Husen Alkhafi adalah seorang guru idealis dengan kemampuan mengajar luar biasa yang ditugaskan ke SMA Garuda dan memimpin Kelas XI-7 yang terkenal sebagai sarang berandalan.
Namun, di tengah keputusasaan menghadapi murid-murid bermasalah yang hobi melawan guru, Husen membangkitkan Sistem Guru Legendaris yang memungkinkannya melihat potensi tersembunyi setiap siswa beserta kelemahan mereka.
Kini, berbekal sistem misterius dan keteguhannya, Husen bertekad mengubah kelas sampah itu menjadi yang terbaik, membimbing murid-muridnya menuju masa depan yang cerah,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Ting!
Suara dari sistem kembali terngiang di dalam kepala Husen saat dia berdiri di depan kelas.
Dia menatap ke sekeliling ruangan yang sekarang benar-benar sunyi senyap.
Di atas kepala siswa berambut merah tadi, kini muncul sebuah teks melayang berwarna biru.
[Nama: Rico]
[Potensi: Ahli Mekanik Tingkat Lanjut]
[Kelemahan: Terlilit hutang bengkel ilegal dan buta warna parsial]
Husen tersenyum penuh arti melihat rentetan informasi rahasia yang disajikan oleh sistem.
"Rico, bangun dari lantai dan berdirikan kembali meja saya."
"Atau kamu mau saya laporkan hutang bengkel ilegalmu itu ke pihak sekolah?"
Rico yang masih mengelus punggungnya langsung membeku mendengar ucapan Husen.
"Darimana Bapak tahu soal bengkel itu?!"
Wajah Rico menjadi pucat pasi dan dia buru-buru mendirikan meja guru yang tadi jatuh.
"Bukan urusanmu darimana saya mengetahuinya."
"Duduk dengan tenang dan jangan membuat keributan lagi di kelas saya."
Husen kemudian menoleh ke arah tiga siswi yang tadi asyik memoles kuku di pojok ruangan.
[Nama: Siska]
[Potensi: Desainer Fashion Berbakat]
[Kelemahan: Sering mencuri uang kas kelas demi membeli alat kosmetik mahal]
"Siska, simpan alat riasmu sekarang juga."
"Saya tidak ingin membahas kemana hilangnya uang kas kelas selama tiga bulan terakhir ini."
Siska tersentak kaget sampai botol cat kukunya hampir terjatuh ke lantai.
"Bapak jangan asal menuduh ya!"
"Saya punya bukti kuat jika kamu masih mau membantah, Siska."
Siska langsung menunduk malu dan buru-buru menyembunyikan semua peralatannya ke dalam laci.
Seluruh kelas XI-7 kini memandang Husen seolah-olah dia adalah seorang cenayang yang mengerikan.
"Dengar baik-baik, anak-anak."
"Saya tahu semua rahasia kotor kalian dan apa saja yang kalian lakukan di luar sekolah."
"Selama kalian patuh di dalam kelas ini, saya akan menjaga rahasia itu rapat-rapat."
Husen berjalan mengelilingi meja murid satu per satu dengan langkah pelan.
Tap tap tap.
"Tapi jika kalian mencoba bermain-main dengan saya, kalian tahu sendiri akibatnya."
"Mengerti?"
Tidak ada satu pun murid yang berani menjawab peringatan tersebut.
"Saya tanya, apakah kalian mengerti?!"
"Mengerti, Pak!"
Mereka menjawab serempak dengan nada ketakutan yang tidak bisa disembunyikan lagi.
Teng teng teng.
Bel istirahat berbunyi nyaring memecah ketegangan di dalam kelas XI-7.
Husen membereskan buku catatannya dan melangkah keluar kelas tanpa menoleh ke belakang.
Bara masih duduk di bangkunya sambil memijat pergelangan kakinya perlahan.
Rico dan beberapa anggota geng Bara segera menghampiri meja ketua kelas mereka itu.
"Bos, lu beneran kalah sama guru baru itu?"
Rico bertanya dengan nada tidak percaya melihat Bara yang terlihat kesakitan.
Bara menatap tajam ke arah pintu kelas yang sudah kosong.
"Guru itu tidak normal sama sekali, Rico."
"Dia tahu persis titik lemah di kakiku padahal aku selalu menyembunyikannya dari semua orang."
"Bahkan dia tahu rahasia bengkel lu dan uang kas Siska cuma dalam sekali lihat."
Rico menelan ludah mengingat ancaman Husen beberapa saat yang lalu.
"Terus kita harus gimana sekarang, Bos?"
"Apa kita biarin aja dia berkuasa di kelas ini mulai sekarang?"
Bara mendengus kasar lalu mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Tentu saja tidak, kita belum selesai dengannya."
"Cari tahu semua informasi tentang Husen Alkhafi hari ini juga ke sekolah lamanya."
"Tanya teman-teman lu yang ada di Akademi Cakrawala soal alasan dia dikeluarkan dari sana."
Rico mengangguk cepat menerima perintah dari ketua gengnya itu.
"Siap, Bos, gue bakal cari tahu semua kelemahannya hari ini juga."
"Gue pastikan besok dia nggak bakal berani ngancem kita lagi pakai rahasia kita."
Sementara itu, Husen sedang berjalan santai menuju kantin sekolah yang berada di lantai dasar.
Perutnya sudah berbunyi minta diisi karena dia belum sarapan sejak pagi tadi.
Suasana kantin SMA Garuda Kelam sangat ramai dan penuh dengan asap rokok murid laki-laki.
Husen membeli sebungkus nasi campur dan duduk di meja kayu yang kosong di pojok kantin.
Nyam nyam nyam.
Husen makan dengan tenang sambil memperhatikan lingkungan sekolah barunya ini.
Tiba-tiba, suara gebrakan meja yang sangat keras terdengar dari seberang kantin.
Brak!
"Gue bilang kerjain PR gue sekarang, cewek aneh!"
Seorang siswi senior berambut pendek berteriak marah sambil mengebrak meja di depannya.
Di kursi itu, duduk seorang siswi berkacamata tebal yang sedang membaca buku tebal.
Siswi itu sama sekali tidak memedulikan teriakan seniornya dan terus membalik halaman buku.
Sret sret.
"Lu denger gue ngomong nggak sih?!"
Siswi senior itu merebut paksa buku tebal tersebut dan melemparnya ke lantai kantin.
Bruk!
Siswi berkacamata itu akhirnya mengangkat wajahnya dengan ekspresi datar tanpa emosi sedikit pun.
"Buku itu harganya lima ratus ribu rupiah di toko buku pusat."
"Ganti rugi sekarang juga karena sampulnya lecet akibat lemparanmu tadi."
Siswi senior itu tertawa keras seakan baru saja mendengar lelucon paling lucu sedunia.
"Lu berani merintah gue, Nisa?"
"Lu pikir lu siapa di sekolah ini hah berani membantah ucapan gue?!"
Husen yang sedang mengunyah nasinya langsung menghentikan suapannya seketika.
"Nisa?"
"Jadi anak perempuan berkacamata itu adalah Nisa yang diceritakan Pak Haris pagi tadi."
Husen menatap tajam ke arah siswi bernama Nisa itu dari kejauhan.