Seorang wanita ahli pengobatan dan racun tiba-tiba memasuki tubuh seorang gadis lemah bernama Feng Wu. Terbangun di tempat asing, ia sempat mengira semua itu hanyalah mimpi. Namun, tempat dan kehidupan baru yang dihadapinya ternyata benar-benar nyata.
Jika Feng Wu sebelumnya dikenal sebagai gadis bodoh dan lemah yang selalu diremehkan, maka kedatangan jiwa baru akan mengubah segalanya.
Mulai sekarang, Feng Wu bukan lagi gadis yang mudah ditindas.
Karena sudah masuk ke tubuh Feng Wu, maka wanita itu akan menuntut balas atas perlakuan buruk pada pemilik tubuh asli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Setelah menjelajahi Ruangan Ajaib itu dan memastikan segala sesuatu yang ia butuhkan bahan obat langka, air penyembuh, dan pengetahuan yang tak ternilai. Feng Wu kembali ke gubuk reyot itu dengan hati yang jauh lebih tenang dan penuh keyakinan.
Namun saat ia menatap ke arah ibukota Qincheng, matanya tidak menyala oleh keinginan untuk segera pulang ke kediaman Menteri Feng. Justru sebaliknya, ia menggeleng pelan.
Belum saatnya.
Jika ia kembali sekarang, tanpa kekuatan, tanpa perlindungan, dan tanpa bukti maka ia hanya akan kembali menjadi sasaran empuk Selir Yu. Ia akan kembali dihina, diragukan, dan mungkin dicoba dibunuh untuk kedua kalinya. Tidak, itu bukan jalan yang bijaksana.
"Kediaman Feng belum menjadi rumahku saat ini," gumamnya tegas. "Ada tempat lain yang harus kutuju lebih dulu."
Di dalam ingatan Feng Wu, ada satu nama yang bersinar terang di tengah semua kegelapan, sosok itu Jenderal Wen.
Ia adalah kakek dari pihak ibunya, Wen Ning. Pria yang gagah berani, teguh pendiriannya, dan dihormati segenap negeri. Namun sejak kematian putri kesayangannya Jenderal Wen meminta dikirim ke perbatasan yang jauh dan berbahaya. Ia tak ingin kembali ke ibukota, karena setiap sudut kota itu selalu mengingatkannya pada wajah putrinya yang telah tiada. Kesedihan dan kemarahan yang terpendam membuatnya memilih menjauh, menjaga perbatasan daripada melihat kediaman yang penuh kenangan pahit.
"Kakek..." bisik Feng Wu pelan, hatinya terasa hangat hanya dengan menyebut nama itu. "Jika ada orang yang bisa melindungiku, dan yang akan mempercayaiku... itu adalah Kakek. Darah Ibu mengalir di pembuluh darahku. Dan aku yakin, ia akan merasakannya."
Tanpa menunda lagi, Feng Wu menyusun rencana. Ia memanfaatkan bahan obat dari Ruangan Ajaib untuk membuat ramuan yang memperkuat tubuhnya yang lemah dan membuang sisa racun yang masih mengendap. Dalam waktu singkat, wajahnya yang pucat mulai kembali berseri, langkah kakinya tak lagi gemetar, dan matanya berkilau sehat dan tajam.
Ia mengenakan pakaian sederhana namun nyaman, membungkus rambut hitam panjangnya dengan kain agar tidak mencolok, lalu menyisakan sedikit uang perak yang ia temukan di sudut gubuk. Dengan cincin ajaib yang tersembunyi di jari manisnya, Feng Wu melangkah keluar dari gubuk itu, bukan lagi sebagai gadis yang dibuang, melainkan sebagai seseorang yang membawa harapan baru.
"Selamat tinggal tempat yang menyakitkan," ucapnya pelan sambil menatap gubuk itu untuk terakhir kalinya. "Aku akan kembali... bukan untuk minta belas kasihan, melainkan untuk mengambil apa yang menjadi hakku."
Perjalanan menuju perbatasan jauh dan penuh tantangan. Jalanan berbatu, hutan lebat, dan udara yang semakin dingin seiring ketinggian tempat yang ia lalui. Namun Feng Wu tidak pernah sekalipun menyesali keputusannya. Setiap langkah yang ia ambil justru membuatnya semakin kuat baik fisik maupun batin.
Di sepanjang jalan, ia menggunakan pengetahuannya tentang tanaman obat untuk menyembuhkan luka-luka yang didapat selama perjalanan, serta mengobati beberapa penduduk desa yang sakit tanpa obat. Tanpa disadari, nama "gadis pengobat yang baik hati" mulai terdengar di desa-desa yang ia singgahi. Namun Feng Wu tidak bermaksud mencari nama, ia hanya ingin memastikan bahwa dirinya memang berjalan di jalan yang benar.
Semakin mendekati perbatasan, suasana semakin berubah. Hutan lebat berganti menjadi padang rumput yang luas dan kering, angin bertiup kencang membawa debu dan pasir, dan di kejauhan mulai terlihat benteng pertahanan yang kokoh berdiri di atas bukit gerbang perbatasan yang dijaga ketat oleh pasukan kekaisaran.
Di dalam markas besar benteng perbatasan, seorang pria paruh baya berdiri membelakangi pintu, menatap peta wilayah yang terbentang di meja. Wajahnya tegas, garis-garis di dahinya menandakan ketegasan sekaligus kesedihan yang mendalam. Itulah Jenderal Wen pria yang tak pernah tersenyum sejak kematian putrinya, pria yang memilih menjauh dari dunia demi melupakan rasa sakitnya.
"Jenderal Besar," seorang prajurit masuk dengan hormat. "Ada seorang gadis muda di luar benteng. Ia mengaku... mengaku adalah cucu dari Jenderal Besar."
Jenderal Wen menoleh perlahan, matanya yang tajam dan dingin menyipit. "Cucu? Aku tidak memiliki cucu. Usir dia."
"Tapi Jenderal... ia menyebutkan nama mendiang Nyonya Wen Ning. Dan ia mengatakan bahwa ia adalah putri dari Menteri Feng."
Tubuh Jenderal Wen kaku seketika. Nama putrinya yang sudah lama tak disebutkan itu tiba-tiba terdengar begitu dekat. Dengan langkah cepat namun gemetar, ia berjalan keluar dari ruangan, menuju gerbang benteng tempat gadis itu berdiri.
Dan di sana, di bawah langit perbatasan yang luas dan kelabu, berdiri seorang gadis muda dengan pakaian sederhana namun tegak berdiri. Rambut hitam panjangnya diterpa angin kencang, matanya jernih dan tajam dan ketika ia menatap ke arah Jenderal Wen, ada sesuatu yang meluluhlantakkan pertahanan hati pria tua itu.
"Wajah itu... senyum itu... tatapan itu... persis seperti Wen Ning" Batin Jendral Wen.
"Kakek..." panggil Feng Wu pelan namun jelas, suaranya terdengar lembut namun penuh kerinduan yang mendalam. "Aku Feng Wu. Putri Wen Ning. Cucu Kakek."
Jenderal Wen terpaku, langkah kakinya terhenti di tempat. Ia menatap gadis itu lekat-lekat, seakan tak percaya pada matanya sendiri. Selama bertahun-tahun ia mengira cucunya sudah mati karena Feng Yuan tidak pernah memberi kabar tentangnya. Namun melihat gadis ini berdiri tegak di hadapannya, dengan sorot mata yang begitu kuat dan bijaksana, hatinya yang telah lama beku perlahan mulai mencair.
"Kau...Kau Feng Wu" bisiknya serak, melangkah mendekat perlahan, seakan takut jika ia bergerak terlalu cepat, bayangan ini akan lenyap. "Benarkah... kau benar-benar ada?"
Feng Wu tersenyum, senyum yang begitu hangat dan tulus, persis seperti ibunya dulu. Ia mengangguk pelan, lalu berlutut dengan hormat di hadapan kakeknya.
"Cucu datang untuk menemui Kakek. Karena di dunia ini, hanya Kakek satu-satunya harapanku."
Tanpa ragu sedikit pun, Jenderal Wen berlutut juga, memeluk cucunya erat-erat pelukan yang penuh rindu, penyesalan, dan kebahagiaan yang tak terlukiskan. Di tengah angin perbatasan yang dingin, kehangatan keluarga yang telah hilang selama bertahun-tahun akhirnya kembali menyatu.