Disa ingin memberi kejutan berupa kehamilan yang telah lama dinanti-nanti, tetapi dia malah mendapatkan kejutan lebih dulu dari Cakra. Cakra membawa pulang Risa yang sedang hamil anaknya.
Dari pada menerima Cakra, yang jelas-jelas sudah mengkhianatinya, dan harus menerima Risa sebagai madunya, Disa memilih pergi dengan membawa anak Cakra yang dia sembunyikan.
"Jangan menyesal setelah aku pergi."
***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jalur Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
"Habis dari mana?"
Risa memasang mimik gugup dan takut luar biasa karena sadar ia memang bersalah, namun segera mengubah mimik wajahnya menjadi tenang. Tenang, jangan sampai membuat Cakra semakin curiga.
"Aku—aku habis jalan-jalan sama Zara, Mas. Emm ... Bosen di rumah," jawabnya gugup.
"Oh," respon Cakra tetap tenang dan santai, bahkan pria itu tersenyum, "Duduk sini, aku mau ngomong sama kamu."
Ngomong? Ngomong apa? Risa hanya bisa bertanya-tanya di dalam hati.
Cakra sedikit berteriak memanggil Santi. "Santi! Bawa Zara," titahnya.
Santi muncul dari dalam, segera saja ia meraih baby Zara dari gendongan Risa yang sudah duduk di samping Cakra. Membawanya naik ke lantai atas.
"Mas kok di rumah? Maaf aku pergi tanpa pamit sama Mas, aku takut Mas gak ngasih izin, aku nggak ke mana-mana dan nggak ngapa-ngapain kok, cuma ke taman aja," terang Risa menjelaskan. Sebagi seorang yang takut rahasianya terbongkar, ia berinisiatif menjelaskan tanpa menunggu Cakra bertanya.
"Ekhem," Cakra hanya berdehem pelan sebagai respon. Kembali meminum isi cangkirnya yang ternyata adalah kopi hitam.
Risa merasa aneh dengan tingkah Cakra. Pria itu sangat jarang meminum kopi hitam, nyaris tidak pernah malah. Tapi kenapa tiba-tiba ia meminumnya?
"Mas minum kopi? Bukannya nggak suka sama kopi hitam?"
"Nggak suka bukan berati nggak doyan, Ris."
"Ehm, iya juga. Mas mau ngomongin apa?"
"Kita tunggu mama sama papa datang."
Nunggu mama dan papa segala? Risa semakin dibuat penasaran dengan apa yang akan dibicarakan suaminya hingga harus melibatkan kedua orang tuanya. Apa Cakra sudah tahu? Tahu tentang Zara, tentang pertemuan-pertemuannya dengan Andre di belakang pria itu? Tetapi seharusnya sikap Cakra tidak setenang ini jika ia sudah mengetahui semuanya. Dia pasti sudah meledak.
Oke, tenang ... Risa menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan, tetap berfikir positif. Mungkin Cakra hanya ingin membicarakan tentang urusan kantor atau apa, pikir Risa.
"Mas kenapa nggak bilang kalau mau pulang lagi? Kalau Mas bilang kan aku nggak jadi pergi jalan-jalan." Risa mengusap bahu kekar suaminya.
"Gak papa," jawab Cakra.
Lima menit kemudian, Hadrian dan Yuni datang. Cakra menghubungi kedua orang tuanya karena ada suatu hal penting yang ingin dibicarakan. Keduanya langsung duduk di hadapan Cakra. Kalau menuruti kata hati, Yuni ingin sekali langsung menemui Zara, cucunya.
"Mau ngomongin apa sih, Cak? Sampai kita semua disuruh kumpul begini?" tanya Hadrian.
Cakra menarik napas dalam, menatap satu per satu orang-orang yang duduk bersamanya. Mama, papa, Risa ...
"Aku mau nunjukin sesuatu." Cakra memulai. Ia mengambil sesuatu dari saku jasnya, sebuah kertas yang terlipat rapi. "Mama sama papa liat dulu, abis itu biarkan Risa juga liat."
Kertas putih itu Cakra berikan kepada sang papa. Hadrian dan Yuni saling menatap heran sebelum membuka lipatan kertas tersebut. Bersama-sama mereka membaca isinya.
Apa ini?
Hasil tes DNA?
Cakra Aditama dengan Vania Zara?
Hadrian terkejut tapi sebentar, seperti telah menduga akan datangnya hari ini, ia kemudian bersikap biasa saja. Bahkan matanya saat melihat ke arah sang istri seolah berkata, "Nah kan? Apa papa bilang?"
Melebar penuh sepasang mata Yuni, ia tersenggal, mencengkram dadanya sendiri. Lalu, kertas itu ia lempar kasar ke arah Risa. "Baca itu!" sentaknya.
Menyadari telah terjadi sesuatu yang membuat ibu mertuanya murka, Risa mengambil kertas. Apa sih isinya? Sampai ibu mertuanya terlihat sangat syok dan terpukul. Apakah sesuatu yang telah melukai hatinya? Apa yang sudah Risa perbuat?
Risa membacanya .....
Dan....
"Mas ... Mas kok—"
"Kamu berani menipu aku, Ris?" desis Cakra. Tidak ada lagi ketenangan dalam dirinya, yang ia tunjukkan sekarang adalah mimik kemarahan, kekecewaan, yang dalam. "Zara bukan anakku! Iya, kan?"
Risa tidak pernah menyangka, diam-diam Cakra telah melakukan tes DNA terhadap Zara. Sejak kapan? Sejak kapan Cakra merasa curiga? Dan alasan apa yang memicu Cakra untuk melakukan hal itu?
"Mas .... " air mata Risa tumpah. "Aku gak ada maksud buat bohongin kamu, Mas, aku juga gak tau kalau .... "
"Gak tau kalau Zara ternyata bukan anakku? Iya? Jadi selama kita berhubungan, kamu tidur sama siapa aja selain Andre? Apa ada Andre Andre lainnya di luar sana?" cecar Cakra. Dada bergemuruh, napas memburu, tangan bergetar. Andai Risa bukan perempuan, sudah habis dia diamuk Cakra.
"Nggak gitu, Mas .... " bagaimana? Bagaimana Risa harus menjelaskan? Apa yang harus ia katakan untuk menyangkal, sementara hasil tes DNA ini sangat akurat? Risa tidak bisa berpikir, otaknya serasa buntu.
"Pergi! Aku udah beresin semua barang-barang kamu, bawa Zara juga pergi dari sini!" usir Cakra. Ia menolak, menepis tangan Risa yang berusaha menyentuhnya. Tangan yang biasanya berhasil memuaskan dahaganya itu, kini Cakra tampik kasar.
"Mas, please, jangan usir aku."
"Aku talak kamu detik ini juga, Risa!" Cakra berdiri.
Risa menggeleng. Tidak! Tidak! Dia tidak mau berpisah dari Cakra. Dia tidak mau kehilangan kenyamanan ini dan hidup dalam kesengsaraan, kesendirian lagi.
"Mama .... " Risa mencoba merayu sang ibu mertua. Wanita itu sudah terlanjur sayang dengan Risa dan Zara, Risa yakin ia tidak mau kehilangan Zara. "Ma, maafin Risa...."
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Risa. Yuni yang melakukannya.
"Dasar penipu!" umpat Yuni.
Hadrian, yang semula hanya menonton kegaduhan ini—kemarahan Cakra, kekecewaan Yuni, dan tangisan Risa—, kini menghela napas panjang. Dia yang paling curiga pada saat Zara lahir, ia juga yang memaksa Cakra untuk melakukan tes DNA. Sebab apa? Sebab Zara sama sekali tidak mewarisi wajah Cakra, maupun dirinya.
Cakra sempat menolak, anak lelaki Hadrian itu tidak mau membuat mamanya yang sudah sangat jatuh hati kepada Zara, merasa kecewa dengan kehilangan Zara. Namun, apakah Cakra rela dibohongi seumur hidup?
Mumpung semuanya belum terlanjur jauh, belum berlarut-larut, Hadrian terus mendesak. Jika Cakra tidak mau melakukan tes DNA, maka Hadrian sendiri yang akan melakukannya.
Cakra akhirnya menuruti perintah sang papa. Dan hari ini ia tidak berangkat ke kantor seperti biasa. Ia pergi ke rumah sakit, mengambil hasil tes DNA itu, mendapati kenyataan bahwa Zara bukanlah darah dagingnya.
"Cakra ... Antar Risa ke rumahnya. Kembalikan dia ke orang tuanya secara baik-baik kalau kamu ingin menceraikan Risa. Beri alasan yang baik, jangan biarkan apa yang pernah kamu lakukan ke Disa terulang dua kali. Membiarkan istri pulang sendiri ke rumahnya itu bukan sikap lelaki gentle, Cakra." Hadrian berkata tenang.
Cakra memejam begitu nama Disa disebut. Disa .... Wanita yang sudah Cakra lepaskan demi wanita lain yang akhirnya mengecewakan.
Disaaa
...****************...
.semoga Andre mengakui anak nya