Misya dan Reyden menikah selama dua tahun. pernikahan yang mereka jalani karena perjodohan, tak ada masalah dalam rumah tangga mereka yang monoton itu.
namun menjelang pernikahan ke dua mereka, ternyata Misya baru tahu kalau Reyden belum menerima dan bisa mencintai dia bukan karena belum siap. tapi karena hatinya masih ada pada wanita masa lalunya yang akhirnya kembali.
apakah Reyden akan kembali kepada wanita di masa lalunya atau mungkin dia mulai menyadari cintanya kepada Misya?
ikuti terus kelanjutan kisah cinta mereka ya kak...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misya 26
"Ayah benar seratus persen," ujar Reyden dengan suara parau.
Rey merespons teguran telak dari sang ayah tanpa sedikit pun berniat membela diri. Ia menunduk, menatap lantai marmer putih sejenak sebelum kembali mendongak menatap Ayah Baskara dan Bunda Amelia secara bergantian.
"Saya akui, batas yang saya buat kemarin masih terlalu longgar. Saya terlalu naif berpikir bahwa menjaga jarak profesional saja sudah cukup, tanpa menyadari bahwa keberadaan Aurelia di sekitar saya bisa menjadi duri yang melukai Misya. Saya berjanji, kesalahan itu tidak akan pernah terulang lagi."
Mendengar pengakuan tulus dari suaminya, genggaman tangan Misya di atas sofa perlahan mengerat. Ia menoleh, menatap sisi wajah Reyden yang tampak begitu serius dan menyesal. Hatinya yang tadinya diliputi keraguan perlahan-lahan ditenangkan oleh kejujuran yang ditunjukkan pria itu di hadapan kedua orang tuanya. Dia merasa senang karena Rey memilihnya, apakah ini buah dari semua pengorbanannya selama dua tahun menikah dengan Rey? Karena pada akhirnya Rey sudah mulai emmbuka diri.
Bunda Amelia menghela napas panjang, mereda sedikit ketegangan di wajahnya. Wanita paruh baya itu beralih menatap menantunya, lalu tersenyum lembut seraya mengusap punggung tangan Misya yang bebas.
"Dengar itu, Misya sayang..." ucap Bunda dengan suara penuh keibuan.
"Kalau suami kamu ini sampai mengulangi kebodohannya lagi, atau kalau si Aurelia itu berani muncul dan mengganggu kamu dengan cara apa pun, kamu tidak perlu sungkan. Langsung laporkan pada Bunda dan Ayah. Biar kami yang turun tangan langsung meluruskan semuanya."
"Iya, Bunda... Terima kasih banyak. Jika melihat tindakan Mas Rey yang memilih Misya, Misya jadi punya kepercayaan diri juga untuk melawan mereka. Karena selama ini Misya menahan diri, karena belum yakin kalau pada akhirnya Mas Rey berpihak pada Misya.," balas Misya tulus, menyunggingkan senyuman tipis meski sisa-sisa kelelahannya masih terlihat jelas di matanya.
"Misya... Maafkan atas perlakuan dan sikap saya selama ini yang sudah membuat kamu ragu..."
"Tidak apa-apa, Mas. Misya paham karena kita menikah berkat perjodohan sehinga perlu menyesuaikan diri masing-masing. Teima kasih, Mas Rey karena berada di pihakku..."
"Tidak. Jangan berterima kasih, misya. Tapi itu adalah kewajibanku sebagai seorang suami. Seharusnya aku yang berterima kasih karena kamu memberikan kepercayaan padaku..."
Ayah Baskara mengangguk tegas, lalu menegakkan punggungnya. Pria paruh baya itu melirik arloji mewah di pergelangan tangannya sebelum kembali menatap anak sulungnya.
"Bagus kalau kamu sadar, Rey. Keputusan yang kamu ambil hari ini, memecat Menurunkan jabatannya walau dia adalah sepupu Bundamu dan memblokir kontak Aurelia sudah tepat. Tapi ingat, tindakan tegas itu harus dibuktikan secara konsisten ke depannya. Kepercayaan itu seperti kaca, sekali pecah, meskipun bisa direkatkan kembali, bekas retakannya akan tetap ada. Apalagi kalau pecahnya sudah hancur, jangan harap akan bisa menyatukan semua pecahannya kembali,"
"Saya catat baik-baik nasihat Ayah," jawab Reyden mantap.
Ayah Baskara kemudian melirik istrinya. "Bunda, sepertinya kita harus pamit pulang sekarang. Biarkan Reyden dan Misya beristirahat. Rumah tangga mereka butuh waktu tenang untuk memulihkan semuanya setelah badai hari ini."
"Ah, benar juga," sahut Bunda sambil berdiri dari sofa, diikuti oleh Ayah Baskara. Wanita paruh baya itu kembali merengkuh tubuh Misya ke dalam pelukannya sebentar.
"Istirahat yang cukup ya, Nak. Jangan terlalu dipikirkan lagi omongan orang-orang tidak tahu diri itu. Kalau butuh apa-apa, telepon Bunda."
"Iya, Bunda. Hati-hati di jalan ya," ujar Misya, membalas pelukan hangat ibu mertuanya.
Reyden dan Misya lantas mengantar kedua orang tua mereka sampai ke teras depan rumah. Setelah mobil sedan mewah keluarga besar Dirgantara itu perlahan meninggalkan pelataran dan hilang di tikungan jalan, kesunyian kembali menyelimuti pekarangan rumah.
Reyden menghembuskan napas panjang. Ia merangkul pinggang istrinya protektif, lalu menoleh lembut ke arah Misya.
"Masuk yuk, udara di luar mulai dingin," ajak Reyden.
Mereka kembali melangkah masuk ke dalam rumah. Suasana di dalam kini terasa jauh lebih tenang, seolah beban berat yang menghimpit dada mereka sejak pagi hari akhirnya berhasil diangkat berkat kehadiran dan dukungan keluarga.
"Mas..." panggil Misya pelan saat mereka tiba di ruang tamu utama. Ia menghentikan langkahnya, membuat Reyden ikut berhenti dan berbalik menatapnya.
"Ada apa, sayang? Ada yang masih mengganjal di pikiran kamu?" tanya Reyden cemas, langsung memegang kedua bahu istrinya dengan penuh perhatian.
Misya menggeleng pelan, namun ia menatap manik mata suaminya lekat-lekat.
"Bukan... Bukan soal masalah tadi. Tapi... apa benar kamu sudah benar-benar menutup masa lalu kamu dengan Aurelia? Bukan cuma di depan Ayah dan Bunda, tapi... di sini?"
Misya terdiam sejenak, lalu perlahan menaruh telapak tangannya tepat di dada kiri suaminya, merasakan degup jantung Reyden yang berdetak teratur.
Reyden tersenyum kecil. Ia menutupi tangan Misya dengan telapak tangannya yang hangat, lalu membawa tangan istrinya itu untuk mengecupnya lembut.
"Mau dibuktikan dengan cara apa lagi supaya kamu percaya, Misya?" tanya Reyden dengan suara baritonnya yang lembut, menatap manik mata istrinya tanpa ada sedikit pun keraguan.
"Maaf mungkin selama dua tahun ini kamu merasa kalau aku sangat cuek dan juga terkesan tidak menerima kamu dalam pernikahan kita. Sejujurnya aku bingung bagaimana bersikap sama kamu. Aku juga msih berusaha menyesuaikan pernikahan dan hubungan kita. Namun seiring berjalannya waktu, rupanya cinta di hati saya untuk kamu sudah tumbuh. Maafkan saya karena bingung mengungkapkannya takut kamu marah. Dan mengenai Aurelia, Demi Allah Yang Maha Tahu perasaan umatnya, saya sudah tak punya perasaan apa-apa kepada Aurelia. Hanya sedikit kaget saja karena kembali bertemu setelah lima tahun... Dan kesalahan saya adalah saya tidak cerita sama kamu..."
Misya menelan ludah, air mata bahagianya kembali mendesak naik, namun kali ini diiringi oleh senyuman terindah yang pernah diterbitkan oleh bibirnya hari itu.
"Aku percaya sama kamu, Mas..." bisik Misya tulus.
"Mulai sekarang... kita buka lembaran baru, ya? Dan di mulai dengan saling percaya dan terbuka..."
Mendengar jawaban itu, pertahanan terakhir Reyden meleleh sepenuhnya. Pria itu langsung menarik tubuh istrinya rapat-rapat ke dalam dekapannya, membenamkan wajahnya di ceruk leher Misya, menyalurkan seluruh rasa cinta, penyesalan, dan janji suci yang terukir di dalam hatinya.
"Ya, sayang... Kita mulai semuanya dari awal. Hanya ada kamu dan aku, selamanya," bisik Reyden penuh ikrar, mengeratkan pelukannya di bawah temaram lampu ruang tamu.
Matahari pagi menembus celah gedung-gedung pencakar langit ibu kota, memantulkan kilau keemasan di atas meja kerja Reyden.
Suasana di ruangan itu tampak tenang, namun ketegangan masih tersisa pasca insiden kemarin dan peringatan keras yang diberikan Reyden sehari sebelumnya. Reyden duduk di balik meja kerjanya dengan kemeja putih lengan panjang yang digulung sebatas siku, fokus menatap layar laptop untuk memeriksa ulang draf kontrak proyek yang telah direvisi total tanpa melibatkan nama-nama bermasalah dari lingkaran keluarganya.
Tok... tok... tok!
Ketukan pintu ruang kerja terdengar pelan, disusul pintu yang terbuka perlahan. Anggara melangkah masuk dengan ekspresi ragu dan sedikit cemas di wajahnya.
"Masuk, Angga. Ada apa?" tanya Reyden tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
"Maaf mengganggu waktu Anda, Pak Rey," lapor Anggara dengan nada berhati-hati.
"Di luar... Bu Aurelia datang. Beliau memaksa ingin masuk dan bertemu langsung dengan Bapak untuk urusan mendesak terkait kelanjutan proyek."