NovelToon NovelToon
38.000 Langkah Ke Hatimu

38.000 Langkah Ke Hatimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Time Travel
Popularitas:30
Nilai: 5
Nama Author: Yanto Hl

Aurora kira pertemuannya dengan Bima cuma kebetulan. Tapi semakin dekat, semakin dia sadar cowok itu menyembunyikan banyak hal — dia tahu hal-hal yang belum pernah diceritakan siapa pun, dan selalu bicara soal "38.000 langkah" yang belum selesai.

Saat Bima akhirnya berjanji akan datang menemuinya, justru kabar kecelakaan yang datang. Bima pergi, meninggalkan sebuah kotak misterius. Dari sana Aurora mulai menelusuri jejak Bima, dan menyadari bahwa pertemuan mereka sama sekali bukan kebetulan. Bima sudah berjalan jauh, melewati banyak hal berat, cuma untuk sampai ke hatinya.

Walau tak bisa bertemu lagi, cinta Bima sudah sampai tujuan di hati Aurora, selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 — Cerita yang Mulai Dibagikan

Pagi itu matahari bersinar terang banget. Cahayanya masuk lewat celah jendela dan jatuh tepat di atas tumpukan kertas yang sudah kutulis rapi dari awal sampai akhir. Aku duduk di pinggir kasur, menatap tumpukan kertas itu lama banget, jantungku berdebar campur aduk. Rasanya kayak ada bagian dari diriku sendiri yang terbaris di sana. Kalau aku bagikan ini ke orang lain, berarti mereka akan tahu semuanya kan? Tentang Bima, tentang pertemuan kita di taman, tentang sore-sore yang sederhana tapi berarti banget, tentang kepergiannya yang sampai sekarang kadang terasa kayak baru kemarin aja. Ada rasa takut yang muncul. Takut kalau cerita ini nggak cukup bagus, takut kalau orang-orang nggak ngerti maksudku, takut kalau aku salah ingat sesuatu dan mengubah makna sebenarnya. Tapi di sisi lain, ada dorongan yang lebih kuat dari rasa takut itu. Aku ingat betul kata-kata Bima. Kalau sesuatu itu baik, jangan disimpan sendirian. Bagikan ke orang lain. Mungkin ada yang butuh dengar cerita ini, supaya mereka nggak menyesal nanti, supaya mereka lebih menghargai orang yang ada di dekat mereka sekarang sebelum terlambat. Itu alasan terbesar kenapa aku mau membagikannya. Bukan untuk dipuji, bukan untuk terkenal, cuma supaya kebaikan yang pernah Bima berikan ke aku bisa sampai ke hati orang lain juga.

Aku bangkit perlahan, merapikan tempat tidur, terus mandi dan sarapan dengan tenang. Nggak perlu terburu-buru. Hari ini cuma langkah kecil aja. Aku nggak akan langsung kirim ke mana-mana atau kasih tahu semua orang sekaligus. Aku cuma mau baca ulang sekali lagi dari halaman pertama sampai halaman terakhir, pastikan nggak ada yang mau kuubah, pastikan setiap kata yang tertulis memang benar-benar dari hatiku, bukan karena aku mau terlihat sedih atau dramatis. Ini cerita jujurku, dan aku mau menjaganya dengan jujur juga. Aku duduk di meja belajar, tarik napas dalam-dalam, lalu mulai membaca pelan-pelan. Setiap paragraf bikin aku teringat kembali momen itu. Pas bagian pertama kali kita menyapa, aku senyum sendiri. Pas bagian dia kecelakaan, dadaku terasa sesak lagi walau aku udah membacanya berkali-kali. Pas bagian surat terakhirnya, air mataku menetes pelan di atas kertas. Saat selesai membaca kalimat terakhir, aku menutup bukuku dan mengangguk pelan. Semuanya sudah pas. Nggak perlu diubah apa-apa. Sederhana, nggak sempurna, tapi jujur banget. Dan kejujuran itu yang paling penting kan? Bima juga selalu begitu. Dia nggak pernah pura-pura jadi orang lain. Dia cuma jadi dirinya sendiri, dan itu udah cukup untuk membuat siapa pun merasa diterima apa adanya.

Siang harinya aku keluar rumah buat cari tempat yang tenang. Aku mampir ke kedai kopi kecil di ujung jalan, tempat yang suasananya nyaman banget, nggak terlalu ramai, cuma ada musik pelan yang menemani. Aku duduk di pojok dekat jendela, pesan teh manis hangat, terus taruh tumpukan kertas itu di sebelahku. Dari jendela aku bisa lihat orang-orang lewat di luar. Ada ibu yang pegang tangan anaknya sambil tertawa, ada dua sahabat yang jalan bareng sambil cerita dengan antusias, ada sepasang kekasih yang berjalan pelan sambil saling bercerita. Semua orang punya cerita masing-masing ya. Nggak ada yang tahu apa yang sedang dipikir atau dirasakan orang lain di balik senyum mereka. Itulah kenapa setiap kebaikan sekecil apa pun itu berarti banget. Kita nggak pernah tahu beban apa yang sedang dipikul orang di sebelah kita.

Aku buka ponselku perlahan. Jari-jariku terasa agak berat pas mengetik judulnya. 38.000 Langkah ke Hatimu. Lalu aku tulis sedikit pengantar pendek aja, nggak panjang lebar. Cerita ini bukan soal kesedihan atau kehilangan. Ini soal seseorang yang datang mengajarkanku cara mencintai dengan tulus, walau waktunya cuma sebentar. Semoga cerita ini mengingatkan kamu untuk bilang apa yang mau kamu bilang, selagi orang yang kamu sayang masih ada di sana. Jangan tunggu sampai besok, karena besok nggak selalu datang. Aku baca tulisan itu sekali lagi, tarik napas panjang, lalu tekan tombol kirim. Begitu selesai, aku langsung taruh ponselku di meja dan minum teh manisku yang masih hangat. Jantungku berdebar kencang kayak baru saja melakukan hal paling berani sedunia. Rasanya kayak baru saja melepas burung yang selama ini kurawat di dalam sangkar. Sekarang dia terbang bebas, entah ke mana, entah siapa yang akan menemukannya. Semoga dia sampai ke hati orang yang memang butuh membacanya saat ini.

Sore itu aku sengaja nggak langsung mengecek ponsel. Aku jalan kaki pelan mengelilingi blok rumahku, menikmati udara sore yang sejuk, melihat anak-anak main di depan rumah, nenek-nenek ngobrol di teras, bapak-bapak pulang kerja sambil membawa belanjaan. Semua terasa biasa aja, tapi rasanya aku melihatnya dengan mata yang berbeda sekarang. Dulu aku sering sibuk mikir urusanku sendiri sampai lupa memperhatikan hal-hal kecil di sekitarku. Sekarang aku tahu, hal-hal kecil itulah yang membuat hidup terasa indah. Senyum orang asing, sapaan tetangga, suara tawa anak-anak, sinar matahari sore yang hangat. Semua itu anugerah yang sering banget kita anggap remeh sampai suatu hari kita sadar betapa berharganya itu.

Pas sampai di rumah, aku baru duduk dan mengambil ponselku. Layarnya terang banget, ada begitu banyak notifikasi yang masuk. Aku menelan ludah, lalu membukanya pelan-pelan. Banyak sekali pesan dan komentar yang muncul. Aku membacanya satu per satu dengan hati yang terasa hangat banget. Banyak yang bilang mereka nangis sampai selesai membaca cerita itu. Banyak yang bilang mereka langsung telepon orang tua atau sahabat mereka begitu selesai membaca. Ada yang bilang cerita ini bikin mereka sadar kalau selama ini mereka terlalu sibuk bekerja sampai lupa meluangkan waktu buat orang-orang yang paling berarti buat mereka. Ada yang minta maaf ke temannya karena selama ini mereka terlalu keras. Ada yang berbagi cerita mereka sendiri, soal kehilangan orang yang mereka cintai, soal kata-kata yang belum sempat terucap, soal penyesalan yang selalu ada di hati mereka. Aku membaca setiap pesan itu dengan saksama, air mataku menetes pelan tapi kali ini rasanya bukan sedih. Rasanya bahagia banget. Cerita Bima nggak berakhir sia-sia. Dia masih menyentuh hati orang-orang, bahkan dari tempat dia sekarang. Itu hal paling luar biasa yang pernah aku alami. Satu pertemuan singkat, satu perjalanan tulus, ternyata dampaknya sejauh ini.

Beberapa hari kemudian ada satu pesan yang paling menyentuh hatiku. Dari seseorang yang sama sekali nggak aku kenal. Dia menulis ceritanya sendiri. Dia bilang beberapa hari yang lalu dia merasa hidupnya nggak ada artinya lagi. Dia merasa sendirian, nggak ada yang peduli, dan dia sudah menyerah sama segalanya. Tapi kebetulan dia membaca ceritaku pagi itu. Dia bilang kata-kata Bima bikin dia sadar bahwa setiap orang itu berharga, bahwa kehadirannya di dunia ini berarti buat seseorang, dan bahwa nggak ada masalah yang berlangsung selamanya. Dia bilang ceritaku memberinya keberanian untuk bertahan sedikit lagi, untuk mencoba lagi, untuk percaya bahwa hari esok bisa lebih baik. Saat membaca pesan itu, aku menangis terharu lama banget. Bima, lihat kan? Kamu nggak pernah tahu seberapa besar dampak kebaikanmu sampai kamu membiarkannya menyebar. Kamu cuma berjalan tulus menuju satu orang, tapi ternyata langkahmu menyinari banyak orang lain yang belum kamu temui. Itu keajaiban yang nggak pernah kita rencanakan, tapi terjadi begitu saja karena ketulusanmu.

Rian juga baca cerita itu. Dia datang ke rumahku satu sore, tangannya memegang ponselnya, matanya berkaca-kaca tapi dia senyum lebar banget. Dia duduk di teras rumahku seperti biasa, dan kita diam sebentar menikmati angin sore. "Bima pasti bangga banget sama kamu Aurora," katanya pelan memecah keheningan. "Dia selalu ingin kebaikannya bermanfaat, bahkan saat dia sendiri nggak ada. Kamu melakukannya untuknya, dan itu hal paling indah yang bisa kamu lakukan untuk mengenang seseorang."

Aku mengangguk, tersenyum di antara air mata yang jatuh pelan di pipiku. "Aku nggak melakukan ini sendirian Rian. Setiap kata yang kutulis, setiap pesan yang aku balas, rasanya dia ada di sebelahku, menuntun tanganku untuk mengatakan hal yang benar. Rasanya dia ikut di sini, memastikan ceritanya sampai ke tempat yang tepat."

Malam itu aku duduk di meja belajar, membuka buku catatanku di halaman yang masih kosong. Aku tulis satu halaman baru, bukan kelanjutan cerita yang lama, tapi pelajaran baru yang aku dapat dari membagikannya ke orang lain.

"Hari ini aku belajar satu hal penting. Cerita kita nggak berakhir saat kita pergi. Cerita kita berlanjut di hati orang-orang yang pernah kita temui, di kebaikan yang kita sebarkan, di perubahan kecil yang kita tinggalkan di dunia ini. Bima pergi secara fisik, tapi dia tetap hidup di setiap orang yang jadi lebih baik karena membaca cerita kita. Itulah keabadian yang sebenarnya. Bukan hidup selamanya di dunia ini, tapi hidup selamanya di dampak kebaikan yang kita tinggalkan. Dan setiap orang bisa memilikinya, asal kita mau melangkah dengan tulus, seperti yang Bima lakukan."

Aku menutup bukuku, lalu melihat ke luar jendela ke arah langit malam yang bertabur bintang terang. Angin malam berhembus pelan masuk lewat celah jendela, menyentuh wajahku dengan lembut. Di mana pun kamu sekarang Bima, terima kasih ya. Terima kasih udah jadi awal dari cerita yang jauh lebih besar dari yang kita bayangkan. Terima kasih udah mengajarkan aku bahwa satu langkah tulus bisa mengubah banyak hal. Aku akan terus berjalan, terus bercerita, terus menyebarkan kebaikan yang kamu ajarkan padaku. Tenanglah di sana. Ceritamu sedang berjalan, dan akan terus berjalan, selamanya di hati orang-orang yang kamu sentuh tanpa pernah benar-benar bertemu mereka. Sampai ketemu di pertemuan kita yang kelak, di tempat yang tidak ada perpisahan. Aku mencintaimu. Selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!