arjanti!” bentak pria yang langsung menepis tangan istri pertamanya. Herlan mencengkram pundak ringkih hingga empunya sedikit meringis kesakitan. “Mas tau kamu sedih, tapi gak bisa membenarkan sifat iri dengki sampai menuduh Saila main api dibelakangku!”

Dia tidak mengeluh, tak pula memohon dilepaskan, padahal pundaknya terasa perih. Ditatapnya lama, dalam, mata yang dulu memandang penuh damba. “Teruskan! Katakan apapun itu yang bisa membuat hatimu merasa puas karena sudah meredakan amarah calon ibu dari anakmu, Herlan Doko.”

Tangan yang mencengkram erat perlahan mengendur. Dan mata memerah penuh amarah, kini bergetar ketika menyadari baru saja dia gagal mengendalikan diri.

Arjanti turunkan tangan suaminya. Cara bicara masih sama, sopan, enggan menaikan intonasi. “Ingat baik-baik ucapanku ini, Mas! Takkan pernah kamu temukan orang yang sama di dalam raga serupa seandainya suatu hari nanti dia memilih mundur daripada bertahan dengan pria berotak dangkal.”

“Kamu berpendidikan, seorang pengusaha, dan juga berwawasan luas. Namun sayang, semua itu tertutup oleh kebodohan hakiki yang aku yakin, suatu hari nanti akan kamu sesali.” Janti menepuk lengan besar tertutup kaos, kemudian dia berlalu.

Ketika melewati Saila, senyum miringnya dilengkapi dengan tatapan mata rumit. Membuat sang madu terperanjat.

Suasana haru, bahagia, terganggu oleh kalimat ambigu, penuh teka-teki Arjanti.

“Jangan dipikirkan! Dia cuma iri! Herlan, bawa istrimu jalan-jalan. Toko biar diurus bapakmu!” Darti memecah keheningan.

Herlan menggelengkan kepala guna mengusir pikiran yang sempat dikuasai praduga tak terkendali. Dia merangkul pundak istri muda. “Hari ini, kuras harta suamimu, cintaku.”

Saila memekik kesenangan. Dia tertawa ketika badannya dibopong, lalu dibawa naik ke lantai dua.

Sementara itu, di dalam ruangan bersebelahan dengan kamar Darti. Arjanti mengeluarkan koper miliknya yang dibelikan sang ibu dengan cara mencicil.

Resleting bagian dalam koper ditarik, lalu amplop coklat besar, tebal, dikeluarkan.

Sepasang buku nikah, dan selembar kertas berlogo nama sebuah rumah sakit diletakkan pada lantai granit putih.

Arjanti mengeluarkan ponsel dari saku celana, membuka aplikasi kamera, dan mulai memotret. Hasil foto disimpan dalam galeri khusus yang diberi nama — kado dariku.

“Jika bertahan hanya kesakitan yang kudapatkan, lantas apa sekarang waktunya?”

.

.

Bersambung.

1
Fitriyazahra
4 bab untuk hari ini...yeayy mksh kaka
Sri Rahayu
maju trus jnti gx usah tanya2 biar tak bantu dari sini..🤣🤣 emosi Uda diubun2.. hbis ne Thor buatt Janti ketemu orka dan jdi juragan kaya dikampung..law author na yg tak datangi 🤭🤭🤭
Andriani
👍👍👍👍
Lilik Lailiyah
mantep janti
🍤⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
bagus janti, pilihan yang tepat, klo herlan g mau, kamu yg dluan maju ke PA. sdh cukup kamu bersabar dan jadi wanita bodoh yang cuma di manfaatin.
mamaqe
cakeeppp...tokoh utama pilihan otor sll luar biasaaahhh karakternya
Sri Wahyuni
hajar 🫵👊👊👊
Eli Rahma
alhamdulillah akhirnya janti sadar
Eli Rahma
jijik bgt denger ngomong sayang,tapi gda buktinya
Rahmawati
bagus janti bulatkan Tekadmu, jgn mau lagi diam drmh itu begelar istri tl tdk dihormati
yuyun Rahayu
ditunggu updatenya ny lagi kak cublik buat si Parlan itu mendem kecubung , kehilangan si njati,dn setelah itu hdp Parlan di peloroti sma jablay nya itu biar nyaho
Arin
Dirimu pun berhak bahagia Janti..... Tunjukkan pada Herlan nanti bahwa dirimu bukan lah mandul. Dirimu bisa mendapatkan keturunan. Tapi pasangan mu bukan Herlan. Biar mantan suamimu nanti berfikir jadi..... siapa yang sebenarnya mandul???? 😁😁😁
Engkar Sukarsih
dasar bahlul kamu herlan 🤬🤬🤬dulu kamu dah di buang seperti sampah sama tu kunti.eh...do...do..e malah di pungut lagi sampahnya😤😤😤
Nabila Nabil
aku... aku tak maju neng pengadilan... kesuwen... aku tak seng dadi Hakime... tak ketok palu gadangku neng sirahe herlan.... 😤😤😤😤
Engkar Sukarsih
bagus Janti lepaskan lelaki brengsekmu itu 😤😤😤😤
Nabila Nabil
janti.... langsung sat set tendang manukke..... 😤😤😤😤
Arin
Akhirnya Janti mengambil keputusan yang tepat. Biar pun itu berat. Tapi itu adalah keputusan yang baik. Daripada terus makan hati.....
Nabila Nabil
Herlan mandul.... 🤣🤣🤣
Nabila Nabil
alhamdulillah ya allah... pulang janti... pulang wae ketimbang mangan ati... mending mangan tahu tempe tapi kumpul....
Nabila Nabil
ibumu aja melarang mereka duduk disofa kampret😤😤😤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!