NovelToon NovelToon
SISTEM FLASH SALE Rp1

SISTEM FLASH SALE Rp1

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:24.5k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Ardi, seorang pemuda miskin yang tulus, tiba-tiba dicampakkan oleh Siska, kekasihnya selama lima tahun, demi Bagas, sahabat Ardi yang baru saja naik jabatan menjadi manajer yang kaya raya. Di tengah keputusasaan dan hinaan brutal, Ardi secara tak terduga membangkitkan [Sistem Flash Sale Rp1], sebuah antarmuka misterius yang memungkinkannya membeli barang apa pun—dari mobil sport mewah, penthouse, hingga seluruh perusahaan—hanya dengan satu rupiah. Dengan kekayaan instan yang tak terbayangkan ini, Ardi mulai membalas dendam secara face-slapping kepada mereka yang meremehkannya, sembari menjelajahi kehidupan barunya sebagai miliarder muda yang paling berkuasa di negeri ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3

Sinar matahari pagi menembus celah jendela kamar kos Ardi yang sempit dan pengap.

Pria itu terbangun dari tidur lelapnya dengan napas terengah-engah.

Kejadian menyakitkan di kafe kemarin masih terbayang jelas di benaknya seperti kaset rusak yang terus berputar.

Dihina oleh Siska dan dikhianati oleh Bagas benar-benar meninggalkan luka yang sangat dalam.

Namun Ardi segera menepis perasaan sedih itu dan langsung meraih ponselnya di atas meja.

Tangannya sedikit gemetar saat membuka aplikasi mobile banking di ponsel murahnya.

"Ternyata semua ini bukan mimpi," ucap Ardi sambil tersenyum lebar melihat deretan angka di layar ponselnya.

Saldo sepuluh miliar rupiah benar-benar terpampang nyata di rekeningnya.

Uang yang bahkan tidak berani dia impikan seumur hidupnya kini menjadi miliknya sepenuhnya berkat Sistem Flash Sale.

Hari ini Ardi memutuskan untuk membolos kerja di perusahaan lamanya.

Dia sudah muak menjadi staf administrasi rendahan yang disuruh-suruh dan dihina setiap hari.

Tujuan pertamanya hari ini adalah merombak total penampilannya.

Dia tidak ingin lagi terlihat seperti pemuda miskin yang bisa diinjak-injak harga dirinya oleh orang seperti Bagas.

Ardi mandi seadanya dengan air dingin di kamar mandi luar yang harus mengantre dengan penghuni kos lainnya.

Setelah itu dia kembali memakai kaos oblong lusuh dan celana jeans pudar kesayangannya.

Dia memang belum punya baju bagus sama sekali di lemarinya.

Jadi mau tidak mau dia harus pergi ke pusat perbelanjaan mewah dengan pakaian gembel ini.

Pukul sepuluh pagi, Ardi sudah berdiri di depan pintu masuk Grand Plaza.

Ini adalah mal paling eksklusif di ibu kota tempat para pejabat dan konglomerat menghabiskan uang mereka.

Beberapa satpam berseragam rapi di pintu masuk langsung menatap Ardi dengan pandangan curiga. Dari ujung rambut sampai ujung kaki, penampilan Ardi sangat kontras dengan pengunjung mal lainnya.

"Maaf Mas, pintu masuk untuk kurir dan cleaning service ada di sebelah belakang," tegur salah satu satpam bertubuh kekar sambil merentangkan tangannya menghalangi langkah Ardi.

"Saya bukan kurir apalagi cleaning service Pak," jawab Ardi santai tanpa merasa terintimidasi sedikit pun.

"Saya mau berbelanja di dalam."

Satpam itu mengernyitkan dahi seolah mendengar lelucon yang sangat tidak lucu.

"Mas jangan bercanda, di dalam tidak ada barang murah yang bisa Mas beli," ucap satpam itu dengan nada merendahkan.

"Apakah ada aturan mal yang melarang orang memakai kaos untuk berbelanja?" tanya Ardi balik sambil menatap tajam ke mata satpam tersebut.

Satpam itu terdiam karena memang tidak ada aturan tertulis seperti itu.

Ardi tidak menunggu jawaban lebih lanjut dan langsung melangkah masuk menembus pintu kaca otomatis.

Udara dingin AC yang bercampur dengan aroma parfum mewah langsung menyambut wajah Ardi.

Lantai marmer mal ini begitu mengkilap sampai-sampai Ardi bisa melihat pantulan wajahnya sendiri di bawah sana.

Ardi berjalan menyusuri lorong mal yang luas dengan santai.

Matanya menyapu deretan toko-toko barang bermerek internasional yang harganya bisa membuat orang biasa jantungan.

Langkahnya terhenti di depan sebuah butik pakaian pria bernama Vianoce.

Etalase butik itu memajang setelan jas elegan yang terlihat sangat mewah dan berkelas.

Tanpa ragu sedikit pun, Ardi melangkah masuk ke dalam butik yang didominasi warna hitam dan emas itu.

Suara langkah sepatu kets usangnya terdengar kontras di atas lantai butik yang sunyi.

Di dalam butik, ada tiga orang wanita pramuniaga yang sedang mengobrol santai di dekat meja kasir.

Salah satu dari mereka yang memakai riasan paling tebal langsung menoleh dengan tatapan tidak suka.

Wanita bernama Rina itu memindai penampilan Ardi dari atas ke bawah dengan ekspresi jijik.

Dia lalu menyenggol lengan temannya sambil berbisik sinis.

"Tolong suruh pengemis itu keluar sebelum dia mengotori karpet mahal kita," bisik Rina sambil melipat tangannya di dada.

"Biar aku saja yang melayaninya Mbak Rina," ucap seorang pramuniaga muda bernama Maya.

"Kasihan dia mungkin sedang tersesat atau mencari toilet."

Maya adalah anak baru di butik mewah itu.

Berbeda dengan Rina, wajah Maya terlihat manis natural dan tidak memandang rendah orang lain.

Maya segera berjalan menghampiri Ardi dengan senyum ramah yang tulus.

"Selamat pagi Kak, selamat datang di Vianoce," sapa Maya dengan sopan sambil sedikit menundukkan kepalanya.

"Ada yang bisa saya bantu?"

Ardi menatap wajah Maya cukup lama. Dia merasa sedikit tersentuh karena ternyata masih ada orang di kota kejam ini yang tidak menilainya hanya dari pakaian.

"Pagi Maya," jawab Ardi setelah membaca nametag di dada wanita itu.

"Aku ingin mencari beberapa setel pakaian santai dan juga setelan jas resmi untuk acara penting."

Maya tersenyum ramah dan mengangguk pelan.

"Tentu Kak, silakan ikut saya ke bagian koleksi pria di sebelah sini," ucap Maya sambil mengarahkan tangannya.

Namun tiba-tiba suara tawa melengking terdengar dari arah meja kasir.

Rina berjalan menghampiri mereka dengan langkah angkuh dan senyum mengejek.

"Maaf Mas, sepertinya Anda salah masuk toko hari ini," ucap Rina dengan nada tinggi yang sengaja dikeraskan agar terdengar oleh pelanggan lain.

"Ini butik Vianoce yang asli, bukan pasar loak tempat Anda biasa membeli baju bekas," lanjut Rina tanpa mempedulikan sopan santun sama sekali.

Ardi menghentikan langkahnya dan menatap Rina dengan pandangan datar.

"Lalu apa masalahnya?" tanya Ardi tenang. "Aku datang kemari untuk membeli pakaian, bukan untuk mencuri."

Rina kembali tertawa sinis mendengar jawaban Ardi.

"Membeli?" Rina mendengus kasar sambil menunjuk kaos lusuh Ardi.

"Harga satu helai sapu tangan di sini setara dengan gaji Anda sebulan penuh Mas."

"Mbak Rina, tolong jangan bicara seperti itu kepada pengunjung," sela Maya dengan suara pelan mencoba menenangkan seniornya itu.

"Kamu diam saja Maya, anak baru tidak usah ikut campur urusan ini!" bentak Rina dengan mata melotot.

"Orang miskin seperti dia ini paling cuma mau numpang ngadem, mencoba baju, lalu pergi tanpa membeli apa-apa," tuduh Rina tanpa ampun.

Ardi tersenyum sinis melihat tingkah laku Rina. Wanita ini sangat mengingatkannya pada Siska yang gila harta dan suka merendahkan orang miskin.

"Sepertinya kamu sangat yakin aku tidak bisa membayar ya?" tantang Ardi sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

"Tentu saja saya yakin!" jawab Rina cepat. "Kalau Anda bisa membeli satu setel jas saja di toko ini, saya rela bersujud dan memijat kaki Anda sekarang juga!"

Para pengunjung butik yang lain mulai berbisik-bisik dan memperhatikan keributan kecil itu.

Ardi justru merasa situasi ini semakin menarik untuk dimainkan.

"Bagus, aku pegang kata-katamu," ucap Ardi tenang tanpa emosi.

Dia lalu menoleh kembali ke arah Maya yang masih berdiri canggung.

"Maya, tolong ambilkan aku sepuluh kemeja kasual terbaik, lima celana panjang panjang, dan tiga setelan jas edisi paling mahal di sini," perintah Ardi dengan suara lantang.

"Pilihkan ukuran yang pas untukku."

Maya terkejut setengah mati mendengar pesanan Ardi yang sangat gila itu.

"T-tapi Kak, total belanjaan sebanyak itu bisa mencapai lebih dari delapan ratus juta rupiah," ucap Maya ragu-ragu karena khawatir Ardi akan dipermalukan lebih parah nanti.

"Jangan khawatirkan harganya Maya, lakukan saja apa yang aku perintahkan," jawab Ardi sambil menepuk pelan bahu Maya.

1
clara
😶‍🌫️😶‍🌫️😶‍🌫️
pricilia
🥰🤩
Antoni gergio
saya suka cerita ini kak🥰🌹
sasa
🤗🥰😍🤩💘💟
nurul khusna
🥰🌹🌟⭐
Anton barly
baik dan bagus novel nya😍🤩
yani
💫🌟🌟
fitri
⭐⭐⭐⭐
yudi permana
seru kak🥰
Angel
keren kak Cherly🥳😘😘
setiawan
/Good//Good//Moon//Heart/
gofur
baik🥰😍🤩
Äï
dia terlalu mudah menguasai dunia fana co aku curiga ntar dia bakal ke dunia lain seperti abad pertengahan, alam kultivator, dunia pedang dan sihir atau kek lou feng yg menjelajah di luar angkasa dan membangun kerajaan di semesta
Shinta geol
💟🥰💋
Cherlly
baca judul nya kaka dia memliki sistem flash sale Rp1 jdi dia bisa beli apa saja dgn Rp 1
Äï
loh uang dari mana dia? saldo nya kan 10M terus pake belanja 800jt kok malah nambah jadi 50M
Cherlly
itu di gas keras kalo ferari/lambo pasti keluar api dan asap kaka,..
Äï
masa mobil baru berasap
samuel df
🌹🥰
Äï
plot klise ini sudah lama aku tidak melihat nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!