NovelToon NovelToon
Takut Nikah

Takut Nikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cintamanis / Romansa
Popularitas:385k
Nilai: 5
Nama Author: Yutantia 10

"Kapan nikah?"

"Udah mau 30 loh."

"Jangan pilih-pilih, nanti jadi perawan tua."

Jena muak sekali dengan semua itu. Baginya, menikah bukan kriteria kesuksesan seseorang. Mau nikah atau pun tidak, itu juga bukan urusan mereka, tapi entah kenapa, mereka suka sekali mengurusi hidupnya.

3 kali ia menjalin kasih, endingnya selalu diselingkuhi. Sahabat terbaiknya, jadi janda diusia 25 tahun karena suaminya selingkuh. Dan yang paling gong, Papa yang ia sayang dan sosok yang ia kagumi, diam-diam ternyata punya istri kedua. Lalu, laki-laki seperti apa lagi yang bisa ia percaya.

Baginya, berurusan dengan laki-laki, hanyalah cari penyakit. Entah sekarang atau nanti, pasti endingnya disakiti. Ia tak mau menikah. Kalau sendiri bisa bahagia, untuk apa berdua?

Sampai kejadian tak terduga, mempertemukanmu dia dengan Budi. Laki-laki yang humoris, dan selalu bilang. "Gak semua laki-laki kayak gitu, Mbak."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

Budi yang duduk di sampingnya, langsung mengernyit. "Ke rumah kamu? Ada apa? Ada acara?"

"Ada hal penting. Nanti kalau sudah sampai sana, aku kasih tahu."

Jawaban itu justru membuat dahi Budi semakin berkerut. Ia menatap Jena lama. "Jen, jangan bikin penasaran gitu. Hal penting apa, coba jelaskan?"

Jena menggigit bibir, ragu untuk jujur, takut Budi menolak. Ia menatap Budi dengan wajah memohon. "Please, Bud. Kamu harus tolong aku."

Budi masih diam.

"Kalau soal bayaran, kamu gak usah khawatir. Ini lebih gede dari yang kemarin."

Budi malah menghela napas sambil tersenyum tipis. "Bukan masalah bayaran, Jen. Aku cuma pengin tahu aku mau datang ke acara apa."

Jena tetap bungkam.

Budi menyipitkan mata, semakin curiga. "Jangan-jangan... kamu punya ide aneh lagi."

Jena buru-buru menggeleng. "Kamu cuma perlu datang pakai pakaian yang sopan."

"Hanya itu?"

"Bawa dua roti bakar."

Budi sampai mengedip beberapa kali. "Dua roti bakar?"

"Iya. Itu aja. Gak anehkan?"

Bukannya tenang, Budi justru makin bingung. Ia makin fokus menatap Jena. Perasaannya tidak enak.

"Apa aku disuruh pura-pura jadi pacar kamu lagi?" Budi menurunkan suaranya. "Kalau di hadapan orang tua kamu, aku gak bisa. Takut dosa bohong sama orang tua. Apalagi pura-pura jadi CEO. Enggak, aku gak mau menipu orang tua."

Mendengar itu, Jena langsung tersenyum kecil. "Enggak. Jangan khawatir. Kali ini bukan begitu konsepnya, kamu cukup jadi diri sendiri."

"Maksudnya?"

"E..." Jena tersenyum absurd, hampir keceplosan menceritakan yang sebenar. Ia kembali memasang wajah memohon, bahkan kedua tangannya dirapatkan di depan dada "Please... kamu mau, ya?"

Budi memandang gadis itu cukup lama. Rasa penasarannya semakin besar, sementara permintaan Jena terdengar sangat sederhana... hanya datang ke rumah dengan pakaian sopan dan membawa dua roti bakar.

"Hari itu kamu bilangkan, kalau aku butuh bantuan, aku bisa cari kamu. Aku butuh banget sekarang, Bud."

"Sabtu malam, ya..." gumam Budi.

Jena langsung mengangguk penuh harap. "Iya."

Budi tersenyum pasrah. "Ya sudah, aku usahakan datang."

Jena menggeleng "Gak boleh. Gak boleh hanya diusahakan, tapi kamu harus janji bakalan datang."

"Tapi..."

"Budi please..." Budi meraih tangan Budi, menggenggamnya.

Seketika, Budi salah tingkah. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat hanya karena sentuhan kecil yang mungkin dianggap biasa saja oleh Jena.

"Janji ya."

Kali ini, Budi tak bisa menolak lagi. Ia mengangguk. "Iya, janji."

Seketika wajah Jena berbinar. Ia menghela nafas lega.

...----------------...

Sabtu pagi, Budi sudah merasa gelisah. Sejak membuka mata, pikirannya terus dipenuhi satu pertanyaan yang sama. Sebenarnya, Jena menyuruhnya datang ke rumah untuk apa?

Yang lebih aneh lagi, gadis itu hanya memintanya membawa dua roti bakar. Tidak ada penjelasan lain. Tidak ada acara yang disebutkan. Tidak ada siapa yang akan ditemui. Semakin dipikirkan, rasa penasarannya justru semakin menjadi-jadi.

"Apa sih yang mau dilakukan Jena?" gumam Budi.

Sampai-sampai, hari itu ia memutuskan tidak mengojek. Bukan karena malas, tetapi pikirannya terlalu kacau. Beberapa kali ia mencoba mengalihkan perhatian dengan membersihkan kamar dan memperbaiki beberapa barang, tetapi ujung-ujungnya pikirannya kembali kepada Jena.

Sabtu sore, kegelisahannya malah semakin parah. Budi berdiri di depan lemari yang pintunya sudah terbuka lebar. Ia membongkar hampir seluruh isinya.

Kaos hitam.

Baju koko.

Kemeja kotak-kotak.

Jaket.

Satu per satu dikeluarkan, lalu dilempar ke atas kasur.

"Yang ini terlalu santai." Ia mengambil kemeja lain.

"Yang ini kayak mau kondangan."

Setelah hampir setengah jam berpikir, akhirnya pilihannya jatuh pada sebuah kemeja berwarna krem yang masih terlihat cukup rapi, dipadukan dengan celana chinos abu tua.

Budi berdiri di depan cermin kecil. Ia merapikan rambut, lalu memandangi dirinya sendiri.

"Udah cocok belum, ya?" Ia menghela napas. "Kayak orang mau interview kerja." Ia ganti mengambil kemeja lain, kali ini kemeja kotak-kotak warna hitam.

Budi ganti celana krem, kaos putih, lalu kemeja kotak hitam yang dijadikan outer. "Apa terlalu santai kayak gini?" Ia mematut diri di depan cermin. Jena tidak menyebutkan detail acara, ia jadi bingung.

Lokasi rumah Jena sudah dikirim sejak kemarin. Budi langsung mengenalinya. Perumahan elit yang cukup sering ia datangi ketika sedang mengojek.

Jalanannya lebar, rumah-rumahnya besar, satpam berjaga di beberapa titik, dan hampir semua kendaraan yang keluar-masuk terlihat mewah. Ia juga pernah beberapa kali mengantarkan makanan ke sana.

Tapi kali ini berbeda. Ia datang bukan sebagai pengemudi ojek. Ia datang karena Jena memintanya. Dan entah kenapa, hal itu justru membuatnya semakin gugup.

Menjelang waktu yang sudah ditentukan, Budi mulai mondar-mandir di dalam kamar.

Ia melihat jam. Kemudian melihat ponselnya. Lalu melihat jam lagi.

[ Nanti kalau sudah sampai, telepon aku ]

Ada pesan masuk dari Jena.

"Kenapa aku deg-degan banget?" Budi memegang dadanya.

Ia mengambil dua roti bakar yang sudah disiapkannya, memastikan bungkusnya tidak rusak, lalu berangkat ke rumah Jena.

Namun semakin dekat dengan perumahan itu, jantung Budi justru semakin berdebar. Satu hal terus berputar di kepalanya. Apa sebenarnya yang sedang direncanakan Jena malam ini?

Tepat pukul delapan kurang 10 menit, Budi akhirnya tiba di rumah Jena.

Motor yang dikendarainya berhenti di depan rumah mewah dengan halaman luas dan pagar tinggi. Budi mematikan mesin, lalu memandang ke sekeliling.

Sepi.

Tidak ada suara musik. Tidak ada kendaraan yang memenuhi halaman. Tidak ada tanda-tanda sedang berlangsung sebuah acara.

Budi mengernyitkan dahi. Ia menelepon Jena, mengatakan jika sudah sampai.

Beberapa saat kemudian, satpam membukakan gerbang, Budi langsung diminta masuk.

"Bud." Panggil Jena yang ada di teras rumahnya. Gadis itu tampak cantik sekali dengan gaun warna hitam dan rambut panjang yang di curly. Budi sampai diam beberapa saat, tak berkedip memandangnya.

Budi memarkirkan motornya di halaman, lalu turun menghampiri Jena sambil membawa tote bag berisi roti bakar.

Sesaat ia memandangi rumah itu. Dari luar saja sudah terlihat begitu megah. Lampu-lampu taman menyala terang, halaman tertata rapi, dan terasnya luas dengan lantai marmer yang mengilap. Rumah seperti ini, ia pernah juga memilikinya. Tapi sekarang, ia terpaksa harus tinggal di rumah sederhana setelah semuanya habis.

"Jen, kok sepi? Tadinya aku kira ada acara?"

"Ada acara, tapi intimate gitu."

"Maksudnya?"

"Cuma aku, kamu, dan kedua orang tuaku."

"Hah!" Budi kaget. Acara apa itu, kenapa hanya dia yang diundang.

Jangan-jangan...

"Orang tua kamu lagi cari pekerja?" tanyanya. "Nyari supir, atau..."

"Bukan," Jena menggeleng cepat.

"Lalu..."

Jena melangkah ke samping Budi, sambil tersenyum, menggamit lengan laki-laki itu. "Hari ini, kamu kenalan sama orang tuaku, pura-pura jadi calon suamiku."

"APA!" Budi langsung syok.

"Ayo masuk!"

"Tapi, Jen..."

"Udah gak ada waktu buat nolak, kamu udah terlanjur ada disini."

"Jen, tamunya udah datang?" Teriak Mama Asri yang beberapa saat kemudian muncul dari dalam.

"Itu Mamaku, calon ibu mertua kamu." Bisik Jena.

Kaki Budi lemas. Ia hampir tak bisa bergerak saat Jena menarik lengannya menuju ibunya.

1
Kar Genjreng
mendengar ucapan Bud kenapa tenggorokan rasa nya nyesek ya,,,yakin Jen. ga menyesal seandainya. 6 pisah
justru nanti mendapatkan banyak cemooh dari teman teman,,,dan janji sebelum tiga bulan hamil Lo Jen untuk mendapatkan pengalihan milik pa Andika,,,dan Bu Hana pasti sangat sedih' mengapa putranya menikah hanya itungan bulan,,belajar menerima ke kurangan dan kelebihan pasangan Jena,,,ga usah menggunakan kata orang ,,, orang kan hanya mau menjatuhkan yang tidak suka jangan terpancing ya Jena,,,umur ,,,jodoh dan rezeki sudah di takar sama yang kuasa,,,
Sastri Dalila
🥺😅
Kar Genjreng
Selamat menempuh hidup baru,,,ya Budiman dan Jena semoga menjadi pasangan shikinah mawadah warohmah
Aamiin 🙏🙏,,,, sekarang saya dah sah ya bukan salah hee Budi mau Cup cup Ajinomoto Jen rasanya beda ya Jen kremyesss???? sejuk apa sudah mau amboxing. kabarin ya Bud. mau siap siap
Jena maksudnya,,,ganti baju saringan dulu apa ga Jen. biar trawang gitu gemeteran ya maklum kan pemula jadi ,,,Alon alon,,
pelan pelan takut langsung tergelincir tapi beneran deg deg degan,,, terpenting sudah sah tinggal melanjutkan pokonya jangan dengerin orang yang sirik dan dengki ya
Bud dan Jena,,,,, kayanya ada yang lagi kepanasan di sana di lain tempat bukan gerah tapi kesel dan TREMOSI,, lope yuuuuuu sekebon bunga' buat pasangan baru 🌹🌹🌹🌹❤️❤️❤️❤️🌹🌹🌹🌹❤️❤️❤️
Endah Puji Lestari
😍😍💪💪💪
Patrick Khan
sempet mikir bakal di ancurin muara nikahan nya jena...😭😭😭tp ternyata gk. kak othor baik sama jena👏👏👏👏😍
Patrick Khan
sah sahhhh
Sugiharti Rusli
tapi yang mungkin Jena dan teman" nya tahu dan sadari adalah ayah Budi dahulu adalah pengusaha besar dan sukses, Budi hanya perlu diberi kesempatan dan itu sekarang ada di depan matanya yah,,,
Sugiharti Rusli
mungkin sekarang Budi masih merintis jadi pengusaha kafe kecil dan itu juga dimodali oleh ayah Jena,,,
ione
/Smile/
Sugiharti Rusli
sejatinya Jena sudah mencintai Budi juga dengan segala kelebihan dan kekurangan nya yah, tapi dia kan gengsinya besar sih
jumirah slavina
tenang Bud... klo JeJen smp mo pisah., Aku yang gantiin

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Sugiharti Rusli
ah kenapa jadi baper yah sama apa yang Budi utarakan ke Jena tentang perasaannya dan semua yang dia putuskan kalo Jena ga pernah mencintainya,,,
Sugiharti Rusli
justru kamu yang akan menyesal Jen kalo kamu melepaskan laki" spek seperti Budi sih,,,
jumirah slavina
awas ya klo Kamu marah sm Budi.,
kebohongan itu Kamu yang ciptain bukan Budi...
Sugiharti Rusli
dan kamu beruntung lho Jen, sepertinya Budi pacar dan jadi suami kamu yang ga pernah pacaran, mungkin dulu ada kali yah saat masih sekolah😁😁😁
jumirah slavina
gak usah marah... Kamu kudu minta Budi unboxing Kamu Jen...

JeJen : ko' Aku minta Jum... ya Budi lh yang ngelakuin

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Sugiharti Rusli
malah antara Budi dan Jena bagus sìh, nanti mereka bisa memulai pacaran setelah halal dan ga takut kebablasan sih
Sugiharti Rusli
tidak pernah ada pernikahan yang mudah sih sejatinya yah, mau keduanya sudah saling cinta lama sekalipun sih,,,
jumirah slavina
kita bisa melakukan HO'A HO'E

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Sugiharti Rusli
meski wajar kalo gugup saat akad, namanya juga proses kalo bisa sekali semumur hidup yah,,,aamiin🤲🤲🤲
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!