NovelToon NovelToon
Takut Nikah

Takut Nikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cintamanis / Romansa
Popularitas:707.5k
Nilai: 5
Nama Author: Yutantia 10

"Kapan nikah?"

"Udah mau 30 loh."

"Jangan pilih-pilih, nanti jadi perawan tua."

Jena muak sekali dengan semua itu. Baginya, menikah bukan kriteria kesuksesan seseorang. Mau nikah atau pun tidak, itu juga bukan urusan mereka, tapi entah kenapa, mereka suka sekali mengurusi hidupnya.

3 kali ia menjalin kasih, endingnya selalu diselingkuhi. Sahabat terbaiknya, jadi janda diusia 25 tahun karena suaminya selingkuh. Dan yang paling gong, Papa yang ia sayang dan sosok yang ia kagumi, diam-diam ternyata punya istri kedua. Lalu, laki-laki seperti apa lagi yang bisa ia percaya.

Baginya, berurusan dengan laki-laki, hanyalah cari penyakit. Entah sekarang atau nanti, pasti endingnya disakiti. Ia tak mau menikah. Kalau sendiri bisa bahagia, untuk apa berdua?

Sampai kejadian tak terduga, mempertemukanmu dia dengan Budi. Laki-laki yang humoris, dan selalu bilang. "Gak semua laki-laki kayak gitu, Mbak."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5

Pagi harinya, Jena baru saja selesai sarapan ketika sebuah pesan masuk ke ponselnya. Nomor tersebut tidak tersimpan di kontak. Nomor Tidak Dikenal:

[ Mbak Jena, saya Budi. Saya mau membicarakan soal ganti rugi gerobak. Kalau Mbak ada waktu, kita bisa bertemu? ]

Jena mengernyitkan kening. Budi. Laki-laki yang gerobaknya ia tabrak kemarin.

Jena langsung membalas pesan tersebut.

[ Malam saya bisa. Kita ketemu di kafe saja ]

Mereka pun sepakat bertemu malam itu di sebuah kafe yang ditentukan oleh Jena.

Pukul delapan malam. Sebuah kafe cukup ramai di pusat kota. Jena duduk di salah satu meja, sesekali melihat jam di ponselnya. Tidak lama kemudian, seorang laki-laki masuk dari pintu kafe.

Jena langsung mengenalinya. Budi.

Namun malam ini penampilannya sedikit berbeda.

Ia mengenakan kemeja sederhana berwarna gelap dan celana panjang. Rambutnya tertata rapi dan...wangi.

“Maaf, sudah menunggu lama?” Budi menarik kursi di depan Jena, duduk disana.

“Belum kok." Jena mendorong satu cangkir ke depan Budi. "Espresso kan?" Tadi karena datang duluan, ia mengirim pesan, menanyakan apa yang ingin dipesan Budi.

"Makasih." Budi menyeruput sedikit espressonya yang sudah tidak terlalu panas. “Oh iya, gerobaknya sudah selesai diperbaiki.” Ia membuka tas, menyerahkan nota kecil kepada Jena. “Ini total biayanya.”

Jena membaca angka yang tertera di sana. Hampir tiga juta rupiah. Jumlahnya kurang lebih sesuai dengan perkiraannya Budi kemarin.

“Maaf jika kemarin, aku kelebihan dikit mengira biayanya."

Jena sama sekali tidak mempermasalah itu. "Oh iya, kalau boleh tahu, berapa keuntungan kamu sehari?" Ia menatap Budi.

"Maksudnya?" Budi mengerutkan kening.

"Sorry, bukan kepo ya, apalagi mau menghina." Jena buru-buru menjelaskan, takut Budi salah faham. "Aku cuma mau sekalian menghitung kerugian kamu karena beberapa hari ini gak bisa jualan." Ia teringat pesan Mamanya.

Budi menggeleng. "Gak usah. Ganti kerusakan gerobak saja sudah cukup. Oh iya, bagaimana dengan ponsel dan dompet kamu?"

"Aman, udah ketemu kok."

"Syukurlah. Pipi kamu?" Ia memperhatikan pipi Jena yang sudah terlihat mulus lagi.

"Masih ada dikit bekas lukanya, tapi ketutup make up." Jena menyentuh pipi. "Eh, jadi gimana nih, aku harus ganti berapa?"

"Sesuai nota saja."

"Uang bensin waktu itu?"

"Gak usah."

"Dih, sok kaya banget!" Buru-buru ia menutup mulut, teringat ucapan Mamanya untuk lebih menjaga ucapan.

"Bukan sok kaya, tapi sungkan aja, kalau uang segitu, musti nagih ke cewek."

"Sok cool banget." Jena menahan tawa.

"Masa sih aku cool?" Budi malah menggoda, senyum tipis terukir di wajahnya.

Jena yang sedang memperhatikan, diam-diam memuji dalam hati. Ternyata Budi lumayan ganteng juga. Selain itu, badannya juga bagus, tinggi, proporsional, dan kulitnya bersih. Tiba-tiba, terbesit ide di konyol di otaknya.

"Jen, Jena!"

"Hah! Iya, apa?" Jena gelagapan.

"Kamu kok ngelamun sambil senyum-senyum sendiri?"

Jena tersenyum kecut sambil mengusap tengkuk. "E...aku transfer ke rekening kamu ya. Kirim nomor rekeningnya." Ia menyalakan ponsel.

Setelah Budi mengirimkan nomor rekening, Jena langsung mentransfer sejumlah uang.

Budi memeriksa ponselnya, memastikan uang sudah masuk.

“Sudahkan?"

Budi tak menjawab, matanya sibuk memperhatikan nominal yang dikirim Jena, takut matanya salah. "Jen."

"Iya. Udah masukkan?"

Budi menunjukkan layar ponselnya pada Jena. "Kamu...gak salah transfer? Keknya, kamu ketekan angka 1 deh, sebelum ngetik 3 juta. Ini... bukannya 13 juta ya?"

"Sengaja aku lebihin, buat kompensasi kamu selama libur." Jena meletakkan kembali ponselnya.

"Tapi ini terlalu banyak, aku gak bisa terima." Budi menggeleng cepat. "Aku cuma libur 4 hari termasuk hari ini. Dan penghasilanku selama 4 hari, gak sebanyak ini. Aku transfer balik ke kamu ya."

"Gak usah!" Jena buru-buru menarik ponsel Budi, meletakkan ke atas meja.

"Tapi nominal itu terlalu banyak. Aku tahu kamu hobi flexing, tapi gak perlu flexing ke aku gini. Aku tahu kok, kamu orang kaya." Budi gelisah, tak nyaman dengan uang sebanyak itu.

"Mm....Budi."

“Hm?”

“Kamu punya pacar?”

Budi langsung menatapnya bingung.

"Punya pacar gak?" Ulang Jena.

“Enggak.” Budi menggeleng.

"Istri? Udah nikah belum?"

"Belum." Budi kembali menggelengkan.

Seketika, senyuman terbit di bibir Jena. “Bagus," gumamnya pelan.

“Bagus apanya?”

Jena menegakkan badan, kemudian dengan wajah serius, ia menatap Budi. “Aku punya permintaan. Anggap aja, sebagai ganti uang yang aku transfer kebanyakan tadi."

Budi semakin curiga. “Permintaan...apa?”

Jena menarik napas panjang, lalu menyandarkan punggung sambil bersedekap. "Gak susah kok."

"Apaan?" Budi makin curiga.

Jena melihat sekitar, lalu kembali menegakkan badan, mencondongkan badan ke arah Budi. “Pura-pura jadi pacarku," ujarnya pelan.

Budi membeku. “Hah?”

“Temani aku ke sebuah acara," lanjut Jena.

“Acara apa?”

“Pernikahan.”

Budi mengerutkan kening.

“Pernikahan siapa?”

Jena terdiam sesaat sebelum menjawab. “Mantan pacarku.”

Budi menatapnya seolah memastikan dirinya tidak salah dengar. "Jen, kamu yakin? Kamu gak sedang bercanda?"

Jena menggeleng cepat.

“Kenapa aku?”

Jena kembali memperhatikan penampilan Budi, kemudian ia tersenyum tipis. “Karena kamu cukup meyakinkan.”

Budi semakin tidak mengerti. “Emang kamu nggak punya pacar?”

Wajah Jena langsung berubah. Ia menatap Budi tajam. “Kalau aku punya pacar, menurut kamu aku bakal minta kamu pura-pura jadi pacar aku?”

Budi terdiam. “Ya… nggak juga sih.”

“Nah.” Jena mendengus kesal.

Pertanyaan Budi sebenarnya sederhana. Bahkan masuk akal. Tapi entah kenapa, Jena tetap merasa tersinggung.

Budi kembali memperhatikan Jena. Kalau dilihat dari penampilan, Jena tidak kekurangan apa pun. Cantik, terawat, dan memiliki aura percaya diri yang kuat. Ia masih ingat, dulu saat masih kuliah, hampir anak se tongkrongan dia, mengidolakan Jena. Tapi…apa iya Jena tak punya pacar?

"Gimana, deal?" tanya Jena, mengulurkan tangan ke arah Budi.

"Kamu...beneran gak punya pacar?"

Jena mendengus, mulai kesal dengan pertanyaan yang sudah dijawab tapi malah diulang itu. "Emang kenapa sih, kalau aku gak punya pacar? Sesuatu bangat gitu? Atau apa?"

Budi tersenyum simpul sambil mengusap tengkuk. "Ya aneh aja. Padahal kemarin aku fikir, kamu udah nikah. Secara cewek secantik kamu, masa belum nikah, dan gong nya lagi, gak punya pacar."

Jena berdecak kesal. "Aku bukannya gak laku ya, tapi emang ogah aja. Cowok itu nyebelin, tukang selingkuh, gak tahu diri."

"Gak semua cowok kali."

"99 persen!" Jena mendelik kesal.

"Yakin?"

"Banget."

"Jangan-jangan...ternyata bukan cowoknya yang nyebelin, tapi kamunya." Ia tampak ragu. "Makanya mereka selingkuh."

"Budi!" Jena langsung melotot. "Sialan lo." Ia yang marah, langsung mengambil ponsel di atas meja, lalu bangkit.

"Sorry, sorry!" Budi bangkit, menahan lengan Jena yang hendak pergi. "Aku minta maaf, cuma bercanda."

"Gak lucu!" Jena mendelik kesal. "Sekarang aku tanya, kamu mau gak? Kalau enggak, aku pergi."

"Cuma sehari itu kan?"

"Cuma beberapa jam!"

"Ok. Aku mau."

1
Septi
alhamdulilah.. selamat jenn
Septi
lupa ada mertua wkwkwkwkwk 🤭
Ulia Milasari
bagus, lanjut thor
Gia Nasgia
Akhirnya Bu Asri mau melepaskan papa Jena karena merasa nggak punya saingan lagi,dan buat bumil nggak baik menyimpan byk dendam apalagi Dara nggak seperti Naura ,takutnya nurunin sifat ke baby rada jutek 😂
Gia Nasgia
Tuh kan paksu bocil otw jadi ayah 😍ternyata sesuai target nya papa Jena klau,jena harus hamil dlm waktu tiga bln dan Jena otw jadi pemilik saham yg gede 😂
Gia Nasgia
Kasihan Dara yg harus menanggung akibat dari perbuatan ibunya, kayaknya bumil pingsan gegara habis marah"
Gia Nasgia
Ciee Budi jr otw inimah 😘😍
Kar Genjreng
sebenarnya ga tega ya lihatnya ,,,sudah jatuh tertimpa tangga pula,,, menceraikan bini muda karena ga benar,,, berharap bini tua akan merangkul ternyata malah mengajak berpisah,,,dan sudah janji bila Jena hamil anak laki laki akan mengalihkan saham vioritas nya,,, tetapi masih ada saham lain untuk masa pensiunnya tetapi ya gitu tinggal bersama Dara saja keliatan nya,,,dan beli hunian baru yang lebih sederhana,,, mungkinn ya 😭😭😭😭,,, tetapi memang hati wanita bila sudah terluka dalam bahkan menaun susah untuk di pulihkan,,,apa hendak di kata,,kata kata saja tidak cukup membantu,,,😮😮
Kar Genjreng
Alhamdulillah barakallah Aamiin 🤲🤲 ya Bu mau punya cucu,,,dan itu papa Dara ngapa ninggalin anak ko seenaknya ya biar pun ada Bu Asri Jena dan Budi,,,tapi apa lupa Jena dan Bu Asri responnya ga baik buat Anak tirinya ga semua orang bisa menerima Anak sambung dari bini yang lain,,,,ya bagaimana ya ,,Jena lagi hamil jangan terlalu benci dengan Dara,,,ya memang Dara tidak tahu di lahirkan dari mama yang merebut suami orang lain,,,jadi yang haram sebenarnya ayah dan ibunya,,,anak nya yang jadi korban,,ok lanjut,,,, selamat sekali lagi buat Jena dan Budi ternya benar hanya premium langsung jos gandos,,😂
Hani Ekawati
Iya pak, jangan dikira diam nya Bu Asri itu diam memaafkan.
Hani Ekawati
Udah Jen udah, kasian Dara
Hani Ekawati
Klo kaya gini si Dara makin takut aja😂 lama lama tekanan bathin, apapun yg dilakukan serba salah dimata Jena😂 Sabar Jen, kasian Dara, dia engga kaya si Naura, Jen.
Hani Ekawati
Dara bener bener takut sama Jena
Hani Ekawati
Kan putri ibu mau dapat saham Bu karena kehamilannya makanya dia seneng banget😁🤭
Hani Ekawati
Enggak nyangka kan pa? putrimu yang kamu kira cuma nikah kontrak ternyata beneran hamil 😁🤭
Ass Yfa
yaiyah.kurang sabar spalagi mama Asri...sakir dipendem sendiri..😭
siti irnani
mbok jangan ceraiii
Ass Yfa
emosi bumil sedang naik Bud..yg ada kena gamprat😄😄
novel destiny
pengennya si udah lama. tapi kalo dari awal ngajuin, kalah sama pelakor dongg
novel destiny
akhirnya hamil juga ya Jen...
tokcer kalian 😬
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!