NovelToon NovelToon
SUAMIKU TERNYATA BELUM MATI

SUAMIKU TERNYATA BELUM MATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:309
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Selama hampir empat tahun, Puspita Kusumah dikurung di panti perawatan setelah keluarganya merekayasa tuduhan terhadapnya. Dengan bantuan kuasa hukum independen, ia meminta pengadilan membatalkan penetapan yang membatasi kewenangannya mengurus kepentingan perdata dan memperoleh putusan yang memulihkan haknya. Setelah dokter menyatakan rawat inap tak lagi diperlukan, ia dipulangkan secara resmi dan dapat mengurus warisan suaminya, Arya, termasuk saham Keluarga Mahesa. Namun, ada sebuah rahasia. Suaminya yang dikabarkan tewas dalam kecelakaan pesawat ternyata masih hidup dan menyamar sebagai dosen hukum yang dingin di kampus. Kini keluarga Kusumah dan Mahesa berusaha merebut hartanya, sementara orang yang paling ia rindukan berdiri di hadapannya tanpa sudi mengakuinya. Mengapa Arya memalsukan kematian, dan sampai kapan Puspita harus berpura-pura tidak mengenal suaminya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20 - Memanjat Tembok Demi Seekor Kucing

"Oyen... oyen..."

Suara memanggil kucing itu menyeberangi tembok taman dan masuk ke ruang keluarga tepat saat Puspita membaca ulang pesan terakhir di layar ponselnya. Ia menaikkan alis, memiringkan kepala ke arah jendela, lalu kembali membaca pesan itu sekali lagi seolah suara tadi tidak pernah ada.

\=\=\=\=

Pesan itu dikirim beberapa jam sebelumnya, jauh sebelum matahari mencapai puncaknya.

[Guntara, Universitas Bhinneka]: Selamat pagi. Ketika persidangan dimulai, hasil seperti apa yang Nona butuhkan?

[Orang Bodoh Mudah Ditipu]: Biar pasangan suami istri itu tidak keluar dari penjara.

[Guntara, Universitas Bhinneka]: Berdasarkan bukti saat ini, hal itu sulit. Berdasarkan informasi yang kumiliki, terdakwa pernah berusaha menjual anaknya sendiri. Mungkin hal itu bisa dijadikan titik tolak untuk menggugat perdagangan orang.

[Orang Bodoh Mudah Ditipu]: Tidak usah kau terangkan begitu jelas. Yang kubutuhkan hanya hasilnya.

[Guntara, Universitas Bhinneka]: Bukti belum cukup. Kuharap Nyonya Puspita bisa membantu.

[Orang Bodoh Mudah Ditipu]: Apa kau memanggilku?

[Orang Bodoh Mudah Ditipu]: Apa kau memanggilku begitu?

[Guntara, Universitas Bhinneka]: Ada masalah?

[Orang Bodoh Mudah Ditipu]: Aku berusia awal dua puluhan dan belum menikah lagi. Terlalu sering kau memanggilku nyonya.

[Guntara, Universitas Bhinneka]: Belum menikah?

[Orang Bodoh Mudah Ditipu]: Ya.

[Guntara, Universitas Bhinneka]: Haha.

[Orang Bodoh Mudah Ditipu]: Apa maksudmu haha?

[Guntara, Universitas Bhinneka]: Tidak ada. Aku hanya memakai kata itu untuk menyatakan keterkejutanku.

[Orang Bodoh Mudah Ditipu]: Besok aku membawa Toto menemuimu. Mungkin dia bisa memberikan bukti yang kau butuhkan.

[Guntara, Universitas Bhinneka]: Baik.

Pembicaraan itu ditutup dengan janji bertemu pukul 14.00 di kedai kopi kampus. Puspita memeriksa ulang nama kedai itu di peta, memastikan letaknya di dalam kawasan kampus dan bukan di pinggir jalan raya yang ramai, lalu mengirim satu pesan pada Yusuf, yaitu berangkat ke Kota Wirasaba malam ini juga, jemput Toto, dan pastikan gadis itu sudah tiba di Kota Serimpi besok pagi.

Balasan Yusuf datang dengan satu baris singkat, yaitu berangkat dua jam lagi setelah rapat selesai.

Ia menambahkan satu pesan lagi untuk Toto sendiri, singkat tanpa basa-basi, yaitu besok pukul 14.00 di kedai kopi kampus, bawa semua catatan yang kau punya soal kasus nenekmu. Balasan dari gadis itu hanya sebuah tanda seru, dan Puspita sudah terbiasa membaca satu tanda seru sebagai kata iya yang dipaksa keluar dari orang yang malu berterima kasih.

Ia baru menutup aplikasi pesan ketika suara dari balik tembok taman itu terdengar untuk kedua kalinya.

\=\=\=\=

Pelayan berlari masuk dengan napas yang belum teratur.

"Nona, adik Nona..."

"Adik yang mana?" Puspita mengangkat wajahnya dari ponsel.

"Bocah yang datang bersama Nyonya Retno hari itu, Nona. Dia datang sangat pagi tadi, tetapi tidak jadi masuk. Dia hanya berputar-putar di luar halaman. Penjaga gerbang mengecek CCTV dan melihatnya berusaha memanjat tembok, lalu duduk di atas tembok itu sambil membuat suara-suara aneh."

Puspita menatap pelayan itu sebentar sebelum akhirnya berdiri.

Rendra Kusumah ditemukan Puspita di sudut taman, berjongkok di antara semak dekat tembok bata yang berlumut, mengenakan sweater hitam longgar yang kini lebih banyak warna debunya daripada warna kainnya. Matanya menyapu rerumputan di depannya dengan penuh harap, dan bibirnya tidak berhenti bergerak.

"Oyen... oyen... oyennn..."

"Rendra." Puspita berdiri membeku di belakangnya dengan kedua tangan menyilang. "Otakmu kenapa? Kalau memang sakit, suruh ibumu antar ke dokter. Ke sini untuk apa, sinting sendirian?"

Rendra menoleh, dan wajahnya berubah menjadi tidak puas dalam hitungan detik. Ia berdiri sambil menepuk-nepuk debu di lututnya.

"Siapa yang sinting? Kau yang sinting!" tangannya menunjuk Puspita tanpa gentar. "Kucingku lari ke halamanmu, tidak boleh aku datang mencarinya?"

"Untuk apa kau memanggil-manggil kucing di sana?"

"Kucingku namanya Oyen."

Puspita memejamkan matanya sesaat. Astaga. Bagaimana bisa bocah sepertinya... adik kandungnya sendiri?

Ia membuka mata, lalu memberi isyarat pada para pelayan yang berdiri canggung di belakang. "Cari kucingnya."

Dalam hitungan menit, seluruh halaman dipenuhi suara panggilan "Oyen" dari para pelayan yang berlarian membolak-balik pot tanaman, dan Puspita berdiri di tengah kekacauan itu dengan tangan yang menekan pelipisnya, merasa seolah berada kembali di panti perawatan yang pernah ia tempati.

Rendra sendiri membaringkan diri di atas rumput dan menyusuri rerumputan dengan siku, memanggil "Oyen" dua kali tanpa menoleh sedikit pun pada Puspita yang berdiri di belakangnya, wajahnya penuh penghinaan terhadap seluruh dunia kecuali kucingnya.

"Kenapa kucingmu bisa masuk halaman rumahku?" tanya Puspita setelah beberapa lama.

"Dari mana aku tahu?" Rendra menjawab dari posisi telungkupnya. "Kau pikir aku mau datang ke rumahmu?"

Melihat Puspita tidak bicara lagi, ia menjelaskan dengan lebih malas lagi. "Aku ajak kucing ini jalan-jalan di sekitar. Siapa yang tahu dia malah lari ke halamanmu."

"Kediaman Kusumah berada di seberang sungai." Suara Puspita datar dan tajam sekaligus, seperti pisau yang baru diasah. "Tidak jauh memang, tetapi lebih dari sepuluh menit perjalanan mobil. Kau sengaja menyelinap ke rumah deret ini, ya?"

Rendra bergumam pelan dengan wajah yang menempel di rumput, lalu mengeluarkan satu erangan panjang dari tenggorokannya yang terdengar seperti protes seorang anak kecil yang alibinya baru saja dipatahkan.

"..." Puspita menatap adiknya yang sedang berpura-pura tuli itu sejenak, lalu memutuskan untuk tidak mendesak lebih jauh.

"Oyen! Ketemu kau!!"

Teriakan seorang pelayan membelah halaman dari arah belakang rumah, dan seekor kucing oranye melompat dari pelukan pelayan itu ke pelukan Rendra dengan suara dengkuran panjang yang terdengar seperti protes.

Rendra memeluk kucing itu di dadanya sebentar sebelum akhirnya berdiri, dan untuk pertama kalinya sejak ia datang, ia menatap Puspita tanpa ekspresi tidak puas di wajahnya.

"Terima kasih," katanya pelan, hampir tidak terdengar, lalu ia berbalik meninggalkan halaman dengan kucing oranye yang menjulurkan lehernya dari pelukan tuannya yang berdebu.

Puspita menatap punggung adiknya yang menjauh itu sampai gerbang, lalu menggeleng pelan.

\=\=\=\=

Malam harinya, ruang keluarga rumah deret diterangi layar besar yang menampilkan potongan rekaman keamanan dari sudut-sudut halaman, dan Puspita duduk sendirian di sofa memutar rekaman itu untuk ketiga kalinya.

Rekaman itu menunjukkan sosok Rendra tiba sejak subuh buta, memeluk kucing oranye di dadanya, berdiri di hadapan tembok taman selama beberapa menit seolah sedang menghitung napas, lalu mendorong kucing itu melewati tembok ke dalam halaman.

Kucing itu tidak pernah kabur.

Bocah itu yang mendorongnya masuk sendiri, lalu memanjat tembok sesudahnya, lalu berjongkok di sudut taman memanggil nama kucing itu, bersuara dibuat-buat seolah seluruh kejadian ini adalah musibah belaka.

Tiga kali ia terlihat mencoba memanjat sebelum akhirnya berhasil, dan setiap kali gagal, ia turun kembali dengan debu yang semakin tebal di sweater hitamnya tanpa menunjukkan tanda-tanda ingin menyerah. Kamera kedua merekamnya duduk di atas tembok selama beberapa menit, menatap ke dalam halaman dengan wajah yang tidak bisa dibaca, sebelum akhirnya melompat turun.

Puspita menatap layar beku pada bingkai yang memperlihatkan Rendra di atas tembok, sweater hitamnya berdebu, wajahnya menatap ke dalam halaman dengan ekspresi yang tidak bisa ia sembunyikan sedikit pun dari kamera mana pun.

Ia mengetuk layar sekali dengan ujung jari.

"Kau ini..." gumamnya, lalu menggeleng pelan.

Ponselnya bergetar di pangkuan. Satu pesan terakhir terkirim sebelum ia mematikan layar besar.

[Yusuf]: Toto sudah kujemput dari Wirasaba. Kita menempuh perjalanan malam ini, besok pukul 13.00 kita berangkat ke kedai kopi kampus.

Puspita membalasnya dengan satu kata, lalu mematikan semua layar di ruangan itu Dan membiarkan gelap menelannya pelan-pelan.

1
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
singgah dimari nanti bacanya ya kaCan
☠ Novita ☘𝓡𝓳『⃟𝐉 zc❖ 🍒⃞⃟🦅
mampir kak, semangat yah
Azka
semangat kk ceritanya bagus , gak bisa komen cepet-cepet tapi tenang dibaca semua kok.
Azka
halo apa kabar , aku mampir lagi nih
Azka: udah..
total 13 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!