NovelToon NovelToon
OM GANTENG ITU SUAMIKU

OM GANTENG ITU SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Leny Fairuz

Mita Septia, seorang gadis manis yang berprofesi sebagai Guru PJOK di sekolah terpencil Kecamatan Entikong, kabupateng Sanggau perbatasan Kalimantan Barat dengan negeri jiran Malaysia. Ia telah menjalin hubungan asmara dengan Denis yang menjabat sebagai CSR Supervisor di salah satu perusahaan pertambangan ternama di Kalimantan Barat. Hubungan yang telah berjalan hampir 3 tahun, membuat keduanya berencana meresmikan di akhir tahun. Tetapi kenyataan tak sesuai harapan Mita. Denis telah berpaling hati, hingga membuat rekan kerjanya hamil. Tak bisa menghindari tanggung jawab, Denis melupakan janji yang telah ia susun bersama Mita. Keputusan Denis tentu saja menghancurkan hati Mita, dalam kelukaan atas kabar yang dikirim Denis mempertemukan ia dengan seorang Abdi Negara berpangkat Kapten yang bernama Reihan. Akan kah Kapten Reihan mampu menyembuhkan segala luka yang dialami Mita....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leny Fairuz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2. Luka Di Jalan Berdebu Perbatasan

Matahari perbatasan Entikong, Sanggau Kalimantan Barat menggantung terik tepat di atas kepala, memancarkan hawa panas menyengat yang seolah mampu melelehkan aspal tipis di sepanjang jalan utama desa. Debu-debu kering beterbangan setiap kali angin timur bertiup pelan, menempel pada dedaunan pohon sawit dan dinding-dinding kayu bangunan di sekitarnya.

Namun, sengatan terik matahari siang itu sama sekali tak terasa bagi Mita Septia. Di dalam dadanya, ada rasa dingin yang mencengkeram begitu kuat—sebuah kehampaan membeku yang merenggut seluruh kehangatan hidupnya dalam sekejap mata.

Langkah kaki Mita terasa amat berat ketika ia berjalan keluar menyusuri koridor sekolah menuju gerbang utama. Di genggaman tangannya, layar telepon genggam yang perlahan meredup masih menampilkan barisan kalimat dari sebuah pesan singkat. Pesan yang telah ia baca saat duduk sendirian di ruang guru, tepat ketika bel tanda jam pelajaran terakhir dibunyikan.

Siska. Nama itu bergema berulang kali di dalam kepala Mita bagaikan dentang lonceng kematian yang menyakitkan. Siska adalah rekan kerja Denis di kantor Perusahaan pertambangan itu. Perempuan yang selama ini sering diceritakan Denis sebagai sosok yang ramah dan suportif saat Mita tidak ada di sisinya.

Ternyata, di belakang, selama berbulan-bulan lamanya saat ia sibuk mendedikasikan hidupnya untuk mengajar anak-anak perbatasan, Denis telah membagi hati, perhatian, bahkan tubuhnya dengan wanita lain.

"Hamil...?" bisik Mita lirih. Suaranya gemetar, pecah, dan serta-merta tertelan begitu saja oleh deru angin perbatasan yang membawa debu kering.

Air mata yang sejak tadi ditahannya di pelupuk mata akhirnya merebak hebat, mengalir melintasi pipinya yang mulus tanpa bisa dibendung lagi. Dunianya hancur berkeping-keping. Tiga tahun penantian, tiga tahun kesetiaan tanpa cela, dan ratusan rencana masa depan yang mereka susun bersama dalam lembar-lembar mimpi kini musnah dalam hitungan detik. Pengorbanannya menempuh jalur darat bertanah licin dan berbatu setiap akhir pekan demi bisa bertemu Denis di kota kini terasa seperti bentuk kebodohan yang tak termaafkan.

Dengan jemari yang gemetar hebat dan pandangan mata yang kabur tertutup genangan air mata, Mita menaiki sepeda motor bebek merahnya. Ia tidak peduli lagi pada helm yang terpasang agak miring atau napasnya yang tersengal-sengal karena rasa sesak yang menghimpit dada. Ia hanya ingin cepat pergi melarikan diri dari lingkungan sekolah, cepat sampai ke rumah kontrakannya yang berjarak tempuh satu jam perjalanan menyusuri jalan setapak berbatu, berdebu, dan membelah hutan sawit Kalimantan.

Mesin motor meraung keras ketika Mita memutar gagang gas secara kasar. Motor melaju cepat membelah jalanan perbatasan yang sepi. Di sepanjang perjalanan, bayangan masa lalu terus berputar tanpa henti di ingatan Mita bagaikan rekaman film yang menyiksa. Janji Denis untuk melamarnya di akhir tahun ini, tawa lelaki itu saat membelikannya sepatu olahraga baru sebagai hadiah ulang tahun, dan kata-kata manis yang ternyata hanyalah bualan kosong tanpa makna. Tangis Mita pecah semakin deras. Rasa sesak di dadanya membuat napasnya terasa sempit dan putus-putus, hingga fokusnya pada kondisi jalanan berbatu di depannya hilang sepenuhnya.

Di sebuah tikungan tajam berpasir yang dikelilingi rindangnya pohon-pohon sawit dan belukar lebat, roda depan motor Mita menghantam sebongkah batu kali besar yang terlepas dari tanah.

Ckiieeeek! Brakk!

Motor bebek itu melenceng keras dan hilang keseimbangan. Mita kehilangan kendali sepenuhnya. Tubuh jangkungnya terlempar dari jok motor dan terseret beberapa meter di atas bahu jalan yang keras dan berbatu tajam. Motor merahnya roboh menghantam semak-semak di tepi jurang dangkal dengan mesin yang masih meraung pelan sebelum akhirnya mati total.

Rasa sakit yang mendalam melanda tubuhnya seketika. Kulit siku dan lututnya terkelupas kasar, menyisakan luka lecet memerah yang mengeluarkan darah segar bercampur debu tanah. Kaus olahraga dan celana training yang dikenakannya robek di beberapa bagian. Namun, anehnya, rasa sakit di fisik itu sama sekali tidak mengejutkannya. Ia bahkan tidak merintih atau mengaduh kesakitan. Hatinya sudah terlalu hancur untuk sekadar merespons rasa perih di kulitnya.

Mita terbaring telentang di atas tanah berdebu. Pandangannya menatap kosong ke arah deretan dedaunan pohon yang bergerak perlahan ditiup angin sore. Ia tidak bergerak, bahkan tidak berniat sedikit pun untuk bangkit atau memeriksa seberapa parah luka di tubuhnya. Keputusasaan yang pekat melingkupi seluruh jiwanya. Ia merasa tidak ada lagi alasan untuk berjuang, bertahan, atau sekadar peduli pada keselamatan dirinya sendiri. Mata beningnya menatap langit sore yang serba abu-abu, membiarkan air mata terus mengalir membahasi pelipis dan bercampur dengan debu jalanan.

Hingga beberapa menit kemudian, deru mesin mobil besar berbunyi menyakiti keheningan hutan perbatasan. Sebuah mobil dinas militer jenis double cabin berbodi gagah melaju melintasi jalanan tersebut. Sopir mobil itu mendadak menginjak rem secara mendadak ketika mata tajamnya melihat sebuah motor bebek roboh dan seorang perempuan tergeletak tak berdaya di tepi jalan.

Pintu depan mobil terbuka dengan cepat. Seorang pria berseragam loreng lengkap dengan baret hijau turun dari kendaraan. Langkah kakinya tegap, mantap, dan teratur meskipun terlihat terburu-buru. Sepatu laras militernya menapak mantap di atas batu-batu jalanan saat ia menghampiri posisi Mita yang terbaring.

Pria itu berlutut di samping Mita. Di bagian dada seragam lorengnya tersemat label nama dan atribut pangkat yang jelas: KAPTEN REIHAN A.

"Mbak? Mbak tidak apa-apa? Bisakah mendengar suara saya?" suara pria itu terdengar berat, tegas, namun sarat dengan nada kecemasan yang tulus dan mendalam.

Mita menengadah pelan. Dengan pandangan kabur dan berbayang oleh genangan air mata, ia melihat sosok pria di atasnya. Seorang abdi negara bertubuh tinggi besar, bernapas dada bidang, berwajah tegas dengan garis rahang kokoh dan kulit kecokelatan khas prajurit yang terbiasa ditempa panas matahari dan kerasnya medan latihan. Rahangnya tampak mengeras menatap kondisi Mita yang berantakan dan mengenaskan.

Namun Mita tak mampu merespons sepatah kata pun. Bibirnya terasa kaku dan terkunci rapat. Tidak ada erangan kesakitan, tidak ada teriakan histeris, tidak ada pula permintaan tolong. Hanya tatapan mata beningnya yang berkaca-kaca, memancarkan keputusasaan, luka mendalam, dan kekecewaan luar biasa yang terpancar telanjang di hadapan pria asing yang baru saja hadir di depannya.

Kapten Reihan tertegun seketika. Tatapan mata bening milik perempuan di depannya seolah-olah menghantam dada kiri Reihan dengan kekuatan dahsyat yang tak kasat mata. Dalam karier militernya yang panjang, Reihan telah melihat banyak korban kecelakaan, ancaman senjata, atau bahaya di medan perang perbatasan, namun ia belum pernah melihat tatapan mata seketus dan serentak itu—tatapan mata seorang manusia yang seolah-olah telah kehilangan seluruh jiwa dan pijakan hidupnya. Ada sesuatu yang seketika berdesir, mengganggu, dan mengusik ketenangan hati sang kapten yang biasanya tenang, dingin, dan setegar batu karang.

1
Lenita Vernandes
mantap lanjut
Farida Dalle
Ternyata cinta dan cemburu itu berjalan seiring, hehe🤭
Heti Supriyati Laela
ikutan senyum sendiri
Heti Supriyati Laela
semangat up othor
Heti Supriyati Laela
gasss kapten
rayhan dirgantara
up lg ga ka aku rayhan kls 4sd ka slm knal ya
Farida Dalle: Duh.... si Rayhan, masih kcl sdh baca novel jg, hehe🙏✌️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!