NovelToon NovelToon
Sepuluh Ribu Kematian Abadi

Sepuluh Ribu Kematian Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Mengubah Takdir / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Di Sekte Lembah Giok Hitam, menjadi "Murid Teladan" bukanlah kehormatan, melainkan vonis mati sebagai tumbal perpanjangan umur sang tetua.

Di malam sebelum darahnya dikuras habis di atas altar, Gu Yuan, seorang murid luar tanpa latar belakang, tak sengaja membangkitkan artefak peninggalan ayahnya: Kaca Kematian Awal (Yuan Sha Jing).

Setiap kali niat membunuh mengarah padanya, cermin kuno itu membekukan waktu dan memaksanya mati dalam ribuan cabang simulasi. Ia merasakan lehernya ditebas, meridiannya meledak, dan racun membakar jantungnya berulang kali, semua demi satu hal yakni menemukan satu-satunya jalan keluar hidup-hidup.

"Jika takdir menyuruhku mati sepuluh ribu kali, maka aku akan bangkit sepuluh ribu satu kali untuk memenggal takdir itu sendiri."

Bagi Gu Yuan, kematian bukan akhir, melainkan peta menuju keabadian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 035 - Suasana Mencekam di Aula Belakang

Jembatan kayu gantung yang membentang di atas jurang air terjun berayun perlahan tertiup angin malam yang kencang dan basah. Tali-tali tambang rami berderit menahan langkah beriringan delapan orang pelayan dapur yang menyeberang satu demi satu dengan tubuh membungkuk menahan dingin yang menusuk tulang.

Di bawah telapak kaki mereka yang hanya beralaskan sandal kain tipis, arus sungai berbusa putih menderu dahsyat di dasar jurang sedalam puluhan depa, siap menelan siapa pun yang terpeleset dari titian kayu yang basah dan berlumut licin. Percikan kabut air membubung tinggi di kegelapan malam, bercampur dengan embun beku yang menempel di bilah-bilah kayu jembatan dan pakaian para pelayan.

Gu Yuan melangkah di barisan tengah dengan kedua tangan memegang kokoh nampan tembaga berkaki empat. Napasnya mengepul menjadi gumpalan uap putih tebal di udara malam yang membekukan. Matanya yang terlindung di balik kain penutup kepala mengamati mulut gua air terjun yang kini berada hanya sepuluh langkah di ujung jembatan gantung.

Penjagaan di mulut gua malam ini jauh lebih ketat, berlapis, dan mengerikan daripada tiga hari lalu.

Empat orang murid inti berseragam jubah sutra putih bersulam benang perak berdiri tegak menjaga ambang pintu batu tebing. Di punggung masing-masing murid inti tersebut, melayang sebilah pedang terbang berselubung pendaran cahaya biru dingin yang mendengung halus membelah udara. Keempat pemuda ini telah mencapai Ranah Kondensasi Qi tahap menengah—tingkat kultivasi yang mampu memanipulasi artefak pedang dari jarak jauh menggunakan niat spiritual untuk memenggal kepala musuh dalam hitungan detik tanpa harus menyentuh gagang pedang.

Sorot mata keempat murid inti itu luar biasa dingin dan angkuh, memandang barisan pelayan dapur yang melangkah menyeberang seperti memandang barisan semut pekerja yang tak berharga.

“Cepat masuk dan tata mangkuk dupa sesuai nomor tiang yang tertera di surat perintah,” tegur salah satu murid inti yang berwajah tirus sambil melambaikan tangannya dengan malas. “Tetua Mo akan tiba bersama rombongan kurban utama dalam sepuluh tarikan napas. Jika ada dupa yang padam atau salah posisi saat Tetua merapalkan mantra pertama, kalian semua akan kami lempar hidup-hidup ke kolam darah untuk menemani bejana-bejana itu!”

Para pelayan dapur gemetar ketakutan mendengar ancaman pembunuhan tersebut. Mereka buru-buru mempercepat langkah kaki mereka melintasi ambang pintu batu, memasuki aula gua altar air terjun dengan kepala tertunduk sedalam-dalamnya.

Begitu melangkah melewati tirai kabut mulut gua, suasana mencekam yang luar biasa seketika menelan mereka semua ke dalam kedinginan yang hampa.

Aula gua raksasa itu kini tidak lagi gelap gulita seperti saat Gu Yuan pertama kali menyusup kemarin. Di sekeliling dinding tebing dan di atas tiga puluh enam tiang batu obsidian, telah dinyalakan tiga puluh enam buah lentera darah—wadah tembaga berbentuk tengkorak yang membakar minyak lemak manusia purba dengan nyala api merah temaram yang berbau anyir menyengat. Cahaya merah darah yang berkedip-kedip itu memancarkan bayangan-bayangan panjang yang menari liar di dinding tebing batu kapur, mengubah aula gua menjadi ruangan neraka duniawi yang sunyi dan mengerikan.

Di tengah aula, kolam darah bundar selebar sepuluh langkah tampak tenang, memantulkan bayangan lentera merah di permukaannya yang kental. Bangkai Ular Sisik Lendir yang mati teracuni kemarin telah diseret ke ceruk sudut dinding dan ditutupi kain terpal hitam basah agar tidak mengganggu ritual.

Namun, pemandangan paling mengerikan terhampar di atas lempengan-lempengan marmer hitam di sekeliling kolam.

Tiga puluh lempengan batu marmer miring telah dipasang melingkari bibir kolam darah, masing-masing terhubung oleh parit kapiler kecil yang mengarah langsung ke mulut pipa tiang batu obsidian. Di atas lempengan-lempengan batu dingin itu, tiga puluh orang murid luar telah diikat telentang dengan tangan dan kaki terbelenggu rantai besi tebal pada pasak batu lantai.

Pakaian para murid luar itu telah dilucuti, menyisakan kain cawat compang-camping yang basah oleh air dan lumpur parit. Tubuh mereka kurus kering, pucat pasi keabu-abuan seperti mayat yang menunggu pembusukan di liang lahat. Pada kedua pergelangan tangan dan pergelangan kaki mereka yang diikat kencang, kulit mereka telah disayat tipis membentuk garis luka merah yang meneteskan darah lambat ke dalam parit marmer.

Di atas lempengan marmer nomor tujuh—tepat di samping tiang formasi yang telah disabotase Gu Yuan—terbaring tubuh kurus Xiao Wu.

Pemuda itu memejamkan matanya rapat-rapat, giginya bergemeletuk menahan dingin dan rasa sakit yang menyayat persendiannya. Darah segar menetes lambat dari pergelangan tangan kirinya yang tersayat, mengalir menyusuri parit marmer menuju pangkal tiang ketujuh yang telah dikikis simpulnya oleh Gu Yuan. Xiao Wu tampak pasrah sepenuhnya, seolah telah menyerahkan jiwanya kepada kematian yang tak terhindarkan.

Gu Yuan menahan sentakan di dalam dadanya sambil melangkah menuruni anak tangga aula bersama rombongan pelayan dapur. Matanya menyapu susunan tiang ketujuh dan tiang kedua belas; lapisan garam pemadam formasi yang ia pasang kemarin masih menempel utuh dan mengeras sempurna, tidak terdeteksi sedikit pun oleh para pengawal yang berjaga.

“Pelayan nomor empat dan lima! Letakkan nampan dupa kalian di sekeliling tiang ketujuh dan kedua belas!” perintah komandan pengawas di depan mimbar singgasana batu.

Gu Yuan menundukkan kepalanya dalam-dalam, memegang nampan tembaga berisi mangkuk dupa pembakar darah dengan cengkeraman tangan yang kokoh, lalu melangkah mantap menuju tiang ketujuh tempat Xiao Wu terbaring sekarat. Posisi berdirinya kini berada tepat di samping tiang sabotase, hanya berjarak sepuluh langkah dari singgasana sang jagal Mo Cheng.

1
Shiro Hoshinova
jir jadi kiko
Shiro Hoshinova
Apalagi ini woy
Helios
Hahaha lolos gara-gara botol arak
Ryo Hamada
Misah jalan sendirian mungkin pilihan paling cerdas buat hindarin kejaran sekte
Ryo Hamada
Mo Cheng kuat bgt ya berarti, udh turun ranah tapi masih bisa ancurin lantai
Ryo Hamada
Gas mumpung ada kesempatan
Ryo Hamada
Beneran dingin banget sikap MC kalau udh masalah keselamatannya. Realistis & gak naif, suka aku model MC yg kaya gini
Ryo Hamada
Xiao Wu mungkin ceroboh micu bel alarm, tapi kekacauan sekte justru nutupin langkah Gu Yuan menuju gua air terjun. Momentum pas jir
Ryo Hamada
Mungkin langsung masuk ke aula Mo Cheng itu langkah bunuh diri, tapi jalan mundur udah ketutup total. Harus main peran sampe tuntas.
Helios
Woy tahanan di bilik jangan teriak napa
Shiro Hoshinova: Fix inimah
total 1 replies
Shiro Hoshinova
Hawanya horor kerasa banget, keren thor!
Helios
Hoki seumur hidup kepake tuh pas kuncinya jatuh deket sepatu wkwkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!