Laras, ibu rumah tangga yang setia, tak sengaja membaca pesan mesra di ponsel suaminya, Dimas. Perempuan di balik pesan itu ternyata Vania, tetangga baru yang selama ini bersikap ramah padanya.
Laras hancur, tapi ia memilih diam dan mengumpulkan bukti. Saat melihat Reza, suami Vania, yang tulus mencintai istrinya, ia memutuskan membalas dengan cara yang sama: merebut apa yang paling Vania sayangi.
Namun semakin dalam Laras bermain, semakin kabur batas antara dendam dan perasaan. Rahasia masa lalu Vania dan Reza mulai terbuka, dan Laras harus memilih antara menuntaskan pembalasan atau menyelamatkan dirinya dan Kenzo, anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUMAH BU TUTI
Rumah itu berdiri di ujung gang sempit di kawasan kota tua, rumah satu lantai dengan cat hijau pudar dan pagar besi yang berkarat di engselnya. Halamannya ditumbuhi rumput liar setinggi lutut. Tirai di jendela depan tertutup rapat, dan di pintu tergantung gembok kuningan yang sudah berdebu.
"Rumah ini kosong sejak Bu Tuti dirawat di rumah sakit," kata Hendarto sambil memeriksa gembok. "Tidak ada ahli waris langsung. Anaknya meninggal bertahun-tahun lalu, suaminya lebih dulu. Seharusnya tidak ada yang masuk ke sini."
"Seharusnya," ulang Mira pelan.
Mereka bertiga berdiri di depan pagar sore itu: Laras, Mira, dan Hendarto, ditemani dua petugas berpakaian preman yang berjaga di ujung gang. Reza tidak ikut. Ia memilih tinggal di rumah sakit menjaga Dimas dan menemani Vania yang kelelahan, sambil membawa wasiat asli ke pengacara yang direkomendasikan Hendarto.
Hendarto mengeluarkan seutas kawat kecil dari sakunya dan, dalam hitungan detik, gembok itu terbuka dengan bunyi klik pelan.
"Saya tidak punya surat perintah penggeledahan," katanya datar. "Jadi anggap kita cuma tiga orang yang kebetulan lewat dan mendengar sesuatu di dalam."
Mereka masuk.
Udara di dalam rumah pengap dan berbau debu bercampur wangi samar yang tak cocok dengan keadaan sekitarnya: minyak melati. Wangi yang segar, seperti baru dioleskan kemarin.
Laras berhenti di ambang ruang tamu. Ia memandangi lantai ubin yang tertutup lapisan debu tipis. Di debu itu, tercetak jelas jejak sepatu. Kecil, ramping, berulang-ulang dari pintu depan ke arah koridor belakang.
"Ada yang sering ke sini," bisiknya.
Hendarto berjongkok, menyorotkan senter. "Perempuan. Ukuran sepatu sekitar tiga puluh enam atau tiga puluh tujuh. Dan jejaknya baru. Paling lama dua hari."
Mira merapatkan diri di sisi Laras. "Siapa pun T itu, dia nggak mati. Dan dia sering bolak-balik ke sini."
Mereka mengikuti jejak itu menyusuri koridor sempit. Di ujungnya ada pintu kayu yang tertutup, dengan celah cahaya redup di bawahnya, cahaya lampu belajar, bukan lampu rumah yang mati. Hendarto mengangkat tangan, memberi isyarat agar mereka berhenti, lalu mendorong pintu itu perlahan dengan ujung sepatu.
Pintu itu berayun terbuka tanpa suara.
Ruangan di baliknya bukan kamar tidur. Bukan pula ruang kerja biasa. Dindingnya, dari lantai hingga langit-langit, tertutup foto-foto, ratusan lembar, ditempel dengan selotip, dijepit dengan peniti, ditata rapi dalam kolom-kolom yang jelas tak dibuat sembarangan.
Laras melangkah masuk dengan napas tertahan.
Foto-foto itu semuanya sama. Pemandangan sehari-hari yang diambil dari jauh, dari sudut yang tak disadari subjeknya. Seorang perempuan menyapu halaman. Perempuan yang sama menjemur pakaian. Menggandeng anak lelaki kecil ke sekolah. Duduk sendirian di bangku taman sambil menunduk menatap ponsel.
Wajah perempuan itu adalah wajahnya sendiri.
"Ya Tuhan," bisik Mira.
Laras menyusuri dinding dengan tangan gemetar. Foto-foto itu bukan hanya dari beberapa minggu terakhir. Ada yang berwarna kusam, jelas lebih tua. Ia dengan rambut panjang dan seragam putih abu-abu. Ia di hari wisuda. Ia di depan gedung pengantin, tersenyum di samping Dimas yang masih muda, menggenggam buket mawar putih. Ia menggendong Kenzo bayi di halaman rumah sakit.
Seseorang sudah mengikuti hidupnya selama bertahun-tahun, lebih lama dari yang bisa ia bayangkan.
"Bu Laras." Suara Hendarto terdengar tegang. "Sini. Lihat ini."
Ia berdiri di depan sebuah meja kerja kayu tua di sudut ruangan. Di atasnya tertata rapi lampu belajar, tumpukan buku catatan, sebuah kalender duduk, dan satu bingkai foto kecil yang menghadap ke arah kursi, seolah dipandangi setiap hari.
Laras mendekat dan mengambil bingkai itu.
Foto hitam putih yang sudah menguning. Dua perempuan muda berdiri berdampingan di depan sebuah toko kain, saling merangkul, tertawa lepas ke arah kamera. Yang di sebelah kiri bertubuh mungil dengan rambut sebahu dan senyum yang Laras kenal sejak kecil.
Itu ibunya.
Dan yang di sebelah kanan, lebih tinggi, rambut disanggul rapi, mata tajam dan cerdas, mengenakan kebaya sederhana...
"Bu Tuti," kata Hendarto, menatap foto di tangannya. "Itu Bu Tuti waktu muda."
Laras merasa lantai bergoyang di bawah kakinya. Ia membalik bingkai itu. Di punggung kayunya tertulis dengan tinta pudar:
*Sumi dan Tuti, 1978. Sahabat sejati.*
Sumi. Nama ibunya.
"Ibuku..." suara Laras nyaris tak keluar. "Ibuku dan Bu Tuti bersahabat?"
"Kamu nggak pernah dengar nama Bu Tuti dari ibumu?" tanya Mira pelan.
"Tidak. Tidak pernah. Sekali pun." Laras memandangi wajah muda ibunya dalam foto itu, wajah yang tertawa lepas tanpa beban. "Ibu pernah bilang waktu kecil dulu dia punya sahabat yang pindah jauh. Tapi dia nggak pernah sebut nama."
Ia teringat tatapan ibunya tadi pagi di ambang pintu. *Ibu tahu dari suaramu waktu telepon semalam.* Dan kalimat itu, yang waktu itu terdengar seperti penghiburan biasa: *Apa pun yang terjadi, kamu tetap anak Ibu.*
Seolah sudah tahu apa yang akan terjadi.
Hendarto mengambil kalender duduk dari meja dan membalik halaman terakhirnya. Tanggal hari ini dilingkari tinta merah. Di bawahnya tertulis satu baris dengan tulisan miring yang kini terasa terlalu akrab:
*R akan datang ke gudang. L akan menyusul. Siapkan segalanya.*
Dan di bawahnya, tanggal esok, dilingkari lebih tebal:
*Beri tahu Sumi.*
Mira menarik napas tajam. "Ras..."
"Aku tahu," potong Laras. Matanya tak lepas dari dua kata itu. "Aku tahu, Mir."
Ia meletakkan bingkai foto itu kembali dengan tangan gemetar, lalu merogoh ponsel dari saku jaket. Nomor ibunya ada di daftar panggilan cepat. Nada sambung berbunyi satu kali, dua kali, tiga kali.
"Halo, Nak?"
Suara ibunya terdengar lembut dan hangat, sama seperti sepanjang hidup Laras mengenalnya. Dan untuk pertama kalinya, suara itu terdengar seperti sesuatu yang harus ia teliti dengan hati-hati.
"Bu," kata Laras. Suaranya datar, sangat pelan. "Ibu kenal Bu Tuti?"
Hening.
Hening yang terlalu lama. Dari seberang hanya terdengar suara napas dan, samar, tawa Kenzo di latar belakang yang bermain dengan sesuatu.
"Ibu tahu kamu akan tanya," kata Sumi akhirnya. Suaranya tidak lagi hangat. Ia terdengar tua dan letih, seperti seseorang yang baru saja meletakkan beban yang ia pikul puluhan tahun. "Pulanglah, Nak. Ada yang harus Ibu ceritakan. Sudah lama sekali Ibu simpan."
"Siapa T, Bu?"
"Datanglah dulu. Jangan lewat telepon."
"Bu..."
"Sendirian, Laras. Jangan bawa siapa-siapa."
Sambungan terputus. Laras menurunkan ponselnya perlahan, tangannya dingin.
Hendarto menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Ibu tidak boleh pergi sendirian."
"Itu ibuku, Pak."
"Dan ibu Anda baru saja menyembunyikan sesuatu selama puluhan tahun. Bu Laras, saya mengerti perasaan Ibu, tapi kita belum tahu apakah dia korban, saksi, atau bagian dari ini semua."
"Dia ibuku," ulang Laras, kali ini dengan suara yang nyaris bergetar marah. "Dia membesarkanku sendirian setelah ayahku meninggal. Dia menggendong Kenzo di saat aku nggak sanggup. Aku nggak akan memperlakukan dia seperti tersangka."
"Tidak ada yang meminta Ibu begitu. Tapi pergilah dengan pengawasan." Hendarto menatapnya tegas. "Dua petugas akan mengikuti dari kejauhan. Mira juga akan ikut, menunggu di mobil. Kalau Ibu memberi isyarat, kami masuk."
Laras menimbang, lalu mengangguk perlahan.
Saat ia berbalik hendak keluar, matanya sekali lagi menyapu dinding penuh foto itu. Ratusan wajahnya sendiri menatap balik dari segala arah, seolah seluruh hidupnya telah diamati dengan telaten oleh seseorang yang mengasihinya, atau mengawasinya.
Dan di sudut paling atas dinding, hampir tersembunyi di balik bayangan, ada satu foto yang berbeda dari yang lain. Foto terbaru. Diambil pagi tadi, dari balik pagar rumah ibunya.
Di dalamnya, Laras berdiri di teras sambil memeluk Kenzo. Dan di belakang mereka, tampak jelas di ambang pintu, ibunya berdiri menatap ke arah kamera, bukan ke arah anak dan cucunya.
Seolah tahu persis ada yang sedang memotret. Seolah sedang berpose.