Tiga tahun mendekam di penjara, Annabella tak menyangka kebebasannya justru menjadi awal penderitaan baru.
Lucian Winston, CEO Wins IT yang menyimpan dendam atas penculikan adiknya, membebaskan Annabella demi satu tujuan: menjadikannya istri dan menghukumnya dengan caranya sendiri.
Annabella menolak, hingga Lucian mengancam keselamatan Aditya, pamannya yang sedang koma dan terancam kehilangan perawatan akibat kebangkrutan.
Demi menyelamatkan satu-satunya keluarga yang tersisa, Annabella terpaksa menerima pernikahan tanpa cinta dengan pria yang membencinya.
Namun, sampai kapan Annabella mampu bertahan di tengah dendam Lucian? Dan bagaimana jika di balik kebencian itu, ada rahasia yang mampu mengubah segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cucu Paman
Annabella berjalan menyusuri trotoar sendirian. Ia ingin segera ke rumah sakit menemui Aditya, tapi tidak punya uang untuk naik kendaraan umum. Barang‑barang berharganya hampir tidak ada, bahkan setelah resmi menjadi istrinya, Lucian tidak memberinya uang sepeser pun.
Annabella tersenyum getir mengingat pernikahan beberapa jam yang lalu. Ia ditinggalkan begitu saja, tidak diberi kesempatan pulang bersama suaminya sendiri.
Sudahlah. Memikirkan Lucian hanya akan membuat hatiku semakin sakit.
Yang paling penting sekarang adalah menemui Paman Aditya. Dua jam berjalan kaki membuatnya tiba di rumah sakit dengan napas terengah‑engah dan kaki terasa lelah sekali.
Di depan ruang perawatan Aditya, seorang suster sudah menunggunya.
“Suster, apakah ada sesuatu yang salah dengan kondisi Paman?” tanyanya dengan cemas.
Suster itu menggeleng.
“Tidak, Nona. Kondisi beliau masih sama seperti sebelumnya.”
Annabella menghela napas lega.
“Lalu, kenapa Suster menunggu saya?”
Suster menunjuk ke arah seorang anak perempuan berusia sekitar tiga tahun lebih yang duduk di kursi tunggu. Rambutnya diikat dua, pipinya bulat, mata besar dan jernih. Di pelukannya ada rubik kecil yang sudah agak usang.
“Anak ini datang ke rumah sakit sendirian dan mengaku sebagai cucu Tuan Aditya,” jelas suster itu.
Annabella tertegun.
“Cucu Paman?”
“Benar. Dia terus mengatakan ingin bertemu kakeknya. Karena masih kecil dan tidak ada orang dewasa yang mendampinginya, kami membawanya ke sini. Kami berharap keluarganya akan segera datang menjemput.”
Annabella menatap anak itu dengan bingung. Sepengetahuannya, Aditya tidak pernah menikah dan tidak punya anak. Selama ini pamannya hanya menganggap dirinya sebagai keluarga terdekat setelah kedua orang tuanya meninggal.
Bagaimana mungkin anak itu mengaku sebagai cucunya?
“Apakah dia sudah menyebutkan nama ayah dan ibunya?” tanya Annabella lagi.
Suster menggeleng.
“Tidak banyak yang bisa kami dapatkan darinya. Dia hanya terus berkata bahwa dirinya cucu Tuan Aditya. Kami sudah mencoba bertanya, tapi dia belum mau bercerita.”
Annabella merasa iba. Anak seusia itu seharusnya berada di rumah bersama keluarganya, bukan berkeliaran sendirian di rumah sakit.
“Baiklah, Suster. Biar saya mencoba berbicara dengannya.”
Suster mengangguk.
“Kalau begitu saya permisi, Nona. Jika membutuhkan bantuan, silakan panggil kami.”
Setelah suster pergi, Annabella menghampiri anak perempuan itu lalu berjongkok agar wajah mereka sejajar.
“Hai, Sayang.”
Anak itu mengangkat kepala, menatapnya dengan tatapan polos.
Annabella tersenyum lembut.
“Nama kamu siapa?”
Anak itu mengeratkan pelukannya pada rubik kecilnya, lalu menjawab dengan suara imut dan cadel.
“Yumna.”
Senyum Annabella melebar.
“Yumna? Nama yang cantik sekali.”
Yumna mengangguk kecil.
“Umur Yumna berapa?”
Yumna mengangkat tiga jari mungilnya.
“Tiga tahun, cembilan bulan.”
“Oh, sudah tiga tahun, ya?” Annabella mengusap kepalanya dengan lembut. “Kalau boleh tahu, siapa nama ayah dan ibu Yumna?”
Senyum Yumna perlahan menghilang. Ia menunduk sambil memainkan ujung gaunnya, tidak menjawab apa‑apa.
Annabella tidak ingin memaksanya.
“Kalau begitu, Yumna tinggal di mana? Rumah Yumna jauh dari sini?”
Lagi‑lagi anak itu diam. Annabella mulai bingung, tidak tahu harus bertanya apa lagi.
Ia menghela napas pelan.
“Tidak apa‑apa. Yumna tidak perlu takut, ya. Onty tidak akan memarahi Yumna.”
Yumna perlahan mengangkat wajahnya, memastikan perempuan di hadapannya tidak akan menyakitinya.
Kemudian ia turun dari kursi, mendekat, lalu berdiri tepat di depan Annabella. Ia mendongak dengan mata berbinar.
“Onty…”
“Iya, Sayang?”
Yumna menggigit bibir kecilnya sebelum bertanya dengan suara cadel.
“Yumna boleh ndak ikut Onty?”
Annabella tertegun.
“Ikut Onty?”
Yumna mengangguk cepat.
“Iya. Yumna mau ikut Onty.”
Hati Annabella melunak. Ia tidak tahu dari mana asal anak itu, atau mengapa ia datang sendirian ke rumah sakit. Tapi wajah polosnya membuat Annabella sulit bersikap dingin.
“Kenapa Yumna mau ikut Onty?” tanyanya.
Yumna tidak menjawab. Ia justru mengulurkan tangan mungilnya, lalu memegang ujung pakaian Annabella.
“Yumna mau cama Onty.”
Annabella mengusap pipi Yumna dengan lembut.
“Sayang, Onty juga belum tahu di mana rumah Yumna. Onty saja belum tahu siapa ayah dan ibu kamu.”
Yumna hanya menatapnya.
“Yumna ndak punya Onty?”
“Tentu saja punya. Sekarang Yumna sedang bersama Onty, bukan?”
Yumna mengangguk kecil, lalu tiba‑tiba memeluk leher Annabella.
“Onty baik.”
Annabella sempat mematung sebelum membalas pelukan itu. Sejak keluar dari penjara, hampir semua orang memandangnya dengan kebencian. Tidak ada yang menyambutnya dengan senyum tulus, apalagi memeluknya seolah dirinya berharga.
Namun Yumna memeluknya tanpa tahu masa lalunya. Anak itu tidak tahu bahwa Annabella pernah menjadi narapidana, atau kini hidup bersama pria yang membencinya.
Air mata Annabella nyaris jatuh. Ia segera mengedipkan mata, lalu mengusap punggung Yumna.
“Yumna lapar?” tanyanya kemudian.
Anak itu mengangguk.
“Hm… Mau makan.”
Annabella tersenyum kecil, tapi senyumnya segera memudar saat teringat bahwa ia tidak punya uang untuk membeli makanan. Ia menatap tas kecilnya yang kosong. Tidak ada apa‑apa yang bisa ia berikan kepada Yumna.
Bagaimana mungkin ia merawat anak kecil, sementara dirinya sendiri kesulitan memenuhi kebutuhan sehari‑hari?
Belum lagi Lucian. Pria itu pasti akan marah besar jika tahu ia membawa anak asing ke rumah. Annabella bisa membayangkan betapa tajamnya ucapan suaminya nanti.
Tapi ketika ia hendak melepaskan pelukan itu, Yumna justru menggenggam tangannya dengan erat.
“Onty, jangan tinggalin Yumna.”
Annabella terdiam. Ia ingin membawa Yumna, tapi takut akan akibatnya. Jika Lucian mengusir mereka berdua, ke mana mereka harus pergi? Ia sendiri tidak punya tempat lain untuk berlindung.
Annabella menarik napas panjang.
“Yumna, dengarkan Onty, ya. Onty harus mengurus kakek kamu dulu. Setelah itu, kita cari tahu siapa keluarga Yumna, bagaimana?”
Yumna menggeleng kecil.
“Yumna mau ikut.”
Annabella menatapnya lekat‑lekat, lalu mengusap rambut anak itu.
“Baiklah. Untuk sekarang, Yumna ikut Onty dulu. Tapi kita harus cari tahu siapa orang tua Yumna, ya.”
Wajah Yumna langsung cerah.
“Yeay! Yumna ikut Onty!”
Anak itu bertepuk tangan kecil sebelum kembali memeluk Annabella. Annabella tersenyum tipis. Ia tidak yakin apakah keputusannya sudah benar, tapi ia tidak sanggup meninggalkan Yumna sendirian.
Nanti ia akan memikirkan cara menghadapi Lucian. Untuk saat ini, ia hanya ingin memastikan anak itu tidak kelaparan dan tidak merasa kesepian.
Annabella menggandeng tangan mungil Yumna, lalu menoleh ke arah ruang perawatan Aditya.
“Paman, siapa sebenarnya anak ini?” gumamnya dalam hati. “Kenapa dia mengaku sebagai cucu Paman?”
Ia kembali menatap Yumna. Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab, tapi kehadiran anak itu mungkin akan membawa perubahan besar dalam hidupnya.
dtggu kelanjutan ny mom ,,
dn apa bnr Erwin tu kk ny anabella???
doa yg terbaik buat mom semoga. cepat sampai retensi ny ,,
🤗
kasihan Cristal harus gigit jempol kaki🤭🤭🤣🤣🤣