"Gue capek jadi badut. Mulai hari ini, lo bebas dari gue."
Selama tiga tahun di SMA Nusantara, semua orang tahu kalau Elsa Nur Cahyani adalah cegil (cewek gila) garis keras yang bucin mati-matian ke Muhammad Firdaus, Ketua OSIS sempurna yang sedingin es. Elsa rela dipermalukan, jadi seksi sibuk OSIS tanpa dibayar, sampai dihukum lari keliling lapangan demi cari perhatian Firdaus. Hasilnya? Nol besar. Firdaus tetap menganggap Elsa gangguan yang tidak punya harga diri.
Titik balik itu datang di hari ulang tahun Firdaus. Setelah kuenya dihancurkan dan cintanya ditolak mentah-mentah di depan satu sekolah, Elsa sadar: dia sudah selesai. Elsa memutuskan pensiun jadi budak cinta. Dia berubah total—menjadi cuek, fokus pada ujian, dan benar-benar menganggap Firdaus tidak ada.
Tapi anehnya, saat Elsa melangkah pergi, justru Firdaus yang mulai kehilangan arah. Cowok yang tadinya antipati itu mendadak sadar kalau dunia tanpa gangguan Elsa ternyata terasa sangat sepi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehilangan Yang Nyata 04.
Bel istirahat pertama berbunyi nyaring, memecah ketegangan pelajaran Kimia yang baru saja usai. Dalam hitungan detik, ruang kelas XII A berubah riuh. Beberapa siswa langsung berhamburan ke kantin, sementara yang lain mulai merapatkan meja untuk makan bersama.
Firdaus menutup buku paketnya dengan gerakan lambat. Matanya, di luar kendali otaknya, kembali melirik ke pojok kanan belakang.
Elsa sedang merapikan alat tulisnya. Tidak ada lagi gerakan terburu-buru menyambar kotak makan bermotif kelinci dari dalam tas. Gadis itu hanya mengeluarkan sebuah dompet kecil, lalu menepuk bahu Sherly.
"Gue ke kantin ya, Sher. Mau titip?" tanya Elsa. Suaranya terdengar jelas sampai ke barisan depan karena posisinya yang kini melewati meja Firdaus untuk menuju pintu.
"Gak usah, Sa. Gue bawa roti," jawab Sherly.
Elsa mengangguk, melangkah santai melewati barisan meja depan tanpa sekalipun menoleh ke arah Firdaus. Dia berjalan lurus, mengobrol ringan dengan beberapa siswi lain di ambang pintu, lalu menghilang di kelokan koridor.
Benar-benar menganggap Firdaus seperti udara kosong.
Firdaus menarik napas pendek, mengusap tengkuknya yang mendadak terasa kaku. Dia berdiri, membawa langkah kakinya menuju ruang OSIS. Kebiasaan selama satu tahun terakhir telah membentuk rute otomatis di kepalanya: bel istirahat artinya ruang OSIS, tempat di mana sebuah kotak bekal dengan menu penuh gizi—dan kadang dekorasi nasi berbentuk lucu yang kekanak-kanakan—selalu menunggunya di atas meja kerja.
Namun, saat Firdaus mendorong pintu kaca ruang OSIS yang dingin oleh semburan AC, pemandangan di dalamnya memukul kesadarannya dengan telak.
Meja kayu panjang di sudut ruangan itu bersih. Kosong melompong.
Hanya ada tumpukan map proposal kegiatan bulan bahasa dan sebuah tatakan gelas plastik.
Tidak ada kotak makan merah muda. Tidak ada botol minum pastel. Tidak ada juga aroma tumis ayam madu yang biasanya langsung menyapa indra penciumannya.
Perut Firdaus berbunyi tipis. Kerongkongan dan lambungnya menuntut hak yang sengaja dia tunda sejak pagi karena terburu-buru mengejar jadwal piket. Dia terduduk di kursi kerjanya, menatap lurus ke permukaan meja yang kosong.
"Daus? Lo belum makan?"
Reno masuk membawa sebungkus roti bakar dan susu kotak. Dia langsung menangkap gestur janggal sahabatnya yang hanya duduk bengong memandangi meja kosong. Reno tersenyum simpul, sebuah senyum yang sarat akan sindiran halus.
"Mana bekal lo? Biasanya jam segini si Elsa udah heboh ngetok pintu kayak penagih utang," tanya Reno sengaja, seraya mengambil posisi duduk di meja seberang.
"Nggak ada," jawab Firdaus pendek. Suaranya datar, mencoba menyembunyikan rasa lapar—dan sesuatu yang mulai terasa mengganjal di dadanya.
"Nggak ada atau lo lupa bawa dari kelas?"
"Dia gak ngasih."
Reno menghentikan kunyahannya. Dia menatap Firdaus lurus-lurus, lalu terkekeh geli. "Oh, jadi beneran? Prediksi gue kemarin tepat sasaran? Elsa udah resmi mengundurkan diri jadi seksi konsumsi pribadi lo?"
Firdaus tidak menjawab. Dia membuka ponselnya, berpura-pura memeriksa grup koordinasi OSIS padahal fokusnya buyar total.
"Bagus deh," lanjut Reno, nadanya berubah agak serius. "Kasihan juga gue lihat dia dua tahun ini. Lo kayak patung Liberty, Daus. Diam, dingin, diguyur hujan badai tetep gak gerak. Sekarang patungnya kesepian kan pas burung yang biasa hinggap memilih terbang?"
"Gue gak minta dia kayak gitu dari awal, Ren," potong Firdaus, suaranya naik satu oktav. Ada nada defensif yang jarang dia tunjukkan. "Gue gak pernah minta bekal, gak pernah minta dia nungguin gue. Dia yang mau sendiri."
"Ya, dan sekarang dia udah nggak mau sendiri. Jadi adil, kan?" Reno mengedikkan bahu, lalu berdiri. "Gue mau ke kantin belakang, mau gabung sama anak-anak. Lo mau nitip? Muka lo udah kayak orang tipes, pucat."
"Gak usah. Gue gak laper." Sebuah kebohongan instan yang langsung terbantahkan oleh bunyi protes dari dalam perutnya sendiri.
Reno hanya mendengus, tidak berniat memaksa, lalu keluar meninggalkan Firdaus sendirian dalam keheningan ruang OSIS.
Mata Firdaus kembali tertuju pada sudut meja tempat biasanya kotak bekal diletakkan. Di sana, biasanya ada secarik kertas sticky notes kuning dengan tulisan tangan Elsa yang besar-besar dan berantakan: 'Habisin ya, Daus! Awas kalau tersisa, besok-besok gue masakin pare pahit!'
Firdaus selalu membuang kertas itu ke tempat sampah tanpa membacanya dua kali di depan Elsa. Namun kini, kebersihan meja itu justru terasa mencekik. Ruangan ini mendadak terasa terlalu luas dan terlalu dingin untuk dia tempati sendirian.
Sementara itu, atmosfer di kantin belakang sekolah terasa jauh lebih hangat.
Elsa duduk di bangku panjang pojok kantin bersama Sherly. Di depannya tersedia semangkuk bakso urat dan es teh manis yang menggugah selera.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, Elsa bisa menikmati makan siangnya tanpa harus melirik jam tangan setiap dua menit sekali, tanpa harus cemas apakah Firdaus akan menyukai makanannya atau tidak.
"Sa, lo beneran gak apa-apa?" Sherly bertanya hati-hati di sela kunyahannya. "Gue agak merinding lihat lo mendadak waras gini. Lo gak lagi kesurupan, kan?"
Elsa tertawa lepas, sebuah tawa renyah yang sudah lama tidak terdengar dari bibirnya. "Gue cuma capek, Sher. Capek jadi badut sekolah."
"Tapi lo udah suka sama dia dari kelas sepuluh, Sa. Tiga tahun itu gak sebentar."
"Makanya, tiga tahun itu udah lebih dari cukup buat sadar kalau gue gak punya bakat jadi penakluk es," sahut Elsa santai, mengaduk es tehnya hingga es batunya berdenting memantul pada dinding gelas. "Hati orang tuh bukan proyek roro jonggrang yang harus selesai dalam semalam, tapi kalau udah tiga tahun gak ada fondasi yang terbangun, artinya tanahnya emang gak cocok buat didiriin bangunan. Mending gue cari tanah lain."
"Tanah lain contohnya kayak... Aris?" goda Sherly sambil menyenggol lengan Elsa.
Tepat saat nama itu disebut, sosok yang dibicarakan muncul.
Aris berjalan mendekat ke meja mereka membawa dua bungkus siomay di tangannya.
Cowok berambut agak ikal dengan senyum ramah itu langsung mengambil posisi duduk di hadapan Elsa.
"Hai, Sa. Boleh gabung, kan? Meja lain penuh banget," kata Aris, matanya berbinar jenaka.
Elsa tersenyum ramah—kali ini sebuah senyuman tulus tanpa beban. "Boleh banget, Ris. Duduk aja."
"Gue denger lo pindah bangku ke belakang? Kenapa? Bosan lihat pemandangan depan?" tanya Aris membuka obrolan, nadanya terdengar kasual namun penuh perhatian tersembunyi.
"Pemandangan di belakang lebih bagus. Dekat jendela, bisa lihat lapangan," jawab Elsa jujur.
"Dan gak bikin sakit mata," sahut Sherly memprovokasi, yang langsung dibalas injakan kaki dari Elsa di bawah meja. Aris hanya terkekeh, tampaknya paham kemana arah pembicaraan tersebut.
Dari jarak beberapa meter di dekat koridor kantin, sesosok cowok tinggi tegap dengan seragam rapi dan map di tangan mendadak menghentikan langkahnya.
Firdaus, yang akhirnya memutuskan pergi ke koperasi untuk membeli roti, tanpa sengaja menangkap pemandangan di pojok kantin tersebut. Dia melihat Elsa sedang tertawa lepas mendengarkan cerita Aris. Dia melihat bagaimana Aris dengan santai menggeser mangkuk sambal lebih dekat ke arah Elsa, sebuah perhatian-perhatian kecil yang biasanya Elsa lakukan untuk Firdaus.
......................
...****************...
Tbc,