Zivana dan Aidil sudah menikah tiga tahun. Dan saat itu Aidil adalah seorang duda anak dua, sedangkan Zivana merupakan wanita yang pernah bekerja di salah satu butik ibu Aidil. Selama pernikahan mereka, Aidil memang belum mencintai Zivana, terlebih saat itu mereka menikah karena keinginan ibu Aidil yang kasihan melihat kedua cucunya yang masih kecil. Amora yang saat itu baru berusia dua tahun dan Khaisar lima tahun.
Selama tiga tahun Zivana menjadi sosok ibu dan istri yang begitu mencintai kedua anak-anak Aidil. Namun sayangnya, Zivana belum bisa mendapatkan hati Aidil, walau pria itu selama tiga tahun selalu bersikap baik padanya. Hanya saja, selama itu pula Aidil belum berani menyentuh Zivana.
Hingga menjelang tiga tahun pernikahan mereka akhirnya Stela, mantan istri Aidil yang pernah meninggalkannya kembali. Dan berusaha merebut perhatian kedua anak dan mantan suaminya.
Apa yang akan terjadi dengan pernikahan Zivana dan Aidil? Akankah mereka bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zivana 9
Pagi berganti siang dengan lambat dan menyiksa bagi Zivana. Sejak Aidil berangkat ke kantor tadi pagi, dengan gestur canggung dan tatapan bersalah yang tak terucapkan, Zivana hanya terduduk di sudut sofa ruang keluarga. Rumah berlantai dua itu mendadak terasa begitu luas, dingin, dan sunyi.
Setiap kali jarum jam dinding berdetik, dada Zivana makin sesak. Ia memeluk lututnya erat-erat, menatap ponselnya yang tergeletak bisu di atas meja kaca. Di dalam hatinya, Zivana terus memanjatkan doa yang sama, ia memberi Aidil kesempatan. Ia menunggu satu panggilan telepon, atau sekadar pesan singkat dari suaminya yang mengakui keberadaan Stela dan pertemuan sore ini. Zivana hanya butuh kejujuran. Jika Aidil jujur, setidaknya Zivana tahu bahwa cinta dan penghormatan pria itu padanya masih nyata, bukan sekadar pura-pura.
Namun, hingga jarum jam menunjukkan pukul tiga sore, satu jam sebelum jadwal pertemuan Aidil dan Stela di restoran taman ponsel itu tetap hening tanpa kejujuran yang dinanti.
Dari balik kaca jendela kafe kecil di seberang jalan, Zivana menatap lurus ke area restoran taman bernuansa outdoor itu. Jemarinya meremas kain roknya erat-erat, menahan sesak yang kian membakar dada. Di sana, Aidil baru saja turun dari mobil bersama Khaisar dan Amora.
Tak lama kemudian, Stela melangkah anggun menghampiri mereka. Wanita itu mengenakan gaun pastel yang amat elegan, tersenyum lebar dengan mata berbinar-binar.
"Khaisar! Amora!" panggil Stela dengan nada suara yang sengaja dibuat lembut dan bergetar haru.
Langkah kedua anak itu terhenti. Suasana mendadak berubah canggung dan kaku.
Stela berlutut di atas rumput taman, menyamakan tingginya dengan kedua anak kecil itu. Ia mengabaikan tatapan dingin Aidil dan memfokuskan seluruh perhatiannya pada Amora, si bungsu yang dulu ditinggalkannya saat baru berusia dua tahun.
"Amora... ini Mama, Sayang," bisik Stela manis. Ia merogoh tas tangannya dan mengeluarkan sebuah boneka beruang merah muda berukuran sedang dengan pita berkilau.
"Lihat, Mama bawakan boneka kesukaan Amora. Cantik kan? Ayo ambil, Nak."
Amora mengerjapkan matanya yang bulat polos. Anak berusia lima tahun itu tidak memilik memori buruk tentang Stela karena ia masih terlalu kecil saat ditinggalkan. Melihat boneka yang sangat menggemaskan itu, mata Amora berbinar. Ia maju satu langkah, mengulurkan tangan mungilnya dengan ragu-ragu.
"Beneran buat Amora?" tanya Amora pelan, menatap Stela dengan kepolosan anak-anak.
"Iya, Sayang! Beneran buat Princess Amora," jawab Stela antusias, matanya berbinar menang saat Amora menerima boneka itu dan memeluknya. Stela dengan sigap mengusap pipi Amora dan mencium keningnya.
"Mama kangen sekali sama Amora..."
Namun, pemandangan hangat itu berbanding terbalik dengan Khaisar.
Bocah delapan tahun itu berdiri mematung di samping Aidil. Berbeda dengan adiknya, ingatan Khaisar saat usianya lima tahun masih terekam sangat jelas, ingatan saat wanita di hadapannya ini menyeret koper keluar rumah, mengabaikan tangisannya yang memohon agar sang ibu tidak pergi.
Stela beralih menatap Khaisar, menyunggingkan senyum hangat. "Khaisar... Jagoan Mama sudah besar sekali. Sini, Nak, Mama juga punya..."
"Jangan sentuh Khaisar!" potong Khaisar tiba-tiba dengan suara menyalak tajam. Bocah itu mundur dua langkah, menyembunyikan tangannya di belakang punggung dan bersembunyi rapat di balik paha Aidil.
Stela tersentak, tangannya yang terulur membeku di udara. "Khaisar... ini Mama, Nak..."
"Bukan!" jerit Khaisar, matanya menatap Stela dengan sorot amarah dan luka yang mendalam.
"Tante bukan Mama Khaisar! Mama yang ini jahat! Dulu Tante pergi nungguin Khaisar menangis di pintu, Tante ditinggalin Khaisar sama Adik!"
"Khaisar, dengarkan Mama dulu, Sayang..." Stela mencoba maju, raut wajahnya mulai panik.
"Dulu Mama ada urusan, Mama tidak berniat membuang kalian..."
"Bohong!" potong Khaisar lagi, air mata kemarahan mulai menetes di pipinya.
"Bunda Zivana yang selalu ada buat Khaisar! Bunda yang obatin luka Khaisar kalau jatuh, Bunda yang buatkan makan, Bunda yang meluk Khaisar kalau malam! Tante bukan siapa-siapa!"
Mendengar nama Zivana disebut dari bibir anak kandungnya sendiri, wajah Stela berubah merah padam oleh rasa malu dan sakit hati.
"Khaisar! Siapa yang mengajarimu bicara seperti itu pada ibu kandungmu sendiri?! Mesti wanita butik itu yang meracuni otakmu, kan?!"
"Stela, cukup!" bentak Aidil tegas, memasang tubuhnya di depan Khaisar untuk melindungi putranya dari amukan Stela. Pria itu menatap mantan istrinya dengan sorot mata penuh peringatan.
"Jangan pernah melimpahkan kesalahanmu pada Zivana! Khaisar ingat semuanya karena luka yang kamu tinggalkan sendiri, bukan karena ajaran siapa pun!"
"Tapi aku ibu kandungnya, Aidil!" pekik Stela tak terima, air mata kekecewaannya pecah.
"Aku yang melahirkan dia!"
"Tapi Bunda Zivana yang merawat dan mencintai kami!" balas Khaisar dari balik punggung Aidil, suaranya lantang meski terisak.
"Ayah, Khaisar mau pulang! Khaisar tidak mau sama Tante ini! Mau ketemu Bunda!"
Amora yang melihat kakaknya menangis dan orang tuanya bersitegang mendadak menjadi takut. Boneka beruang pemberian Stela perlahan terlepas dari pelukannya, jatuh ke atas rumput. Amora memeluk kaki Aidil kian erat.
"Ayah... Amora juga mau pulang ke Bunda..."
Aidil bertekuk lutut, mengusap air mata Khaisar dan merengkuh Amora ke dalam dekapannya. Rasa bersalah menghantam dada Aidil begitu keras. Kebohongan yang ia ciptakan hari ini hanya membuahkan kepedihan bagi anak-anaknya dan pengkhianatan bagi Zivana.
Aidil berdiri menggendong Amora dan menggandeng erat tangan Khaisar. Ia menatap Stela dingin.
"Pertemuan ini selesai, Stela. Jangan pernah ganggu anak-anakku lagi jika kamu hanya ingin mengungkit luka lama mereka."
"Aidil! Kamu tidak bisa melakukan ini padaku!" jerit Stela histeris, namun Aidil membalikkan badan dan melangkah pergi tanpa menoleh sedikit pun, meninggalkan Stela yang berdiri sendirian di tengah taman dengan tangis kemarahan.
Di dalam mobil, suasana begitu hening diselingi isak napas Khaisar yang perlahan mereda. Amora tertidur di kursi belakang karena kelelahan menangis.
Aidil menggenggam kemudi dengan tangan yang bergetar hebat. Kata-kata Khaisar tentang Zivana terus bergema di kepalanya. Pria itu menyadari betapa besarnya peran Zivana di rumah mereka, dan betapa bodohnya ia yang telah membohongi wanita setulus itu demi menyembunyikan pertemuan ini.
Dengan jantung yang berdegup kencang oleh rasa takut dan penyesalan, Aidil merogoh saku jasnya dan mengambil ponsel. Ia menekan tombol panggilan ke nomor istrinya.
Di dalam kafe seberang jalan, Zivana menyaksikan mobil sedan hitam Aidil yang perlahan bergerak pergi. Ponsel di tangannya bergetar hebat, menampilkan nama "Mas Aidil".
Zivana menelan salivanya yang terasa pahit, berusaha menghentikan aliran air matanya, lalu menggeser tombol hijau.
"Halo, Mas?" bisik Zivana pelan.
"Ziva... Ziva, kamu di mana?!" suara Aidil terdengar di seberang sana, sangat panik, terengah-engah, dan sarat akan getaran tangis yang ditahannya.
Zivana memejamkan mata, membiarkan satu tetes air mata kembali jatuh. "Aku... aku di rumah, Mas. Ada apa?"
bahagia selalu ziva ,,
urusan amora Dan khaisar tdk perlu di pikirkan ,, kalo mereka udh dewasa ,, mereka akan mencari km ,, meski km bukan ibu kandung ny ,,
tp mereka tau km tulus menyayangi Dan mengurus mereka dulu
papa bagas yg urus tuh s pewangi ruangan stela, buka semua borok nya k publik, bayi yg d kandung jg pat bkn bayi nya aidil kan
kasian khaisar n Amora jd broken home
hrusnya tegas saat stella datang .... tiba" mngusik keluargamu...
bukan mlah ngasih tempat & mmbuka pintu krusakan lebar"
kmunya aja yg suka trgoda nafsu setan🙄🙄
gmn lgi ya..... kmunya hobi asal main celup sih... jdi g salah lah klo km di jdikn tumbal ayah pengganti anknya stella
🤣🤣🤣🤣