-
Di tengah ketenangan Desa Lemah Wungu yang asri dan dikelilingi hamparan sawah hijau, Bagas hidup dalam impian sederhana bersama ibunya. Namun, penyakit parah yang menggerogoti sang ibu memaksa Bagas nekat melanggar pantangan desa: memasuki hutan keramat Sendang Manten untuk mengikat perjanjian gaib dengan Ratu Ular.
Seketika, nasibnya berubah. Kepingan sisik emas melimpah membuat Bagas menjadi pemuda terkaya di desa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 1
****
Sore itu, Desa Lemah Wungu terlihat sangat cantik. Cahaya jingga melukis langit di atas hamparan sawah hijau yang membentang seperti permadani alam. Angin sore bertiup perlahan, menggoyangkan pucuk-pucuk padi yang mulai berisi. Burung-burung gereja terbang rendah, pulang menuju sarang di antara rimbunnya pepohonan bambu. Suara gemericik air irigasi yang jernih bersahut-sahutan dengan tawa para petani yang melangkah pulang membawa cangkul di bahu.
Bagi siapa saja yang melintas, Lemah Wungu adalah wujud sempurna dari ketenangan desa yang asri. Namun, kedamaian itu sama sekali tak menyentuh pondok kayu berdinding anyaman bambu yang berdiri reot di ujung garis desa.
Di dalam rumah panggung yang suram itu, bau sangit minyak tanah bercampur dengan aroma jamu yang sudah mendingin. Bagas, pemuda berumur dua puluh dua tahun dengan telapak tangan kasar akibat saban hari menjadi buruh tani harian, berlutut di samping bale-bale bambu. Peluh dingin membasahi dahinya yang berkerut dalam.
"Ibu... minum airnya sedikit lagi, Bu," bisik Bagas lembut. Tangannya yang gemetar memegang mangkuk tanah liat berisi air hangat ke bibir ibunya, Mbok Sumi.
Wanita tua itu tidak menjawab. Wajahnya yang keriput makin pucat pasi, hampir seperti kertas. Napasnya terengah-engah, pendek dan berat, seolah setiap tarikan udara memakan seluruh sisa tenaganya. Bibirnya yang kering hanya mampu bergetar tanpa mengeluarkan suara.
"Sabar ya, Bagas..."
Bagas menoleh. Di ambang pintu kamar yang remang-remang, Pak Mantri Karno sedang mengemasi peralatan medisnya ke dalam tas kulit hitam yang sudah kusam. Wajah pria tua itu menyiratkan rasa bersalah yang mendalam.
"Pak Mantri, tolong... kasih obat apa saja yang bisa buat Ibu sembuh," usul Bagas dengan suara serak. Ia memegang ujung celana Pak Mantri dengan tatapan memohon. "Saya janji bakal kerja lebih keras. Besok saya cangkul sawahnya Pak Kades, bayarannya buat bayar obat Ibu. Tolong, Pak..."
Pak Mantri mendesah berat. Ia menepuk bahu Bagas yang bergetar. "Bagas, dengarkan aku baik-baik. Paru-paru ibumu sudah parah. Obat-obatan biasa dari puskesmas tidak bakal mempan lagi. Dia harus dibawa ke rumah sakit besar di kota, harus ditangani dokter spesialis dan dirawat di ruang khusus."
"Bawa ke kota?" mata Bagas membelalak. "Berapa biayanya, Pak Mantri?"
"Paling tidak... kamu butuh puluhan juta rupiah untuk deposit awal saja. Belum obatnya, belum rawat inapnya," jawab Pak Mantri perlahan, seolah takut kalimat itu akan meremukkan hati Bagas. "Uang dari mana, Gas? Kamu tahu sendiri kondisi keuanganmu. Kalau cuma mengandalkan upah buruh harian..."
Pak Mantri tidak melanjutkan kalimatnya, namun Bagas paham maksudnya. Upah sepuluh ribu sehari bahkan sering kali tidak cukup untuk membeli beras satu kilo dan dua potong tempe. Dari mana ia bisa mendapatkan uang puluhan juta dalam hitungan hari?
"Jadi... Pak Mantri mau bilang kalau saya cuma bisa pasrah melihat Ibu mati?" bisik Bagas. Suaranya bergetar menahan amarah dan duka yang bergejolak di dadanya.
Pak Mantri menunduk, tidak berani menatap mata pemuda itu. "Saya cuma manusia biasa, Gas. Saya cuma mantri desa. Saya sudah keluarkan semua obat yang saya punya. Sekarang... tinggal keajaiban dan doa. Saya permisi dulu."
Langkah kaki Pak Mantri yang meninggalkan rumah terasa seperti ketukan palu kematian bagi Bagas. Sepeninggal sang mantri, rumah itu kembali sunyi, hanya diselingi napas ibunya yang semakin berat.
Bagas kembali berlutut di samping pembaruan. Ditatapnya wajah sang ibu—wanita yang membesarkannya seorang diri dengan mengandalkan buruh cuci dan mencari kayu bakar di hutan setelah ayahnya meninggal belasan tahun lalu. Air mata Bagas menetes, jatuh tepat di atas punggung tangan ibunya yang kurus kering dan dingin.
"Tuhan... kalau memang harus ada yang diambil, ambil nyawaku saja. Jangan Ibu..." ratap Bagas dalam hati.
Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pelan di pintu depan, disusul suara gesekan selangkah kaki yang diseret.
"Bagas? Ini Mbah Dirjo..."
Bagas mengusap air matanya cepat-cepat lalu berdiri mendekati pintu. Di sana berdiri Mbah Dirjo, tetangga sebelah rumah yang sudah sepuh. Pria tua berkulit legam dengan ikat kepala batik itu masuk secara perlahan, memegang tongkat kayu jitinya. Mata raburnya memandang ke arah kamar Mbok Sumi.
"Gimana keadaan ibumu, Le?" tanya Mbah Dirjo pelan.
"Pak Mantri bilang... Ibu nggak bisa ditolong kalau nggak dibawa ke rumah sakit kota, Mbah," ujar Bagas dengan suara tercekat. "Tapi dari mana saya dapat uang puluhan juta? Saya nggak punya apa-apa lagi. Rumah ini pun bukan tanah kami..."
Mbah Dirjo melangkah makin dekat ke arah Bagas. Pria tua itu melepas capingnya, lalu menatap sekeliling dengan gestur gelisah, seolah-olah ada telinga gaib yang sedang mendengarkan di balik dinding-dinding bambu rumah itu.
"Kamu betul-betul sayang sama ibumu, Gas?" tanya Mbah Dirjo. Suaranya turun menjadi bisikan yang amat pelan dan dalam.
"Lebih dari nyawa saya sendiri, Mbah. Saya rela lakukan apa saja asal Ibu bisa sembuh," tegas Bagas tanpa ragu.
Mbah Dirjo menarik napas panjang. Ia menggeser duduknya di bangku kayu dekat jendela, lalu condong ke arah Bagas. "Ada satu cara... tapi cara ini adalah pantangan terbesar di Desa Lemah Wungu. Sebuah mitos tua yang selalu ditutupi oleh sesepuh desa."
Bagas mengernyitkan dahi. "Cara apa, Mbah?"
"Di dalam hutan keramat Sendang Manten... di balik air terjun yang tertutup akar pohon beringin tua, ada istana gaib," bisik Mbah Dirjo. Matanya membelalak misterius. "Di sana bersemayam Ratu Ular. Penguasa kegelapan yang memiliki ribuan sisik emas. Siapa saja yang berani datang dan mengikat janji dengannya, akan diberikan kekayaan yang tak akan habis tujuh keturunan."
Bagas tertegun. "Pesugihan?"
"Hussh! Jangan keras-keras!" tegur Mbah Dirjo seraya menaruh jarinya di depan bibir. "Iya, orang-orang menyebutnya pesugihan. Tapi ini bukan pesugihan biasa. Ratu Ular tidak pernah meminta sajen kambing hitam atau kembang tujuh rupa. Dia meminta hal yang jauh lebih besar dari itu... dia meminta pengabdian dan jiwa."
"Mbah... itu musyrik. Itu dosa besar," tanggap Bagas, ada rasa takut yang mendadak menjalar di tengkuknya.
"Memang!" potong Mbah Dirjo cepat. "Memang itu dosa! Tapi pikirkan ibumu, Bagas! Malam ini ibumu mungkin tidak akan bertahan sampai fajar kalau tidak ada obat mahal dari dokter! Apakah kamu mau idealismemu itu membunuh ibumu sendiri?"
Kalimat Mbah Dirjo menghantam dada Bagas bagaikan pukulan godam. Pikirannya mendadak kalut. Di satu sisi, ajaran agama dan norma yang ia yakini melarang keras perbuatan mistis itu. Tapi di sisi lain, bayangan ibunya yang membiru dan merintih kesakitan terus membayangi matanya.
"Mbah pernah lihat orang yang melakukan perjanjian itu?" tanya Bagas ragu.
"Dulu, puluhan tahun lalu, ada warga dari desa sebelah yang nekat masuk ke Sendang Manten," bisik Mbah Dirjo. "Esok harinya dia pulang membawa segenggam sisik emas murni. Dalam sebulan, dia jadi orang terkaya di kecamatan. Tapi ingat, Bagas... tidak ada bantuan dari alam gaib yang gratis. Ratu Ular itu sangat posesif. Sekali kamu masuk ke dalam pelukannya, kamu tidak akan pernah bisa keluar lagi."
Mbah Dirjo kemudian berdiri, menepuk bahu Bagas dua kali. "Mbah cuma membocorkan rahasia ini karena Mbah kasihan melihat ibumu. Keputusan ada di tanganmu, Le. Jangan sampai kamu menyesal saat ibumu sudah membeku di atas balai-balai ini."
Pria tua itu melangkah keluar rumah, menghilang di balik kegelapan malam desa yang mulai pekat.
Bagas kembali ke kamar ibunya. Di luar, cuaca yang tadinya cerah berawan mendadak berubah drastis. Angin malam bertiup kencang membuat dedaunan pisang di luar jendela berkerosak bising. Suara guntur mendentum keras dari kejauhan, menyiarkan kilatan cahaya kilat yang menerangi kamar remang-remang itu selama sepersekian detik.
Dalam kilatan cahaya misterius itu, wajah ibunya tampak semakin kurus dan pucat. Suara napas Mbok Sumi makin sengal, terdengar seperti tenggorokan yang tersumbat.
"Ibu... Bagas harus gimana?" tangis Bagas pecah. Ia memeluk kaki ibunya yang makin dingin.
Malam makin larut. Gurat-gurat guntur terus membelah langit Lemah Wungu. Karena kelelahan fisik dan tekanan emosional yang teramat sangat, Bagas akhirnya tertidur di lantai kayu persis di samping bale-bale ibunya, dengan posisi memeluk lututnya sendiri.
Dalam tidurnya yang lelap dan gelisah, kesadaran Bagas seperti tersedot ke dalam alam lain.
Ia terbangun di sebuah tempat yang tidak ia kenali. Tempat itu adalah sebuah telaga yang sangat luas, dikelilingi oleh pepohonan raksasa berduri dan kabut hijau pekat yang mengepul dari permukaan air. Bau wangi bunga melati yang amat menyengat bercampur dengan aroma amis darah memenuhi udara.
Tiba-tiba, permukaan telaga bergolak hebat. Air telaga yang tenang terbelah oleh sebuah gerakan raksasa dari dasar air.
Dari dalam kabut hijau, muncul seekor ular raksasa dengan ukuran luar biasa besar. Sisik-sisiknya berwarna hijau zamrud yang sangat berkilau, memantulkan cahaya mistis yang anggun sekaligus mengerikan. Kepala ular itu terangkat tinggi di udara, dengan sepasang mata emas bertaut manik vertikal yang menatap lurus ke arah Bagas.
Ular hijau raksasa itu merayap mendekati Bagas, membelitkan tubuhnya yang dingin di sekeliling pemuda itu tanpa meremukkannya. Bagas membeku, tak mampu bergerak maupun berteriak. Lidah bercabang ular itu meluncur keluar, menyapu pipi Bagas dengan lembut—hampir menyerupai sebuah belaian mesra.
“Kemarilah, wahai pemudaku... Datanglah padaku, maka seluruh penderitaanmu akan kuubah menjadi kemewahan...”
Sebuah suara wanita yang sangat merdu, bergema langsung di dalam kepala Bagas. Suara itu begitu memikat, begitu hangat, namun menyimpan aura dominasi yang sangat kuat.
DUAARRR!
Suara petir yang menggelegar keras tepat di atas atap rumah membuat Bagas tersentak dan terbangun seketika!
Bagas terduduk dengan napas terengah-engah. Keringat dingin membasahi seluruh bajunya. Jantungnya berdegup kencang bagai ditabuh genderang perang. Ia memandangi sekeliling kamarnya yang masih gelap gulita. Hanya ada suara rinai hujan lebat yang menimpa atap seng dan suara guntur yang terus bersahut-sahutan.
Ia segera menoleh ke arah ibunya. Mbok Sumi terbatuk-batuk kecil, dan dari sudut bibirnya menetes sedikit bercak darah. Napas wanita tua itu makin pendek dan lemah.
Bagas mengepalkan tangannya erat-erat hingga kuku-kukunya menancap ke telapak tangan. Ucapan Mbah Dirjo tentang Ratu Ular di Sendang Manten dan bayangan ular hijau raksasa bertata mata emas dalam mimpinya tadi terus berputar-putar di benaknya.
Bersambung.....