🔥CRAZY UP🔥
Alina Prameswari ingin membersihkan nama mendiang ayahnya yang dituduh menggelapkan miliaran rupiah oleh keluarga Mahendra. Untuk membongkar kebenaran, ia harus berhadapan dengan Adrian Mahendra, CEO dingin yang ia anggap sebagai musuh.
Mereka terpaksa bekerja sama untuk mengungkap konspirasi di balik skandal perusahaan. Namun, ketika sandiwara menjadi pasangan mulai menumbuhkan perasaan, rahasia tentang kematian mantan tunangan Adrian justru mengancam menghancurkan segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling ingin Alina jatuhkan justru menjadi orang yang paling sulit ia lepaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Jumat, 31 Oktober, restoran di lantai dasar hotel Sudirman sudah setengah penuh ketika Alina menyerahkan nama reservasi kepada pramusaji. Bukan nama hubungan. Nama pertemuan mitra Pesisir Garuda. Ia datang sebagai konsultan yang mendampingi, badge tidak dipakai di dada karena ini bukan lantai Menara, tetapi salinan surat penugasan ada di dalam map tipis kalau ada yang meminta dasar kehadirannya.
Adrian sudah duduk. Sisi kanannya kosong, sesuai pesan Sari yang hanya berisi jam dan denah meja, tanpa saran pakaian. Alina duduk di kursi itu. Jarak kaki kursi ia geser sedikit ke kiri sebelum percakapan mulai. Cukup dekat untuk kamera yang mungkin diangkat orang lain. Cukup jauh supaya lengan mereka tidak bertemu ketika menu dibuka. Aturan nomor tiga tidak perlu dilanggar hanya karena ruangan ini lebih redup dari lobi.
Di seberang meja, direktur operasional Pesisir dan pendamping dari tim keuangannya sudah membuka map. Tidak ada yang memperkenalkan Alina sebagai apa pun selain kalimat yang sudah disepakati. Adrian yang mengucapkannya, pendek.
“Alina Prameswari, konsultan eksternal. Ia mendampingi rekonsiliasi vendor sebelum berkas kita lanjut.”
Direktur itu mengangguk dan tidak menggali. Air dituang. Roti tidak disentuh Adrian. Baru setelah gelas penuh, pendamping keuangan tersenyum, senyum orang yang sudah mendengar sesuatu dan ingin memastikan ia tidak salah dengar. “Kalian datang bersama?”
“Tidak,” kata Alina, sebelum Adrian sempat menyusun kalimat yang terlalu panjang. “Saya dari Tebet. Beliau dari kantor. Kami bertemu di meja ini.”
Adrian mengangguk. “Pendampingan kerja. Bukan kedatangan bersama.”
“Ah,” kata pendamping itu, dan tidak bertanya lagi, walaupun ah-nya masih menyisakan tempat untuk cerita yang tidak mereka berikan. Direktur operasional Pesisir membuka map dan menyelamatkan menit pertama dengan membahas urutan duduk yang tidak penting. Alina menggeser kaki kursinya satu jengkal lagi. Adrian melihat geseran itu dan tidak mengoreksi.
Hidangan pembuka datang dalam mangkuk kecil yang terlalu rapi untuk jumlah orang yang tegang. Seseorang dari Pesisir bertanya apakah akhir pekan di Jakarta selalu begini macetnya, dan Adrian menjawab seperti sedang membacakan risalah.
“Perjalanan dari Menara ke titik ini memakan waktu sesuai kepadatan Sudirman pada hari kerja,” katanya. “Kami mengalokasikan jeda tiga puluh menit di jadwal agar pembahasan tidak dimulai terlambat.”
Alina menunduk ke sendok. Tawa itu naik sampai dada dan ia paksa berhenti di situ. Bukan karena Adrian lucu sebagai laki-laki. Karena jawaban itu bisa dipakai untuk laporan perjalanan dinas, dan sekarang dipakai untuk pertanyaan tentang macet. Ia tidak mengeluarkan suara. Ujung mulutnya tetap datar. Kalau ia tertawa, meja ini akan membacanya sebagai keakraban, dan keakraban tidak ada di daftar hidangan.
Direktur Pesisir tersenyum tipis, lalu menyelamatkan meja dengan beralih ke isi yang memang mereka bawa. “Soal timeline. Uji gudang Jakarta dan penutupan item lama. Kami tidak ingin closing bergantung pada kejutan lampiran.”
Adrian meletakkan sendok. Nada suaranya tidak berubah dari jawaban tentang macet, tetapi isinya tepat. “Jendela penandatanganan tidak kami geser minggu ini. Item vendor historis yang selisihnya sudah kami tandai akan ditahan sampai rekonsiliasi selesai. Ringkasan tidak akan kami kirim sebagai angka bersih kalau lampiran masih menyimpan selisih. Catatan itu besok juga kami sampaikan ke Aruna, terpisah dari pertemuan ini.”
Ia menyebut minggu, bukan alasan pribadi. Ia menyebut selisih, bukan nama orang. Data itu rapi. Penyampaiannya tetap seperti dibaca dari kertas yang tidak ada di tangannya.
Alina menunggu sampai direktur itu menoleh, memberi ruang, bukan karena ia butuh izin Adrian. “Yang sedang dibersihkan ada tiga kelompok,” katanya. “Sewa armada terkait, jasa pendukung gudang, dan satu vendor yang statusnya masih muncul pada rekonsiliasi. Nilainya tidak saya ulangi di meja makan. Yang perlu mitra pegang: item itu ditahan, bukan dihapus. Kalau ada yang meminta versi yang lebih kecil supaya terlihat selesai, kami tidak akan memberikan.”
Ia berbicara tenang. Tidak melembutkan ujung kalimat. Tidak menambahkan bahwa ia senang bisa membantu. Dua orang Pesisir mengangguk, yang satu sambil mencatat di buku kecil, yang satu sambil menggeser piring agar kertasnya tidak kena saus. Tidak ada pujian. Ada penerimaan. Untuk meja seperti ini, itu lebih berguna.
Hidangan utama datang. Ikan yang sausnya terlalu manis untuk pembicaraan masa sewa, nasi yang tidak ada yang benar-benar habiskan. Pembicaraan pindah ke depo dan klausul karyawan operasional yang tidak boleh dipindah dalam enam bulan pertama. Adrian menjawab angka bulan dengan benar, lalu menambahkan satu kalimat yang lagi-lagi terdengar seperti butir berita.
“Enam bulan dihitung sejak penutupan, bukan sejak hari pengumuman niat. Kalau dihitung dari pengumuman, klausulnya meleset.”
Pendamping keuangan mengangguk terlalu cepat. Alina tidak memuji ketepatan itu di depan mereka. Ia hanya menyela ketika istilah rekonsiliasi dipakai terlalu longgar.
“Bersih artinya lampiran dan ringkasan tidak saling membohongi,” katanya. “Bukan artinya nama lama dihilangkan dari daftar.”
Pendamping itu mencoret satu kata di catatannya dan menggantinya. Adrian menoleh sedikit. Gerakannya tidak cukup untuk menjadi sentuhan, dan tidak cukup lama untuk menjadi tontonan.
“Anda menangani pertanyaan itu lebih baik dari yang saya kira.”
Alina membalas tanpa senyum. “Anda juga. Data Anda rapi. Hanya penyampaiannya yang kaku.”
Direktur Pesisir menganggap itu kelakar kerja dan kembali ke klausul enam bulan. Tidak ada yang meminta mereka mengulang pujian. Alina tidak menambahkan contoh. Adrian tidak menjelaskan sejak kapan ia mengira Alina tidak akan mampu menangani pertanyaan. Kalimat itu dibiarkan sebesar ukurannya: satu pengakuan kompetensi, lalu tutup.
Sisa makan berjalan pada rute truk, bukan pada rute mereka. Kopi habis tanpa toast. Ketika rekening diurus dari sisi Mahendra, Alina berdiri lebih dulu dan mengucapkan selamat malam dengan jabatan yang sama seperti saat masuk. Konsultan. Bukan apa pun yang belum ditulis.
Di lobi hotel, di luar jangkauan meja, keramaian check-in menutupi suara mereka. Adrian berhenti di dekat pintu kaca. Mobilnya belum maju. Taksi yang Alina pesan baru muncul sebagai titik di aplikasi.
Direktur operasional Pesisir lewat dengan map di lengan dan tidak berhenti untuk foto. Ia hanya mengangguk. “Catatan enam bulan saya teruskan ke tim kami. Item yang ditahan, tetap ditahan. Jangan dikecilkan di versi yang dikirim ke kami.”
“Tidak akan,” kata Adrian.
Alina tidak menambah senyum pada jawaban itu. Lobi hotel cukup ramai untuk disebut saksi, dan justru karena ramai ia tidak menggeser bahunya satu senti pun ke arah Adrian. Ketika direktur itu sudah di pintu putar, ia baru berbicara.
“Aturan kita tetap berlaku,” kata Alina. “Jangan mulai mengira ini lebih dari yang tertulis.”
Adrian mengangguk. “Saya tidak mengira.”
“Kalimat di meja tadi juga bukan perubahan aturan.”
“Bukan.”
Taksi berhenti. Alina masuk tanpa menoleh untuk memastikan Adrian masih di tempatnya. Mobil dinas Adrian maju dari jalur lain. Mereka tidak berbagi kendaraan. Aturan nomor enam hanya melarang rumah, tetapi berbagi jok belakang setelah pengakuan kompetensi terasa seperti celah yang tidak perlu diuji.
Di dalam taksi, Alina membuka buku catatan dan tidak langsung menulis kalimat Adrian. Pengemudi memotong jalur yang lebih panjang. Ia tidak protes. Ia menulis yang bisa dipakai Senin: Pesisir menerima bahwa item ditahan, bukan dihapus. Pendamping keuangan mencoret kata bersih yang terlalu longgar. Jawaban Adrian tentang macet ia ingat sekali, hampir tertawa lagi, lalu tidak jadi karena tawa di taksi sendirian terasa seperti menyimpan adegan. Yang ia tulis di margin hanya: data rapi, penyampaian kaku. Ia membaca margin itu, merasa fungsinya sudah tercatat, dan menutup buku. Tidak ada yang dibuka lagi sampai Tebet.
Di jok belakang mobil dinas, Adrian melepas jam tangan satu lubang dan memasangnya lagi, kebiasaan yang tidak berarti apa-apa selain tangannya butuh pekerjaan. Pengemudi tidak diajak bicara. Kaca memantulkan lampu Sudirman, bukan wajah Alina, karena mereka memang tidak satu mobil. Kalimat tadi duduk utuh di kepalanya. Data Anda rapi. Hanya penyampaiannya yang kaku. Ia hampir memasukkannya ke catatan Helena sebagai pengingat cara bicara, lalu tidak jadi. Catatan Helena butuh selisih dan item yang ditahan. Bukan butuh penilaian tentang suaranya, dan bukan butuh bukti bahwa untuk satu menit ia mengakui lawannya bisa bekerja.
Ia membuka pesan yang belum terkirim. Isinya hanya tiga baris: item ditahan, ringkasan tidak boleh lebih kecil dari lampiran, pertemuan Pesisir tidak mengubah jendela. Jari berhenti di atas papan ketik. Tidak ada baris keempat. Kalimat tentang penyampaian yang kaku ia simpan di tempat yang tidak ia buka lagi, lalu meminta pengemudi lewat jalan yang biasa.