Serina Nirmala harus kehilangan suaminya, secara tragis tepat di hari ulang tahun putra mereka. Saat hendak membeli kue, Riki tewas tertabrak mobil Jovan Narendra, seorang pembalap muda yang saat itu kehilangan kendali akibat pengaruh obat yang diam-diam diberikan oleh seseorang yang ingin mencelakainya.
Dihantui rasa bersalah, Jovan berniat menebus kesalahannya dengan menikahi Serina, seorang wanita yang lima tahun lebih tua darinya. Awalnya Serina menolak, tetapi demi masa depan putranya dan karena Jovan bersedia bertanggung jawab atas kehidupan mereka, ia akhirnya menerima pernikahan tersebut.
Namun, pernikahan yang dimulai dari rasa bersalah perlahan berubah menjadi cinta bagi Jovan. Sementara Serina masih bergulat dengan luka kehilangan suaminya, sebuah pertanyaan terus menghantuinya.
Mampukah ia mencintai pria yang menjadi penyebab kematian suaminya, atau pernikahan ini justru menyimpan tujuan lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3
Serina yang masih berurai air mata perlahan mengangkat wajahnya.
Tatapannya jatuh kepada sosok pria yang berdiri beberapa langkah di hadapannya.
yaitu Jovan.
Wajahnya terlihat pucat, kepalanya masih diperban, dan tubuhnya belum sepenuhnya pulih dari kecelakaan. Namun, bagi Serina, semua itu tidak berarti apa-apa.
Yang ia lihat hanyalah pria yang telah merenggut suaminya.
Emosi yang sejak tadi tertahan akhirnya meledak.
"Jadi kau yang telah membunuh suamiku?"
Suara Serina bergetar, tetapi penuh amarah.
Jovan hanya terdiam. Ia menundukkan kepalanya.Tidak ada pembelaan.Tidak ada alasan. Sebab apa pun yang dikatakannya tidak akan mampu mengembalikan nyawanya Riki.
Leo yang berdiri di samping Jovan segera maju.
"Bu, tolong dengarkan saya. Jovan sebenarnya tidak bermaksud..."
"Diam!"
Bentakan Serina membuat Leo terdiam.
"Apa pun alasannya, suamiku tetap mati!"
Air mata kembali mengalir di pipi Serina.
"Dia pergi untuk membelikan kue ulang tahun anak kami!"
Serina menunjuk ke arah kotak kue yang telah rusak.
"Hari ini seharusnya menjadi hari bahagia untuk putraku!" ucapnya dengan suaranya yang pecah.
"Tapi sekarang... Ayahnya sudah tidak akan pernah pulang lagi."
Jovan mengangkat wajahnya perlahan. Tatapan mereka bertemu.
Untuk pertama kalinya, Jovan dapat melihat dengan jelas luka yang terpancar dari mata Serina.
Luka seorang istri yang baru saja kehilangan suaminya. Luka seorang ibu yang harus menjelaskan kepada anaknya bahwa ayahnya tidak akan pernah kembali.
Jovan menelan ludah.
"Maaf..."
Hanya itu yang mampu keluar dari bibirnya.
Serina tertawa getir di tengah tangisnya.
"Maaf?"
Ia melangkah mendekat.
"Menurutmu kata maaf bisa menghidupkan kembali suamiku?"
Jovan tetap diam. Serina semakin dekat hingga akhirnya tangannya mencengkeram kerah pakaian Jovan.
"Kau telah membunuh suamiku!"
Tatapan Serina penuh kebencian sekaligus luka.
Jovan membalas tatapan itu.
"Aku..." Suaranya tercekat.
"Maaf... aku benar-benar tidak bermaksud..."
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipinya Jovan.
Kepala Jovan sedikit menoleh akibat tamparan tersebut. Leo langsung terkejut.
"Bu!"
Namun Jovan mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Leo tidak ikut campur.
Ia kembali menatap Serina. Pipi kirinya memerah. Tetapi Jovan tidak marah.Ia justru menundukkan kepalanya.
"Tampar aku kalau itu bisa sedikit mengurangi rasa sakit mu."
Serina menatapnya dengan air mata yang semakin deras.
"Aku benci kau..."
Jovan terdiam.
"Aku sangat membencimu."
Kalimat itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada tamparan yang baru saja diterimanya.
Di belakang Serina, Farel menangis histeris.
"Bunda..."
Serina langsung menoleh. Farel berlari memeluk kakinya.
"Bunda... aku mau Ayah..."
Serina berlutut dan memeluk putranya erat.
"Iya, Sayang..." Tangisnya pecah kembali.
"Bunda juga mau Ayah..."
Jovan memalingkan wajahnya. Ia tidak sanggup melihat pemandangan itu terlalu lama.
Namun, sebelum ia sempat mengatakan sesuatu, terdengar suara langkah kaki dari ujung lorong.
Beberapa orang anggota kepolisian berjalan memasuki ruangan. Seorang pria dengan seragam polisi berada paling depan.
Begitu melihatnya, Iptu Darma langsung berdiri tegak dan memberikan hormat.
"Selamat malam, AKBP Darren Narendra!"
Anggota polisi lainnya ikut memberikan hormat.
"Selamat malam, Pak!"
Jovan yang mendengar nama tersebut langsung membeku.
Matanya membesar.
"Kak Darren..."
Wajahnya seketika berubah tegang.
"Kenapa Kak Darren bisa tahu gue ada di sini?"
Jovan menelan ludahnya. "Mati gue..."
Darren melangkah mendekat dengan wajah serius.
Tatapannya menyapu keadaan di ruangan tersebut. Kemudian berhenti tepat pada Jovan.
Tatapan seorang kakak kepada adiknya yang baru saja terlibat dalam sebuah kecelakaan fatal.
"Jovan."
Suara Darren terdengar berat..Jovan tidak menjawab.
"Kenapa kau ada di rumah sakit?"
Jovan menundukkan kepalanya.
Darren memperhatikan perban di kepala adiknya, lalu mengalihkan pandangan ke arah Riki yang masih terbaring tak bernyawa.
Wajahnya Darren seketika mengeras.
"Dan siapa pria itu?"
Tidak ada yang langsung menjawab.
Iptu Darma menarik napas panjang.
"Pak..."
Darren menatapnya.
"Jelaskan semuanya kepadaku."
Jovan mengepalkan tangan.
Ia tahu, mulai malam ini, masalah yang selama ini ingin disembunyikannya dari keluarga Narendra tidak mungkin lagi ditutupi.
Terlebih lagi, kakaknya sendiri telah datang dan berdiri tepat di hadapannya.
Darren masih berdiri di tempatnya.
Tatapannya semula tertuju kepada Jovan, tetapi perlahan beralih kepada sosok wanita yang sedang memeluk seorang anak kecil di dekat ranjang Riki.
Wanita itu menundukkan wajahnya sambil menangis.
Namun ketika Serina perlahan mengangkat wajahnya, pandangan Darren seketika terpaku.
Tubuhnya mendadak kaku.
Matanya membulat seolah baru saja melihat sesuatu yang mustahil.
"Serina...?"
Nama itu keluar begitu saja dari bibirnya, nyaris seperti bisikan. Darren mengenal wajah itu.
Wajah yang selama bertahun-tahun tidak pernah benar-benar hilang dari ingatannya.
Dulu, ketika dirinya masih duduk di bangku sekolah SMU, Serina adalah adik kelasnya. Gadis sederhana yang tanpa disadarinya telah menjadi cinta pertama dalam hidupnya.
Darren pernah menyukainya dalam diam.
Ia masih mengingat senyum Serina, tatapan matanya, bahkan kebiasaan kecil wanita itu ketika menundukkan kepala saat merasa malu.
Namun, waktu membuat mereka kehilangan jejak satu sama lain.
Dan kini, setelah bertahun-tahun berlalu, wanita yang pernah mengisi hatinya Darren berdiri di hadapannya dengan wajah penuh air mata.
Hanya saja...Serina tidak lagi mengenalinya.
Darren menatapnya lama.
"Ini... benar-benar Serina?" batinnya dengan jantung yang berdegup lebih cepat.
Sementara Serina yang menyadari ada seseorang memperhatikannya, ia perlahan menoleh.
Kini tatapan mereka bertemu. Serina mengernyit. Pria berseragam polisi itu menatapnya dengan sorot mata yang sulit ia mengerti. Namun, wajah tersebut terasa asing baginya. Serina segera mengalihkan pandangannya.
Darren terdiam. Ada sedikit rasa kecewa yang menyelinap di dadanya.
"Dia tidak mengenaliku?" Tentu saja. Sudah bertahun-tahun berlalu. Mereka hanya pernah bertemu ketika masih muda.
Bagi Serina, mungkin Darren hanyalah salah satu kakak kelas yang pernah dikenalnya.
Namun bagi Darren, kenangan tentang gadis itu pernah menjadi sesuatu yang begitu berarti.
Iptu Darma yang berdiri tidak jauh dari Darren memperhatikan perubahan ekspresi atasannya.
"Pak Darren?"
Darren tersadar.
"Ya?"
"Apakah Bapak mengenal Ibu Serina?"
Darren kembali menatap wanita itu.
"Serina..." Ia menghela napas pelan. "Dulu, dia adik kelasku."
Iptu Darma tampak terkejut. "Serius, Pak?"
Darren hanya mengangguk. Sementara itu, Serina kembali menatap Darren karena mendengar namanya disebut.
"Maaf..." Suaranya lirih. "Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"
Pertanyaan itu membuat Darren terdiam beberapa saat.
Ada senyum tipis yang muncul di wajahnya, tetapi senyum itu menyimpan rasa getir.
"Sepertinya... kau sudah lupa."
Serina mengerutkan kening. "Maaf. Saya benar-benar tidak ingat."
Darren menatapnya dalam-dalam.
"Tidak apa-apa."
Ia tidak ingin memperpanjangnya, terlebih melihat kondisi Serina yang sedang berduka.
Namun, di dalam hatinya Darren masih teringat jelas masa lalu mereka.
"Ternyata setelah sekian lama, kita dipertemukan kembali dalam keadaan seperti ini." batinnya
Tatapan Darren kemudian berpindah kepada Riki yang telah terbujur kaku.
Lalu kepada Farel yang masih menangis dalam pelukan Serina.
Darren menarik napas panjang. Kini ia memahami bahwa wanita yang pernah menjadi cinta pertamanya telah memiliki kehidupan sendiri.
Seorang suami.
Seorang anak.
Namun, kehidupan itu baru saja direnggut secara tragis.
Dan yang lebih mengejutkan lagi, orang yang terlibat dalam tragedi tersebut adalah adiknya sendiri.
Darren menoleh perlahan kepada Jovan.Tatapannya berubah tajam.
"Jovan."
Jovan yang sejak tadi diam langsung menegang.
"Iya, Kak..."
Darren melangkah mendekatinya. "Kau mengenal wanita itu?"
Jovan menggeleng pelan.
"Tidak."
Darren menatap adiknya dengan serius.
"Dia adalah istrinya korban?"
Jovan menundukkan kepala.
"Iya."
Darren kembali melihat Serina. Wanita yang dahulu pernah ia cintai nya itu Kini menjadi seorang janda karena kecelakaan yang melibatkan adiknya.
Takdir benar-benar mempermainkan hidupnya. Darren mengepalkan tangannya.
"Kenapa harus dia?" batinnya.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, perasaan lama yang telah ia kubur kembali muncul.
Namun kali ini, Darren tahu ia tidak boleh membiarkan masa lalu mengalahkan akal sehatnya.
Di hadapannya ada seorang wanita yang baru saja kehilangan suami.
Dan di sampingnya ada seorang anak kecil yang baru saja kehilangan ayah.
Darren menatap Serina sekali lagi.
Serina membalas tatapannya dengan mata yang kosong dan penuh kesedihan.
Tidak sedikit pun tanda bahwa wanita itu mengenalinya.
Darren hanya bisa bergumam dalam hati,
"Serina... ternyata setelah bertahun-tahun, kita bertemu lagi. Tapi kenapa harus dalam keadaan seperti ini?"
Bersambung...
dia tidak pernah minta untuk dilahirkan di keluarga narendra...
mungkin blm karma menghampiri kamu jika seuatu saat nanti kebenaran tentang masal lalu narendra, mama kandung jovan dan kau marcella ada terkaitannya tidak mungkin jovan akan menutup mata dia pasti akan membalas perbuatan itu entah apa yg dilakukan
jovan setelah menikahi serina adakah kejutan buat keluarga narendra atau tentang masa lalu yang blm usai🤔🤔🤔🤔
benar kata leo bahwa kamu sudah mulai mencintai serina dan farel sebagai orang tercinta🤭🤭🤭🤭
mungkin setelah kamu menikah dengan serina adakah nanti kamu akan menggantikan mendiang riki🤔🤔🤔🤔🤔