Aksi heroik Kapten Fikri Rafisqy ditengah perampokan swalayan berujung duka. Berusaha menyelamatkan seorang anak kecil, Fikri tak sadar peluru maut mengincar nyawanya. Naas, seorang kakek justru mengorbankan diri demi menyelamatkannya. Dalam kondisi kritis dirumah sakit, sang kakek menyampaikan wasiat terakhir: Fikri harus menikahi cucu tunggalnya, Seruni Shafira, gadis penjual bunga kini sebatang kara.
Seruni menolak tegas. Bagaimana mungkin ia harus menikah disaat impian sekolahnya masih membumbung tinggi? Namun demi melunasi utang nyawa dan amanah terakhir, Fikri menerimanya. Didepan ruang ICU, ijab kabul terucap sebelum sang kakek mengembuskan napas terakhirnya.
Kini, kehidupan mereka berubah total. Bisakah Seruni menerima takdir pernikahannya bersama pria yang terpaut jarak usia 12 tahun darinya? Apalagi, Seruni masih bersikeras memanggil suami dengan sebutan "Paman"!
Saksikan kisah cinta penuh liku, aksi menegangkan dan kepolosan Seruni yang meluluhkan hati dingin Kapten Fikri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pertama
Fikri menaiki anak tangga satu per satu dengan langkah santai namun mantap, seolah beban lima puluh kilo di bahunya hanyalah tas dinas biasa. Sementara itu, Seruni yang tergantung seperti kantong beras masih terus menepuk-nepuk punggung tegap pria itu dengan kedua tangan mungilnya yang mulai kehabisan tenaga.
"Paman! Turunkan! Kepala Runi pusing muter-muter, Paman!" seru Seruni dengan suara sengau dan wajah yang sudah merah padam. Kaki kecilnya yang memakai kaos kaki putih berenda menendang-nendang udara tanpa hasil. "Ihh, Paman dengar tidak sih?! Runi bukan karung beras!"
Begitu sampai di dalam kamar utama lantai atas, Fikri akhirnya memutar tubuh dan menurunkan Seruni. Namun bukannya dijatuhkan begitu saja, Fikri mendaratkan tubuh kecil itu dengan amat hati-hati di atas kasur empuk berseprai abu-abu gelap miliknya.
Seruni langsung memegangi kepalanya yang pening. Rambut ikal panjangnya yang tadi terikat rapi kini berantakan mencolok, syal segitiga berendanya miring melingkar di leher. Gadis itu menengadah, memelototi Fikri dengan napas terengah-engah dan pipi yang merona merah akibat gabungan rasa kesal, lelah, dan malu yang memuncak.
"Paman kasar banget sih! Memangnya Runi ini barang bawaan apa, main angkat-angkat saja?!" sungut Seruni.
Fikri berdiri menjulang di hadapan Seruni, merapikan lengan kemejanya yang agak terlipat akibat ulah tangan kecil Seruni tadi. Wajahnya kembali datar seperti papan tulis, namun tatapan matanya menyiratkan kelelahan menanggapi kelakuan ajaib istri kecilnya malam ini.
"Kalau kamu tidak bertingkah ajaib di depan Ayah dan Ibu, saya tidak akan membawa kamu seperti itu," jawab Fikri tenang tanpa rasa bersalah sedikit pun. Ia lalu melangkah menuju lemari pakaian, mengambil selembar selimut tebal ekstra dari dalam sana.
"Tapi kan Runi jujur! Runi mau bebas, Paman! Lagian Ayah Paman tadi galak banget, Runi kan cuma mau membantu Paman biar tidak di marahin lagi!" sahut Seruni tak mau kalah.
Fikri meletakkan selimut tebal itu di atas sofa panjang yang terletak di sudut kamar, lalu berjalan santai menuju pintu kamar mandi. Sebelum memutar gagang pintu, ia menghentikan langkahnya dan menoleh pada Seruni yang masih merengut di atas kasur.
"Dengar baik-baik, Seruni. Malam ini kamu tidur di kasur utama," ujar Fikri datar. "Saya yang akan tidur di sofa."
Seruni mengedipkan matanya beberapa kali, mengamati sofa yang ukurannya tergolong agak pas-pasan untuk tubuh Fikri yang tinggi tegap. "Eh? Paman tidak tidur di sini?" jemari mungilnya menunjuk sprei empuk tempat ia duduk.
Satu alis Fikri terangkat tinggi. Tatapannya mendadak mengunci Seruni dengan raut geli yang tersembunyi. "Kenapa? Kamu mau saya tidur di sampingmu?"
"Iiiih! Tidak-tidak! Ogah banget!" seru Seruni sambil menyilangi ke dua tangannya. Lalu Ia buru-buru menarik selimut tebal di ranjang hingga menutup sebatas dada, menyisakan matanya yang bulat memelototi Fikri. "Awas ya kalau Paman berani mendekat satu senti saja! Runi lempar pakai bantal!"
Fikri menyunggingkan senyum tipis yang amat samar, hampir tak terlihat, sebelum akhirnya memutar badan masuk ke kamar mandi. "Ganti bajumu dengan baju kaos di lemari kalau kedinginan, lalu tidur. Besok kamu harus sekolah dan tidak ada alasan kesiangan lagi."
Cklek. Pintu kamar mandi tertutup.
Seruni menghembuskan napas panjang, merosotkan selimutnya perlahan. Ia melempar pandangan ke sekeliling kamar Fikri yang sangat rapi, wangi maskulin khas kayu cendana menyergap indra penciumannya. Di dinding hanya ada satu jam kayu dan sebuah bingkai foto Fikri memakai seragam dinas lengkap yang nampak sangat gagah dan dingin.
"Dasar Paman Kapten menyebalkan... sok kegantengan," gerutu Seruni pelan seraya ia menarik kembali selimutnya.
Keesokan harinya, sinar matahari pagi memancar hangat menembus kaca jendela kamar. Seruni membuka matanya perlahan, mengerjapkan mata menyesuaikan cahaya. Suasana kamar terasa sangat hening. Ketika ia melirik ragu ke arah sofa sudut, tempat tidur sementara Fikri itu sudah rapi kembali tanpa ada kerutan. Pria itu sudah tidak ada di sana.
Namun, perhatian Seruni seketika mengarah ke meja kerja Fikri di sudut ruangan. Di sana, seragam sekolah putih abu-abu milik Seruni yang kemarin sempat kusut dan terlipat di dalam ransel, kini tergantung sangat rapi dan halus di hanger. Bahkan dasi dan syal segitiga kesayangannya sudah tertata presisi di sampingnya. Tampaknya Fikri sempat menyetrikanya sendiri sebelum subuh tadi.
Melihat perhatian-perhatian kecil yang manis itu, dada Seruni berdesir aneh. Ada rasa hangat yang pelan-pelan merayap di hatinya, walau ego remajanya yang keras kepala masih menolak untuk mengakuinya.
"Paman Kapten itu... ternyata tidak sejahat yang kubayangkan. Meskipun galak seperti beruang," bisik Seruni pada dirinya sendiri seraya terkikik geli, memeluk bantal Fikri yang harum.
Gadis itu bergegas bangun, mandi, dan mengenakan seragam sekolahnya yang harum. Ia mengikat syal segitiga di kepala dengan rapi, menyisakan poni lurusnya yang tertata manis. Tak lupa, ia melipat celemek toko bunga kesayangannya dan memasukkannya ke dalam tas ransel.
Saat Seruni turun melangkahi anak tangga ke lantai bawah, aroma gurih telur dadar, kecap, dan nasi goreng hangat langsung menyapa indra penciumannya, membuat perutnya berbunyi nyaring.
Di meja makan, Fikri yang sudah mengenakan seragam dinas kepolisian lengkap tampak sedang duduk menyeduh segelas kopi hitam panas. Di atas meja kayu itu sudah tersaji dua piring nasi goreng telur yang masih berasap tipis.
"Cepat makan," kata Fikri tanpa mendongak dari tablet dinas di tangannya, suaranya terdengar tegas namun bernada mengayomi. "Nanti kamu terlambat lagi dan menyalahkan saya."
Seruni melangkah ragu, menarik kursi kayu di hadapan Fikri lalu duduk. Ia menatap piring nasi goreng di depannya, lalu menatap Fikri. "Paman yang masak ini? Beneran? Tidak diresapi racun kan?" tanya Seruni polos dengan raut curiga yang dibuat-buat.
Fikri menghentikan gerakan tangannya, menatap Seruni lurus-lurus dari balik tabletnya. "Kalau mau diartikan racun, sudah saya masukkan sejak kemarin. Cepat makan, jangan banyak bicara."
Seruni mencebikkan bibirnya, namun jemarinya dengan cekatan menyambar sendok dan mulai menyuap nasi goreng itu. Matanya seketika berbinar saat rasa gurih dan lezat memenuhi lidahnya. "Wah... ternyata enak juga. Paman bakat jadi tukang nasi goreng kalau pensiun dari polisi."
Fikri menahan senyumnya, menyeruput kopi hitamnya santai. "Nanti sepulang sekolah, Dimas akan menjemputmu dan mengantarmu langsung ke toko bunga," ujar Fikri seraya meletakkan cangkirnya. "Ingat janjimu semalam. Setiap dua jam sekali, kirim pesan laporan pada saya."
Seruni menghentikan suapannya, menatap Fikri dengan wajah cemberut maksimal. "Harus banget ya, Paman? Kalau Runi lagi sibuk memotong tangkai bunga atau melayani pembeli bagaimana? Masa harus pegang HP terus?"
"Tinggal ketik satu kata: 'Aman'. Apa itu sulit untuk jemari kecilmu?" pangkas Fikri tanpa kompromi, menatap lurus mata bulat Seruni. "Kalau dalam tiga jam kamu tidak mengirim pesan, saya sendiri yang akan datang menjemputmu pakai mobil patroli siren."
Mata Seruni terbelalak lebar. "Ih! Paman memalukan banget! Nanti dikira toko bunga Runi ada kasus pembunuhan!"
"Makanya, patuhi perintah," balas Fikri santai.
Seruni mendesah pasrah, memutar kedua bola matanya dengan kesal seraya melanjutkan suapannya. "Iya, iya... Siap, Paman Kapten yang paling protektif dan paling pemaksa se-Indonesia!"
Fikri hanya menggelengkan kepala pelan melihat tingkah ajaib istrinya itu. Pria berusia 29 tahun itu berdiri, meraih kunci mobil jip dan topi pet perwiranya dari atas meja. Gagah dan berwibawa.
"Ayo, saya antar ke sekolah sekarang. Biar tidak ada alasan naik ojek lagi," tegas Fikri.
Seruni buru-buru menyambar tas ranselnya, menyuapkan sendok terakhir nasi gorengnya, lalu berlari kecil menyusul langkah tegap sang Kapten ke luar rumah.