NovelToon NovelToon
Suara Untuk Dia

Suara Untuk Dia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Balas Dendam / Idola sekolah
Popularitas:153
Nilai: 5
Nama Author: Ananda Putra Satria Hsb

【Perjuang keras meraih cinta+Cerita di waktu SMA+Romantis nonfiksi】Seseorang yang jatuh cinta kepda perempuan terpintar di sekolah... Meskipun dia bukan pria yang pandai dalam akademi tapi dia ingin membuktikan jika dia layak mendapatkan perempuan tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Putra Satria Hsb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24- Di Ujung Hafalan Dan Patah Hati

Malam itu, tepat pukul sebelas malam di dalam kamar yang hening, aku akhirnya menyelesaikan ayat terakhir dari Surat Yasin. Sembilan puluh sembilan Asmaul Husna dan seluruh bait Surat Yasin kini sudah terpatri sempurna di dalam ingatan dan dadaku.

Aku menutup kitab suci di atas meja belajar dengan perlahan. Mengusap wajahku dengan kedua telapak tangan, menghembuskan napas panjang yang terasa sangat lega sekaligus emosional. Berbulan-bulan berjuang menahan kantuk, mengeja huruf demi huruf usai dihajar porsi latihan silat dari jam tiga sore sampai magrib, semuanya akhirnya tuntas.

Di atas meja, sebuah kertas lipat berwarna merah muda yang belum sempat kukirimkan pada Nara sudah tertulis rapi:

"Maknar, Asmaul Husna dan Surat Yasin-nya udah tuntas seratus persen di luar kepala. Besok tak tagih janjimu di kantin."

Aku tersenyum menatap kertas lipat itu dengan perasaan membumbung tinggi. Besok adalah harinya. Hari di mana aku bakal membuktikan bahwa seorang anak silat di barisan belakang kelas bisa melampaui syarat tersulit demi memenangkan hati cewek paling berharga di sekolah.

Tanpa pernah menduga, esok hari justru menjadi hari di mana duniaku dihantam runtuh sampai berkeping-keping.

Keesokan harinya di sekolah, suasana kelas X IPA 2 mendadak dipenuhi kasak-kusuk yang riuh sejak pagi. Saat aku melangkah masuk ke dalam kelas bersama Diko, beberapa teman sekelas menatapku dengan raut wajah canggung dan serba salah.

Aku berjalan menuju bangku belakang dengan kening berkerut.

"Kenapa sih anak-anak? Kok pada ngeliatin gitu?" tanyaku heran pada Diko.

Diko tidak menjawab. Mukanya kelihatan sangat serba salah, matanya melirik ragu ke arah meja barisan tengah.

Di sana, di meja Riski, beberapa anak cowok sedang menepuk-nepuk bahu Riski sambil tertawa riuh. Dan tidak jauh dari sana, Nara sedang duduk di mejanya, menunduk dalam-dalam sambil memainkan pulpen di jemarinya. Pipinya merona merah, tapi raut wajahnya kelihatan sangat tegang.

"Sat..." bisik Diko pelan, suaranya terdengar sangat berat. "Lu... lu udah denger kabar dari anak-anak belum?"

"Kabar apa?" tanyaku, dada mendadak berdebar kencang tak karuan.

Diko menarik napas panjang, menatap mataku dengan raut kasihan. "Kemarin sore... Riski menembak Nara di depan anak-anak osis. Dan... Nara nerima Riski, Sat. Mereka berdua udah resmi jadian kemarin malam."

Brak!

Dunia di sekitarku mendadak hening seketika. Suara riuh kelas, gelak tawa anak-anak, semuanya seolah menguap lenyap. Kata-kata Diko berputar-putar di dalam kepalaku seperti hantaman beban tonan yang meremukkan seluruh dadaku.

Nara... jadian sama Riski?

Mataku beralih menatap sosok Nara di meja depan. Seolah merasakan tatapanku yang menghujam, Nara pelan-pelan mendongak. Mata kami beradu selama beberapa detik. Di dalam binar matanya, aku melihat rasa bersalah yang begitu besar, penyesalan, dan rasa takut yang melingkupi wajah cantiknya.

Tanganku di dalam saku celana meremas kuat-kuat kertas lipat merah muda yang berisi laporan hafalan tuntas itu. Kertas itu mendadak terasa begitu panas dan menyiksa.

Nara... kalau saja kamu tahu, detik saat aku mendengar kabar itu adalah detik di mana dadaku rasanya hancur seancur-ancurnya.

“Kenapa, Ra? Kenapa di saat hafalan syaratmu sudah sempurna 100% di kepalaku, kamu justru menjatuhkan pilihan pada orang lain? Kenapa kamu membiarkan aku berdarah-darah mengeja ayat demi ayat tiap malam di atas sejadah, kalau akhirnya pintu hatimu kamu bukakan buat Riski?”

“Rasa sakitnya bukan cuma karena ditolak, Ra. Tapi karena rasa percaya dan harapanku yang sudah kubangun setinggi langit dihempaskan begitu saja ke tanah. Hari itu, aku paham rasanya dikhianati oleh harapan yang kubuat sendiri.”

Sepanjang jam pelajaran berlangsung hari itu, aku cuma bisa duduk membisu di bangku belakang. Tatapanku kosong menatap papan tulis. Suara guru yang mengajar sama sekali tidak masuk ke dalam kepalaku.

Beberapa kali aku melihat Riski memberi perhatian pada Nara—menggeserkan tempat minum, atau tersenyum padanya. Setiap kali momen itu terjadi, rasa sakit yang membakar di dadaku makin menjadi-jadi.

Saat bel istirahat pertama berbunyi, anak-anak berhamburan keluar kelas. Riski diajak anak-anak cowok lain ke kantin. Tersisa aku, Diko, dan Nara di dalam ruangan yang mendadak hening menyiksa.

Diko menepuk bahuku pelan. "Sat... gue ke luar sebentar ya. Lu tenangin diri dulu."

Aku mengangguk pelan. Diko melangkah keluar, menyisakan aku dan Nara di ruangan kelas X IPA 2.

Nara berdiri dari kursinya. Langkah kakinya terasa pelan dan ragu saat berjalan mendekati bangku belakang tempatku duduk. Wajah cewek yang biasanya galak dan tegar itu kini kelihatan sangat pucat dan bersalah.

Dia berhenti di samping mejaku, menundukkan kepalanya, tidak sanggup menatap mataku secara langsung.

"Satria..." bisik Nara, suaranya gemetar menahan tangis.

Aku mendongak, menatap matanya dengan pandangan yang datar, dingin, tapi menyimpan kepedihan yang amat sangat.

"Selamat ya, Ra," ucapku pelan. Suaraku terdengar sangat serak dan lugas, tanpa ada ledakan emosi atau amarah.

Nara makin menunduk, dadanya naik turun menahan sesak. "Satria... maafin aku... aku... aku gak maksud bikin kamu kayak gini..."

Aku mengeluarkan tangan kanan dari dalam saku celana, meletakkan secarik kertas lipat merah muda yang sudah kusut di atas meja di depan Nara.

Nara menatap kertas lipat itu dengan bingung. Tremor tipis terlihat di jemarinya saat mengambil kertas itu dan mengembangkannya. Begitu membaca tulisan di dalamnya—bahwa Asmaul Husna dan Surat Yasin sudah tuntas seratus persen—air mata yang ditahannya sejak tadi akhirnya pecah menetes menembus kertas tersebut.

"Asmaul Husna sama Surat Yasin-nya udah tuntas semua, Ra," kataku pelan, menatap matanya yang sudah basah oleh air mata. "Tepat tadi malam usai Isya. Aku udah penuhi janjiku."

"Satria... maaf... maafin aku..." bisik Nara terisak pelan, menutup mulutnya dengan telapak tangan.

Nara... seandainya waktu bisa diputar dan aku bisa menyampaikan pesan dari masa depan untuk dirimu yang menangis di depanku hari itu:

“Aku enggak pernah membencimu hari itu, Ra. Walau rasa sakitnya membuat bernapas pun terasa sesak, aku enggak pernah menyesali tiap ayat Asmaul Husna dan Surat Yasin yang kuhafalkan demi kamu.”

“Ayat-ayat itu adalah bukti betapa tulus dan besarnya rasa cintaku saat SMA dulu. Kamu mungkin memilih Riski hari itu, tapi kamu harus tahu... tidak ada orang lain yang bakal memperjuangkanmu selurus dan setulus aku.”

Aku menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman paling getir dan pahit yang pernah kubuat dalam hidupku.

"Gak perlu minta maaf, Ra. Pilihannya kan ada di kamu. Mungin Riski memang lebih bisa bikin kamu bahagia dibanding anak silat kayak aku," kataku, mencoba berdiri dan merapikan tas ranselku.

"Satria... tolong jangan ngomong gitu..." tangis Nara makin pelan, memandangi wajahku dengan raut penuh penyesalan.

"Aku balik duluan ya, Ra. Mau persiapan latihan silat," ucapku datar, lalu melangkah melintasinya keluar dari ruang kelas X IPA 2.

Saat melangkah menyusuri koridor sekolah yang sepi, mataku terasa panas, tapi tak tahan sekuat tenaga agar tidak ada satu tetes pun air mata yang jatuh di sekolah. Rasa hancur, kecewa, dan lelah menyatu jadi satu beban raksasa di pundakku.

Sore harinya di atas matras silat dari jam tiga sore sampai jam enam sore, aku bertanding seperti orang kesetanan. Seluruh luka, kekecewaan, dan rasa patah hati tak luapkan dalam tiap bantingan dan tendangan. Mas Teguh sampai harus menghentikan latihan karena melihat mataku yang memerah dan caraku tanding yang terlalu brutal tanpa memedulikan rasa sakit di tubuh.

Di bawah guyuran air shower ruang ganti pukul six sore lewat sedikit, pertahananku akhirnya runtuh total. Air mata bercampur dengan kucuran air shower membasahi wajahku. Di malam itu, aku merasakan patah hati terhebat dalam hidupku—ditikung di saat hafalan janjiku sudah tuntas sempurna.

Namun aku belum tahu, bahwa takdir tidak berhenti di sini. Hubungan Nara dan Riski tidak bakal bertahan lama, dan ketulusan hafalan yang pernah kuukir ini bakal menemukan jalannya kembali menuju takdir sejati kami.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!