Sejak kecil, Kirana Lin dibuang ke desa karena terlahir bisu. Meski tak mampu berbicara, ia memiliki kecerdasan luar biasa dan segudang prestasi.
Dua puluh tahun kemudian, Kirana kembali ke keluarga Lin untuk menggantikan putri angkat mereka menikah dengan Kendra Wu, penguasa keluarga Wu yang lumpuh akibat kecelakaan.
Semua orang mengira Kirana akan menderita di tangan Kendra. Namun, gadis bisu itu justru berhasil membuat sang penguasa jatuh cinta dan membantunya merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.
Yuk simak kisahnya! Yang tidak suka langsung skip!👊👊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saling Mencari Tahu
Di dalam kamar barunya, Kirana menutup pintu rapat-rapat sebelum berjalan menuju koper yang tadi ia letakkan di sudut ruangan. Ia membuka koper tersebut dan mengeluarkan sebuah laptop berwarna hitam yang selama ini selalu ia bawa dari desa, kemudian duduk di depan meja sambil menyalakannya.
Jari-jari Kirana mulai bergerak cepat di atas keyboard. Ia tidak berniat hanya menerima begitu saja perjodohan dengan keluarga Wu, apalagi pria yang akan menjadi calon suaminya adalah seseorang yang sama sekali belum pernah ia temui.
Kirana membuka berbagai informasi mengenai Keluarga Wu, mulai dari struktur keluarga, perusahaan, hingga sejarah bisnis mereka. Tatapannya tetap tenang, tetapi semakin lama alisnya semakin berkerut ketika menemukan beberapa informasi yang cukup menarik.
“Jadi, begini rupanya,” pikir Kirana.
Keluarga Wu ternyata pernah mengalami perebutan kekuasaan di dalam keluarga. Setelah orang tua Kendra tidak lagi mengendalikan perusahaan keluarga, posisi penting dalam perusahaan justru jatuh ke tangan ibu tiri dan saudara tiri Kendra.
Bahkan keluarga Wu lainnya memihak istri kedua Tuan Wu serta saudara tiri Kendra.
Masalahnya tidak berhenti sampai di sana. Dari informasi yang berhasil dikumpulkan Kirana, keluarga tersebut masih mengincar perusahaan yang dibangun Kendra sendiri setelah ia memisahkan bisnisnya dari perusahaan utama keluarga Wu.
Kirana menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil membaca beberapa laporan keuangan dan berita bisnis lama.
Tatapannya menjadi dingin ketika melihat bagaimana beberapa anggota keluarga Wu berusaha mengambil keuntungan dari kerja keras Kendra.
“Cih, benar-benar serakah,” batinnya.
Ia kemudian membuka beberapa dokumen lain yang berhubungan dengan perusahaan milik Kendra.
Dari sana, Kirana menyadari bahwa pria tersebut ternyata bukan sekadar pewaris keluarga kaya, melainkan seorang pengusaha yang membangun perusahaannya sendiri dari nol hingga berkembang pesat.
“Lumayan,” pikir Kirana sambil mengangkat sebelah alis.
Sebelum melanjutkan penyelidikannya, sebuah notifikasi kecil muncul di layar laptop. Kirana langsung berhenti mengetik dan menatap layar dengan penuh perhatian.
Seseorang sedang mencari informasi tentang dirinya.
Kirana segera membuka jalur penelusuran tersebut dan mulai mengikuti jejak digitalnya. Tidak butuh waktu lama sebelum ia mengetahui siapa orang di balik penyelidikan itu.
“Kendra Wu?” tulis Kirana pelan di sebuah catatan kecil.
Bukannya merasa khawatir, sudut bibir Kirana justru terangkat tipis. Ia bersandar di kursinya dan menatap layar dengan ekspresi tenang.
“Silakan cari informasi apa pun tentangku,” pikirnya. “Aku juga sedang melakukan hal yang sama kepadamu.”
Kirana kemudian menutup laptopnya setelah memastikan tidak ada informasi penting tentang dirinya yang berhasil dibuka begitu saja. Ia tidak tahu bahwa di tempat lain, pria yang sedang menyelidikinya juga baru saja mendapatkan sejumlah informasi yang jauh lebih menarik daripada yang ia duga.
***
Di sebuah mansion mewah milik keluarga Kendra, suasana malam terasa begitu tenang. Di ruang kerja yang luas, seorang pria duduk di atas kursi roda menghadap jendela besar dengan pemandangan taman yang diterangi lampu.
Pria itu adalah Kendra Wu.
Wajahnya terlihat tenang dan sulit ditebak, sementara kedua tangannya bertumpu santai di atas sandaran kursi roda. Di belakangnya berdiri seorang pria bernama Marco yang sejak tadi membawa sebuah tablet berisi informasi.
“Bagaimana?” tanya Kendra tanpa menoleh. “Kau sudah mendapatkan informasi tentang gadis yang akan kunikahi?”
Marco mengangguk dan melangkah maju. “Sudah, Tuan. Namanya Kirana Lin, putri kandung keluarga Lin.”
Kendra akhirnya menoleh. “Putri kandung?”
“Benar,” jawab Marco. “Namun, sejak kecil dia diasingkan ke sebuah desa karena terlahir bisu. Selama kurang lebih dua puluh tahun, dia hidup jauh dari keluarga Lin.”
Kendra terdiam sejenak. “Hanya karena dia bisu?”
Marco mengangguk. “Menurut informasi yang kami dapatkan, itu salah satu alasan utamanya.”
Kendra tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap layar tablet yang diberikan Marco, lalu berkata, “Apa lagi?”
Marco menggeser layar tabletnya. “Ada sesuatu yang menurut saya lebih menarik daripada latar belakang keluarganya.”
“Apa?”
Marco menekan sebuah video dan memutarnya.
Rekaman kamera pengawas memperlihatkan Kirana berdiri di depan mansion keluarga Lin. Dua pengawal bertubuh kekar tampak menghadangnya, tetapi beberapa saat kemudian keduanya sudah tersungkur setelah Kirana memberikan perlawanan.
Kendra yang awalnya terlihat santai mulai memperhatikan layar dengan lebih serius. Bahkan pintu utama mansion terlihat rusak akibat kejadian tersebut.
“Itu baru pertama kali dia datang?” tanya Kendra.
“Benar, Tuan.”
Marco kemudian membuka rekaman berikutnya. Kali ini terlihat seorang pelayan mencoba menindas Kirana setelah gadis itu mendapatkan kamar yang tidak layak, tetapi Kirana tidak tinggal diam dan berhasil membuat pelayan tersebut tidak berkutik.
Kendra menatap rekaman itu tanpa berkedip. Beberapa detik kemudian, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.
“Dia lumayan juga.”
Marco tersenyum kecil. “Saya juga berpikir begitu, Tuan.”
Kendra mengalihkan pandangannya dari layar. “Siapa yang mengasuhnya selama berada di desa?”
Marco terdiam sebentar sebelum menjawab, “Itulah bagian yang cukup sulit kami cari.”
Ia membuka beberapa berkas rahasia di tabletnya. “Desa tempat Kirana tinggal sangat tertutup. Akses informasinya hampir tidak ada, bahkan ketika beberapa sistem kami coba telusuri, hasilnya tetap sangat terbatas.”
Kendra mengangkat alis. “Sangat tertutup?”
“Benar, Tuan. Dari informasi yang beredar di luar, desa itu disebut sebagai daerah terpencil yang tertinggal dan miskin.”
Marco berhenti sebentar sebelum melanjutkan, “Namun, beberapa orang yang kami tempatkan di sekitar wilayah tersebut justru melaporkan hal yang berbeda.”
Kendra menatapnya. “Berbeda bagaimana?”
“Desa itu memang terlihat sederhana, tetapi ternyata ada cukup banyak orang berkemampuan luar biasa yang tinggal di sana. Sebagian besar dari mereka bahkan disebut sebagai para pensiunan ahli dari berbagai bidang.”
Tatapan Kendra berubah sedikit lebih tajam. “Para master?”
Marco mengangguk. “Kemungkinan besar begitu.”
Kendra terdiam cukup lama. Ia kembali menatap rekaman Kirana yang sedang menghadapi dua pengawal bertubuh kekar tanpa menunjukkan rasa takut sedikit pun.
“Kalau begitu, dia tidak sekadar dibesarkan di desa,” ujar Kendra pelan.
Marco menunggu.
Kendra tersenyum tipis. “Sepertinya gadis itu justru dididik dengan sangat baik di sana.”
Marco mengangguk. “Saya juga berpikir begitu, Tuan.”
Kendra kembali menyandarkan tubuhnya. “Ada informasi lain?”
“Belum banyak yang bisa kami temukan mengenai kehidupannya selama dua puluh tahun di desa itu,” jawab Marco. “Seolah-olah ada seseorang yang sengaja menutup semua jejak tentang dirinya.”
Kendra justru terlihat semakin tertarik. “Menarik.”
Marco kemudian menyimpan tabletnya dan memberanikan diri bertanya, “Tuan, apakah Anda masih ingin melanjutkan perjodohan ini?”
Ruangan kembali hening.
Beberapa detik kemudian, Kendra menjawab tanpa ragu, “Tentu saja.”
Marco sedikit terkejut. “Tuan tidak keberatan dengan kondisinya?”
“Kenapa aku harus keberatan?” Kendra bertanya balik. “Dia bisu, bukan berarti dia tidak mampu berpikir.”
Marco terdiam mendengar jawaban itu.
Kendra kemudian mengarahkan pandangannya ke jendela. “Lagipula, aku justru ingin tahu seperti apa sebenarnya wanita yang mampu membuat dua pengawal tumbang hanya beberapa menit setelah kembali ke keluarganya.”
Marco tersenyum tipis. “Kalau begitu, apakah saya perlu mempersiapkan sesuatu untuk keluarga Lin?”
“Tidak,” jawab Kendra. “Besok kirimkan hadiah kepada calon istriku.”
“Hadiah pertunangan?”
Kendra mengangguk. “Ya. Kirim sesuatu yang pantas untuknya.”
Marco langsung membungkuk hormat. “Baik, Tuan Muda.”
Saat Marco hendak pergi, Kendra kembali memanggilnya.
“Marco.”
Pria itu berhenti dan menoleh. “Ya, Tuan?”
Kendra tersenyum tipis sambil kembali menatap layar yang menampilkan wajah Kirana. “Jangan anggap dia gadis lemah hanya karena dia tidak bisa berbicara.”
Marco mengangguk. “Saya mengerti.”
Setelah Marco meninggalkan ruangan, Kendra kembali menatap foto Kirana yang terpampang di layar tabletnya.
🤭🤭🤭🤭