Sehari sebelum pernikahannya dengan Don Camorra, sang kakak kabur bersama kekasih gelapnya.
Otavio Martini tidak punya hati. Sejak kecil ia dibentuk menjadi mesin pembunuh, dan kini seluruh Sisilia gemetar bila namanya disebut. Pernikahan dengan putri sang konsiglier hanyalah kewajiban yang harus ia tuntaskan. Maka ketika pengantinnya menghilang, ia tahu persis siapa yang harus membayar: seluruh keluarga si pelarian.
Bianca, adik sang pengantin, hanya gadis buta berlidah tajam yang tak pernah menginginkan dunia mafia. Dengan pistol menempel di kepalanya dan nyawa ibunya dipertaruhkan, ia hanya punya satu pilihan: mengenakan gaun pengantin kakaknya dan menjadi istri pria yang bahkan tak sudi menatapnya lembut.
"Aku tidak bisa bersikap baik. Tapi kau milikku, Bianca, dan tak seorang pun boleh menyentuh milikku."
Sebuah pernikahan yang dimulai dengan ancaman. Seorang Don yang tak percaya cinta. Seorang istri pengganti yang menolak tunduk. Dan musuh-musuh yang bersembunyi di balik meja Dewan, di dalam rumah, bahkan di dalam keluarga sendiri.
Berapa lama sebuah hati yang katanya sudah mati sanggup bertahan, ketika satu-satunya orang yang bisa menyelamatkannya adalah gadis yang seharusnya tak pernah ada di altar itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Paula menezes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Setelah makan malam, Otavio membawa Bianca ke hotel mewah. Ia ingin semuanya sempurna, jadi ia memilih kamar terbaik di hotel itu dan menuntun gadis kecilnya masuk dengan lembut.
Bianca gugup. Ia tak tahu apa-apa soal ini, selain yang pernah ia dengar di sekolah atau saat mengobrol dengan Alice tentang cowok.
Begitu mereka masuk, Otavio menyadari betapa tegangnya Bianca. Ia tidak ingin gadis itu melakukan apa pun karena terpaksa.
"Bianca, aku perlu tahu apa kamu yakin. Aku bisa menunggumu, Kecilku."
"Ya, aku yakin. Tapi, tolong lembut padaku. Aku belum pernah... ya, kamu tahu..."
Otavio tersenyum dan memeluknya dengan hangat.
"Aku akan berusaha sebaik mungkin supaya ini istimewa untuk kita berdua."
Ia menggandeng tangan Bianca, membawanya ke dekat tempat tidur, dan membelai wajahnya. Lalu ia menciumnya dengan intens dan penuh gairah. Bianca jadi malu, sementara Otavio sudah mengeras sepenuhnya karenanya.
Sambil terus menciumnya, ia perlahan menurunkan ritsleting gaun itu dan membiarkannya jatuh ke lantai.
Bianca langsung canggung dan menutupi bra serta celana dalamnya dengan tangan. Dengan sabar Otavio mencium bahunya, lalu meraih lengan Bianca dan melingkarkannya ke bahunya sendiri. Ia mulai mengelus tubuh gadis itu dengan kedua tangan, kemudian sigap mengangkatnya dan membaringkannya di tempat tidur, menghujaninya dengan ciuman.
Otavio berdiri dan mengagumi keindahan Bianca. Tubuh yang indah, berlekuk, dengan dada penuh dan kencang, putingnya mengeras karena rangsangan. Itu membuat Otavio nyaris gila oleh gairah. Ia berusaha menahan diri agar tidak lepas kendali di depan gadis cantik yang sebentar lagi menjadi wanita.
Otavio melepas pakaiannya dan naik ke ranjang. Bianca duduk, dan meski malu, ia bicara padanya.
"Otavio, boleh aku melihatmu?"
"Maksudmu?"
"Aku ingin menyentuhmu, supaya tahu seperti apa kamu."
Otavio meraih tangan Bianca dan menaruhnya di wajahnya. Bianca meraba setiap detailnya. Ia menyisir rambut Otavio, lalu turun ke bahunya dan merasakan betapa kuat dan berototnya pria itu. Tangannya terus turun ke perut yang keras dan penuh kotak-kotak otot, hingga akhirnya menyentuh kejantanan Otavio. Seketika Bianca beringsut menjauh dari ranjang, kaget oleh ukuran dan tebalnya. Urat-uratnya pun terasa berdenyut, membara oleh hasrat padanya.
Otavio tersenyum dan mendekatinya. Bianca sangat gugup dan ketakutan.
"Otavio, aku takut. Ini tidak akan muat di dalamku."
Otavio sudah terbakar gairah untuk Bianca dan hanya ingin merasakan setiap bagian dirinya.
"Dia dibuat khusus untukmu. Seluruhnya akan masuk, setiap sentimeter, dan kujamin kamu akan suka, sampai memintaku masuk dengan keras."
Bianca menelan ludah. Otavio menarik gadis itu ke pelukannya dan membaringkannya lagi di tempat tidur, menciumnya dengan intens penuh nafsu dan hasrat. Bianca membalas ciumannya, kini juga dipenuhi gairah untuk Otavio. Dengan tiap ciuman, panas di bagian intimnya naik setiap detik, dan rasa malunya mulai terlupakan.
Cepat-cepat Otavio melepas bra Bianca. Tanpa buang waktu ia membelai dan menciumi dadanya. Bianca makin terangsang. Setiap kali Otavio menghisap bergantian, ia mengeluarkan erangan pelan dan melengkungkan punggung.
Setiap gerakan Bianca membuat Otavio makin dipenuhi nafsu, makin keras saja.
Ia menurunkan ciumannya sampai ke bagian intim Bianca. Tangannya mengelus dari atas celana dalam, dan Bianca langsung mengerang lalu menutup mulutnya karena malu.
Otavio naik ke wajahnya, menyingkirkan tangan itu, dan berbisik di telinganya.
"Aku ingin mendengarmu mengerang untukku. Jangan lakukan itu lagi, atau aku harus menghukummu."
Mendengar itu, bagi Bianca rasanya seperti menyiram bensin ke api. Kewanitaannya mulai berdenyut oleh hasrat, ingin dihukum Otavio.
Otavio turun lagi ke bagian intim Bianca dan menjilat dari atas celana dalamnya. Bianca terbakar gairah, mengerang, berharap Otavio melangkah lebih jauh.
Lalu tanpa peringatan ia merobek celana dalam renda itu, membuat Bianca terkejut sedikit. Melihat bagian intimnya yang merah muda, basah kuyup, dan berdenyut, Otavio nyaris gila. Ia ingin menghujam masuk tanpa ampun, tetapi ia menahan diri.
"Dasar seksi, kamu bikin aku gila. Aku harus menahan diri denganmu."
"Jangan menahan diri..."
Kata-kata itu mengguncang sisa kewarasan Otavio yang tinggal sedikit.
"Bersiaplah, karena malam ini memek kecilmu yang binal ini akan kubereskan."