Jarot, sang penguasa dunia bawah tanah yang sedang menyamar untuk menikmati masa pensiun santainya, tanpa sengaja terseret ke dalam masalah saat ia menyelamatkan seorang pengusaha wanita bernama Nisa dari kepungan preman. Terkesima oleh kemampuan bertarung Jarot, Nisa langsung menyewanya dengan bayaran fantastis untuk menjadi pengawal pribadi tiga putri angkatnya—Lyly, Tata, dan Melly—gadis-gadis keras kepala yang selalu sukses mengusir pengawal mana pun dalam hitungan jam. Di balik kemewahan rumah tersebut, sebuah permainan rahasia yang konyol namun mematikan dimulai; ketiga nona muda itu berusaha menggunakan kemampuan rahasia mereka sebagai ratu Wall Street, master bela diri, dan peretas dewa untuk mengerjai Jarot, tanpa sadar bahwa pria santai yang sedang mereka hadapi adalah monster paling ditakuti di dunia bawah. Kini, sambil meladeni tingkah laku mereka, Jarot harus menggunakan insting pembunuhnya untuk membantai ancaman nyata dari rival bisnis Nisa yang mulai mendekat dari balik
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Ia meletakkan cangkir kopinya dan menatap Tata dengan senyum meremehkan yang sangat menyebalkan.
"Ada yang bisa saya bantu, Nona manis?" sapa pria itu pura-pura ramah saat Tata sampai di depan mejanya.
"Tidak usah berpura-pura lagi. Aku tahu kamu orang suruhan yang mengintai keluarga kami," tembak Tata langsung pada intinya.
Brak.
Tata menggebrak meja pria itu dan bersiap untuk melayangkan pukulan lurus mematikan ke wajahnya.
Namun sebelum tangan Tata sempat bergerak maju, senyum ramah pria itu berubah menjadi seringai iblis.
Srek.
Pria itu menyingkap sedikit jas abu-abunya menggunakan tangan kiri yang berada di bawah meja.
Mata Tata langsung terkunci pada sebuah benda logam hitam mematikan yang moncongnya kini mengarah tepat ke perutnya dari balik meja.
Pria itu telah menodongkan pistolnya tanpa harus mengangkat senjatanya ke atas meja, sehingga tidak ada pengunjung lain yang menyadarinya.
Darah di sekujur tubuh Tata mendadak terasa membeku dan berhenti mengalir.
Kakinya yang biasa digunakan untuk melayangkan tendangan penghancur kini terasa seberat jangkar kapal.
"Ilmu bela dirimu mungkin hebat di atas matras, Nona. Tapi di dunia nyata, sebutir timah panas jauh lebih cepat dari pukulanmu," ucap pria itu dengan suara berbisik pelan.
"Mundur selangkah, atau isi perutmu akan berceceran di lantai restoran ini sekarang juga," lanjut pria itu memberikan ancaman mematikan.
Nafas Tata mulai tersengal-sengal karena ini adalah pertama kalinya ia menatap langsung moncong senjata api yang siap membunuhnya.
Semua kesombongan dan rasa percaya dirinya sebagai pemimpin perguruan bela diri hancur lebur seketika berhadapan dengan kematian nyata.
"A-Apa maumu..." tanya Tata dengan suara bergetar yang susah payah ia keluarkan dari tenggorokannya.
"Berjalanlah perlahan keluar dari restoran ini menuju parkiran bawah tanah bersamaku," perintah pria itu sambil terus menodongkan pistol dari bawah meja.
"Kalau kamu berani berteriak atau lari, aku tidak akan ragu menembak perutmu di sini," tambahnya kejam.
Tata meneteskan keringat dingin dan perlahan memundurkan langkahnya dengan tubuh kaku bagai robot.
Pria berjas itu ikut berdiri perlahan dengan tangan kanan masih berada di balik jas menyembunyikan pistolnya.
Ia berjalan mendekat ke arah Tata seolah-olah mereka adalah sepasang teman yang akan pergi bersama.
Dari kejauhan kaca cafe seberang, Lyly dan Melly menutup mulut mereka dengan tangan karena sangat syok melihat Tata ditawan dengan begitu mudah.
"Kita harus bagaimana, Kak?! Tata ditangkap!" tangis Melly mulai pecah karena panik.
"Jangan bergerak dari sini, kita hanya akan menambah masalah kalau ikut ke sana," tahan Lyly yang juga gemetar hebat menahan ketakutannya.
Pria itu tersenyum puas melihat Tata yang sama sekali tidak berkutik dalam kekuasaannya.
"Anak baik, ayo kita jalan sekarang," bisik pria itu di dekat telinga Tata.
Tap.
Sebuah tangan besar dan kokoh tiba-tiba mendarat di bahu pria berjas abu-abu itu dari arah belakang.
Pria itu sedikit tersentak namun belum sempat ia menoleh ke belakang, sebuah suara santai terdengar masuk ke telinganya.
"Permisi, Bang. Ini Mbak yang satu ini kebetulan punya utang gorengan sama aku belum dibayar," ucap Jarot dengan nada malas yang sangat khas.
Mata Tata langsung melebar menatap wajah Jarot yang muncul tepat di belakang bahu pria penculiknya.
Rasa lega yang luar biasa besar langsung membanjiri hati gadis tomboy tersebut sampai matanya berkaca-kaca.
Pria berjas abu-abu itu mengernyitkan dahi karena tidak menyangka ada orang lain yang berani ikut campur.
"Pergi dari sini, gembel! Atau kamu juga ikut aku lubangi," ancam pria itu mengalihkan moncong pistol di balik jasnya ke arah perut Jarot.
"Aku sudah bilang kan sama Mbak Tata, duduk tenang aja minum es teh manisnya di cafe," keluh Jarot sama sekali tidak mempedulikan ancaman pria itu.
"Kamu ini beneran keras kepala dan susah diatur ya ternyata," omel Jarot menatap wajah Tata yang masih pucat pasi.
Pria berjas itu merasa sangat terhina karena ancaman senjata apinya benar-benar diabaikan oleh Jarot.
"Kamu cari mati, bajingan!" umpat pria itu dan jari telunjuknya mulai menarik pelatuk pistol.
Syuuut. Krak.
Dalam pergerakan yang sangat mustahil ditangkap mata telanjang, tangan kiri Jarot sudah menyusup ke balik jas pria itu.
Jarot mencengkeram silinder pistol besi tersebut beserta seluruh jari tangan pria itu dengan kekuatan monster.
Pria itu terbelalak kaget karena ia sama sekali tidak bisa menarik pelatuknya karena bagian mekanisme senjatanya ditahan paksa oleh jemari Jarot.
"Pistol mainan kayak gini jangan dibawa ke mall, Bang. Nanti disita sama satpam lho," bisik Jarot dengan senyum yang sangat mengerikan.
Bruk.
Jarot memelintir tangan pria itu ke arah luar hingga tulang bahunya bergeser dari posisinya.
Pria itu langsung kehilangan tenaga dan menjatuhkan senjatanya, namun Jarot menangkap pistol itu sebelum menyentuh lantai.
Bugh.
Dengan gerakan kilat, Jarot menghantamkan gagang pistol itu tepat ke pelipis pria berjas abu-abu tersebut.
Pria itu seketika lemas dan kehilangan kesadarannya sebelum tubuhnya ambruk ke lantai restoran.
Jarot dengan cepat menangkap kerah jas pria itu dan mendudukkannya kembali ke kursi restoran seolah pria itu hanya sedang tertidur.
Semua adegan itu terjadi begitu cepat dan sunyi sehingga tidak ada satu pun pengunjung restoran lain yang menyadari adanya perkelahian.
Pistol berperedam itu sudah berpindah dengan rapi ke dalam saku celana kargo milik Jarot.
Jarot kemudian menepuk-nepuk tangannya seolah baru saja membuang sampah yang sangat kotor.
Ia menoleh menatap Tata yang masih berdiri mematung dengan nafas yang masih tersengal-sengal.
Gadis yang selalu membanggakan kemampuan bela dirinya itu kini terlihat sangat rapuh dan lemah di depan mata Jarot.
"Nah, sudah selesai. Ayo kita balik ke meja, es teh manisku pasti sudah tidak dingin lagi sekarang," ajak Jarot dengan nada santai seperti biasa.
Tata menundukkan kepalanya dalam-dalam dan tanpa sadar air mata penyesalan menetes dari sudut matanya.
Ia baru sadar bahwa dunia nyata jauh lebih kejam dan mematikan daripada ring pertandingan di dalam dojo miliknya.
Dan pria berpakaian gembel yang selalu ia hina ini, baru saja menyelamatkan nyawanya dari kematian yang pasti.
"A-Aku minta maaf..." cicit Tata dengan suara yang sangat pelan dan bergetar hebat.
Jarot hanya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal mendengar permintaan maaf yang langka tersebut.
"Sudahlah, yang penting kamu masih hidup. Ayo jalan, Mbak Lyly sama Mbak Melly pasti udah jantungan nungguin di sana," kata Jarot sambil membalikkan badan.
Tata mengusap air matanya dengan kasar dan berjalan mengekor di belakang Jarot dengan langkah yang sangat patuh.
Tidak ada lagi tatapan meremehkan atau aura permusuhan dari gadis keras kepala itu.
Kini, hanya ada rasa hormat dan kekaguman yang mulai tumbuh melihat punggung lebar Jarot di depannya.
Sementara itu, Jarot hanya tersenyum tipis di dalam hatinya karena satu dari tiga anak singa betina ini akhirnya berhasil ia jinakkan.
Namun ia juga sadar, kelompok musuh ini tidak akan berhenti hanya karena kehilangan dua pengintai amatiran mereka hari ini.
Permainan bertahan hidup yang sesungguhnya di kota ini akan semakin ganas di hari-hari berikutnya.