NovelToon NovelToon
Aku, Sang Mafia, dan Bintang

Aku, Sang Mafia, dan Bintang

Status: tamat
Genre:Mafia / Rumah Tangga-Anak Genius / Cewek Gendut / Tamat
Popularitas:1
Nilai: 5
Nama Author: Afrodite 18

Nadira cuma ingin satu hal: menjadi ibu. Setelah dikhianati kekasihnya dan divonis hanya punya waktu tiga tahun untuk hamil, dokter relawan itu memilih jalan sendiri, inseminasi di sebuah klinik di Albania, ditemani sahabatnya, Pierre.

Yang tak ia tahu, di klinik yang sama ada seorang pria yang sedang mengamuk mencari istrinya. Satu botol sampel tertukar, dan setahun lebih kemudian, dua puluh pria bersenjata mendobrak pintu rumah orang tua Nadira.

Drilon Meksi, eksekutor mafia Albania yang ditakuti, datang untuk mengambil apa yang menurutnya miliknya: perempuan itu, dan bayi mungil yang mirip sekali dengannya.

Nadira diculik, dibawa ke mansion penuh anak buah bersenjata, dan dijanjikan satu hal yang tak bisa ia terima: menikah dengan pria yang bahkan tak ia kenal. Tapi pria yang bisa membuat seorang musuh bertekuk lutut itu ternyata tak berdaya di hadapan satu makhluk kecil bernama Bintang.

Antara pisau yang menancap di bahu, ibu mertua yang lebih galak dari seluruh anak buah, dan kakek bertato bekas luka yang luluh oleh senyum ompong seorang bayi, Nadira harus memutuskan: terus melawan, atau belajar menghadapi seorang mafioso dengan caranya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afrodite 18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Ruang makan mansion yang luas dipenuhi aroma hidangan makan malam yang masih disiapkan. Dari panci-panci di dapur tercium wangi daging panggang, berbaur dengan harum rempah segar dan roti yang baru keluar dari oven.

Di tengah ruangan, di atas karpet Persia yang besar, Bintang duduk tanpa bersandar. Di usia tujuh bulan ia belum melangkah dan belum bisa mengucap kata, tapi mata kecilnya yang penasaran mengikuti semua yang ada di sekitarnya.

Di hadapannya duduk Agim. Sang patriark keluarga itu tampak tenang, menggoyangkan kuda-kudaan kayu kecil perlahan di depan cucunya.

Bintang melempar senyum ompong, tangan-tangan montoknya terulur ke arah mainan itu.

"Mau ambil, Putri?" tanya Agim.

Ia hanya menjawab dengan celoteh riang.

"Ba... da..."

Agim menyerahkan kuda-kudaan itu. Begitu mainan itu sampai di tangan mungilnya, Bintang langsung memasukkannya ke mulut, seperti yang ia lakukan pada hampir semua hal yang ia temukan.

Sang mafioso tua terkekeh pelan. Mengagumkan bagaimana gadis kecil itu bisa membangkitkan sisi dirinya yang nyaris tak diketahui siapa pun.

Di dapur, Nadira membantu para pelayan menata meja, dan Intan meletakkan piring-piring terakhir sambil sesekali melirik bayi yang bermain dengan kakeknya.

Meski dalam keadaan seperti ini, tak bisa disangkal bahwa Agim menunjukkan kasih sayang yang tulus pada cucunya.

Beberapa menit kemudian semua berkumpul untuk makan malam. Agim mendudukkan Bintang di kursi bayi khusus di sampingnya. Gadis kecil itu menggigit-gigit mainan gigitan silikon, kaki-kakinya terus bergoyang.

Makan malam dimulai dalam keheningan, dentingan alat makan nyaris jadi satu-satunya suara.

Sampai Drilon mengusap bibirnya dengan serbet dan menumpukan lengan di meja.

Pandangannya langsung bertemu mata Nadira.

"Aku punya kabar." Tak ada yang menjawab, dan ia seperti memang menunggu keheningan itu. "Hari ini aku mengajukan pengakuan resmi atas Bintang." Nadira perlahan mengangkat mata, wajahnya sama sekali tanpa ekspresi. "Tak lama lagi semua dokumennya selesai."

Ia melempar pandang sekilas ke bayi itu. Bintang masih asyik, menekan mainan gigitannya dengan gusi.

"Ma ma ma."

"Mulai sekarang dia akan resmi memakai namaku."

Intan melirik Nadira diam-diam. Ia kenal betul raut itu.

Wajah seseorang yang berusaha menahan amarah.

Drilon melanjutkan seolah tak ada apa-apa.

"Sekalian aku mengurus satu hal lain."

Ia berhenti sejenak.

"Sebentar lagi kita berdua akan menikah."

Keheningan menguasai meja. Nadira tak menjawab, tak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya mengangkat wajah dan menatapnya.

Tatapannya begitu dingin, seakan mampu membekukan seisi ruangan.

Ia menelitinya perlahan, seperti menghitung tepat di mana ia akan menghantam pertama kali kalau memutuskan menerjang meja itu.

Drilon menahan tatapan itu tanpa tanda-tanda gentar. Justru senyum tipis muncul di sudut bibirnya. Ia tampak geli.

Agim mengamati semuanya dalam diam. Besnik juga menyadari percakapan itu mulai merambat ke wilayah berbahaya, dan sebelum ada yang bicara, ia memutuskan turun tangan.

"Ada kabar dari Durrës," ujarnya.

Semua mata beralih padanya, kecuali Nadira, yang terus memandangi Drilon.

"Kiriman melewati perbatasan tanpa masalah."

"Berapa truk?" tanya Drilon.

"Enam."

"Ada kerugian?"

"Tidak ada."

Drilon mengangguk singkat.

"Kami juga sudah mengidentifikasi siapa yang kemungkinan membocorkan informasi ke orang-orang Italia."

"Sudah ada konfirmasi?"

"Masih mengumpulkan bukti."

"Aku mau semua tentang dia sebelum besok."

"Akan dikerjakan."

Percakapan mengalir ke urusan organisasi.

Mereka membahas rute, perbatasan, orang kepercayaan, dan bisnis bernilai jutaan dengan ketenangan orang yang sedang membicarakan cuaca.

Sementara itu, mainan gigitan Bintang jatuh. Ia merengek kecil.

Agim langsung membungkuk, memungutnya, membersihkannya dengan serbet, dan mengembalikannya pada cucunya.

Begitu mainan itu kembali, si bayi tersenyum lebar dan mulai mengoceh tak jelas.

Agim membalas senyumnya. Besnik memperhatikan adegan itu beberapa saat sebelum kembali memandang Nadira.

Perempuan itu masih menatap Drilon, tampak sama sekali tak mendengarkan obrolan mafia.

Itu memunculkan pikiran menggelitik di benaknya: kehadiran perempuan ini di rumah ini menjanjikan hari-hari yang sangat menarik.

Drilon terbiasa dipatuhi semua orang. Nadira jelas bukan bagian dari mereka.

Dan mengenal keduanya, Besnik hampir yakin tak ada yang akan mengalah. Ini akan jadi perang harian.

Drilon kembali menatap Nadira.

"Kamu tidak mau bilang apa-apa?"

Beberapa detik ia diam, lalu menjawab tenang.

"Aku sedang berpikir."

"Tentang apa?"

Nadira menahan tatapannya.

"Berapa banyak kejahatan yang akan kulakukan kalau aku mengatakan persis apa yang sedang kupikirkan."

Besnik menunduk menyembunyikan senyum. Drilon justru tertawa singkat.

Kebersamaan mereka baru saja dimulai, dan entah bagaimana, Drilon merasa Nadira akan mengubah mansion itu jadi tempat paling tak terduga di seluruh Albania.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!