Astiana Larasati turun ke ibu kota dengan ilmu bela diri kuno, pengobatan ajaib, dan kemampuan mendengar niat jahat untuk mencari orang tua kandungnya. Berpandukan liontin yang bisa menyala hijau, Astiana menavigasi intrik para elit kota sambil mati-matian menekan kekuatannya demi mematuhi amanat kakek angkatnya untuk hidup rendah hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Wush.
Angin dari kendaraan yang berlalu-lalang menyapu wajah Astiana.
"Tunggu."
Astiana berteriak sekencang mungkin sambil berlari menyusuri trotoar.
Tas ransel lusuhnya memantul-mantul menghantam punggungnya seiring langkah kakinya yang terburu-buru.
Dia menerobos kerumunan pejalan kaki tanpa mempedulikan sopan santun lagi.
"Hei, kalau jalan pakai mata dong." Seorang pria berjas rapi membentaknya saat bahu mereka bertabrakan.
"Maaf, Pak, saya sedang buru-buru." Astiana menunduk sekilas lalu kembali memacu langkahnya mengejar sedan hitam tadi.
Tin tin.
Suara klakson mobil bersahutan memekakkan telinga di perempatan jalan raya.
Nafas Astiana terengah-engah saat dia tiba di lampu merah yang sangat padat.
Matanya menyapu lautan kendaraan bermotor yang terjebak kemacetan di depannya.
"Di mana mobil itu." Astiana bergumam panik sambil berjinjit mencari-cari atap sedan hitam mewah tersebut.
Namun semuanya sia-sia karena ada puluhan mobil berwarna hitam di jalanan itu.
Dia merogoh balik kerah kemejanya dan menatap liontin kristal di tangannya.
Cahaya hijau yang tadi menyala terang kini sudah meredup sepenuhnya.
Batu itu kembali menjadi kristal bening biasa yang dingin dan bisu.
"Kenapa kau mati lagi, ayolah menyala sebentar saja." Astiana memohon pada benda mati itu dengan suara bergetar menahan tangis.
Dia kehilangan jejak satu-satunya petunjuk tentang keberadaan orang tua kandungnya.
Tiba-tiba perutnya berbunyi nyaring di tengah deru mesin kendaraan.
Kruyuk.
Astiana memegangi perutnya yang terasa perih karena belum makan sejak pagi tadi.
Dia berjalan gontai menjauhi perempatan jalan menuju sebuah gang kecil yang tidak terlalu bising.
Di ujung gang itu ada sebuah warung makan tenda sederhana yang terlihat sepi.
"Permisi, Bu." Astiana menyapa seorang ibu paruh baya yang sedang mengaduk panci besar.
"Eh iya, Neng, mau pesan makan apa." Ibu pemilik warung itu menoleh sambil tersenyum ramah melihat kedatangan Astiana.
"Nasi pakai sayur seadanya saja berapa ya, Bu." Astiana bertanya ragu sambil merogoh saku celananya yang berisi beberapa lembar uang lecek.
"Kalau nasi sama sayur asem saja mah sepuluh ribu, Neng."
"Boleh, Bu, saya pesan satu porsi dimakan di sini ya."
Astiana duduk di bangku plastik yang agak reyot di sudut warung tenda tersebut.
Dia menaruh tas ranselnya di pangkuan dan memeluknya erat-erat.
"Ini pesanannya, Neng, ibu tambahin tempe goreng satu biar ada rasanya." Ibu warung itu meletakkan piring di meja sambil menyeka keringat di dahinya dengan handuk kecil.
"Ya ampun, terima kasih banyak, Bu." Astiana menatap tempe goreng itu dengan mata berbinar seolah melihat harta karun.
"Sama-sama, Neng, kelihatannya Neng ini baru sampai di Jakarta ya." Ibu itu menarik bangku plastik dan duduk tidak jauh dari meja Astiana.
"Iya, Bu, saya baru saja turun dari kereta di Stasiun Gambir tadi." Astiana menjawab sambil menyuapkan nasi perlahan ke dalam mulutnya.
"Kasihan sekali anak ini, bajunya dekil dan wajahnya sangat pucat."
Suara hati ibu warung itu terdengar jelas di telinga Astiana yang sedang mengunyah makanan.
"Pasti dia orang susah dari kampung yang nekat merantau ke kota besar ini."
Astiana hanya tersenyum tipis mendengar pikiran jujur namun tidak berniat jahat dari ibu tersebut.
"Neng ke Jakarta mau cari kerja atau mau kuliah." Ibu warung itu kembali bertanya karena penasaran melihat gadis muda sendirian membawa tas besar.
"Saya ke sini mau mencari keluarga, Bu."
"Loh, memangnya keluarga Neng tinggal di daerah mana."
"Saya juga belum tahu pasti, Bu, saya cuma punya modal nekat saja." Astiana menjawab jujur karena memang dia tidak punya alamat yang jelas sama sekali.
"Wah, bahaya itu, Neng, Jakarta ini kota keras loh." Ibu warung itu menggelengkan kepalanya dengan raut wajah khawatir yang sangat kentara.
"Kalau tidak punya kenalan atau alamat jelas, Neng bisa gampang ditipu orang jahat."
"Kemarin saja ada anak perantauan yang ditipu agen penyalur kerja abal-abal sampai hartanya ludes."
Ibu warung itu mulai bercerita panjang lebar menceritakan kejamnya ibu kota.
Astiana mendengarkan celotehan ibu itu dengan sabar sambil terus menghabiskan makanannya.
"Saya akan berhati-hati, Bu."
"Syukurlah kalau begitu, oh iya nama ibu Sumi, nama Neng siapa."
"Nama saya Astiana, Bu Sumi." Astiana meletakkan sendoknya di atas piring yang sudah bersih tanpa sisa sedikit pun.
Dia mengeluarkan selembar uang sepuluh ribu yang lecek dan memberikannya pada Bu Sumi.
"Ini uangnya, Bu, makanannya sangat enak dan mengenyangkan."
"Terima kasih, Neng Astiana, hati-hati di jalan ya."
Bu Sumi menerima uang itu sambil tersenyum hangat melepas kepergian pelanggan kecilnya.
Tap tap tap.
Astiana kembali berjalan menyusuri trotoar kota yang mulai diselimuti senja.
Lampu-lampu jalanan dan gedung bertingkat mulai menyala menerangi langit Jakarta yang mulai gelap.
selamat untuk memperbaiki semua kerusakannya pak manajer 🤣🤣