NovelToon NovelToon
Hasrat Cinta Sang Pendosa

Hasrat Cinta Sang Pendosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:821
Nilai: 5
Nama Author: A_ntalus

"Halo! Makasih udah mampir ke [Hasrat Cinta Sang Pendosa]. Update tiap Hari. Jangan lupa save dan ramaikan kolom komentar ya. Happy reading!"

_________________

Berstatus sebagai istri kontrak dari Oscar—sang penguasa malam yang bengis—seharusnya membuat Anisa aman dari masa lalu.


Namun, An Liu Li datang membawa obsesi buta yang menjungkirbalikkan segalanya.Niat hati ingin menjauh dari konflik, Anisa justru terseret dalam permainan ego dua pria berkuasa yang menolak melepas kepemilikan mereka atas dirinya.


Terjebak dalam pusaran kegilaan ini, siapakah yang akan memenangkan hati Anisa?An Liu Li yang mengejarnya dengan cinta pertama yang destruktif, atau Oscar yang mulai luluh oleh kehadiran sang istri sewaan?

꧁ঔৣ☬HCSP☬ঔৣ꧂

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A_ntalus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

꧁ঔৣ [Chapter 3] ঔৣ꧂

...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...

...****************...

Sedan hitam yang membawa Anisa membelah jalanan kota yang semakin sepi. Jaraknya begitu jauh. Seolah-olah pernikahan ini memang sengaja diatur agar siapa pun yang menerimanya benar-benar terpisah dari kehidupan lamanya. Agar ia sulit kembali.

Mobil melewati sebuah jembatan sungai yang kokoh, kemudian memasuki jalur pegunungan yang terjal. Hutan-hutan rimbun membentang di kanan dan kiri jalan. Semakin jauh mereka pergi, semakin sedikit tanda-tanda kehidupan yang terlihat.

Hingga akhirnya, di balik rimbunnya pepohonan, sebuah bangunan megah mulai terlihat. Anisa mengangkat wajah, matanya perlahan membesar.

Sebuah mansion berdiri gagah di tengah kawasan tersebut. Dominasi warna hitam pekat memenuhi hampir seluruh bangunan. Barisan mobil-mobil hitam terparkir rapi di halaman. Semuanya tampak begitu teratur, begitu sempurna, dan entah mengapa... begitu dingin.

Anisa turun dari mobil. Ia mendongak, menatap betapa gagah dan raksasanya kediaman itu.

"Mari, Non. Ikut sini"

Anisa mengangguk patuh. Ia mengikuti pria paruh baya yang sebelumnya mengantarkannya. Begitu memasuki bagian dalam mansion, Anisa hanya bisa terbelalak tak percaya.

Di tengah kawasan hutan yang sunyi tadi, ada sebuah kediaman yang tampak seperti istana. Namun sama saja: hampir semuanya didominasi warna hitam. Hitam pada lantai, hitam pada perabotan, hitam pada dekorasi. Seolah-olah tidak ada warna lain yang benar-benar diterima di tempat ini.

"Silakan masuk, Non" pria paruh baya itu menunjuk ke arah sebuah pintu besar di ujung aula. "Tuan muda sudah menunggu di dalam. Nona jangan khawatir, saya akan mengantarkan koper ini ke kamar Nona"

"Baik, Pak. Terima kasih" Anisa tersenyum kecil.

Pria itu membawa kopernya pergi. Anisa kemudian berdiri sendirian. Namun bukannya tenang, ia justru semakin gelisah.

Dari balik pintu, terdengar riuh suara-suara pria. Nada bicara mereka terdengar berat, santai, namun memancarkan aura dominan yang mengintimidasi.

Anisa menarik napas panjang. Tenang... Bukankah dia memang datang ke sini untuk menikah?

Tangannya perlahan meraih gagang pintu logam bersuhu dingin itu.

Klik!

Pintu kayu berukir itu terbuka pelan.

Di dalam ruangan berlantai marmer hitam yang diterangi lampu gantung kristal temaram, sekitar empat pria bertubuh tegap sedang berkumpul.

Di sisi kiri, seorang pria berambut pendek rapi dengan kemeja hitam tergulung hingga siku tampak menyandarkan punggungnya pada meja biliar, menatap tajam ke arah pintu. Di dekat jendela, dua pria bertuksedo rapi tanpa dasi sedang berdiri bersedekap dengan ekspresi datar yang dingin.

Sementara satu pria lain yang mengenakan jas kelabu tanpa dikancing tampak memegang segelas minuman, menatap kedatangan Anisa dengan alis terangkat penuh selidik.

Mereka semua serempak menoleh. Tatapan penuh kewaspadaan itu seketika bertubruk dengan mata Anisa yang polos dan ketakutan.

Suasana ruangan yang tadinya penuh gurauan berat langsung berubah canggung dan hening. Anisa berdiri kaku di ambang pintu, jemarinya meremas kain roknya sendiri.

"A-anu..." suara Anisa terdengar sangat kecil dan bergetar. "Saya di sini... datang untuk menerima lamaran pernikahan itu?"

Pria yang bersandar di meja biliar mencondongkan telinganya dengan dahi berkerut, tampak betul-betul kebingungan.

"Hah?!"

Pria bertuksedo di dekat jendela langsung menoleh ke rekannya. "Dia bilang apa, Ez?"

"Lah, emangnya dia siapa?" bisik pria berjas kelabu sambil menatap Anisa dari ujung kepala sampai ujung kaki.

"Lah, gua juga gak tahu~" sahut yang lain sambil menggelengkan kepala samar.

Anisa semakin canggung. Wajahnya memerah padam akibat malu dan terintimidasi oleh tatapan asing para pria tegap itu. Ia menggeser kakinya, berniat mundur dan menutupi pintu kembali.

Namun sebelum sempat melakukannya, sebuah suara bariton yang dalam dan penuh wibawa terdengar dari bagian belakang ruangan.

"Kalian keluar dulu"

Suara itu tidak keras, tetapi sanggup membuat seluruh pria bertubuh kekar di ruangan itu langsung bungkam.

Di balik meja kerja kayu jati yang megah, sesosok pria beranjak berdiri. Ia mengenakan kemeja putih berlapis rompi kustom hitam yang pas di tubuh tegapnya, dipadukan dengan mantel panjang bernuansa gelap yang tersampir anggun di bahunya.

Sorot matanya tajam dan kelam, memancarkan wibawa alami dari seorang pemimpin.

Pria tersebut mengangkat wajahnya seraya menatap Anisa lurus-lurus.

"Dan tenang saja" tambahnya pada anak buahnya dengan intonasi dingin. "Dia hanyalah tamuku"

Itu adalah perintah mutlak. Tanpa banyak bicara, keempat pria berjas tadi segera merapikan posisi berdiri mereka dan berbaris keluar ruangan dengan tertib. Salah seorang dari mereka sempat melirik Anisa sebentar sebelum menarik gagang pintu.

Klik.

Pintu tertutup rapat. Kini, hanya tersisa dua orang di ruangan megah nan dingin itu: Anisa dan pria yang berdiri di ujung sana.

Oscar.

Oscar melangkah perlahan mengitari meja kerjanya. Sepatu kulitnya berdenting teratur di atas marmer. Ia menatap Anisa beberapa saat sebelum akhirnya membuka suara.

"Bagaimana perjalananmu? Aman?"

Anisa sedikit gugup, suaranya tercekat di tenggorokan. "A-aman"

"Barang-barangmu sudah masuk ke koper semuanya?"

"Su-sudah"

"Bagus," Oscar menatapnya datar, menyilangkan lengan di dada.

"Mari kita sedikit luruskan ini, Nona Ananira"

Anisa terdiam membisu.

Oscar melanjutkan dengan nada tenang dan terkontrol. "Tentang pernikahan kita nanti, sebenarnya aku tidak mau ambil pusing" ia menghela napas pendek.

"Jadi anggap saja kita sebagai teman nantinya"

Anisa menyimak dalam diam.

"Jujur saja, aku pun tidak mengerti bagaimana ayahmu bisa berutang begitu banyak kepada keluargaku"lanjut Oscar seraya menurunkan tangannya dan memasukkan kedua jemarinya ke saku celana.

"Tapi tenang saja"

Bibir Oscar terangkat tipis—sebuah senyum singkat yang dingin. "Aku bukan pria jahat yang kau bayangkan. Oke? Kalau ada pertanyaan, katakan saja"

Oscar menunggu. Sedari tadi ia memperhatikan raut wajah wanita di depannya yang tampak begitu tegang dan khawatir. Namun wanita muda itu justru tampak ragu-ragu untuk bersuara.

"A-anu..."

Oscar mengangkat sebelah alisnya. "Ada apa?"

"Sebenarnya..." Anisa menarik napas panjang, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Saya Anisa"

"Apa!?" nada suara Oscar meninggi, menuntut kejelasan karena cicitan wanita itu terlalu pelan.

"Saya Anisa" ia mengulanginya lebih jelas, memberanikan diri menatap mata Oscar. "Bukan Ananira"

Oscar terdiam. Beberapa detik berlalu dalam hening yang mencekam.

Ia tampak bingung. Apakah dirinya salah membaca dokumen? Ataukah orang yang dikirimkan memang berbeda? Namun Oscar bukan tipikal pria yang mau mengambil pusing terhadap persoalan yang menurutnya sepele. Bukankah Azriel memang berniat menyerahkan putrinya kepadanya?

"Ohh" Oscar mengangguk kecil, ekspresinya kembali datar. "Mungkin aku memang salah?"

Ia berpikir sejenak, mengingat-ingat silsilah keluarga yang pernah dilaporkan padanya.

"Tapi sepertinya aku ingat nama itu" tatapan Oscar kembali menancap tajam pada Anisa. "Ya. Benar. Anisa Lezman"

Nada suaranya berubah dingin dan tanpa simpati. "Itu nama putri haram dari keluarga Lezman, kan? Yang terpaksa dibesarkan demi menutupi konflik keluarga itu?"

Anisa membeku. Dadanya serasa dihantam beban berat.

Oscar tidak berhenti di situ. "Jujur saja, sebenarnya aku membenci terlibat pernikahan ini" tatapannya kian tajam dan menusuk. "Terutama karena kenyataan kalau aku harus menikahimu"

Anisa menatap pria itu dengan mata membelalak. Ia tidak percaya Oscar bisa mengatakan kalimat sesadis itu secara langsung di hadapannya tanpa sedikit pun berusaha menjaga perasaannya.

Namun anehnya... kali ini rasa muak mengalahkan ketakutannya. Anisa tidak ingin lagi berdiam diri. Ia mengangkat wajahnya tinggi-tinggi.

"Kalau begitu..." suara Anisa masih lembut, tetapi ada getaran ketegasan yang sangat kuat di dalamnya. "Anda sama saja dengan mereka"

Oscar terdiam, sedikit terkejut.

Anisa melanjutkan, melangkah satu cangkul mendekat. "Mereka yang mengira status sah adalah posisi paling penting dalam ikatan keluarga" Tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. "Jadi tolong... Anda jangan bertingkah seolah-olah lebih baik dari saya"

Ruangan besar itu mendadak kembali sunyi.

Oscar tidak segera menjawab. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar memperhatikan perempuan di hadapannya. Seorang wanita muda yang sejak awal tampak sangat gugup, polos, dan bahkan bersuara begitu pelan... ternyata memiliki keberanian yang cukup untuk menentangnya secara terbuka.

Oscar akhirnya tersenyum kecil. Bukan senyum mengejek, melainkan senyum tipis samar yang sulit ditebak maknanya.

"Aku tidak tahu apa yang kau lakukan sehingga dikirim ke sini" suaranya kembali terdengar tenang dan terkendali. "Sejujurnya, aku tidak peduli"

Oscar berjalan mendekat. Langkah kakinya begitu mantap hingga ia berhenti tepat satu jengkal di hadapan Anisa. Tinggi badan mereka yang terpaut jauh membuat siluet Oscar menutupi tubuh Anisa sepenuhnya dari sorot lampu.

"Tapi selama kau berada di mansion-ku..." Oscar menatap lurus ke dalam iris mata Anisa. "Aku pastikan kau akan dirawat dengan baik"

Anisa terdiam, napasnya tertahan.

Oscar tidak peduli siapa dirinya. Tidak peduli bagaimana kehinaan yang dialami Anisa di keluarga Lezman. Namun pria itu memiliki satu prinsip teguh: janji tetaplah janji.

Gerakan Oscar berlanjut. Dengan perlahan, ia melepas mantel panjang hitam yang sejak tadi melingkupi bahunya. Tanpa sepatah kata pun, ia menyampirkan kain tebal nan hangat itu ke atas bahu Anisa.

Mantel besar itu langsung membungkus tubuh mungil Anisa, menutupi pakaian sederhananya. Siluet tubuh Anisa terlihat semakin kecil di balik pakaian pria tersebut, sementara aroma khas maskulin dan hangat dari mantel itu seketika menyeruak.

Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara. Anisa hanya mendongak, menatap Oscar dengan sejuta kebingungan.

Pria itu kemudian berbalik tanpa menunggu respons.

"Pergilah tidur" ucap Oscar seraya berjalan kembali menuju meja kerjanya.

Langkah kaki Oscar terhenti sejenak. Tanpa menoleh ke belakang, ia melanjutkan dengan suara rendah yang tegas.

"...Besok, kita akan sangat sibuk"

Anisa tetap berdiri terpaku di tempatnya. Tangannya meremas kuat ujung mantel hangat milik Oscar yang membungkus tubuhnya.

Ia datang ke mansion ini sebagai seorang perempuan yang dibuang oleh keluarganya sendiri. Ia datang sebagai pengganti, sebagai alat pembayaran atas utang ayahnya. Dan sekarang, ia akan menikah dengan seorang pria dingin yang sejak awal bahkan tidak menginginkan keberadaannya.

Namun Anisa belum tahu... bahwa pernikahan yang dimulai dengan kesalahpahaman dan ketidaksukaan ini kelak akan menjadi alasan mengapa seluruh kehidupan mereka berubah.

Karena terkadang, cinta tidak datang ketika dua hati saling menginginkan. Cinta justru tumbuh diam-diam di antara dua orang yang sejak awal yakin bahwa mereka tidak akan pernah saling mencintai.

...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...

...****************...

1
A_ntalus
wah sebelumnya makasih udah mampir kak...aku sengaja menyimpan Plot wist di antara Plot wist 🤣💪
falea sezi
😒 ed kok jahat sih ma adek ipar
falea sezi
kok Edward dingin tp erhhhhhh sukak🤣🤣
falea sezi
adeknya beristri dua kah🤣
falea sezi
katanya ngrti agama bercadar🤣 tp pacaran katanya bercadar tp suami liat muka aja gk boleh🤣🤣 perbaiki agama dlu deh baru pake cadar jangan jangan cadar buat gaya doank ya biar keliatan alim🤭
falea sezi
nyimak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!