Aku mulai tertarik dengan sosok wanita yang duduk disebelah ku dibangku delapan delapan C dalam penerbangan pesawat Jakarta ke Makassar. Dia duduk diam, mengunakan baju serba hitam, sepintas ku melihat ada air mata yang membasahi pipinya. Hatiku mulai ibah, siapa kamu manis, ingin rasanya aku mau menenangkanmu.
Ini perasaan yang dirasakan oleh Kapten Marinir Martinus Revelino. Yang sedang dalam perjalanan menuju tempat tugas baru di Papua. Saat ini dia ditugaskan sebagai Komandan Intel pada kesatuan angkatan laut di Papua.
Dalam penerbangan ini, dia bertemu dengan Gracia Natasya, seorang apoteker yang harus kembali ke papua karena duka yang dia alami.
Apakah Ino dan Cia bisa menjalin hubungan cinta??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LDM
Lenan Kolonel Laut Martinus Revelino Rehata sudah ada di tempat tugas pengamanannya di Colombia. Dia ditugaskan disana tergabung dalam pasukan pengamanan dunia dibawa naugan bendera Perserikatan Bangsa - Bangsa. Tugas kali ini, Cia tidak bisa temani, karena ada di medan perang. Dan Ino hanya enam bulan disana.
Setiap hari, Ino dan Cia komunikasi lewat Vidio Call, biasanya Ino akan menceritakan banyak hal yang terjadi disana. Dan bisanya di akhiri dengan doa bersama. Cia masih tetap setia menjadi ibu rumah tangga membesarkan Fransisco Imanuel Rehata yang baru usia dua tahun. Mertua dan kakak iparnya tidak keberatan, apa pun itu keputusan Cia. Sebenarnya Cia bisa saja bekerja kembali di rumah sakit punya keluarga suami
nya. Namun dia memutuskan untuk membesarkan Nuel tanpa bantuan suster. Meskipun demikian Cia masih mengendalikan usahanya yang ada di Papua.
Hari ini, Cia mendapat kabar dari tante dan omnya tentang keadan papanya. setelah hampir dua bulan papanya sudah berada disana. Informasi saat ini papanya dalam keadaan koma.
"Mas... Adek mau ke Papua lihat papa."
"Iya sayang, mas ijinkan."
"Kamu bawa Nuel sayang."
"Iya, mami dan papi juga usikan bekerja, baru Nuel kan dekat dengan aku. Takut di tinggal di rewel mas."
"Iya sayang." Sebenarnya Ino tidak kuatir jika Nuel ikut, karena disana banyak oma dan tante Cia yang sayang sama dia. Namun yang dia takuti perjalanan lima jam sampai enam jam Cia dan Nuel berdua , takut Nuel rewel dan membuat maminya repot. Namun Cia yakinkan suaminya bahwa dia sanggup dan bisa.
Malam jam tujuh mertua dan iparnya mengantar Cia dan Nuel ke bandara Soekarno Hatta. Jelas penerbangan kali ini, mereka menggunakan tiket kelas.
"Adek ngak boleh rewel ya. Kasihan mami."
"Iya mamim." Nuel langsung mencium pipi antienya yang sedang mengendongnya. Nuel bermain sedikit dibiarkan oleh mereka biar di pesawat dia bisa tidur. Stollernya juga disiapkan takut dia ketiduran saat mendarat di Makassar nanti.
"Cucu opa ngak boleh rewel dan nakal ya sama mami."
"Iya opa."
"Oma yakin adek pintar. I love you."
"Love you full for oma." Nuel langsung mencium oma dan juga opanya.
"Pi, mi, Cia pamit ya."
"Iya sayang. Hati - hati disana, kabarin papi terus bagaimana kondisi papa disana."
"Iya pi, iya mi."
Ino sedang memantau istrinya lewat Vidio call. Sebenarnya Ino berat membiarkan istrinya berangkat sendiri, namun dia harus rela, karena dia jauh dan papa membutuhkan istrinya, anak perempuan satu - satunya. Masih tiga bulan lagi dia di negara orang menjalankan tugasnya.
Fransisco Imanuel Rehata balita dua tahun ini, sangat mengerti kondisi maminya. Enam jam jakarta ke Papua dia tidak rewel. Duduk tenang disamping mamanya sesekali duduk di pangkuan maminya. Sampai pukul enam pagi mereka mendarat di bandara yang di Biak.
Papa Buce dan mama Ice sudah menunggu kedatangan mereka. Begitu Cia memberitahu siapa orang yang menjemput mereka, Nuel langsung akrab. Papi dan mami kedua adik kandung mamanya sedang ada di rumah sakit bergantian menjaga ipar mereka.
Sampai di rumah Cia langsung mandi dan membawa Nuel ke rumah sakit. Karena ruangan papanya sudah diminta sendiri atau di ruangan VIP. Gerson mantan ajudan Suaminya langsung menjemput Cia dan Nuel di rumah.
"Gerson yang ditugaskan mengantar ibu."
"Siapa yang tugaskan Gerson, ngak masalah aku sendiri."
"Ini perintah komandan bu."
"Oke Gerson." Cia langsung memperkenalkan Nuel kepada Gerson.
"Temannya papi baik ya mami."
"Iya sayang."
Mendengar kondisi papanya, Cia langsung konsultasi dengan mertuanya. Sebenarnya papa ngak mau di bawa ke Jakarta, dia senang Cia dan Nuel cucunya bisa ada disini. Cia tiba ngak lama papa sadar. Cia dengan om dan tantenya tidak sendiri merawat papa. Orangtua Max juga membantu merawat. Cia juga sudah bertemu dengan Arnold anaknya Max yang sudah berumur delapan tahun, pulang sekolah dia datang bermain dengan Nuel yang menjaga opanya dirumah sakit. Dia datang bersama opa dan omanya yang dia panggil papa dan mama.
"Mas......." Cia sedang merajuk kepada suaminya lewat vidio call karena Ino sedang mengodanya karena Cia bertemu dengan Max.
"Iya mas mohon maaf. Mas percaya sama kamu sayang. I love you."
"Love you more."
Ternyata kesehatannya papa yang membaik hanya sebentar saja. Hanya untuk menyenangkan Cia. Papa menghembuskan nafas terakhirnya di dalam pelukan Cia setelah memohon maaf kepada anak satu - satunya. Yang terjadi Cia hanya menangis. Di negara orang Ino hanya bisa menangis karena tidak bisa menemani istrinya dalam dukanya ini. Namun mertuanya datang dari Jakarta.
Sampai semua urusan kedukaan selesai baru Cia dan membuat kubur papanya, Cia baru kembali ke Jakarta. Cia sudah berbicara dengan om dan tantenya bahwa Cia hanya mengendalikan dari Jakarta tanggung jawab disini dia percayakan kepada adik - adik mamanya. Ada satu bulan lebih hampir dua bulan Cia di Papua bersama Nuel anaknya.
Itu berarti Ino sudah empat bulan lebih di California. Tidak lama lagi mereka akan bertemu. Setelah urusannya di kota kelahirannya selesai dia akan kembali ke Jakarta besok pagi semua tiket sudah disiapkan termasuk semua keperluan Nuel dalam penerbangan kali ini.
Sore hari jam tiga sebelum besok mereka berangkat, Cia dan Nuel ditemani tante dan omnya pergi ke kuburan orangtuanya untuk dibersihkan. Cia juga membawa bunga segar yang tadi dia petik di halaman rumah mereka yang di rawat oleh mama Ice. Tanaman itu, yang di tanam almarhumah mamanya.
Kedukaan yang Cia alami, Cia sempat bertemu dengan selingkuhan papanya, dia juga datang. Namun oleh keluarga Cia, dia tidak di ijinkan untuk duduk dekat jenasah. Hanya saat penghormatan terakhir dia bisa melihat, itu pun sepintas saja. Setelah pemakaman Cia memang meminta teman papanya untuk bertemu. Namun Cia lega karena perempuan itu tidak ada dendam. Dia tahu, dia salah. Cia memberikan sedikit uang kepadanya, karena Cia sadar bahwa selama itu dia perna merawat papanya laki - laki yang dia cintai.