NovelToon NovelToon
OUTPLAYED BY YOU : He Wins Every Game. She Wins Every Argument

OUTPLAYED BY YOU : He Wins Every Game. She Wins Every Argument

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mars Is Blue

OUTPLAYED BY YOU

He wins every game. She wins every argument.

"Aku tidak akan menikah denganmu kalau kamu masih menyembunyikan sesuatu dariku!"

Raka Adhitama memijat pelipisnya. Di hadapannya, Nadira Prameswari berdiri dengan piyama biru dan ekspresi siap membatalkan pernikahan mereka, padahal pria itu bahkan belum selesai menjelaskan.

"Aku belum mengatakan apa-apa."

"Tepat! Kamu selalu begitu. Diam, menghindar, lalu memasang wajah tampan seolah semuanya akan selesai sendiri."

"Aku tidak pernah menggunakan wajahku untuk menyelesaikan masalah."

Nadira mendengus. "Sayang sekali. Padahal itu satu-satunya kemampuanmu yang kuakui di luar permainan."

Raka hampir tersenyum. Hampir.

Di arena esports, ia dikenal sebagai Vex, pemain profesional yang mampu mengalahkan lawan terkuat tanpa kehilangan ketenangan. Namun, menghadapi calon istrinya sendiri ternyata membutuhkan keterampilan yang tidak tersedia dalam buku strategi mana pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19

Raka selalu menganggap ada dua jenis rapat yang tidak berguna: rapat yang sebenarnya bisa diselesaikan lewat surel dan rapat yang sengaja diadakan untuk membuat seseorang merasa berkuasa.

Pagi itu, ia menemukan jenis ketiga.

Rapat yang dimulai dengan kalimat, “Kamu harus mulai memikirkan masa depan keluarga ini.”

Ayahnya duduk di balik meja kerja yang luas, dengan beberapa map tersusun rapi di hadapannya. Adrian Adhitama mengenakan setelan abu-abu gelap dan ekspresi yang membuat orang sulit membedakan apakah ia sedang kecewa atau sekadar menghitung keuntungan.

Raka menarik kursi.

“Aku datang karena Ayah bilang ada dokumen yayasan yang perlu kupelajari. Bukan untuk membicarakan masa depanku selama dua jam.”

“Kalau kamu tidak menghabiskan terlalu banyak waktu untuk membantah, kita mungkin bisa selesai lebih cepat.”

“Kalau Ayah langsung menjelaskan maksudnya, kita juga bisa.”

Adrian menghela napas, tetapi tidak menanggapi sindiran itu.

Ia mendorong sebuah map ke seberang meja.

“Yayasan Adhitama Peduli memiliki sejumlah program bantuan medis. Lima tahun lalu, salah satu programnya bekerja sama dengan beberapa rumah sakit di Jakarta.”

Raka membuka map tersebut.

Di dalamnya terdapat laporan tahunan, ringkasan anggaran, dan beberapa lembar dokumen administrasi. Sebagian besar berisi angka serta penjelasan umum mengenai pengeluaran program.

“Kenapa aku harus mempelajari ini sekarang?”

“Karena kamu akan mewakili keluarga dalam beberapa kegiatan yayasan ke depannya. Kamu perlu memahami bahwa tanggung jawab kita tidak hanya berkaitan dengan bisnis.”

Raka membalik halaman.

Ia tidak membenci kegiatan sosial. Ia hanya tidak suka ketika ayahnya memperlakukan setiap bentuk keterlibatan sebagai bagian dari rencana suksesi yang sudah diputuskan sepihak.

“Aku bisa mempelajari program yayasan tanpa harus menyetujui semua keputusan keluarga.”

“Tidak ada yang memintamu menyetujui semuanya.”

“Belum.”

Adrian menatapnya tajam.

Raka memilih tidak melanjutkan perdebatan. Perhatiannya teralih pada satu halaman yang mencantumkan nama beberapa rumah sakit mitra.

Salah satunya terasa familier.

Ia pernah mendengar nama rumah sakit itu dalam percakapan dengan Nadira, meskipun ia tidak ingat kapan tepatnya.

Raka memeriksa halaman tersebut sekali lagi.

Tidak ada nama pasien, hanya daftar kerja sama dan ringkasan anggaran.

“Apa arsip lengkapnya masih tersedia?” tanyanya.

“Sebagian besar disimpan oleh pengelola yayasan.”

“Termasuk dokumen program lima tahun lalu?”

“Seharusnya.”

Raka mengangguk kecil, lalu menutup map.

Ia belum tahu mengapa nama rumah sakit itu mengusik pikirannya. Namun, setelah pertemuan mereka di acara amal, ia tahu Nadira sedang mencari jawaban mengenai sesuatu yang berkaitan dengan yayasan.

Ia tidak berniat mencampuri urusannya.

Tetapi ia juga tidak bisa mengabaikan kebetulan yang mulai terasa terlalu spesifik.

Di kantor Media Arena, Nadira sedang berusaha mempertahankan kesabarannya.

Artikel tentang ASTRAL telah diterbitkan pagi itu. Respons pembaca cukup baik, sebagian besar menyoroti jawaban Raka mengenai tanggung jawabnya sebagai kapten dan calon penerus Adhitama Global.

Sayangnya, komentar di media sosial jauh lebih berisik daripada isi artikelnya.

Ada yang memuji profesionalisme Raka. Ada yang menganggapnya terlalu berhati-hati. Ada pula yang bersikeras bahwa seluruh keberhasilannya berasal dari kekayaan keluarga.

Nadira membaca beberapa komentar, lalu menutup tab.

“Kalau kamu terus membaca itu, sebentar lagi kamu akan berdebat dengan orang yang fotonya saja pakai karakter anime,” kata Keisha dari meja sebelah.

“Aku sedang mengamati respons publik.”

“Kamu sedang kesal.”

“Keduanya bisa terjadi bersamaan.”

Keisha tertawa.

Di meja Nadira, sebuah surel dari Yayasan Adhitama Peduli masih terbuka. Pihak yayasan meminta beberapa informasi tambahan untuk memverifikasi permintaannya, termasuk nama rumah sakit, perkiraan tanggal operasi, serta dokumen yang dapat membuktikan hubungan keluarga dengan pasien.

Nadira sudah menyiapkan sebagian besar informasi tersebut.

Ia tidak keberatan mengikuti prosedur resmi. Jika ada data pribadi yang perlu dilindungi, ia tidak ingin menggunakan pekerjaannya sebagai alasan untuk melanggarnya.

Namun, ia tetap bertanya-tanya bagaimana pengirim pesan anonim itu mengetahui keberadaan kode AP-17.

“Bagaimana perkembangan investigasi kecilmu?” tanya Keisha.

Nadira menoleh.

“Belum ada hasil yang bisa dipastikan.”

“Kamu masih menerima pesan dari nomor itu?”

“Belum sejak semalam.”

“Dan kamu belum tahu siapa orangnya?”

Nadira menggeleng.

Keisha terdiam sejenak sebelum berkata, “Aku tahu kamu ingin membantu ibumu, tapi jangan sampai orang itu mengarahkanmu ke tempat yang mereka inginkan.”

“Aku tahu.”

“Serius?”

Nadira menutup laptopnya sebentar.

“Serius. Aku tidak akan menerbitkan tuduhan berdasarkan pesan anonim. Aku juga tidak akan membobol arsip siapa pun. Aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.”

Keisha mengangguk.

“Kalau begitu, lakukan dengan cara yang tidak membuatmu kehilangan sesuatu yang lebih penting daripada jawaban.”

Nadira memahami maksudnya.

Masalahnya, ia belum yakin apa yang dimaksud Keisha dengan sesuatu yang lebih penting.

Mungkin pekerjaannya.

Mungkin hubungannya dengan ibunya.

Atau mungkin kepercayaan yang masih berusaha ia bangun kembali dengan seseorang yang kebetulan memiliki nama keluarga yang sama dengan yayasan tersebut.

Nadira segera menepis pikiran terakhir.

Ia tidak akan membiarkan Raka menjadi pusat dari semua masalahnya.

Setidaknya, itulah rencananya.

Siang menjelang sore ketika Raka tiba di markas ASTRAL.

Bima sedang duduk di ruang istirahat sambil memainkan gim di ponselnya. Begitu melihat Raka masuk, ia langsung meletakkan perangkatnya.

“Wah, akhirnya sang pewaris kembali ke habitat aslinya.”

Raka mengambil botol air dari lemari pendingin.

“Kalau kamu selesai membuat pengumuman, kita punya latihan.”

“Aku hanya ingin memastikan kamu masih ingat cara memegang mouse setelah seharian berurusan dengan orang-orang berdasi.”

“Dan aku ingin memastikan kamu masih ingat cara membaca peta setelah menghabiskan dua jam bermain gim di ponsel.”

Bima menepuk dada seolah tersinggung.

“Serangan pribadi. Aku akan mengingat ini.”

“Bagus. Berarti ingatanmu masih berfungsi.”

Bima tertawa, kemudian memperhatikan wajah Raka.

“Serius, ada masalah?”

Raka membuka tutup botolnya.

“Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan.”

“Kalimat itu biasanya diucapkan orang yang sedang memikirkan tujuh masalah sekaligus.”

Raka tidak menjawab.

Bima mencondongkan tubuh ke depan.

“Ini soal keluarga atau soal Nadira?”

Raka hampir tersedak air.

Bima langsung menunjuknya.

“Nah! Reaksi itu menarik.”

“Tidak ada hubungannya dengan Nadira.”

“Berarti soal keluarga.”

“Aku tidak bilang begitu.”

“Kamu juga tidak menyangkalnya.”

Raka menatapnya datar.

“Kalau kamu punya waktu untuk menginterogasiku, berarti kamu siap menjalani latihan tambahan.”

Bima langsung berdiri.

“Aku mendadak teringat bahwa Arman mencariku.”

“Arman sedang di luar kota.”

“Kalau begitu, aku akan mencari kesibukan lain.”

Bima bergegas pergi sambil tertawa.

Raka menggeleng, tetapi setelah ruang istirahat kembali sepi, pikirannya kembali pada map yang dibawanya dari kantor keluarga.

Ia tidak pernah menyangka urusan yayasan akan bersinggungan dengan masalah pribadinya. Namun, nama rumah sakit yang tercantum dalam laporan tadi terus mengusiknya.

Raka mengeluarkan ponsel.

Ia membuka percakapan dengan Nadira.

Pesan terakhir mereka masih berkaitan dengan pekerjaan, dan ia tahu perempuan itu belum sepenuhnya nyaman berbicara dengannya.

Jarinya berhenti di atas papan ketik.

Ia bisa langsung bertanya apakah Nadira sedang menyelidiki program bantuan medis yayasan.

Namun, pertanyaan itu berisiko membuatnya terlihat seperti sedang mengawasi.

Akhirnya, ia memilih tidak mengirim apa pun.

Jika Nadira ingin bercerita, ia akan mendengarkan.

Jika tidak, ia harus menghormati keputusan tersebut.

Untuk pertama kalinya, Raka menyadari bahwa memberikan ruang kepada seseorang terkadang jauh lebih sulit daripada berusaha memenangkan perdebatan dengannya.

Malamnya, Nadira mendapat telepon dari ibunya.

“Dira, kamu sudah makan?”

Pertanyaan itu begitu biasa hingga Nadira langsung curiga.

“Sudah. Ibu kenapa?”

“Tidak apa-apa. Ibu hanya ingin memastikan kamu tidak terlalu sibuk.”

Nadira menutup laptopnya.

“Ibu tahu aku sedang mencari informasi tentang bantuan operasi lima tahun lalu, kan?”

Di seberang telepon, Ratih terdiam.

“Ibu tahu.”

“Aku mengajukan permintaan informasi resmi ke yayasan. Mereka sedang memverifikasi data.”

“Dira, kamu tidak perlu memaksakan diri.”

“Aku tidak memaksakan diri. Aku hanya ingin tahu siapa yang membantu kita waktu itu.”

Nadira mendengar ibunya menarik napas panjang.

“Kadang-kadang, mengetahui sesuatu tidak membuat hidup menjadi lebih mudah.”

“Tidak mengetahui juga tidak selalu membuat hidup lebih mudah, Bu.”

Tidak ada jawaban selama beberapa detik.

Kemudian, Ratih berkata pelan, “Kalau mereka memberikan informasi itu, baca baik-baik sebelum mengambil kesimpulan. Jangan langsung percaya pada satu cerita.”

Nadira mengerutkan kening.

“Ibu bicara seolah-olah ada lebih dari satu cerita.”

“Ibu hanya tidak ingin kamu terluka.”

Kalimat itu membuat Nadira kehilangan kata-kata.

Ia ingin mendesak ibunya untuk menjelaskan lebih jauh, tetapi nada suara Ratih terdengar begitu lelah hingga Nadira mengurungkan niatnya.

“Baik. Aku akan berhati-hati.”

“Terima kasih, Sayang.”

Setelah telepon berakhir, Nadira duduk diam cukup lama.

Ibunya tidak membantah bahwa ada sesuatu yang belum diceritakan.

Namun, Ratih juga belum siap membukanya.

Nadira mengusap wajah, lalu kembali menyalakan laptop. Ia memeriksa surel sekali lagi, berharap ada pembaruan dari yayasan.

Tidak ada.

Sebagai gantinya, sebuah pesan baru muncul dari nomor anonim.

Nomor Tidak Dikenal: Kamu sudah mendekati dokumennya.

Nadira segera membalas.

Nadira: Aku tidak akan mengakses dokumen rahasia tanpa izin.

Balasan datang beberapa saat kemudian.

Nomor Tidak Dikenal: Aku tidak memintamu melanggar aturan.

Nadira: Lalu apa yang kamu inginkan?

Kali ini, pesan itu tidak langsung dibalas.

Nadira menunggu selama beberapa menit sebelum akhirnya meletakkan ponselnya.

Ia tidak tahu siapa orang itu, tetapi satu hal mulai terasa semakin jelas: pengirimnya memahami prosedur yayasan, mengetahui kode AP-17, dan tahu bahwa Nadira sedang mencari jawaban.

Itu bukan kebetulan biasa.

Di tempat lain, Raka membuka kembali map yang dibawanya pulang. Ia menemukan catatan kecil tentang jadwal peninjauan arsip lama yayasan yang akan dilakukan pekan berikutnya.

Ia memotret halaman yang hanya memuat informasi jadwal dan nomor administrasi umum, lalu menyimpan ponselnya tanpa mengirimkannya kepada siapa pun.

Ia belum tahu apa yang sedang dicari Nadira.

Dan Nadira belum tahu bahwa Raka baru saja menemukan petunjuk yang mungkin bisa membantunya.

Mereka berada di dua sisi dari rahasia yang sama, tetapi belum ada alasan bagi keduanya untuk saling percaya.

Sementara itu, seseorang telah memastikan bahwa pencarian Nadira tidak akan berhenti sampai di sini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!