Reinkarnasi, Kesempatan Kedua, Kultivasi
Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, Jian Chen tewas tepat sebelum mencapai Ranah Dewa. Namun, ia mendapat kesempatan kedua untuk mengubah takdir dengan kembali ke dua puluh tahun silam.
Saat ia mulai mengungkap dalang di balik kematiannya, masa depan yang ia kenal perlahan berubah. Pusaka yang seharusnya tersembunyi telah dicuri, teknik langka muncul terlalu dini, dan seseorang tampaknya mengetahui rahasia yang bahkan belum terjadi.
Di balik semua kejanggalan itu, tersimpan Lentera Terakhir pusaka yang mampu memutar waktu, tetapi menyimpan harga yang mengerikan.
Siapa yang mengubah masa depan, dan mengapa mereka seolah tahu setiap langkah Jian Chen? Kali ini, musuh terbesarnya mungkin bukan pengkhianat dari masa lalu, melainkan seseorang yang telah menunggunya sejak awal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: Sembilan Belas Kuburan
Wabah di Desa Sungai Hitam berhenti sebelas hari setelah rombongan Aula Pengobatan tiba. Dalam hitungan akhir yang ditulis Tabib Kepala Rong di gulungan laporan, sembilan belas orang meninggal sejak hari pertama sampai hari terakhir. Empat puluh enam lainnya sembuh. Tidak ada lagi yang jatuh sakit sejak hari kedelapan, setelah semua warga merebus air dan resep Tabib Shu mulai dipakai.
Jian Chen membaca angka itu tiga kali.
Dalam hidup pertamanya, angkanya empat puluh tujuh. Ia tidak lupa. Ia ingat betul bahwa di balai desa dulu terpasang papan kayu panjang dengan empat puluh tujuh nama yang ditulis tangan, dan ia pernah berdiri di depannya selama satu jam tanpa sanggup membaca semuanya. Sekarang papan itu belum ada. Tetapi sembilan belas orang yang sudah dikubur di lereng bukit belakang desa tetap sembilan belas orang.
"Kau menghitung terus," kata Dao yang duduk di sampingnya di tangga balai desa. Ia memegang mangkuk bubur yang sudah dingin. "Itu tidak membuat angkanya turun."
"Aku tahu."
"Kalau kau tahu, kenapa menghitung?"
"Supaya aku ingat setiap nama." Jian Chen menutup gulungan itu. "Orang yang tidak diingat mati dua kali."
Dao tidak menjawab. Ia hanya mengunyah buburnya pelan.
Tan Fu muncul dari arah tenda dengan wajah yang jauh lebih kurus daripada sebelas hari lalu. Ia membawa dua kantong air dan satu bungkusan kain. "Aku bertemu Pak Zhu di jalan," katanya. "Dia membawa kambing sebagai tanda terima kasih. Aku bilang kami tidak bisa membawa kambing ke sekte."
"Apa jawabannya?"
"Dia bilang kambing itu untuk dimakan di sini." Tan Fu menurunkan bungkusan itu. "Dan ini dari kepala desa. Dendeng untuk perjalanan pulang."
"Terima kasih."
"Aku yang harus terima kasih." Tan Fu duduk di tangga di sebelah Dao. "Kalau kalian tidak mengajakku, aku masih di dapur sekte memecah kemiri."
"Kau lebih berguna di sini," kata Dao.
"Itu pujian atau hinaan?"
"Pujian."
"Pujian paling aneh yang pernah kudengar," kata Tan Fu, tetapi ia tersenyum.
Tabib Kepala Rong menghampiri mereka sebelum matahari terlalu tinggi, membawa gulungan laporan yang lain. Jian Chen berdiri, dan Dao serta Tan Fu mengikuti.
"Jian Chen," kata Tabib Kepala Rong. "Aku sudah menuliskan permintaan obat untuk sisa ternak lelaki bernama Zhu. Aula Pengobatan akan mengirimkannya bulan depan."
"Terima kasih, Tabib."
"Itu janjimu padanya, bukan janjiku. Aku hanya memenuhinya." Tabib Kepala Rong mengangkat gulungan itu sedikit. "Dan satu hal lagi. Dalam laporan ini aku menulis siapa yang menemukan sumber wabah dan siapa yang mengusulkan merebus air. Namamu ada di sana."
"Aku tidak butuh namaku disebut."
"Aku tidak bertanya apa yang kau butuhkan." Tabib Kepala Rong menatapnya tajam. "Aku mencatat apa yang terjadi. Itu pekerjaanku. Kalau orang di atas membaca dan menganggapmu pantas diperhatikan, itu bukan salahku."
"Baik, Tabib."
"Satu hal terakhir. Kau tahu cara menolong orang. Jangan sia-siakan itu untuk hal yang tidak penting." Tabib Kepala Rong berbalik pergi, lalu berhenti sebentar tanpa menoleh. "Dan terima kasih."
Sore harinya, mereka menguburkan Tabib Shu di lereng bukit di bawah pohon plum tua yang menurut penduduk desa sering ia duduki untuk menulis. Tidak ada upacara besar. Kepala desa membacakan beberapa kalimat dari kitab pemakaman, lalu anak-anak yang selamat menaruh bunga liar di atas gundukan tanah. Tabib Kepala Rong berdiri paling depan dengan kepala tertunduk. Lin Xue berdiri di samping Jian Chen, tidak berkata apa-apa.
Setelah semua orang turun, Jian Chen tetap di sana. Ia duduk di batu di dekat pohon plum dan menatap tanah yang masih basah. Di pangkuannya tergeletak tas kulit milik Tabib Shu. Ia sudah membaca catatan pinggir dalam buku itu semalam suntuk. Ada puluhan tanaman yang tidak ia kenal, dan satu halaman tentang Akar Embun Perak dengan gambar yang ia kenali dari hidup pertamanya. Di bawah gambar itu tertulis dengan tinta pudar: Hanya tumbuh di tempat yang tidak dicari. Jangan serakah.
"Kau di sini," kata Lin Xue dari belakangnya.
"Ya."
"Kau belum makan sejak pagi."
"Aku tidak lapar."
"Aku tidak bertanya apakah kau lapar." Lin Xue duduk di batu di sebelahnya dengan jarak setengah lengan. Ia menaruh bungkusan kecil berisi roti di antara mereka dan tidak mendesak.
Hening lama. Angin sore mengusik daun plum di atas kepala mereka. Di bawah bukit, asap tipis naik dari dapur desa.
"Dulu aku datang ke sini terlambat," kata Jian Chen akhirnya.
Lin Xue menoleh. Ia tidak menyela.
"Empat puluh tujuh orang sudah meninggal ketika aku sampai. Aku menggali kubur sampai dua hari tanpa tidur. Dan Tabib Shu..." Suaranya tersangkut. "Tabib Shu sudah dikubur di bawah pohon ini. Aku hanya mengenalnya dari murid-muridnya yang tersisa, dari cerita mereka."
"Maksudmu, dulu?"
"Maksudku." Jian Chen menutup mulut. Ia hampir mengucapkan semuanya. Tetapi Lin Xue sudah mendengar cukup banyak, dan ia menunggu tanpa memaksa. "Aku belum bisa menjelaskan."
"Aku tidak meminta."
"Aku tahu. Itu yang membuatnya sulit."
Lin Xue menarik napas. "Aku tidak tahu apa yang kau bawa," katanya pelan. "Tapi aku melihat bagaimana kau duduk di dekat dipan Tabib Shu. Kau tidak duduk seperti orang yang baru kenal."
Jian Chen menunduk. Air matanya jatuh sebelum ia sempat menahannya. Ia tidak menangis dengan suara, hanya diam, bahunya turun, napasnya tidak teratur. Tangannya menutup mata.
Lin Xue tidak berkata apa-apa. Ia tidak menyentuh bahunya, tidak mengucapkan kata-kata penghiburan. Ia hanya tetap duduk di sampingnya, menatap tanah di depan mereka, dan membiarkan angin menyeberangi bukit.
"Kau bilang belum bisa menangis," katanya akhirnya.
"Sekarang bisa."
"Itu bagus."
"Aku tidak bisa menyelamatkan dia."
"Kau menyelamatkan dua puluh delapan lainnya," kata Lin Xue. "Itu hitunganku. Selisih dari yang kau katakan pada Dao."
Jian Chen mengangkat kepala. "Kau mendengar?"
"Aku mendengar banyak hal." Lin Xue menatapnya, dan di wajahnya ada senyum yang tipis, tidak merendahkan, tidak mengasihani. "Aku tidak tahu dari mana angka empat puluh tujuh itu datang. Tapi aku tahu satu hal: sembilan belas bukan kegagalan. Itu dua puluh delapan nama yang tidak akan ada di papan."
Jian Chen tidak menjawab. Ia hanya mengusap wajahnya dengan lengan baju dan menarik napas panjang.
Mereka berangkat pulang keesokan paginya. Di gerbang pemisah sekte, ketika matahari mulai tinggi, seorang pemuda berjubah putih biru berdiri sendirian dengan tangan di belakang punggung. Zhao Feng menunggu mereka dengan wajah yang tidak bisa dibaca.
"Aku dengar kau membuat Tabib Kepala Rong mengakui kesalahannya," katanya tanpa salam.
"Aku hanya meminta air direbus," jawab Jian Chen.
"Itu yang tidak dikatakan tabib mana pun dalam dua puluh tahun." Zhao Feng menatapnya lekat. "Tiga hari lagi, pagi, di lapangan latihan murid dalam. Aku ingin kau datang."
"Untuk apa?"
"Latihan." Zhao Feng mengangkat dagu. "Aku ingin melihat apa yang kaumiliki selain mulut dan ingatan."