🔥CRAZY UP🔥
Alina Prameswari ingin membersihkan nama mendiang ayahnya yang dituduh menggelapkan miliaran rupiah oleh keluarga Mahendra. Untuk membongkar kebenaran, ia harus berhadapan dengan Adrian Mahendra, CEO dingin yang ia anggap sebagai musuh.
Mereka terpaksa bekerja sama untuk mengungkap konspirasi di balik skandal perusahaan. Namun, ketika sandiwara menjadi pasangan mulai menumbuhkan perasaan, rahasia tentang kematian mantan tunangan Adrian justru mengancam menghancurkan segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling ingin Alina jatuhkan justru menjadi orang yang paling sulit ia lepaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Rabu, 29 Oktober, ruang baca terbatas di lantai tiga puluh sudah terbuka ketika Alina menempelkan badge. Di monitor, selain folder yang biasa, ada satu nama baru di daftar kiri. Folder tambahan. Aksesnya tidak ia minta pagi itu. Sari hanya mengirim pesan singkat sebelum ia naik: izin sudah aktif, jangan diunduh ke perangkat pribadi, catat kalau ada yang tidak bisa dibaca.
Alina membuka folder itu tanpa kopi dulu. Halaman pertama adalah indeks transaksi lama. Beberapa baris utuh. Beberapa baris lain tertutup balok hitam yang rapi, bukan coretan tangan. Tinta digital. Keterangan vendor di bawahnya hilang dari tengah kalimat sampai akhir angka. Ia gulir. Catatan internal tentang vendor historis juga begitu. Judulnya masih terbaca. Isinya tidak. Di satu halaman, hanya ekor kalimat yang lolos: ditinjau, lalu hitam, lalu kata dihentikan yang menggantung tanpa alasan.
Ia tidak menebak dari balik balok. Ia mengangkat telepon internal.
Dimas datang tujuh menit kemudian, mug di tangan kiri, kartu akses di kanan. Ia melihat layar sebelum Alina menjelaskan.
“Ini kenapa?” tanya Alina.
“Perintah hukum,” jawab Dimas. “Beberapa bagian masih dalam peninjauan privilege. Pak Adrian setuju untuk menahan dulu.”
“Privilege atas kalimat yang sudah saya lihat polanya di tempat lain?”
“Atas bagian yang Yusuf tandai. Saya tidak yang menghitamkan. Saya yang disuruh memastikan Anda tidak memotret layarnya.”
Alina menutup tangan di tepi meja, bukan di kamera. “Saya tidak memotret. Saya bertanya. Dan jawaban perintah hukum itu belum cukup.”
Dimas mengangguk seperti orang yang sudah menduga kalimat berikutnya. “Kalau Anda ingin dasarnya, jangan minta dari saya. Saya hanya bisa bilang penahanan ini disetujui. Sisanya ada di lantai atas.”
Alina bekerja sampai sore pada bagian yang tidak tertutup. Ia menyalin tanggal yang masih kelihatan ke buku, bukan ke ponsel. Setiap balok hitam ia tandai dengan garis, bukan dengan dugaan. Ada halaman yang judulnya masih berbunyi catatan penyesuaian vendor, lalu isinya hilang mulai dari nama lawan transaksi. Ada halaman lain yang hanya menyisakan tahun dan kata status. Ia mencoba membandingkan lebar balok dengan pola tiga transaksi yang sudah ia hafal. Sewa armada dan jasa gudang tidak selalu tertutup. Yang lebih sering menghitam adalah baris yang berdekatan dengan nama yang sudah mereka tandai hidup. Itu belum bukti. Itu alasan untuk tidak pulang lebih dulu.
Sari lewat sekali, memeriksa apakah pintu ruang baca masih dalam keadaan yang benar. “Folder tambahan hanya untuk dilihat di dalam,” katanya. “Kalau ada permintaan buka, jangan lewat saya. Saya tidak pegang kunci privilege.”
“Siapa yang pegang?”
“Pak Yusuf yang menandai. Pak Adrian yang mengizinkan penahanannya. Saya hanya jaga supaya tidak ada yang memotret.” Sari sudah di ambang pintu lagi. “Jam saya habis di sini.”
Alina tidak memotret. Ia membuat daftar jumlah halaman yang utuh dan jumlah halaman yang terpotong. Daftar itu tidak dramatis. Justru karena tidak dramatis, ia tidak mau meninggalkannya sebagai keluhan yang nanti disebut perasaan. Sore harinya ia melepas pekerjaan itu dan naik ke lantai tiga puluh dua.
Sari ada di ruang tunggu. “Sepuluh menit,” katanya. “Setelah itu ada telepon yang tidak bisa digeser. Masuk saja. Pintunya tidak dikunci.”
Adrian duduk di belakang meja yang hampir kosong. Laptop terbuka pada surat yang bukan untuk Alina. Ketika Alina masuk, ia tidak tersenyum dan tidak pura-pura kaget.
“Anda mengunci bukti,” kata Alina. “Halaman yang dihitamkan justru yang paling dekat dengan pola pemindahan yang sudah kita temukan. Kalau ini privilege, tunjukkan dasar hukumnya. Kalau ini Anda yang menyembunyikan, bilang saja.”
Adrian menutup laptop. “Sebagian memang privilege. Yusuf yang menandai. Sebagian saya tahan karena isinya masih berhubungan dengan pihak ketiga yang belum kita libatkan. Saya tidak mengunci untuk menghilangkan jejak. Saya mengunci supaya jejak itu tidak keluar sebelum kita siap.”
“Itu alasan yang hanya separuh jujur,” kata Alina. “Saya diikat kontrak untuk menyerahkan temuan. Anda diikat kontrak untuk memberi akses yang relevan. Halaman hitam ini melanggar semangat itu.”
“Semangat bukan klausul.”
“Klausulnya akses yang relevan dengan rekonsiliasi. Bukan akses pada judul halaman.”
Adrian menatap pena di meja, lalu Alina. “Kalau saya buka semua hari ini, Anda akan membawa nama ke luar sebelum kita tahu nama itu masih bekerja di sini atau sudah tidak. Saya tidak mau Aruna menerima dugaan sebagai lampiran.”
“Dan saya tidak mau jadi orang yang menandatangani temuan sambil pura-pura tidak melihat balok hitam,” kata Alina. “Itu bukan kehati-hatian. Itu Anda memegang setir sendirian lagi. Sama seperti kalimat di rapat Senin.”
Suara mereka tidak naik. Yang naik hanya ketajaman di antara kalimat. Sari tidak masuk. Sepuluh menit yang ia janjikan hampir habis, dan tidak satu pun dari mereka menoleh ke jam.
Adrian menekan tombol telepon meja. “Dimas. Naik. Bawa kartu ruang baca. Sekarang.”
Dimas sampai dengan napas yang belum pulih dari tangga darurat, karena lift yang ia tumpangi berhenti dua kali. Ia berdiri di samping pintu, tidak duduk. Adrian memutar laptopnya sehingga layar tidak hanya menghadap kursinya.
“Dua halaman,” kata Adrian. “Bukan foldernya. Dimas saksi. Tidak ada foto. Alina mencatat dengan tangan. Setelah itu halaman ini kembali ditutup sampai Yusuf selesai meninjau sisanya.”
“Saya tidak setuju batasnya cuma dua,” kata Alina.
“Dua yang paling dekat dengan pola yang Anda sebut,” jawab Adrian. “Kalau setelah ini Anda masih bilang saya menghilangkan, kita buka lagi dengan Yusuf di ruangan. Bukan hari ini.”
Alina mengangguk sekali, pendek, karena menolak sekarang hanya akan membuat kedua halaman itu tetap hitam. “Buka.”
Adrian mengetik. Balok pada halaman pertama surut. Yang muncul bukan nama penerima akhir dan bukan perintah dari satu orang. Yang muncul adalah catatan peninjauan internal, bertanggal dua tahun sebelumnya, yang menyebut Lazuardi di antara vendor yang diminta diperiksa ulang. Di margin ada satu baris: pemeriksaan tidak dilanjutkan. Tidak ada alinea yang menjelaskan siapa yang menghentikan, dan tidak ada angka baru yang mengubah Rp18,9 miliar yang sudah mereka pegang.
Halaman kedua adalah lanjutan catatan yang sama. Ada daftar pertanyaan yang berhenti di nomor tiga. Pertanyaan itu menyinggung jejak pembayaran lama. Jawabannya kosong. Di bawahnya, status ditutup. Bukan bersih. Hanya ditutup.
Alina menulis tanpa melihat mereka. Tanggal catatan. Nama Lazuardi. Fakta bahwa peninjauan sudah pernah ada, lalu berhenti. Ia menggarisbawahi kata dihentikan dua kali, kemudian berhenti menggaris karena garis tidak menambah bukti.
“Jadi bukan baru,” katanya.
“Bukan baru,” aku Adrian. “Dan itu yang membuat saya menahan. Kalau kita buka terlalu cepat tanpa konteks, kita bisa menuduh orang yang sudah tidak di sini, atau orang yang masih di sini tanpa bukti cukup.”
“Orang yang sudah tidak di sini tetap bisa dipakai sebagai wajah,” kata Alina. “Itu konteks yang saya bawa dari awal. Jangan dipakai untuk menutup halaman.”
“Saya tidak menutup untuk itu.”
“Anda juga tidak membuka karena percaya pada saya.”
Adrian tidak membantah kalimat terakhir. Dimas menggeser berat badan. “Saya catat bahwa dua halaman ini sudah dilihat hari ini, dengan saksi. Sisanya tetap berstatus privilege sampai ada izin baru. Mbak Alina, salinan tulisan Anda jangan keluar gedung malam ini. Besok saya cocokkan dengan log.”
“Cocokkan,” kata Alina. Ia menutup buku. “Saya tidak membawa fotonya. Saya membawa fakta bahwa nama itu sudah muncul di peninjauan internal, lalu peninjauan itu berhenti. Itu cukup untuk saya tunda tuduhan yang lebih besar. Tidak cukup untuk saya anggap Anda jujur penuh.”
Ia keluar sebelum sepuluh menit Sari berubah menjadi telepon berikutnya. Di ruang tunggu, Sari hanya mengangguk. Tidak ada pertanyaan. Lift turun dengan cermin yang memperlihatkan badge Alina dan bukan wajah Adrian.
Di studio, malam nanti, ia akan menempel catatan baru di samping aturan sandiwara. Sore ini, masih di dalam mobil yang macet di Sudirman, ia membaca ulang tulisannya sendiri. Curiga itu tidak hilang. Halaman yang tetap hitam masih banyak. Tapi data yang baru dibuka membuat tuduhan “Anda menghapus jejak” tidak bisa ia lempar mentah-mentah. Peninjauan dua tahun lalu ada. Lalu berhenti. Adrian menahan sisanya. Dua hal itu bisa sama-sama benar, dan tetap tidak membuatnya tenang.
Adrian tidak segera membuka telepon yang menunggu. Ia duduk di ruang kerja setelah Dimas keluar. Laptop sudah ditutup lagi. Privilege yang Yusuf tandai memang ada kertasnya: sebagian kalimat menyentuh pihak yang belum duduk di meja mana pun, dan membuka nama itu sekarang bisa menjadi bocoran, bukan temuan. Bagian yang tidak sepenuhnya jujur adalah sisanya. Ia menahan karena belum mau jejak itu berjalan di luar urutan yang ia kendalikan. Alina sudah mengatakan itu dengan kalimat yang tidak bisa ia kembalikan ke istilah hukum.
Ia tidak menulis pengakuan. Ia hanya menambahkan, di catatan yang tidak dikirim, bahwa dua halaman sudah dilihat, bahwa Lazuardi bukan temuan baru, dan bahwa Alina tidak percaya alasan penahanan secara utuh. Yang terakhir itu tidak ia rumuskan sebagai kalah. Ia rumuskan sebagai fakta yang baru saja terbaca di wajah dan di kalimat perempuan itu, sebelum pintu tertutup.