Revano, seorang penulis, tiba-tiba terbangun dalam tubuh Vian-tokoh yang ia ciptakan sendiri.
Sialnya, tubuh itu rapuh, keluarganya berantakan, dan hidupnya jauh berbeda dengan apa yang ia tulis.
Revano mencoba memperbaiki semuanya. Namun semakin lama ia hidup sebagai Vian, semakin banyak rahasia yang terkuak.
Hingga perlahan, satu kebenaran menghantamnya:
Vian bukan sekadar karakter.
Dan mungkin... ia bahkan tidak benar-benar memasuki raga Vian.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dopamine girl's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9
Di sisi lain, Vian sedang bersantai di taman belakang rumahnya. Ditemani boneka beruang hitam kesayangannya dan semangkuk aneka buah yang sudah dipotong kecil-kecil oleh Mommy. Ia duduk di bangku kayu, kaki kecilnya menjuntai pelan, sementara matanya menatap hamparan taman yang terasa... terlalu tenang hari ini.
Hampir kosong.
Hening.
Dan entah kenapa, perasaan di dadanya seperti ada yang mengganjal.
Vian mengusap perutnya pelan, seperti mencoba membaca tubuhnya sendiri.
Kalau dulu Vian asli sakit-sakitan... kenapa sekarang dia merasa baik-baik saja?
Ia mengerjap bingung. Apa yang sebenarnya terjadi sama apakah kehadiran nya merubah kondisi fisik nya?
Walaupun, ya... kadang tubuhnya masih terasa berat. Kadang juga mendadak lemas tanpa alasan. Tapi rasa itu tidak seburuk ingatan yang samar-samar muncul di kepalanya. ingatan tentang diri "Vian lama" yang ringkih dan selalu terbaring.
Ia menghela napas kecil.
Ada sesuatu yang tidak beres. Ia tidak tahu apa. Tapi dia bisa merasakannya.
Dia menatap langit biru, diam saja, seolah warna itu sedang memanggil sesuatu yang jauh di dalam dirinya. Hamparan rumput bergoyang perlahan karena semilir angin yang lewat, dan entah kenapa... semuanya terasa terlalu tenang. Terlalu damai, sampai-sampai pikirannya tak sengaja ditarik kembali ke masa yang selama ini ia hindari.
Hari itu... cuacanya sama persis. Langit biru cerah tanpa satu pun awan. Angin yang lembut, dingin, dan menusuk pelan. Daun-daun jatuh satu-satu, seperti gerimis tipis yang turun tanpa suara.
Dan di tengah semua itu, ada seorang anak kecil yang berdiri mematung. Tubuhnya kaku. Matanya merah-bukan karena tangis, tapi karena ia menahan semuanya sendirian. Anak kecil itu adalah Revano asli. Sang penulis cerita dan itu adalah dirinya di masa lalu.
Ia menatap ibunya, tidak mengerti kenapa dunia begitu pilih kasih. Pipinya memerah, bekas tamparan masih terasa panas. Tapi ia tidak menangis. Air mata seperti takut keluar. Ia hanya memandangi ibunya yang justru sibuk menenangkan anak tirinya-yang sedang merengek manja di pelukannya.
"Kamu harus tau diri, Vano. Kalau mau ikut sama ibu... kamu harus nurut. Jangan jahili kakakmu terus. Dia sakit."
Itu kalimat yang terus diulang ibunya. Setiap hari. Setiap ada masalah. Selalu dia yang salah. Selalu dia yang harus mengerti. Padahal Vano bahkan tidak melakukan apa pun. Padahal... dia hanya ingin diperhatikan sedikit saja.
Tapi yang ia dapatkan hanya tatapan dingin . Dan perlahan-penolakan.
Setelah itu, ia benar-benar tidak dianggap. Tidak diajak. Tidak dicari. Tidak diingat. Ada di rumah itu rasanya seperti jadi tamu yang numpang singgah. Vano hanya duduk diam sambil melihat keluarga kecil itu tertawa, makan bersama, memeluk satu sama lain... tanpa dirinya. Hatinya berdenyut perih saat melihat kebersamaan yang seharusnya juga menjadi miliknya, tapi ternyata bukan untuk dia.
Beberapa bulan berlalu begitu saja. Lalu pada suatu pagi, tanpa banyak penjelasan, ia dikirim ke rumah ayahnya. Padahal dia berharap keadaan akan lebih baik. Tapi dunia sepertinya belum selesai menguji dia.
Rumah ayahnya jauh lebih buruk.
Di sana, ia seperti benar-benar tidak diinginkan. Tatapan yang diberikan ibu tiri bukan hanya dingin, tetapi penuh benci. Anak-anaknya memperlakukan Vano seperti barang tak berguna. Mereka menyudutkan nya. Menjatuhkannya. Menendangnya lalu tertawa. Cacian menjadi suara yang wajar baginya setiap pagi. Sementara ayahnya hanya menatapnya... lama... sebelum mengucapkan sesuatu yang membuat seluruh dunia runtuh di dada kecilnya.
"Seharusnya kau mati saja "
Hadir begitu saja. Dingin. Tanpa emosi. Seolah hidup Vano sendiri adalah kesalahan yang tidak bisa dimaafkan.
Dan Vano kecil hanya berdiri di sana. Kaku. Seperti tubuhnya membeku. Ia tidak tahu harus marah atau sedih. Yang ia tahu... kata-kata itu menanam luka yang tidak pernah hilang.
Kata-kata itu menggema. Lama. Seperti memantul di dalam kepala Vian berkali-kali-sampai akhirnya suara itu pecah bersamaan dengan napasnya yang tersendak.
Dan sekejap setelah bayangan masa lalu Revano memudar...
kembali ke Vian saat ini.
Tubuhnya tersentak. Nafasnya memburu. Tanpa ia sadari, kedua tangannya sudah menjambak rambutnya kuat-kuat. Rasa sakit menusuk di seluruh sisi kepalanya, seperti ribuan jarum menembus dari dalam. Matanya terpejam rapat, namun air matanya keluar juga, menetes pelan di antara erangan yang coba ia tahan.
Tapi sakitnya makin menghantam.
Hampir seperti ada sesuatu di dalam dirinya yang ingin pecah.
Vian memegangi kepalanya erat, tubuhnya bergoyang kecil karena menahan rasa nyeri yang tiba-tiba datang tanpa peringatan. Suara erangannya menggema pelan, lalu pecah menjadi jeritan yang ia sendiri tidak sanggup kendalikan.
Dari dapur, Diana-yang sedang membereskan rumah langsung tersentak kaget. Lap yang ia pegang terjatuh begitu saja, bahkan tidak sempat ia sadari. Jantungnya berdegup kencang, rasa cemas menyambar tanpa ampun.
"Vian?!"
Pikirannya langsung kacau.
Tidak ada yang lebih menakutkan bagi seorang ibu selain mendengar teriakan kesakitan anaknya. Langkah Diana spontan berlari menuju arah suara, tanpa peduli apa pun lagi-di kepalanya hanya satu hal:Ada apa dengan Vian?
Vian!!" Serunya . Ia berlari sempoyongan ke arah arah taman belakang. Asal suara kesakitan Vian perlahan melemah , membuat Diana di landa cemas seketika " Vian!!" Jeritnya. Ia melihat anaknya . Sudah tergeletak tak berdaya di atas rumput pekarangan. Matanya terpejam dengan wajah yang mulai memucat.
Diana berlari menghampiri anaknya. Ia menangis histeris sampai membuat beberapa pelayan penasaran " bi tolong hubungi suami saya"ucapnya di sela tangis nya kepada salah satu pelayan di sana. Ia merengkuh tubuh ringkih itu dengan lembut. Matanya terpejam berusaha menahan tangisnya yang pecah. Ia membenamkan wajahnya di dada kecil Vian secara perlahan. Dengan lembut penuh kehati-hatian ia mendengarkan setiap detak jantung anaknya. Ia takut. Dan ketakutan nya tak bisa terkendali saat melihat kondisi lemah anaknya.
Seorang pekerja lelaki datang , menyadarkan Diana dari ketakutan nya "nyonya sebaiknya kita bawa tuan muda kerumah sakit" ucapnya . Tanpa menunggu persetujuan Diana,ia membawa Vian ke dalam gendongan nya menuju ke arah mobil . Tujuan nya cuma satu. Membawa tuan mudanya ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif.
***
"Kondisi umum pasien dalam keadaan baik. Pemeriksaan menunjukkan seluruh organ dalam berfungsi normal. Namun, daya tahan tubuh pasien menurun . kemungkinan akibat faktor stres. Diharapkan wali pasien senantiasa memantau kondisi pasien secara berkala." itu yang Diana dengar dari dokter.
Anaknya tak apa-apa. Namun kenapa sebagai ibu perasaan nya tidak tenang. Saat mendengar anaknya mengerang kesakitan ,atau saat melihat anaknya yang tergeletak tak berdaya di rerumputan. Jelas kondisi anaknya tidak sebaik yang dokter bilang. Tetapi ia hanya bisa pasrah karena ia tau bahwa ucapan ini yang selalu mereka ucapkan.
Atau ia harus membawa Vian kembali ke luar negeri untuk menjalani pengobatan sampai penyakit yang ia alami sembuh sepenuhnya.
Diana terdiam di ruang tunggu. Matanya masih memerah namun memancarkan kekosongan . Giginya selalu mengigit kuku tangan nya. Membuat sebagian kuku berdarah dan rusak karena nya.
" Diana sadarlah!!"seru seseorang menyadarkan nya dari lamunan. Diana melihat Rangga. Masih memakai jas kerjanya namun terlihat sedikit berantakan. Nafasnya memberat - mungkin akibat berlari . dengan beberapa butir air yang menetes di pelipis nya.
"Mas... Ini semua salah aku yang tak becus jadi ibu. Vian harus kesakitan karena aku , kalau bukan karena aku Vian tak akan merasakan kesakitan . Yakan mas" gumamnya. Namun masih terdengar oleh Rangga.
Diana terlihat tidak baik-baik saja . Dengan mata merah sembab .serta tubuh yang menggigil entah karena apa. Dengan lembut Rangga membawa Diana dalam rengkuhan nya. Mengelus lembut tubuh wanita itu yang bergetar pelan . Mencoba menenangkan wanita itu walaupun kondisi nya juga sama.
Terkejut dan takut. Namun ia harus menjadi kuat di depan sang istri .
"Tenang lah .Vian gak papa, semuanya akan baik-baik saja" ucapnya lembut tepat di telinga sang istri.
Diana terdiam , walaupun sesekali masih sesenggukan. Ia mengangguk pelan sebelum menyandarkan kepalanya di dada bidang suami nya. Hangat dan nyaman. Membuat perasaan Diana perlahan membaik.
Dering ponsel terdengar. Berasal dari hp Diana yang di taruh di meja. Rangga mengambil dan melihat si pemanggil. Dan di sana tercetak jelas nama anak pertamanya . Vano. Kenapa dia menelepon.
" Ma , aku ingin minta izin mengajak Vian bermain di taman bermain . Beleh kan" ucap dari sebrang . Nadanya terlihat ringan seolah mengharapkan persetujuan. Namun Rangga bingung untuk menjawab apa . Sedangkan Diana bungkam. Dengan Insak tangis yang mulai mereda kembali lagi.
"Vian masuk rumah sakit " singkat nya . Dengan sepihak ia mematikan panggilan itu. Karena ia lebih bingung bagaimana menjelaskan kondisi Vian pada si sulung .
" Mas kenapa di matiin"
" Biarlah ,kamu tau sendiri gimana sifat dia. Dia pasti akan segera ke sini. Dari pada menjelaskan lebih baik ia melihat sendiri kondisi nya secara langsung." Ucap nya