Bagi Ayara, hidup hanya tentang bekerja tanpa pernah mengenal cinta. Namun, saat ia mendaki gunung bersama teman-temannya semuanya berubah. Sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang pria di jalur pendakian menjadi awal baru baginya untuk mengenal rasa jatuh cinta.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Ayara? Siapa pria yang ditemui Ayara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yasudah... Aku Ikut
Keesokan harinya, saat Ayara pulang kerja, ia melihat sedan hitam mengkilap milik Althaf yang sudah terparkir rapi di halaman rumahnya.
Jantung Ayara seketika berdegup kencang, bayangan pertengkaran kecil mereka malam tadi kembali berkelebat di dalam kepalanya. Dengan perasaan cemas bercampur bingung, Ayara mematikan mesin motornya dan melepas helm, lalu melangkah masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum," ucap Ayara pelan.
"Wa'alaikumsalam," jawab suara bariton yang sangat ia kenal dari arah ruang tamu.
Begitu Ayara melangkah masuk, ia melihat Althaf sedang duduk berdampingan dengan Ibu Yati di atas tikar pandan. Keduanya tampak tengah berbincang santai, bahkan Ibu Yati tersenyum lebar menyambut kedatangan putri sulungnya. Arlan pun tampak duduk di sudut ruangan sembari memegang cangkir teh, tersenyum penuh arti ke arah sang Kakak.
Ayara mematung di tempatnya sejenak. Ia melirik sekilas ke arah seragam pabrik yang masih melekat di tubuhnya, lalu beralih menatap Althaf yang tampil rapi dengan kemeja kasual berwarna abu-abu terang.
"Kamu sudah pulang, Mbak? Sini, duduk dulu," panggil Ibu Yati lembut.
Ayara melepas tas kainnya, lalu berjalan mendekat dengan langkah ragu. Ia menyalami tangan sang ibu, lalu mengambil tempat duduk agak berjarak dari Althaf.
"Mas Althaf... ada apa lagi ke sini?" tanya Ayara hati-hati, berusaha menjaga nada suaranya agar tetap tenang di hadapan keluarganya.
Althaf menatap Ayara lekat-lekat, "Aku datang untuk jemput kamu," jawab Althaf tenang.
Ayara mengerjap kaget, "Jemput aku? Ke mana?"
"Ke rumahku, orang tuaku sudah menunggu kita untuk makan malam bersama," ucap Althaf tanpa ragu.
Mendengar kata-kata itu, darah Ayara serasa berhenti mengalir. Sekujur tubuhnya mendadak kak dan matanya membelalak lebar, bayangan raut wajah dingin Papa Aditya saat mengusirnya beberapa waktu lalu langsung berkelebat beringas di dalam benaknya.
"Nggak! Mas Althaf jangan gila, ya!" protes Ayara spontan, suaranya sedikit meninggi karena panik.
"Aku nggak mau ke sana! Mas tahu sendiri kan waktu itu Ayahnya Mas kayak gimana sama aku? Aku nggak mau datang ke sana untuk dihina lagi, Mas!" lanjut Ayara, nada bicaranya mulai bergetar menahan gejolak emosi dan rasa minder yang teramat besar.
Ibu Yati yang duduk di samping Ayara langsung meraih tangan putrinya, mengusapnya pelan untuk menenangkan. "Dengarkan dulu penjelasan Nak Althaf, Mbak. Jangan langsung emosi begitu," tegur Ibu Yati halus.
Althaf bergeser sedikit, menatap Ayara dengan sorot mata yang penuh permohonan agar gadis itu mau mempercayainya.
"Ayara, dengarkan aku. Papa dan Mama sendiri yang meminta agar aku membawamu datang ke rumah untuk makan malam bersama," ucap Althaf.
Ayara menggelengkan kepalanya kuat-kuat, air matanya mulai menggenang di pelupuk mata. "Bohong... Mas Althaf cuma mau menenangkanku saja, kan?"
"Aku nggak bohong, Ayara. Demi apapun, aku tidak pernah main-main dalam hal ini," potong Althaf tegas, meraih jemari Ayara yang sedari tadi meremas ujung bajunya.
"Percaya sama aku, kali ini berbeda. Orang tuaku sudah menunggu dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu atau merendahkanmu di hadapanku," bujuk Althaf.
Arlan yang sejak tadi menyimak ikut bersuara memberikan dukungan, "Udah, Mbak... pergi aja. Kapan lagi dibela sama cowok seganteng dan setegas Bang Althaf? Kalau nanti Ayahnya Bang Althaf macam-macam, langsung telepon Arlan, biar Arlan yang jemput Mbak Ayara," canda Arlan berusaha mencairkan suasana.
Ibu Yati tersenyum tipis mendengar perkataan putranya, lalu mengangguk menatap Ayara. "Arlan benar, Mbak. Jangan biarkan ketakutan menutup pintu kebaikan yang sedang diberikan untukmu. Ibu merestui kamu pergi bersama Nak Althaf."
Mendengar restu dan dorongan tulus dari ibu serta adiknya, pertahanan Ayara akhirnya runtuh perlahan. Dengan napas berat dan dada bergemuruh hebat, ia menatap Althaf yang masih menanti jawabannya dengan penuh harap.
"Huh, yasudah... aku ikut," ucap Ayara lirih.
Senyum cerah seketika merekah di wajah Althaf. Pria itu mengembuskan napas lega, seolah beban terbesar di pundaknya telah terangkat. "Terima kasih, Ayara. Kamu siap-siap dulu ya, aku tunggu di sini."
Lima belas menit kemudian, Ayara keluar dari kamarnya. Ia mengenakan blouse berwarna pastel yang dipadu dengan kardigan rajut rapi dan rambut yang digerai. Meskipun tidak mengenakan pakaian mewah layaknya wanita dari kalangan atas, penampilan Ayara tetap memancarkan keanggunan alami yang membuat Althaf terpaku menatapnya sejenak.
Setelah berpamitan pada Ibu Yati dan Arlan, Ayara dan Althaf memasuki mobil sedan hitam mewah itu. Sepanjang perjalanan menuju kawasan perumahan elit tempat tinggal keluarga Althaf, Ayara terus-menerus meremas jemarinya di atas pangkuan.
Keringat dingin keluar membasahi telapak tangannya, sementara detak jantungnya berpacu bagaikan hendak meledak. Althaf yang mengemudi sesekali melirik ke samping, lalu mengulurkan sebelah tangannya untuk menggenggam erat tangan Ayara yang dingin.
"Tenanglah, ada aku di sini," ucap Althaf menenangkan.
Tak lama kemudian, mobil melambat dan berbelok memasuki gerbang besar sebuah rumah mewah berarsitektur modern klasik yang dikelilingi taman hijau yang asri, kendaraan itu berhenti sempurna di halaman luas.
Ayara menelan ludahnya susah payah saat Althaf membukakan pintu untuknya. Dengan langkah kaku, Ayara berjalan menyusuri teras megah hingga akhirnya pintu utama rumah tersebut terbuka lebar menyambut kedatangan mereka.
Begitu melangkah masuk ke ruang tamu utama yang bernuansa mewah dengan lampu gantung kristal berkilauan, Ayara melihat Mama Hasna, Papa Aditya, serta Kak Indira dan Kak Bima sudah berdiri menyambut di dekat meja makan keluarga.
Suasana mendadak terasa begitu hening dan mencekam bagi Ayara, Papa Aditya menatap ke arahnya dengan ekspresi datar yang sulit diartikan dan membuat Ayara semakin menunduk ketakutan.
Namun, di luar dugaan Ayara, Mama Hasna justru melangkah cepat menghampirinya dengan senyuman lebar yang amat ramah, lalu merengkuh tubuh Ayara kedalam pelukan hangatnya.
"Kamu Ayara, kan? Ya ampun, anak manis... akhirnya Mama bisa ketemu langsung sama kamu!" sambut Mama Hasna antusias, membuat Ayara tertegun dan mematung dalam pelukan wanita paruh baya berkelas itu.
Papa Aditya berjalan mendekat, berdehem pelan untuk mencairkan suasana yang kaku. Pria paruh baya itu menatap Ayara, lalu mengulurkan senyum tipisnya.
"Nama kamu Ayara, kan?" tanya Papa Aditya.
"I-iya, Om," jawab Ayara gugup.
Walaupun tatapan Papa Aditya tidak setajam dulu, tapi Ayara tetap merasa takut. Ayara sudah siap jika nanti kedua orang tua Althaf mengusirnya.
'Kalau mau ngusir aku, lebih baik sekarang aja,' batin Ayara.
"Ayo makan dulu, Mama sudah masak banyak soalnya," ajak Mama Hasna, lalu menarik lengan Ayara menuju meja makan.
Meja makan panjang itu sudah dipenuhi berbagai hidangan lezat beraroma menggugah selera. Di tengah suasana canggung yang masih menyelimuti benak Ayara, Mama Hasna dengan sangat ramah mempersilakan gadis itu untuk duduk.
Sementara itu, Althaf mengambil posisi duduk di samping Ayara, seolah ingin memastikan bahwa wanita yang dicintainya itu tidak merasa sendirian di tengah keluarganya. Di seberang mereka, Papa Aditya duduk tenang dengan segelas air putih di tangannya, sementara Kak Indira dan Kak Bima tampak melempar senyuman hangat untuk mencairkan ketegangan.
.
.
.
Bersambung.....
gimana menghadapi calon mertua yang ngeremehin kita