Di mata masyarakat, keluarga Valerius adalah keluarga pengusaha terpandang dan salah satu keluarga terkaya di kota. Namun di balik kemewahan mansion mereka, keluarga Valerius merupakan salah satu keluarga mafia paling berkuasa dan ditakuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mona28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PRIA DI BALIK PINTU SERIGALA
“Apa maksudmu?”
Suara Raka memecah keheningan di depan rumah tua Bukit Arvantis.
Tidak ada jawaban dari dalam bangunan. Hanya suara angin malam yang melewati pepohonan dan derit pintu tua yang bergerak perlahan. Cahaya lampu dari kendaraan mereka menerangi sebagian lorong, tetapi bagian terdalam rumah itu tetap gelap.
Aren berdiri di antara Riven dan Leon. Jari-jarinya mencengkeram gelang serigala di pergelangan tangan. Ia masih mengingat kalimat pria misterius tadi.
Tanyakan kepada Adrian Valerius siapa yang sebenarnya menyelamatkanmu pada malam keluarga Ravencroft dihancurkan.
Aren menoleh kepada ayah angkatnya.
“Ayah?”
Adrian tidak langsung menjawab.
Tatapannya tertuju pada pintu yang terbuka. Wajahnya tampak tegang, sementara tangannya mengepal di sisi tubuh.
“Ayah mengenal orang itu?” tanya Aren sekali lagi.
“Aku tidak tahu siapa yang berada di dalam,” jawab Adrian akhirnya. “Namun, aku mengenali kalimat yang dia ucapkan.”
“Kalimat tentang malam ketika keluarga Ravencroft dihancurkan?”
Adrian mengangguk pelan.
Raka segera berdiri di hadapan ayahnya.
“Ayah, apa yang sebenarnya terjadi malam itu?”
“Bukan di sini tempatnya membicarakan semuanya.”
“Kalau begitu, kita masuk dan mencari jawabannya,” kata Darren.
“Tidak,” potong Raka. “Kita tidak akan masuk ke bangunan asing hanya karena seseorang membuka pintu dan memanggil nama Aren.”
Riven mengangguk setuju.
“Untuk sekali ini, aku sepenuhnya sependapat dengan Kak Raka. Orang itu jelas sengaja memancing kita.”
Dari dalam rumah, terdengar suara tawa pendek.
“Kalian berlima masih sama seperti dulu. Selalu menganggap bahwa mengelilingi seseorang dengan perlindungan berarti kalian bisa mengendalikan nasibnya.”
Riven langsung mengangkat wajah.
“Kalau kau punya sesuatu untuk dikatakan, keluarlah!”
“Aku tidak datang untuk berbicara denganmu, Riven Valerius.”
“Kalau begitu, kau berbicara denganku sekarang!”
“Riven,” tegur Leon.
Riven mendecakkan lidah, tetapi ia tidak melanjutkan perkataannya.
Suara dari dalam kembali terdengar.
“Aren, aku tahu kau ingin mengetahui kebenaran tentang ibumu. Aku juga tahu kau ingin mengetahui mengapa gelang itu begitu penting. Jawabannya berada di ruang arsip bawah tanah.”
Aren menelan ludah.
“Kenapa aku harus memercayaimu?”
Pertanyaan itu membuat semuanya terdiam.
Untuk pertama kalinya, suara dari dalam rumah tidak langsung menjawab.
Lalu pria itu berkata, “Kau tidak perlu memercayaiku. Kau hanya perlu memeriksa sendiri apa yang kutinggalkan.”
Raka menoleh kepada Kian.
“Bisakah kau memeriksa bagian dalam bangunan tanpa membuat kita masuk?”
“Aku akan mencoba.”
Kian mengeluarkan perangkat kecil dan mulai memeriksa sinyal di sekitar rumah. Darren menghubungi tim keamanan yang berjaga di luar, sedangkan Raka meminta dua penjaga memeriksa sisi bangunan dari jarak aman.
Beberapa menit berlalu sebelum Kian mengangkat wajah.
“Ada perangkat elektronik aktif di lantai dua. Sinyalnya lemah, tetapi cukup untuk memastikan bahwa ada sesuatu yang masih beroperasi di sana.”
“Bisa jadi kamera,” kata Darren.
“Atau perangkat komunikasi,” tambah Kian. “Aku belum bisa memastikan.”
“Bagaimana dengan orang di dalam?” tanya Leon.
“Aku tidak bisa memastikan jumlah orang yang berada di sana. Struktur bangunan terlalu tebal untuk pembacaan yang akurat.”
Raka mengembuskan napas.
“Kita tidak akan berpencar. Semua tetap bersama.”
Adrian akhirnya melangkah maju.
“Aku akan masuk.”
“Tidak,” jawab Raka tegas.
Adrian menatap putra sulungnya.
“Raka.”
“Ayah tidak tahu siapa yang menunggu di dalam. Kami tidak akan membiarkan Ayah masuk sendirian.”
“Aku tidak mengatakan akan masuk sendirian.”
“Kalau begitu, kita masuk bersama setelah tim memastikan jalurnya aman,” kata Raka.
Aren mengamati percakapan itu dalam diam.
Ia menyadari bahwa ayahnya sedang menyembunyikan sesuatu. Bukan karena Adrian tidak ingin melindunginya, melainkan karena ada bagian dari masa lalu yang masih terlalu menyakitkan untuk diungkapkan.
Namun, Aren tidak ingin terus menjadi anak yang hanya mendengar setengah cerita.
“Ayah,” katanya pelan, “aku ingin tahu apa yang terjadi malam itu.”
Adrian menatapnya.
“Aku tahu.”
“Kalau Ayah memang menyelamatkanku, aku ingin tahu bagaimana caranya. Kalau ada sesuatu yang Ayah sesali, aku juga ingin mengetahuinya.”
“Aren, ada hal-hal yang mungkin akan membuatmu terluka.”
“Aku sudah terluka karena tidak mengetahui apa-apa.”
Kalimat itu membuat Adrian terdiam.
Aren menunduk sejenak, kemudian melanjutkan dengan suara yang lebih tenang.
“Aku tidak akan membenci Ayah hanya karena masa lalu yang belum aku pahami. Tapi aku ingin Ayah berhenti memperlakukanku seolah-olah aku terlalu lemah untuk mengetahui kebenaran.”
Raka memandang adik bungsunya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Darren menghela napas pelan, sedangkan Leon menatap Aren dengan penuh pengertian.
Riven meremas bahu adiknya.
“Adik kita sudah besar, ternyata.”
Aren meliriknya.
“Kakak jangan merusak suasana.”
“Baik, baik.”
Adrian akhirnya mengangguk.
“Setelah kita memeriksa tempat ini, aku akan menceritakan semua yang kuketahui. Aku berjanji.”
Aren menatap ayahnya beberapa detik, memastikan bahwa janji itu sungguh-sungguh.
Kemudian ia mengangguk.
“Baik, Ayah.”
Setelah tim keamanan memastikan bahwa tidak ada gerakan mencurigakan di sekitar pintu utama, Raka memutuskan untuk memasuki rumah tua tersebut bersama keluarga dan beberapa penjaga.
Mereka bergerak dengan hati-hati melewati lorong yang berdebu.
Rumah itu memiliki arsitektur lama dengan langit-langit tinggi, dinding berpanel kayu gelap, dan lukisan-lukisan keluarga yang sebagian besar telah rusak. Beberapa perabot ditutupi kain putih, sementara lantainya dipenuhi jejak debu yang menunjukkan bahwa bangunan itu sudah lama tidak dihuni secara normal.
Namun, ada sesuatu yang terasa ganjil.
Di tengah semua kerusakan itu, sebuah lorong di sebelah kiri tampak jauh lebih bersih daripada bagian lainnya.
Kian menyorot lantai dengan lampu perangkatnya.
“Ada jejak kaki baru.”
Raka memberi isyarat agar semua orang berhenti.
“Jangan menyentuh apa pun.”
Aren memperhatikan dinding di dekat lorong tersebut. Di sana tergantung sebuah lukisan besar yang menggambarkan dua keluarga berdiri bersama di depan rumah yang sama.
Ia mengenali Adrian yang masih muda.
Di sebelah Adrian berdiri seorang pria yang ia yakini sebagai Alistair Valerius. Sementara di sisi lain terdapat Armand Ravencroft.
Ketiganya tersenyum di dalam lukisan itu, seolah mereka tidak pernah menjadi bagian dari perang panjang yang menghancurkan hubungan kedua keluarga.
“Ayah,” panggil Aren.
Adrian berdiri di sampingnya.
“Itu lukisan kapan?”
“Beberapa bulan sebelum tragedi tersebut.”
“Apakah Ayah masih mengingat hari itu?”
Adrian menatap lukisan itu lama sekali.
“Ya. Aku mengingatnya.”
“Apakah saat itu Ayah sudah mengenal Ibu?”
“Sudah. Elena dan aku tidak selalu sepakat mengenai banyak hal, tetapi kami saling menghormati. Dia sangat cerdas, Aren. Dia mampu melihat kebohongan bahkan ketika orang yang mengucapkannya terlihat sangat meyakinkan.”
Aren tersenyum tipis.
“Sepertinya aku mewarisi sifat itu.”
Adrian menoleh kepadanya. Untuk sesaat, kesedihan di wajahnya digantikan kelembutan.
“Ya. Kamu memang mirip dengannya dalam beberapa hal.”
Dari ujung lorong, Raka memanggil mereka.
“Kami menemukan sesuatu.”
Di balik sebuah lemari kayu tua, terdapat pintu besi dengan lambang kepala serigala. Di bawah lambang itu terukir tiga huruf yang sama seperti pada gelang Aren.
A.R.V.
Aren mendekat perlahan.
“Ini pintu yang disebutkan Ibu.”
Viktor mengangguk.
“Ruang arsip keluarga Ravencroft.”
Kian memeriksa panel kecil di samping pintu.
“Tidak ada lubang kunci biasa. Sepertinya mekanismenya menggunakan sistem identifikasi khusus.”
Aren mengangkat pergelangan tangannya.
“Gelangku?”
“Mungkin,” jawab Kian. “Tapi kita tidak akan mencoba sembarangan sebelum memahami mekanismenya.”
Ia memeriksa permukaan panel dan menemukan sebuah tempat kecil berbentuk kepala serigala.
“Bentuknya cocok dengan ornamen gelangmu.”
Raka menatap Aren.
“Kamu tidak perlu melakukannya kalau tidak nyaman.”
Aren memandangi pintu besi itu.
Selama ini, ia mengira gelang hitam tersebut hanyalah peninggalan masa kecil yang tidak memiliki arti khusus. Kini, ia berdiri di hadapan sebuah pintu yang mungkin telah menunggu kedatangannya selama tujuh belas tahun.
“Aku ingin mencoba.”
Raka terdiam sejenak sebelum mengangguk.
“Baik. Kian, pastikan tidak ada sesuatu yang berbahaya sebelum Aren mendekat.”
Kian memeriksa panel sekali lagi. Setelah memastikan tidak ada tanda kerusakan yang terlihat, ia memberi isyarat kepada Aren.
Aren mengangkat tangannya dan mendekatkan ornamen gelang ke tempat yang tersedia.
Terdengar bunyi klik pelan.
Lampu kecil di panel menyala.
Kemudian, suara mekanis terdengar dari balik pintu.
IDENTITAS DITEMUKAN.
Semua orang saling berpandangan.
Suara itu kembali terdengar.
PEWARIS RAVENCROFT TERDETEKSI.
Aren membeku.
Riven segera merangkul bahunya.
“Tenang, Dek. Kami di sini.”
Pintu besi itu terbuka perlahan.
Di baliknya terdapat tangga sempit yang menurun menuju ruangan bawah tanah. Lampu-lampu kecil di sepanjang dinding menyala satu per satu, seolah sistem tersebut baru saja terbangun dari tidur panjangnya.
Raka memberi isyarat kepada tim keamanan untuk memeriksa bagian depan sebelum mereka turun.
Setelah jalurnya dinyatakan aman, mereka bergerak bersama menuju ruang arsip.
Ruangan itu jauh lebih besar daripada yang mereka bayangkan.
Rak-rak logam memenuhi dinding. Berbagai kotak dokumen tersusun rapi, sementara beberapa lemari kaca berisi benda-benda lama yang tampak sangat berharga. Di bagian tengah terdapat meja besar dengan sebuah terminal komputer yang masih menyala.
Dan di atas meja itu, terdapat sebuah foto.
Foto Elena Ravencroft sedang menggendong Aren.
Di belakang foto tersebut, seseorang menuliskan sebuah kalimat.
Jika kau sudah sampai di sini, berarti aku gagal menyembunyikanmu.
Aren mengambil foto itu dengan tangan gemetar.
“Ibu…”
Leon berdiri di sampingnya.
“Kamu tidak perlu membaca semuanya sekarang jika belum siap.”
“Aku siap, Kak.”
Aren meletakkan foto tersebut dengan hati-hati dan memeriksa dokumen yang ada di sekitarnya.
Di antara tumpukan kertas, ia menemukan sebuah map berwarna hitam dengan tulisan putih di bagian depan.
PROYEK SERIGALA HITAM — BERKAS R-17.
Kian langsung mendekat.
“Ini berkas yang kita temukan di jaringan lama.”
Ia membuka map tersebut dengan hati-hati.
Halaman pertama berisi daftar nama, tanggal, dan catatan tentang proyek yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Namun, sebagian besar informasi ditutupi tanda penghapusan.
Pada halaman kedua terdapat sebuah foto Armand Ravencroft.
Di bawahnya tertulis:
Subjek R-17 merupakan pewaris garis keluarga Ravencroft. Keberadaannya memiliki hubungan langsung dengan akses arsip utama.
Darren mengerutkan kening.
“Mereka tidak hanya mengincar Aren karena dia anak Armand. Mereka membutuhkan sesuatu yang hanya bisa diakses olehnya.”
“Pertanyaannya adalah apa yang mereka cari,” kata Raka.
Kian membalik halaman berikutnya.
Di sana terdapat daftar nama orang-orang yang terlibat dalam proyek tersebut.
Alistair Valerius.
Armand Ravencroft.
Gabriel Soren.
Dan satu nama lain yang membuat Adrian mendadak mundur selangkah.
Nama yang tidak pernah mereka duga akan muncul di sana.
ADRIAN VALERIUS.
Aren mengangkat wajah.
“Ayah?”
Adrian menatap dokumen itu dengan ekspresi yang sulit dibaca.
Raka segera berdiri di sampingnya.
“Ayah, apa maksudnya ini?”
Adrian menggeleng pelan.
“Aku tidak pernah menjadi bagian dari proyek tersebut.”
“Namun, nama Ayah tercantum di dalamnya,” kata Kian.
“Aku tahu.”
“Kalau begitu, Ayah harus menjelaskan.”
Adrian memejamkan mata sesaat.
Ketika membukanya kembali, tatapannya tertuju kepada Aren.
“Tujuh belas tahun lalu, aku memang pernah diminta membantu penyelidikan yang dilakukan ayahku dan Armand. Tetapi aku tidak mengetahui bahwa penyelidikan itu kemudian berubah menjadi proyek yang melibatkan Aren.”
“Apakah Ayah tahu bahwa Ibu sedang menyelamatkanku?” tanya Aren.
“Ya.”
“Apakah Ayah tahu bahwa orang-orang itu akan memburuku?”
“Aku mengetahui bahwa kamu berada dalam bahaya. Aku tidak mengetahui siapa yang akan datang mencarimu atau apa yang mereka inginkan darimu.”
Aren terdiam.
Ia ingin memercayai ayah angkatnya. Namun, nama Adrian yang tercantum di dalam dokumen membuat semuanya terasa jauh lebih rumit.
Sebelum ia sempat bertanya lagi, terminal komputer di meja mendadak menyala lebih terang.
Layar yang sebelumnya menampilkan tulisan acak berubah menjadi sebuah rekaman video.
Seorang pria tua muncul di sana.
Rambutnya telah memutih, wajahnya dipenuhi kerutan, tetapi matanya masih tajam. Ia duduk di sebuah ruangan dengan lambang serigala di belakangnya.
Adrian menatap layar dengan napas tertahan.
“Ayah…”
Pria dalam rekaman itu adalah Alistair Valerius.
Kakek Aren.
Rekaman tersebut mulai diputar.
“Jika rekaman ini ditemukan, berarti rencana kami telah gagal dan pewaris Ravencroft telah kembali ke ruang arsip.”
Alistair berhenti sejenak, seolah sedang memilih kata-kata.
“Anak yang kalian cari bukanlah senjata. Dia bukan alat untuk menguasai keluarga mana pun. Dia adalah kunci untuk membuka bukti yang selama ini disembunyikan oleh orang-orang yang mengkhianati kami.”
Aren mendekat ke layar.
“Kakek tahu aku akan datang?”
Seolah menjawab pertanyaan itu, Alistair melanjutkan.
“Jika kau adalah Aren, cucuku, ketahuilah bahwa tidak semua yang diceritakan tentang keluarga Ravencroft adalah kebenaran. Ayahmu tidak mengkhianati kami. Dan Adrian bukanlah orang yang menyebabkan kehancuran keluarga kita.”
Adrian menunduk.
Rekaman itu berlanjut.
“Pengkhianat sebenarnya adalah seseorang yang memiliki akses kepada kedua keluarga. Seseorang yang kami percaya seperti saudara sendiri.”
Layar mendadak berkedip.
Suara Alistair terdengar semakin berat.
“Namanya adalah—”
Rekaman terputus.
Ruangan mendadak gelap selama beberapa detik sebelum lampu darurat menyala.
Kian langsung memeriksa terminal.
“Seseorang memutus rekaman dari jarak jauh!”
“Bisakah kau memulihkannya?” tanya Raka.
“Aku sedang mencoba.”
Aren menatap layar yang kini kembali gelap.
“Nama itu…”
Riven merangkul bahunya.
“Kita akan menemukannya, Dek.”
Namun, sebelum siapa pun sempat mengatakan sesuatu lagi, terdengar suara langkah dari tangga.
Semua orang langsung berbalik.
Seorang pria berdiri di ambang pintu ruang arsip.
Ia mengenakan mantel hitam panjang, rambutnya telah memutih, dan di tangan kirinya terdapat cincin perak berlambang serigala.
Viktor terperanjat.
“Gabriel?”
Pria itu tersenyum tipis.
“Sudah lama sekali, adikku.”
Viktor berdiri membeku.
“Kau masih hidup.”
Gabriel mengalihkan pandangan kepada Aren.
“Dan akhirnya aku bisa bertemu dengan anak yang selama ini dicari oleh begitu banyak orang.”
Raka segera berdiri di depan Aren.
“Jangan mendekat.”
Gabriel mengangkat kedua tangannya, menunjukkan bahwa ia tidak berniat menyerang.
“Aku datang untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi tujuh belas tahun lalu.”
Tatapannya kemudian beralih kepada Adrian.
“Tapi sebelum itu, ada satu hal yang harus kalian ketahui.”
Ia berhenti sejenak.
“Orang yang memerintahkan serangan terhadap mansion Valerius semalam bukanlah orang yang kalian kira.”
Kian mengerutkan kening.
“Siapa yang memerintahkannya?”
Gabriel tersenyum tanpa kehangatan.
“Orang yang selama ini duduk di sisi kalian, makan di meja yang sama, dan bersumpah akan melindungi Aren.”
Aren merasakan jantungnya berdebar keras.
Gabriel kemudian mengucapkan satu nama.
Nama yang membuat seluruh ruangan membeku.
“Adrian Valerius.”