Mati di medan perang modern, Alvaro sang prajurit pasukan khusus elit terlahir kembali di Aetheria—dunia yang dikuasai oleh sihir dan aura. Sialnya, ia terjebak dalam raga "Arya Denwick" Anak bangsawan 17 tahun berpenyakitan pewaris desa rawa miskin, yang baru saja didorong ke jurang kematian oleh Musuh yg tidak diketahui.
Tanpa "sistem" ajaib layaknya kisah pahlawan lain, Arya menolak takdir pecundangnya. Memadukan pernapasan yang ia ketahui di militer untuk memanipulasi energi aura dan mematikannya seni pedang dari Bumi, ia merakit ulang tubuh rusaknya.
dan menjadi penguasa sejati di kerajaan bahkan dunia tersebut!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinceArslan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Penolakan Raga dan Ingatan Masa Lalu
Cahaya matahari yang tadinya menerangi kamar perlahan bergeser, mengubah warna langit di balik jendela menjadi jingga kemerahan.
Arya menyingkirkan kursi kayunya ke sudut ruangan, memberikan ruang kosong yang cukup di tengah lantai. Ia duduk bersila di atas papan kayu yang berderit pelan di bawah bebannya. Menutup mata, ia mulai menggali kepingan ingatan pemilik asli tubuh ini, mencari satu hal spesifik yang pernah diajarkan Aran Denwick bertahun-tahun yang lalu.
Teknik pernapasan aura.
Di dunia Aetheria, memiliki fisik yang kuat saja tidak cukup untuk menjadi seorang ksatria. Tubuh manusia hanyalah sebuah wadah. Untuk memadatkan energi kehidupan menjadi senjata dan perisai yang tak tertembus, seseorang membutuhkan katalis. Katalis itu adalah teknik pernapasan. Setiap keluarga bangsawan dengan garis keturunan militer memiliki metode pernapasan rahasia yang dirancang untuk merangsang aliran darah, memompa oksigen ke titik-titik tertentu, dan memaksa energi laten di dalam tubuh untuk bangkit. Semakin murni dan cocok sebuah teknik pernapasan dengan penggunanya, semakin padat aura yang bisa dihasilkan.
Keluarga Denwick memiliki teknik mereka sendiri. Sebuah metode pernapasan bernada keras yang diwariskan secara turun-temurun, dirancang khusus untuk pertempuran garis depan yang meledak-ledak.
Arya memutar kembali ingatan masa kecil tubuh ini. Ia melihat sosok Aran yang berdiri menjulang di lapangan latihan berdebu, memberikan instruksi dengan suara baritonnya yang tegas.
“Tarik napas tajam melalui hidung selama dua ketukan jantung. Tahan di pangkal dada. Biarkan panasnya membakar paru-parumu. Lalu hembuskan dengan paksa melalui mulut bersamaan dengan ayunan pedangmu. Jangan biarkan energi itu mengalir pelan, paksa dia keluar!”
Arya menyesuaikan postur tubuhnya. Punggungnya ditegakkan, bahunya ditarik ke belakang untuk membuka rongga dada. Mengandalkan disiplin mentalnya yang terbentuk dari latihan bertahun-tahun di kehidupan sebelumnya, ia menyingkirkan semua suara dari luar. Tidak ada suara angin, tidak ada derit kayu. Hanya detak jantungnya sendiri.
Satu. Dua.
Ia menarik napas tajam. Oksigen masuk dengan cepat, mengisi paru-parunya yang sempit. Sesuai instruksi, ia menahan napas itu di pangkal dada.
Dalam hitungan detik, ia merasakan sesuatu terjadi. Ada sensasi hangat yang muncul di sekitar ulu hatinya, sebuah percikan energi kecil yang belum pernah ia rasakan di dunianya yang lama. Percikan itu nyata. Itu adalah cikal bakal aura.
Namun, saat Arya mencoba menekan energi itu dan menghembuskannya keluar dengan paksa sesuai teknik Denwick, percikan hangat itu berubah menjadi kobaran api yang tak terkendali.
Rasa sakit yang luar biasa menyengat rongga dadanya. Rasanya seolah ada ribuan jarum kecil yang ditusukkan secara bersamaan ke dinding paru-paru dan pembuluh darahnya. Arya tersedak, namun ia menolak untuk membuka mata. Mengandalkan toleransi rasa sakitnya, ia mencoba mengulangi siklus pernapasan itu.
Tarik. Tahan. Hembuskan paksa.
Satu jam berlalu. Keringat dingin mulai mengucur deras dari dahi Arya, membasahi perban di pelipisnya dan menetes ke lantai kayu. Tubuhnya bergetar hebat. Wajahnya pucat pasi, dan urat-urat kebiruan menonjol di lehernya.
Setiap kali ia memutar siklus pernapasan itu, percikan aura memang muncul, tetapi jalurnya terasa salah. Alih-alih mengalir ke otot untuk memberikan kekuatan, energi itu justru menabrak organ dalamnya secara brutal.
Dua jam. Tiga jam. Matahari di luar telah sepenuhnya tenggelam, digantikan oleh kegelapan malam.
Akhirnya, tubuh itu mencapai batas absolutnya.
Arya membuka mata dengan paksa, memiringkan tubuhnya ke samping, dan memuntahkan seteguk darah segar ke atas lantai kayu. Ia terbatuk-batuk keras, mencengkeram dadanya yang terasa seperti baru saja dihantam godam besi. Napasnya putus-putus, dan telinganya berdenging nyaring.
Ia berbaring telentang di lantai, menatap langit-langit kamar yang gelap sambil mengatur napasnya kembali ke ritme normal yang pelan.
Meskipun paru-parunya terasa terbakar, pikirannya justru bekerja dengan sangat jernih. Ia kini memahami dua hal penting.
Pertama, aura itu nyata, dan tubuh ini sebenarnya memiliki potensi untuk menghasilkannya.
Kedua, pantas saja Arya yang asli selalu sakit-sakitan dan memiliki tubuh yang rusak dari dalam. Teknik pernapasan keluarga Denwick adalah teknik tipe keras (hard style). Teknik itu dirancang untuk tubuh ksatria yang sudah prima, bertujuan memeras energi secara paksa untuk menghasilkan daya hancur yang meledak-ledak.
Menerapkan teknik sekeras itu pada tubuh anak remaja yang memiliki kapasitas paru-paru lemah dan pembuluh darah rapuh adalah sebuah bunuh diri perlahan. Arya yang asli begitu putus asa ingin diakui oleh ayahnya, sehingga ia terus-menerus memaksakan teknik tersebut selama bertahun-tahun. Bukannya membangkitkan aura, pemuda itu justru menghancurkan organ dalamnya sendiri setiap kali ia menarik napas. Energi yang seharusnya menjadi pelindung, malah merobek tubuhnya dari dalam.
"Meningkatkan tekanan air pada pipa yang retak hanya akan membuatnya meledak," gumam Arya pelan, mengusap sisa darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan.
Ia tidak bisa menggunakan warisan keluarganya. Jika ia memaksakan teknik Denwick sekali lagi, ia mungkin tidak akan mati karena didorong dari tebing, melainkan mati karena paru-parunya pecah di dalam kamar ini.
Arya memejamkan mata, membiarkan keheningan malam menyelimutinya. Jika teknik dunia ini tidak bisa digunakan, apa yang tersisa untuknya? Ia butuh sebuah katalis yang tidak merusak, sebuah metode pernapasan yang tidak memaksa energi keluar, melainkan mengumpulkannya secara perlahan dan menyembuhkan tubuh pada saat yang bersamaan.
Di tengah keheningan itu, pikirannya melayang ke masa lalu. Jauh ke kehidupan sebelumnya.
Ia teringat pada hari-hari di mana ia harus bertahan hidup di bawah kondisi fisik yang nyaris mustahil. Saat ia menjalani minggu-minggu seleksi pasukan khusus, berlari puluhan kilometer menembus hutan rawa dengan beban beban puluhan kilogram di punggung, tanpa tidur dan tanpa makanan yang cukup. Tubuh manusia dirancang untuk hancur di bawah tekanan seperti itu. Otot robek, asam laktat menumpuk, dan detak jantung berpacu hingga batas kegagalan.
Namun, instruktur militernya tidak mengajarkan mereka untuk meledakkan amarah atau memaksakan tenaga yang tersisa. Sebaliknya, mereka diajarkan sebuah metode pernapasan untuk bertahan hidup. Sebuah teknik relaksasi taktis tingkat tinggi.
Teknik itu dirancang untuk memperlambat detak jantung, memaksimalkan penyerapan oksigen ke setiap sel darah, dan memaksa sistem saraf tubuh masuk ke dalam kondisi pemulihan (recovery mode) secara instan. Teknik itu bukan untuk menghancurkan musuh, melainkan untuk memperbaiki tubuh yang hancur dari dalam dan memfokuskan pikiran setajam pisau bedah. Di unitnya, mereka kerap menyebut variasi pernapasan dalam ini dengan berbagai nama, tetapi esensinya sama: mengambil kendali mutlak atas fisiologi tubuh sendiri.
Arya membuka matanya perlahan.
Jika teknik pernapasan Denwick gagal karena sifatnya yang merusak dan menuntut tenaga luar biasa dari luar ke dalam, bagaimana jika ia membaliknya? Bagaimana jika ia menggunakan teknik pernapasan pemulihan dari militernya untuk menjinakan energi buas di dunia ini?
Di Bumi, teknik itu hanya menghasilkan relaksasi dan pemulihan stamina karena Bumi tidak memiliki Mana atau Aura. Tetapi di Aetheria, di mana udara dan tubuh manusia bereaksi terhadap cara seseorang bernapas... apa yang akan terjadi jika ia menerapkan pola itu di sini?
Perlahan, Arya memaksakan dirinya untuk kembali duduk bersila di atas lantai kayu yang dingin. Ia membersihkan sisa darah dari dagunya, menata kembali posisi bahunya, dan membuang semua udara kotor dari paru-parunya.
Ia tidak tahu apakah pernapasan taktis militer ini akan berhasil membangkitkan aura, atau justru sekadar menjadi usaha yang sia-sia. Namun, sebagai seorang prajurit yang terbiasa menguji batas kemungkinan, tidak ada salahnya mencoba.
Arya menutup matanya, dan mulai mengambil tarikan napas pertamanya dengan ritme yang sama sekali baru.
👍