Terlahir kembali dengan ingatan masa lalu yang utuh, Shen Jue dipandang sebelah mata di Akademi Canglan hanya karena membangkitkan belati kecil berkarat yang dianggap rongsokan tak berharga. Tanpa menyadari bahwa belati tersebut menyimpan rahasia kelam pemutus aliran energi alami, para murid bangsawan terus berusaha menindasnya hingga Shen Jue membongkar kelemahan mereka satu per satu dengan ketenangan yang mematikan. Bersama Ruan Xi'er dan Gongsun Zhi, ia menapak jalur petarung yang dingin di tengah himpitan intrik klan-klan besar yang haus kekuasaan. Mampukah Shen Jue membuka segel rahasia di balik belati rongsoknya dan menghentakkan takdirnya sebagai penguasa abadi di Benua Tianwu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KJT 11
qGetaran lembut roda kereta pada lintasan tanah bertransformasi menjadi guncangan halus ketika iring-iringan kendaraan memasuki jalan raya utama berdinding batu milik Wilayah Canglan. Pemandangan hijau Desa Ping-an yang tenteram perlahan digantikan oleh bentangan lembah komersial yang riuh, tempat jalur-jalur perdagangan utama saling bertemu.
Kereta kayu berukir awan biru yang ditumpangi Shen Jue dan Ruan Xi'er berbelok menuju sebuah kedai peristirahatan besar di tepi jalan raya. Pos persinggahan itu penuh sesak oleh puluhan kereta kuda megah berhias ukiran emas, lambang-lambang klan kaya dari kota-kota besar di sekitarnya.
"Kita istirahat setengah jam di sini untuk memberi minum kuda," pangkasi Instruktur Lin Dong saat membuka pintu kabin dari luar. "Kalian boleh meluruskan kaki di luar, tapi jangan berulah."
Xi'er menjadi orang pertama yang melompat turun dari kereta. Gadis itu menghirup udara sore dengan leluasa, memutar pinggangnya yang kaku akibat terlalu lama duduk. Namun, kegembiraannya mendadak surut saat matanya menyapu suasana di pelataran kedai.
Di pelataran batu yang luas, puluhan anak berusia sepuluh hingga belas tahun berkerumun dalam kelompok-kelompok kecil. Mereka tidak mengenakan pakaian linen biasa seperti Shen Jue atau baju berburu ringkas seperti Xi'er, melainkan jubah sutra bersulam benang perak dan sabuk berbatu giok murni. Mereka adalah murid-murid baru Akademi Canglan yang direkrut dari Kota Wushan dan Kota Fengyun—dua kota benteng yang terkenal makmur.
"Wah, lihat itu," bisik Xi'er pelan sambil menarik celah lengan baju Shen Jue yang baru turun di sampingnya. "Kereta mereka besar sekali, ada yang ditarik Serigala Angin juga!"
Shen Jue menoleh sekilas ke arah kereta bermotif naga perak yang ditarik oleh dua ekor binatang roh menyerupai serigala berbulu putih. Ia hanya meliriknya dingin. "Binatang roh penarik kereta itu cuma persilangan tingkat rendah. Aliran energinya tidak stabil, hanya menang di tampilan bulu."
Suara Shen Jue yang datar dan tenang tidak diatur untuk berbisik. Kata-katanya sayup-sayup terdengar oleh sekelompok remaja berkulit putih bersih yang sedang berdiri tak jauh dari mereka.
Seorang pemuda berbadan agak tinggi dengan jubah merah bertabur sulam emas menoleh cepat. Di pinggangnya menggantung sebilah pedang dengan sarung berhias batu permata merah menyala. Dia adalah Lu Fan, putra bangsawan dari klan ternama di Kota Wushan.
"Siapa bocah lusuh yang berani mengomentari Serigala Angin milik klanku?" dengus Lu Fan dengan raut wajah penuh penghinaan.
Empat orang murid lain di sekitar Lu Fan ikut tertawa mengejek saat melihat pakaian sederhana yang dikenakan Shen Jue dan Xi'er, serta lencana perak buatan tangan yang menandakan mereka berasal dari desa perbatasan.
"Ah, ternyata cuma bocah kampung dari Desa Ping-an," cemooh seorang anak bertubuh gemuk di sebelah Lu Fan. "Pantas saja tidak tahu barang bagus. Di desa mereka, mungkin binatang roh paling hebat cuma babi hutan liar!"
Gelak tawa riuh langsung pecah di antara kelompok anak-anak kota tersebut, memancing perhatian belasan murid lain di pelataran kedai.
Pipi Xi'er memerah padam akibat rasa malu dan marah. tangannya meregang refleks, cakar perak samar berkedip tipis di balik jemarinya. "Jaga mulut kalian! Desa kami memang kecil, tapi kami lolos seleksi resmi sama seperti kalian!"
Lu Fan melangkah maju dua tindakan dengan gaya angkuh. Ia mengangkat tangan kanannya ke udara, lalu menghenyakkan energi spiritualnya.
Wusss!
Sebuah lidah api berwarna merah jingga mendadak membumbung dari telapak tangannya, membentuk wujud samar sebilah pedang berapi. Hawa panas langsung merambat melingkupi udara di sekitar mereka, membuat beberapa murid dari desa lain melangkah mundur ketakutan.
"Lolos seleksi?" ejek Lu Fan sambil memainkan lidah api di jemarinya dengan penuh pamer. "Lolos dari ujian desa terpencil itu tidak ada artinya! Di Kota Wushan, hanya mereka yang berani membangkitkan Roh Senjata tingkat menengah seperti Pedang Api milikku ini yang bisa dianggap berbakat. Memangnya apa roh yang kalian bangkitkan? Ayam betina atau cangkul tanah?"
Lagi-lagi tawa meremehkan menggema dari kubu anak-anak kota. Mereka dengan sengaja memamerkan aura roh masing-masing—ada yang memunculkan kilatan listrik tipis di ujung jari, ada pula yang memancarkan pendar cahaya perisai besi di dada mereka. Pelataran kedai mendadak dipenuhi pertunjukan warna-warni energi yang disengaja untuk menindas mental para murid asal desa.
Xi'er menggigit bibir bawahnya, merasa tertekan oleh kepungan hawa panas Pedang Api milik Lu Fan.
Namun, di tengah gelombang kesombongan dan pamer kekuatan itu, Shen Jue melangkah santai ke depan, menutupi tubuh Xi'er dari terpaan hawa panas. Wajah Shen Jue sama sekali tidak menunjukkan rasa gentar atau terintimidasi. Matanya yang gelap menatap lurus ke arah lidah api di tangan Lu Fan dengan sudut bibir terangkat tipis.
"Pamer api di tempat terbuka," kata Shen Jue datar, suaranya jernih menembus tawa anak-anak kota. "Tapi saluran energi di telapak tanganmu saja masih bocor di tiga titik."
Tawa anak-anak kota mendadak terhenti. Lu Fan mengerutkan alisnya dalam-dalam, merasa terusik oleh respon dingin anak kampung di depannya.
"Apa kau bilang?!" bentak Lu Fan gusar.
"Api milikmu pendar kencang di luar, tapi bagian intinya redup dan bergoyang ke kanan," analisis Shen Jue tenang sambil menunjuk tepat ke pangkal lidah api di jari Lu Fan dengan telunjuknya. "Itu artinya kau terlalu memaksa mengalirkan energi roh demi terlihat keren di depan orang banyak, padahal meridian di pergelangan tanganmu belum sanggup menahannya. Kalau kau menahan wujud api itu lima detik lagi, pergelangan tanganmu akan kram parah."
Lu Fan tertegun sejenak. Sebelum ia sempat membantah atau mengutuk, sebuah rasa panas menyengat yang amat pedih mendadak menusuk pergelangan tangan kanannya.
Srrtt!
Lidah api jingga di telapak tangan Lu Fan mendadak padam seketika. Pemuda kaya itu meringis tertahan, memegangi pergelangan tangannya yang gemetar hebat dengan wajah merona merah bukan karena api, melainkan karena rasa malu yang luar biasa.
"K-kau... kau pakai trik haram apa?!" tuduh Lu Fan gagap sambil melangkah mundur ketakutan.
Shen Jue hanya menyilangkan tangan di depan dada dengan gerakan santai. "Aku tidak memakai trik apa pun. Kau sendiri yang bodoh, memaksakan diri pamer kekuatan yang belum sanggup kau kendalikan sepenuhnya."
Xi'er yang berdiri di belakang Shen Jue langsung menahan tawa, rasa tertekan di dadanya menguap seketika digantikan oleh kepuasan yang membuncah. `"Rasakan itu!"` batin Xi'er gembira.
Anak-anak kota lainnya yang tadinya tertawa kini saling pandang dengan raut cemas. Mereka tidak menyangka bahwa bocah berkerudung linen abu-abu yang kelihatan miskin ini bisa menelanjangi kelemahan Lu Fan hanya dengan sekali pandang tanpa perlu mencabut senjatanya sama sekali.
"Ada apa ini berisik-berisik?"
Sebuah suara berwibawa menggema dari arah pintu kedai. Instruktur Lin Dong melangkah keluar sambil memegang mangkuk teh hangat. Matanya yang tajam menatap Lu Fan yang masih memegangi pergelangan tangannya, lalu beralih ke Shen Jue yang berdiri tenang.
"Waktu istirahat sudah habis!" seru Lin Dong tegas tanpa berniat mencampuri urusan anak-anak itu lebih jauh. "Semua murid segera masuk kembali ke kereta masing-masing! Siapa yang tertinggal, silakan jalan kaki menuju akademi!"
Anak-anak dari kota besar itu langsung membubarkan diri dengan canggung. Lu Fan melempar tatapan benci berkilat dendam ke arah Shen Jue sebelum akhirnya melangkah cepat memasuki keretanya yang megah.
Xi'er berjalan di samping Shen Jue menuju kereta kayu mereka dengan langkah bersemangat. "Shen Jue, kamu hebat banget! Wajah anak kaya itu tadi langsung pucat pasi waktu apinya mati!"
"Orang yang suka memamerkan kekuatannya biasanya adalah orang yang paling rapuh di dalam," sahut Shen Jue santai sambil menaiki tangga kereta. "Sebab mereka bertarung untuk gengsi, bukan untuk bertahan hidup."
Xi'er mengangguk-angguk paham, menatap punggung Shen Jue dengan binar kagum yang semakin mendalam.
Saat pintu kereta kembali tertutup dan roda kayu mulai menggerus jalanan batu menuju Akademi Canglan, Shen Jue memejamkan matanya kembali. Kejadian kecil di kedai tadi hanyalah percikan awal dari gesekan klan yang akan segera mereka hadapi di akademi. Namun bagi Shen Jue, tak peduli seberapa kaya atau sombongnya lawan yang datang, di matanya mereka semua hanyalah bahan tempaan yang belum matang.