Setiap hari aku difitnah mertuaku.
_"Kamu pembawa sial! Perempuan boros!"_
Aku berharap suamiku, Arman, membelaku. Tapi ia hanya diam.
_"Maafkan Ibu, Alya. Aku gak mau jadi anak durhaka."_
Sampai akhirnya aku diusir dan diceraikan di depan anak-anakku.
_"Talak satu aku jatuhkan padamu."_
Kini aku janda dua anak, hidup dari jualan kue sambil menahan gunjingan.
Saat aku mulai bahagia dengan Farhan, mantan suamiku datang ingin rujuk.
Bukan aku yang jahat, Mas. Kenapa semua menyalahkanku?
Note :
Dilarang boom like ❌
Dilarang lompat bab ❌
Jika kalian suka dengan cerita ini,jangan lupa tinggalkan jejak dengan like ,komen dan jangan pelit-pelit untuk kasih vote & kotak hadiahnya 🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 Mencari
Hari berikutnya, tepat jam enam pagi, Arman sudah di atas motornya.
Semalam ia tidak tidur sama sekali setelah mendengar cerita ibunya yang pulang dari pasar didesa sebelah. Kata itu terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
Tekatnya sudah bulat dia harus kesana. Ia, harus menemukan Alya, Nisa, dan Raffi hari ini juga.
"Aku mau cari Alya, Bu," ucap Arman singkat sambil memakai helm.
Bu Ratna yang sedang menyeduh teh di dapur hanya melirik sinis.
"Buat apa dicari, Man? Buat apa? Dia sudah enak hidupnya di sana. Ibu lihat sendiri kemarin belanjaannya banyak, bajunya baru. Pasti sudah ada yang biayain hidupnya.Kamu mau ngapain kesana? Mau mempermalukan diri sendiri?"
Arman tidak menjawab. Ia sudah hafal dengan racun yang keluar dari mulut ibunya. Ia langsung menarik gas motornya dan pergi meninggalkan rumah.
Desa sebelah itu bernama Desa Suka Makmur. Desa yang lebih sepi dari desanya. Jalanannya masih banyak yang tanah, di kanan kiri hanya sawah yang luas membentang. Rumah-rumah warga jarang-jarang, tidak seperti di desanya yang padat.
Arman mulai menyusuri desa itu dari ujung ke ujung.
Ia berhenti di setiap warung yang ia temui.
"Permisi Bu, maaf Bu, pernah lihat perempuan ini nggak Bu? Namanya Alya, bawa dua anak kecil, satu perempuan umur empat tahun, satu laki-laki masih bayi," tanya Arman sambil menunjukkan foto di HP nya. Foto terakhir Alya saat menggendong Raffi.
Ibu warung itu mengernyitkan dahi, menatap foto itu lama.
"Wah, nggak pernah lihat, Nak. Cantik ya istrinya. Coba tanya ke warung depan sana, Nak, siapa tau ada yang lihat."
Arman mengangguk kecewa dan melanjutkan perjalanan.
Di warung kedua, jawabannya sama.
"Nggak pernah lihat, Mas. Di sini jarang ada orang baru lewat."
Di warung ketiga, keempat, kelima. Semua jawaban sama. Nihil.
Arman mulai merasa putus asa. Ia sudah keliling desa itu hampir tiga jam, bolak-balik sampai bensin motornya hampir habis. Tapi tidak satu pun warga yang mengenali wajah Alya.
Yang tidak diketahui Arman, rumah Ustadzah Munah itu memang bukan di tengah desa. Rumah itu berada di perbatasan paling ujung.
Rumah besar satu-satunya yang jauh dari tetangga dan warga lain. Di ujung jalan buntu yang dekat dengan persawahan dan kebun mangga yang sangat luas. Untuk sampai ke sana harus melewati jalan setapak kecil yang tertutup pohon-pohon jati. Orang desa jarang lewat ke sana karena mengira rumah itu sudah kosong sejak Pak Karim, tukang kebunnya, pulang kampung.
Arman sudah dua kali lewat di depan gang kecil menuju rumah Ustadzah Munah, tapi ia tidak belok karena gang itu terlihat sepi, banyak semak, dan tidak ada tanda-tanda kehidupan. Ia mengira itu hanya jalan menuju sawah.
"Di mana kamu, Ly..." gumam Arman lirih di atas motornya. Suaranya serak.
Siang itu matahari terik sekali. Keringat Arman bercucuran. Bukan hanya karena panas, tapi karena gelisah.
Ia berhenti di bawah pohon beringin besar dekat sawah. Ia turun dari motor dan duduk di pematang sawah sambil memegangi kepalanya.
Foto Nisa dan Raffi di wallpaper HP nya ia tatap terus-menerus.
"Nisa... Raffi... Ayah kangen..."
Ia mencoba menelepon nomor Alya lagi untuk kesekian ratus kalinya. Tetap tidak aktif. Nomornya sudah tidak dipakai Alya sejak sebulan yang lalu karena Alya takut dilacak.
Arman merasa semakin gelisah karna belum bisa menemukan anak dan istrinya.Bayangan Nisa yang memanggil-manggil ayah di pasar kemarin seperti yang diceritakan ibunya, padahal itu hanya karangan ibunya, justru menghantui Arman.
Ia membayangkan Alya sedang kesusahan, kelaparan di jalan, tidur di emperan toko membawa dua anaknya.
Padahal kenyataannya, Alya sedang tertawa bersama Nisa di kebun mangga, memanen terong sambil menyimpan uang tabungan untuk sekolah Nisa.
Sore harinya, Arman pulang dengan tangan hampa.
Bu Ratna menyambutnya di depan pintu dengan senyum puas yang ia tutupi.
"Gimana, Man? Ketemu? Ibu kan sudah bilang, nggak usah dicari. Dia sengaja ngumpet, Man, biar kamu penasaran."
Arman tidak menjawab. Ia langsung masuk ke kamar, membanting pintu dan mengunci diri.
Malam itu adalah malam terburuk bagi Arman.
Ia berbaring di kasur yang dulu ia tempati bersama Alya. Bantal Alya masih ada di sana, masih ada bau sampo Alya yang samar-samar.
Ia memejamkan mata, tapi yang muncul hanya wajah Nisa yang menangis.
Arman membuka mata, menatap langit-langit kamar. Dadanya sesak.
Ia bangun, mengambil wudhu, dan sholat Isya sendirian di kamar. Setelah sholat, ia tidak langsung berdiri. Ia duduk lama di atas sajadah.
"Ya Allah... di mana istriku dan anak-anakku... tolong jaga mereka... tolong beri aku petunjuk..."
Air matanya jatuh membasahi sajadah itu.
Ia baru tidur jam dua pagi karena kelelahan menangis.
Dan hari berikutnya, Arman tetap pergi bekerja meskipun hati dan pikirannya terus saja memikirkan Alya.
Di kantor, ia tidak bisa fokus. Beberapa kali ia salah ketik laporan. Teman kerjanya, Doni, menepuk pundaknya.
"Man, kamu kenapa sih? Sudah sebulan kamu kayak zombie. Istri kamu belum ketemu juga?"
Arman menggeleng lemah.
"Belum, Don. Sudah aku cari ke desa sebelah, nggak ada yang mengenali alya.
"Desa sebelah yang mana? Suka Makmur?"
"Iya."
Doni berpikir sejenak.
"Man, di ujung Desa Suka Makmur itu kan ada rumah besar punya Ustadzah Munah. Katanya rumahnya di perbatasan sawah, jauh dari warga. Coba kamu cari ke sana. Siapa tau istrimu numpang di sana. Ustadzah itu kan terkenal baik, suka nolong orang."
Jantung Arman langsung berdegup kencang.
Rumah besar di ujung desa. Dekat persawahan Jauh dari warga.
Ia ingat, kemarin ia melewati sebuah gang kecil yang sepi dengan pohon jati yang rindang. Gang yang ia kira hanya jalan ke sawah.
Jangan-jangan...
Tanpa pikir panjang, Arman langsung berdiri dan mengambil kunci motornya.
"Don, aku izin pulang dulu ya. Ada yang harus aku cek."
"Man, ini masih jam kerja!"
Tapi Arman sudah berlari keluar kantor.
Ia melajukan motornya dengan kencang. Lebih kencang dari kemarin. Kali ini ia punya tujuan yang jelas.
Ujung desa. Rumah besar dekat persawahan. Rumah Ustadzah Munah.
Di rumah kecil pojok kebun mangga, Alya sedang menyuapi Raffi bubur, sama sekali tidak tahu bahwa suaminya sedang menuju ke arahnya.
Dan di rumah besar, Bu Ratna sedang sibuk menelepon adiknya lagi, membahas tentang janda pemilik toko emas yang akan dijodohkan dengan Arman, tanpa tahu bahwa anaknya sebentar lagi akan menemukan kebenaran yang selama ini ia tutupi.
Bersambung...