NovelToon NovelToon
Singgah Yang Tertukar

Singgah Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Terlarang
Popularitas:818
Nilai: 5
Nama Author: Ranu Kallanie Jingga

Enam tahun berpisah dari Nathaniel meninggalkan Elena dalam kehampaan, memikul rahasia besar: seorang anak rahasia bernama Gavin. Di tengah keterpurukannnya, Elena kembali pada sahabat masa kecilnya, Julian. Hubungan mereka kian rumit ketika Julian terikat open marriage dengan wanita lain demi tetap bisa melindungi Elena dan Gavin.
​Takdir berputar kejam saat Elena tak sengaja bertemu kembali dengan Nathaniel di pesawat. Penyesalan memuncak ketika wajah Gavin tanpa sengaja terpampang sebagai brand ambassador perusahaan Nathaniel. Terjebak di antara cinta masa lalu, ikatan darah, dan kompromi sunyi sahabatnya, ke mana Elena harus melabuhkan hatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Savana

Tak lama berselang, tanda kenakan sabuk pengaman dipadamkan, disusul oleh suara merdu dari pengeras suara kabin yang mengumumkan bahwa waktu makan siang sebentar lagi tiba. Aroma makanan yang hangat mulai menguar tipis di udara, berpadu dengan deru mesin pesawat yang stabil.

Satu per satu awak kabin melangkah menyusuri lorong Business Class, menyapa para penumpang dengan senyum ramah sambil membawakan buku menu.

Tak lama kemudian, giliran area tempat duduk privasi Fattah dan Elena yang dihampiri. Seorang pramugari berwajah manis dengan riasan rapi menghampiri sisi kursi mereka. Namun, tepat ketika manik matanya beradu pandang dengan wajah pria yang duduk di sebelah jendela, gerakan tangan pramugari itu mendadak kaku.

Sebuah mimik terkejut yang luar biasa jelas—campuran antara rasa tidak percaya, salah tingkah, dan sisa-sisa emosi masa lalu—tergambar sekilas di wajah sang pramugari, meskipun ia berusaha keras menutupi dan mengendalikannya di balik senyum profesional yang tampak dipaksakan.

Elena, yang kebetulan sedang merapikan syal di lehernya, menangkap basah perubahan ekspresi yang begitu kentara itu. Sebagai wanita yang memiliki kepekaan tinggi, Elena langsung memilih mengunci mulutnya rapat-rapat. Ia paham betul ini bukan ranahnya, dan memilih bersikap tenang, menatap ke arah jendela seolah tidak melihat apa pun yang terjadi di antara mereka.

"Selamat siang, Kak... Silakan untuk pilihan menu makan siang kami—” suara pramugari itu terdengar sedikit bergetar dan tidak stabil.

Dengan gerakan yang teramat tergesa-gesa dan menghindari kontak mata lebih lama, pramugari tersebut segera mencatat pesanan singkat mereka, lalu berbalik cepat meninggalkan kursi Fattah dan Elena tanpa menoleh lagi ke belakang.

Elena mengerjap pelan, baru saja hendak menarik napas lega ketika tiba-tiba Fattah di sebelah pergerakannya terusik. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Elena, pria S2 Teknik itu bangkit dari kursinya dengan raut wajah yang mendadak dingin dan penuh ketegasan, lalu melangkah cepat mengikuti arah perginya sang pramugari ke bagian belakang kabin.

Pintu geser area galai belakang itu baru saja hendak tertutup rapat ketika sebuah lengan kokoh menahannya dengan sangat presisi. Savana yang berjalan gontai langsung terkejut, mendongak, dan mendapati sosok Fattah berdiri jangkung menghalangi akses keluar-masuk.

Tatapan tajam dan sarat akan wibawa dari pria itu membuat Savana tak bisa berkutik. Tanpa terlontar sepatah kata pun dari bibir Fattah, atmosfer di antara mereka mendadak begitu berat. Menyadari dirinya tak lagi punya ruang untuk menghindar, Savana menghembuskan napas panjang, bergeser mundur, dan secara terpaksa membiarkan Fattah melangkah masuk ke ruangan privat yang khusus diperuntukkan bagi staf kabin tersebut.

Pintu geser akhirnya ditarik rapat dari dalam, mengunci keheningan dan sisa-sisa kisah masa lalu yang pernah terputus di antara mereka di tengah penerbangan ribuan kaki di atas udara.

Suasana di dalam ruang galai privat itu terasa begitu sesak, nyaris kedap dari suara bising mesin pesawat di luar. Savana berdiri mematung di sudut ruangan dengan napas yang memburu, jemarinya meremas erat ujung seragam pramugarinya sendiri, mencerminkan kepanikan dan kegelisahan yang luar biasa hebat.

Fattah berdiri tak jauh dari hadapannya. Tidak ada sisa kehangatan atau senyuman tenang yang biasa ia tunjukkan pada Elena; yang tertinggal hanyalah garis rahang yang mengeras dan sepasang manik mata tajam yang menghujam lurus ke arah wanita itu.

Setelah beberapa detik keheningan yang mencekam, Fattah akhirnya membuka suara. Suaranya rendah, berat, namun menusuk tajam tanpa ampun.

"Di mana anak itu?"

Satu kalimat pendek itu meluncur begitu telak, menghantam pertahanan batin Savana dalam sekejap. Alih-alih menjawab atau menciut ketakutan, pertanyaan itu justru memicu ledakan emosi yang selama ini ditahan rapat-rapat oleh sang pramugari.

Plak!

Suara hantaman yang cukup nyaring menggema di dalam ruangan sempit itu. Ayunan lengan Savana mendarat telak dengan kencang di pipi kiri Fattah, meninggalkan bekas kemerahan yang kontras di kulit pria matang tersebut.

Kepala Fattah sempat terdorong ke samping akibat hantaman itu. Namun, ia sama sekali tidak mundur, tidak pula mengangkat tangan atau menunjukkan gestur marah. Pria itu perlahan menegakkan kembali kepalanya, membiarkan rahangnya mengetat, sementara tatapannya kembali lurus menghujam mata Savana yang kini mulai berkaca-kaca dipeluk amarah dan luka lama.

Tamparan keras itu masih menyisakan denging tipis di udara, namun Fattah sama sekali tidak bergeming. Ia tidak membalas, tidak pula meninggikan suara. Pria S2 Teknik itu justru menarik napas perlahan, meredam gejolak emosi di dadanya, lalu menatap Savana yang kini tubuhnya mulai bergetar hebat di balik isakan yang tertahan.

Dengan gestur yang sangat hati-hati, Fattah mengangkat sebelah tangannya—bukan untuk melawan, melainkan memberi gestur agar wanita di hadapannya itu tenang.

"Savana... hey, tenang," ucap Fattah dengan suara rendah, berat, namun sarat akan ketulusan yang telak. "Dengarkan saya dulu."

Savana memalingkan wajahnya, menyeka air mata yang telanjur tumpah ke pipinya dengan punggung tangan, berusaha menepis kehadiran pria yang selama bertahun-tahun menjadi bayang-bayang kelam dalam hidupnya.

"Buat apa kamu nyariin aku sekarang, Fah?" desis Savana parau, suaranya bergetar menahan amarah dan luka lama. "Setelah semua yang terjadi... buat apa?"

Fattah melangkah maju satu langkah pelan, menjaga jarak agar tidak membuat wanita itu semakin defensif.

"Selama bertahun-tahun setelah kamu menghilang begitu saja, Savana, saya nggak pernah berhenti mencari kamu," ungkap Fattah jujur, manik matanya menatap tajam namun teduh. "Saya putar otak, mendatangi semua tempat yang mungkin kamu singgahi, menghubungi relasi dan teman-teman kita... tapi kamu seolah lenyap ditelan bumi. Tidak ada satu pun jejak yang tertinggal."

Kenangan pahit tiga tahun lalu berkelebat di kepala Fattah. Masa-masa di mana mereka masih terikat status sebagai sepasang kekasih, terjebak dalam usia muda dan khilaf hingga melewati batas hubungan. Puncak dari semuanya adalah ketika Savana mendadak muncul, mengatakan bahwa ia mengandung anak mereka—namun alih-alih memberi kesempatan pada Fattah untuk memikul tanggung jawab, Savana justru memilih pergi menghilang keesokan harinya tanpa sepatah kata kejelasan.

"Tiga tahun lalu, saat kamu bilang kamu hamil, niat saya bulat untuk bertanggung jawab, Savana," lanjut Fattah dengan suara yang mulai serak. "Tapi kamu malah menutup diri, menghilang tanpa jejak, dan membiarkan saya dihantui rasa bersalah yang luar biasa selama bertahun-tahun."

Savana menegang, bibirnya bergetar hebat mendengar pengakuan itu.

Melihat pertahanan wanita itu mulai goyah, Fattah mengambil jeda sejenak sebelum meluruskan satu hal penting yang ia tahu tidak boleh disalahartikan. Pria matang itu menatap lurus ke dalam manik mata Savana.

"Dan soal gadis di depan tadi... Elena," ucap Fattah tenang, menegaskan posisinya. "Memang benar saya tertarik padanya. Dia wanita yang luar biasa. Tapi di antara kami belum ada hubungan spesial apa pun. Saya tidak sedang terikat dengan siapa pun."

Fattah menghela napas berat, menyatukan kedua tangannya di depan dada, menunjukkan ketulusan mutlak dari niatnya hari ini.

"Saya sudah mengikhlaskan hubungan kita yang dulu kandas, Savana. Saya tidak datang untuk menuntut cinta atau masa lalu kita kembali," tutur Fattah dengan nada penuh penekanan yang menenangkan. "Tapi darah daging saya ada di luar sana. Saya cuma ingin tahu di mana anak itu... dan sebagai pria, saya ingin mengambil tanggung jawab saya sebagai seorang ayah."

Isakan tertahan yang sejak tadi bergeming di tenggorokan Savana akhirnya pecah seketika. Pertahanan terakhir wanita itu runtuh total, membiarkan air matanya tumpah menderu tanpa bisa dibendung lagi. Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat, seolah berusaha menghapus bayangan malam-malam penuh siksaan batin yang telah ia lewati seorang diri selama bertahun-tahun.

"Kamu bilang kamu mau bertanggung jawab...?" bisik Savana parau, suaranya bergetar hebat diiringi isakan yang menyayat hati. "Kamu pikir aku mau pergi begitu saja dari hidup kamu, Fah? Kamu pikir aku sengaja menyembunyikan anak itu dari kamu?!"

Fattah tertegun. Alisnya bertaut rapat, menangkap ada kepedihan dan kemarahan berlapis dalam kalimat wanita di hadapannya itu.

Savana menatap lurus ke dalam manik mata Fattah, sorot matanya menyiratkan luka pengkhianatan yang teramat dalam.

"Waktu aku bilang aku positif hamil tiga tahun lalu... malam harinya, aku dapat pesan masuk ke ponsel aku," lanjut Savana dengan napas tersenggal. "Pesan itu dari nomor kamu, Fah. Pesan yang isinya meminta aku untuk melupakan semuanya, menyuruh aku menggugurkan kandungan itu, dan mengancam supaya aku nggak pernah berani mendekati kamu atau keluarga kamu lagi karena keberadaanku bakal menghancurkan masa depan kamu."

Dada Fattah seakan dihantam palu tak kasat mata. Napasnya tercekat. "Apa...?" gumamnya tertahan, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Pesan apa yang kamu maksud? Saya... saya tidak pernah mengirim pesan seperti itu ke kamu, Savana!"

"Tapi pesan itu nyata!" seru Savana di sela tangisnya yang semakin histeris, meluapkan beban yang selama ini menghimpit dadanya seorang diri. "Pesan itu datang dari ponsel kamu! Dan bukan cuma itu..."

Savana menyeka air matanya dengan kasar, menatap Fattah dengan kebencian dan kepedihan yang bercampur aduk.

"Tidak lama setelah pesan itu masuk, ibu tiri kamu menemui aku secara sembunyi-sembunyi," ungkap Savana dengan suara gemetar. "Beliau tahu soal kehamilan aku. Dengan kata-kata yang begitu tajam dan menghina, beliau bilang kalau keberadaan aku dan bayi ini cuma bakal jadi noda kotor yang merusak nama baik keluarga besar kalian. Beliau memojokkan aku, mengusir aku, dan meyakinkan aku kalau kamu sendiri jijik dan muak sama kehamilan ini!"

Ruangan galai itu mendadak terasa senyap, menyisakan deru mesin pesawat dan isakan Savana yang kian memilukan.

Fattah berdiri seperti disambar petir di siang bolong. Kepingan-kepingan teka-teki yang selama ini berantakan seketika tersusun dengan sangat kejam di kepalanya. Ibu tirinya—wanita yang selalu tampil anggun dan penuh senyum di depan publik, namun memiliki ambisi mengerikan terhadap kontrol keluarga—ternyata adalah dalang di balik hilangnya wanita dan anak kandungnya sendiri.

Ibu tirinya telah dengan sengaja menyadap atau menggunakan ponsel Fattah untuk mengirim pesan keji, lalu turun tangan sendiri untuk mengadu domba, memanipulasi, dan menakut-nakuti Savana hingga merasa begitu kecil, tidak diinginkan, dan terbuang.

"Aku merasa sendirian di dunia ini, Fah..." lirih Savana, tubuhnya merosot lemas bersandar pada dinding kabin, tak sanggup lagi menahan beban berat masa lalu itu. "Aku pergi bukan karena aku nggak sayang sama anak kita... tapi karena aku merasa kamulah yang menolak kami berdua mati-matian."

Dada Fattah bergemuruh hebat. Hantaman fakta tentang kelicikan ibu tirinya membuat darahnya mendidih, namun rasa bersalah yang jauh lebih besar kini meremukkan sekujur tubuhnya. Pria matang itu menatap wanita yang pernah dicintainya—yang kini terduduk lemas di hadapannya dengan air mata membasahi pipi—dengan sorot mata penuh penyesalan yang teramat dalam.

Dengan suara yang bergetar hebat, nyaris tak berbentuk, Fattah kembali mendesak dengan sisa-sisa tenaga dan ketegasannya.

"Savana... kumohon..." suara Fattah parau, sarat akan permohonan seorang ayah yang kehilangan arah. "Di mana anak kita sekarang? Tolong katakan... di mana dia?"

Alih-alih menjawab atau memberikan secercah petunjuk, Savana justru mendongak perlahan. Alih-alih isakan, sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman yang terasa begitu getir, dingin, dan penuh sarkasme. Senyum sinis yang mengiris hati.

Savana menggelengkan kepalanya pelan, menatap lurus ke dalam manik mata Fattah yang dipenuhi keputusasaan.

"Buat apa kamu nanyain dia sekarang, Fah?" desis Savana dengan suara dingin yang menusuk. "Setelah tiga tahun anak itu hidup tanpa seorang ayah, setelah semua rasa sakit dan hinaan yang harus aku tanggung sendirian... baru sekarang kamu mau mencarinya?"

Wanita itu perlahan bangkit dari sandarannya, menatap tajam pria di hadapannya tanpa menyembunyikan rasa sakit di matanya.

"Sudahlah, Fah. Lupakan semuanya. Anggap saja anak itu tidak pernah ada, dan anggap aku sudah mati sejak hari aku pergi dari hidup kamu," ucap Savana tegas, meski suaranya masih sedikit bergetar.

Ia membuang muka, lalu melirik sekilas ke arah pintu keluar galai seolah mengusir Fattah secara halus.

"Fokus saja pada hidup kamu sekarang... fokus saja pada wanita kaya dan berkelas yang duduk di kursi depan sana. Elena. Lindungi dia, bahagiakan dia, dan biarkan masa lalu kita terkubur selamanya."

Fattah tahu betul ia tidak bisa menekan Savana lebih jauh lagi di tengah situasi yang rapuh dan emosi yang masih berkecamuk hebat. Pria itu menyadari bahwa luka akibat manipulasi masa lalu tidak bisa disembuhkan hanya dalam waktu beberapa menit.

Tanpa ragu, Fattah melangkah mendekat, lalu merengkuh tubuh Savana yang masih bergetar ke dalam dekapannya. Ia memeluk wanita itu dengan erat dan penuh kehangatan, menyalurkan ketulusan serta penyesalan mendalam yang selama ini terpendam.

"Maafin aku, Savana... maafkan aku..." bisik Fattah parau tepat di dekat telinga wanita itu, suaranya sarat akan rasa bersalah yang teramat sangat.

Fattah melepaskan pelukan sesaat untuk menatap wajah wanita yang pernah mengisi hari-harinya, lalu mendaratkan sebuah kecupan penuh kelembutan di kening Savana.

"Apapun yang terjadi, kamu akan selalu punya tempat di hati aku, Savana," ucap Fattah tulus. "Dan dengar janji aku... aku akan bertanggung jawab penuh atas anak kita. Bantuan finansial, fasilitas, dan pengamanan jarak jauh akan aku pastikan mengalir untuk kalian. Kamu dan anak kita berhak mendapatkan kehidupan yang aman dan layak."

Mendengar janji yang begitu tulus dan mutlak itu, pertahanan terakhir Savana runtuh seketika. Isak tangisnya kembali pecah, dan dengan sisa-sisa tenaga serta kerinduan yang selama ini disembunyikannya rapat-rapat, Savana membalas pelukan Fattah erat-erat. Hatinya menjerit kesakitan, merindukan sandaran yang sama sekali hilang tiga tahun lalu.

Namun, di balik pelukan hangat itu, ego, gengsi, dan sisa-sisa rasa trauma yang tertanam akibat kebohongan masa lalu bergejolak lebih tinggi. Harga dirinya menolak untuk terlihat lemah atau kembali begitu saja pada pria yang pernah ia sangka membuangnya. Dengan berat hati, di tengah air mata yang menderu, Savana mengerahkan sisa ketegarannya untuk tetap pada pendiriannya—menolak kehadiran Fattah kembali ke dalam hidupnya secara utuh.

Pelukan hangat itu perlahan merenggang. Savana melepaskan dekapannya dengan gerakan yang begitu lembut, seolah enggan mengakhiri satu momen ketulusan yang telah lama ia rindukan, namun harus ia lakukan demi menjaga sisa-sisa harga dirinya.

Dengan jemari yang masih bergetar, Savana mencondongkan tubuhnya ke depan. Ia mendaratkan sebuah kecupan singkat dan penuh kelembutan di pipi Fattah—sebuah salam perpisahan yang sarat akan sisa rasa cinta, luka masa lalu, dan kepedihan yang teramat sangat.

Sebelum air matanya kembali tumpah tak terkendali, Savana berbisik pelan, menguak satu rahasia terbesar yang selama ini ia simpan rapat-rapat seorang diri.

"Anak itu bernama Aurora Odelyn Nakesya..."

Setelah merapal nama buah hati mereka, Savana tidak menunggu respons apa pun lagi. Ia segera memutar tubuhnya, menarik pintu geser galai, dan beranjak keluar meninggalkan ruangan privat tersebut, membiarkan keheningan kembali meraja di dalam bilik sempit itu.

Fattah berdiri terpaku bagai tersambar petir. Raga pria S2 Teknik itu seolah membeku di tempat, tak mampu bergerak barang satu inci pun. Nama itu—Aurora Odelyn Nakesya—berputar bergema di dalam kepalanya, mengukir identitas darah dagingnya yang selama ini tersembunyi dalam gelap.

Dengan rahang yang mengetat keras dan napas yang memburu tertahan, Fattah memejamkan matanya dalam-dalam. Di balik kelopak matanya yang terpejam rapat, tekad bulat kini bergemuruh hebat di dadanya: Apapun penolakan Savana saat ini, ia akan pastikan Aurora dan ibunya mendapatkan perlindungan, keadilan, dan masa depan yang selayaknya.

1
Aurora odelyn Nakeisha
alurnya agak berat tapi bikin penasaran
Anandaaa
lanjutin torr gas
Langi Wijaya
ceritanya seru agak bikin tensi naik turun.....
ayo tor lanjutin update nya
Langi Wijaya
julian cowo bingung tapi clear agak out of the box pemikirannya😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!