Update setiap hari!
No copy, cerita saya!
Selamat membaca semua, semoga suka...
Sinopsis :
Maudy, Seorang Sekertaris di Perusahaan besar mendadak tewas setelah Mobilnya tertabrak oleh Mobil pengendara lain. Namun bukannya pergi ke alam baka ia malah bersinggah di tubuh Wanita lain. Ia bahkan kini harus menghadapi kesulitan lantaran ia kembali ke 2 tahun yang lalu dalam tubuh wanita itu, yang bernama Aurora. Saat ia berpikir untuk menyerah dan kembali mati ia pun bertemu dengan wanita di alam mimpinya.
"Tolong aku, Tolong rubah masa depanku yang hancur" Ucapan itu membuat Maudy ketakutan. Ia bahkan tak kenal wanita ini atau siapa dia. Ia mencoba beberapa kali percoba bunuh diri namun selalu gagal dan hingga akhirnya ia menyerah dan memilih untuk tetap bertahan sebagai Aurora.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 03
Sebelum pergi dari perusahaan Maudy menyempatkan untuk bertemu dengan Jordan. Saat ini Pria itu tengah duduk di kursinya, bekerja dari balik komputer.
"Tok tok tok" Maudy mengetuk pintu. Ia lalu membuka pintu itu dan masuk.
"Iya masuk" ujar Jordan.
"Kamu rupanya Maudy, ada apa?"
Maudy teringat ucapan Roy beberapa saat yang lalu......
"Kenapa kau tak pernah memberitahu Pak Jordan, ini berita yang penting Maudy"
"Lalu apa kamu pikir pak Jordan akan percaya dengan bukti ini. Kalau dia berpikir ini hanya editan bagaimana? sudahlah Roy, jika ingin hidup tenang lebih baik jangan ikut campur urusan orang sekalipun kamu tahu kebenarannya"
"Benar juga si"
"Sudahlah, lebih baik kita bekerja sekarang" Maudy berjalan terlebih dahulu, namun Roy menghentikan langkahnya.
"Namun Maudy, tidakkah kau merasa kasihan pada Jordan. Dia sudah sangat baik kepada kita. Jika bukan karena dia kamu juga masih akan di anggap remeh oleh orang-orang itu. Dia juga sangat baik padaku, karena, jika bukan adanya keluarga Wiliam. Aku tak akan pernah bisa mendapatkan pendidikan yang layak" Ucap Roy sambil menunduk.
Mendengar itu Maudy pun menghentikan langkahnya. Ia berhenti untuk mendengarkan ucapan Roy.
"Anne tidak pantas untuk Jordan, wanita itu hanya ular"
Maudy pun menoleh, "Lantas apa yang harus aku lakukan"
Roy menghembuskan nafasnya. "Beri tahu dia apa yang sebenarnya terjadi. Sebelum semuanya terlambat"
***
"Jadi Maudy, kamu ingin bicara apa padaku?"
"Cepatlah, aku tidak punya banyak waktu jika itu bukan hal penting"
"Sebenarnya begini pak"
"Saya punya beberapa hal yang perlu saya bicarakan ke pak Jordan"
"Cepatlah Maudy, tunggu bukannya aku menyuruhmu untuk mengantar koper itu. Kenapa masih ada di tanganmu" Jordan kemudian berdiri mendekati Maudy dan mengambil koper itu dengan paksa dari tangan Maudy.
"Bukannya kau sendiri yang bilang kalau kita harus cepat dan tidak ada banyak waktu. Lalu sedang apa kau di sini dan malah bersantai"
"Pak jordan, tolong dengarkan saya pak"
"Ok, 5 menit. Tidak kurang tidak lebih"
"Huhhhh ok" Maudy pun menunjukkan foto yang ia perlihatkan kepada Roy sebelumnya. Jordan membulatkan matanya tak percaya. "Brukkkk" koper itu jatuh dari tangan Jordan ke lantai. Pria itu menggenggam erat ponsel Maudy dan....
"Brukkkk pyarrrrrr" Suara itu berasal dari Ponsel yang di banting kuat oleh Jordan.
"Pak Jordan itu ponsel saya"
"Maksud kamu apa?" Tanya Jordan sambil menunjuk ponsel itu.
"Jawab saya Maudy, maksud kamu apa?"
"Pak Jordan, tolong dengarkan saya dulu"
"Apa yang harus saya dengarkan dari kamu, Anne nggak akan pernah menduakan saya. Anne cinta sama saya"
"Pak Jordan saya nggak bohong, foto itu saya ambil beberapa bulan lalu saat bapak menyuruh saya membeli jas yang baru"
"KAU PEMBOHONG MAUDY, KAU PASTI INGIN MENGHANCURKAN SEMUANYA. AKU MASIH INGAT SAAT KAU MEMBELI CINCIN UNTUK ANNE KAU JUGA SENGAJA MENGHILANGKANNYA KAN"
"Maksud bapak apa? Pak Jordan nggak percaya sama saya. Saya sudah mengabdi lebih lama dari pada anda kenal dengan Anne. Saya yang selalu perhatian sama pak Jordan dan apa itu kurang?"
"Wah, sekarang baru kelihatan aslinya. Sekarang jujur Maudy, kamu sebenarnya suka kan sama saya"
Maudy langsung terdiam saat itu juga, "Jujur sama saya dan jangan fitnah Anne."
"IYA, KENAPA KALAU BEGITU" ini adalah pertama kalinya Maudy berani menyentak bosnya sendiri.
"Wah, Sadar dirilah Maudy. Bukan apa-apa ya, tapi kamu itu bukanlah tipeku. Muka penuh jerawat itu, kamu tahu sendiri kan tipikal saya itu wanita yang seperti Anne, cantik rambutnya tertata rapi. Body nya juga bagus, sedangkan kamu"
"Plakkkkkk" Maudy memberikan tamparan yang begitu keras hingga Jordan hampir terjatuh.
"CARI SEKERTARIS LAIN, SAYA BERHENTI MULAI SEKARANG" Maudy pun dengan Amarahnya menginjak ponsel pintar terbaru yang Jordan kembangkan dalam waktu satu malam.
"TIDAKKKKK" teriakan Jordan saat Maudy menghancurkan barang berharga itu.
Maudy membuka pintu, mendapati beberapa karyawan yang tengah menguping pembicaraan mereka.
"Nyamuk, nyamuk"
"O iya, hari ini ada tamu untuk pak Alex"
"Hallo Tuan Nathan, ia benar ini dengan Sinta, o baiklah di resepsionis ya. Tolong tunggu sebentar" Mereka langsung berhamburan pergi saat Maudy keluar dari ruangan itu.
"Sialan, benar-benar sial. Udah di tolongin bukannya makasih"
"Yakkkkkk, Maudy berhenti di sana. Kembalikan Chip dan ponsel baru itu sekarang"
"Aishh, sial" Jordan Mengejar mantan sekertarisnya itu dan Maudy pun kabur menghindari kejaran dari Jordan.
"YAKKKK MAUDY, KEMBALI KE SINI!!!! YAKKKKK"
"SIAL, JANGAN KEJAR AKU!"
Setelah sampai di Parkiran Maudy dengan buru-buru naik ke mobilnya. Ia dengan buru-buru membawa mobil itu keluar dari Parkiran.
"Maudy, Menyerah lah" Jordan menghalangi jalan Maudy, ia merentangkan kedua tangannya saat mobil itu tengah melaju ke arahnya.
"Nggakkkkkk" Maudy semakin menambah laju mobilnya, dan Jordan pun di dorong oleh Satpam yang panik dengan kejadian itu.
"YAKKKKK, BALIK KESINI WANITA SIALAN"
"TIDAK AKANNNNN"
"Tuan Jordan, dimana wanita yang harus kita kejar?" tanya beberapa staf yang melewati parkiran itu.
"Kalian semua kenal, dia Maudy. Tangkap dia Hidup-hidup. 100 Triliun itu hilang karena dia. DASAR MAUDY SIALANNNNNNN"
***
Di mobilnya Maudy menangis, ia sama sekali tak sengaja melakukannya. "Hiks hiks, kenapa jadi gini si. Sekarang aku bahkan jadi pengangguran". Maudy menggila di dalam mobil, ia terus menangis tersedu-sedu saat itu juga.
"Ini semua karena Roy sialan itu. Hiks apa yang salah padaku, aku tidak pernah bisa tampil cantik karena tak pernah ada waktu. Semuanya hanya untuk bekerja, benar-benar sial aku hari ini".
"Drtttt drtttt drttttt"
Ponsel berdering, ia mengambil ponsel itu dan mengangkat teleponnya yang telah retak akibat di banting oleh Jordan.
"Hallo"
"Loh kak Maudy, kakak kenapa nangis?" Tanya Jina, adik maudy dari balik Telepon.
"Kakak baik-baik saja, kenapa telfon"
"Kak, kirim aku uang dong, yang minggu lalu sudah habis. Aku juga harus bayar semesterkan"
"Loh bukannya uang semester sudah kakak kasih?"
"Kakak kasih itu cuma setengah. Ya masih kurang lah, transfer lagi ya kak. Please, Jina Mohon"
"Iya iya, sebentar kakak mau lihat dulu pengeluaran bulan ini. Kalau masih ada uangnya kakak akan kasih kamu."
"Ok kakakku sayang, terima kasih."
"Ok ok"
Di sisi lain di jalan yang sama sebuah mobil sedan hitam berjalan dengan tak jelas. Mobil itu terus ke kanan dan ke kiri menyelip di antara beberapa pengemudi lain.
Di dalam mobil itu terlihat wanita yang tengah berusaha menyelamatkan dirinya.
"Nyonya, saya minta maaf. Tolong lepaskan saya" itu adalah Aurora, dia telah membunuh 2 orang berbadan besar di sebelahnya dengan pistol yang ia ambil dari orang itu.
"Kamu tahu Pak Yanta, karena ini semua benar-benar membuatku gila. Lebih baik kita mati saja bersama di mobil ini".
"Nyonya tolong lepaskan saya!"
"Sial, uang bulan ini sudah habis" ujar Maudy sambil mengemudikan mobilnya. Ia saat ini tengah membaca buku pengeluarannya. Saat ia membetulkan posisi dihadapannya sudah ada sebuah mobil yang berjalan melawan arah.
"Nyonya ada mobil di depan"
Maudy dan Aurora sempat terkejut, namun kecelakaan itu tak bisa di hindari. Kedua mobil itu saling bertabrakan. Kedua mobil itu mengalami Ringsek parah bahkan mobil yang Maudy kendarai itupun meledak seketika dan menyambar meledakkan mobil Aurora.
Semuanya tewas saat itu juga dan hanya menyisakan pilu. Namun bukannya pergi ke alam baka. Maudy malah pergi tempat lain. Tempat yang menurutnya asing dan tak pernah ia lihat sebelumnya.
"Ini di mana?" Ujar Maudy yang heran lantaran saat ini ia tengah terbangun di kamar yang besar dan megah.
"Apa-apaan semua ini?"
Bersambung