NovelToon NovelToon
Datang Untuk Membayar

Datang Untuk Membayar

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Iblis
Popularitas:295
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

DATANG UNTUK MEMBAYAR

(Orang Mati Datang Membayar Janjinya)

"Tanggal delapan saya bayar, Cik..."

Maya berjanji melunasi utangnya tepat tanggal delapan. Lalu ia menghilang.

Hingga malam itu, pintu digedor. Maya berdiri di sana — menyerahkan uangnya.

Namun pagar terkunci rapat dari dalam. Dan kabar menyebut: Maya sudah meninggal dua minggu lalu.

Siapa yang baru saja membayar?



Tentang janji, kehormatan, dan sosok yang melintasi kematian demi menepati kata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: GARIS KUNING DI RUMAH SEBELAH

Aku memegang erat gagang senter besi di tangan kananku, menatap celah bawah pintu kamar tidur yang remang.

Di balik dinding semen kamar utama, keheningan lorong samping terasa membeku setelah benturan keras semalam.

Dini dan Ranti duduk bersandar kaku di atas tempat tidur, menahan napas mendengarkan setiap desis angin luar.

"Bu... suara di luar pintu samping sudah benar-benar hilang?" bisik Dini sangat pelan.

"Sudah mboten ada suara lagi, Din," sahutku berbisik menenangkan.

"Tapi jangan ada yang berani buka pintu kamar sebelum matahari terbit," pesanku pada kedua putriku.

"Inggih, Bu. Ranti mboten bakal berani keluar kamar," timpal Ranti mengangguk cepat.

"Ibu juga mboten bakal keluar kamar sebelum terang benar," tambahku memperjelas.

Hawa dingin malam mereda perlahan seiring bergulirnya waktu di dalam kamar tidur utama.

Aroma tanah basah yang menyengat di sekitar celah pintu perlahan-lahan mengering berganti bau debu.

Cahaya fajar hari Senin tanggal sembilan mulai membias tipis menembus celah ventilasi kayu.

Pukul enam pagi, aku memutar kunci kuningan kamar utama dan menggeser kursi ganjal kayu.

Dini dan Ranti mengikutiku bergeser perlahan menuju koridor samping tempat pintu kayu berada.

Dari jarak tiga pijakan, pandangan mata kami bertiga seketika terpaku pada ambang ubin luar.

Di balik celah bawah daun pintu samping, seikat karung goni basah berkerak tanah merah tergeletak kaku.

"Bu... itu karung goni yang terhempas kaku semalam?" tanya Dini menunjuk ubin.

"Iya, Din. Karung goni itu terhempas persis saat jam berdentang dua belas kali semalam," jawabku.

"Ibu mau ambil karung goni itu sekarang?" tanya Ranti cemas menatapku.

"Mboten, Ran. Kita mboten boleh sentuh atau pindahkan benda itu sebelum polisi datang," sahutku tegas.

"Pak RT dan Pak Wo tadi malam wanti-wanti supaya barang bukti mboten tersentuh sama sekali," tambah Dini mengingatkan.

"Iya, Din. Biar nanti petugas Polsek dan Pak RT yang periksa langsung di tempat," balasku menyetujui.

"Kita tunggu saja di ruang tengah sampai Pak RT datang membawa polisi," ajakku pada anak-anak.

Aku menuju teras depan, membuka selot besi pintu kayu untuk menyapa udara pagi.

Lorong aspal gang permukiman kami masih tampak sepi di bawah naungan langit pagi Kota Malang.

Rumah Maya di sebelah kanan berdiri membisu di balik himpitan gembok perak dan rantai besi.

Di pekarangan belakang rumah tetangga sebelah itu, dahan pohon mangga tua tampak tak bergerak.

Dini dan Ranti menyapu teras depan sembari sesekali menatap ke arah lorong utama gang.

Pukul delapan pagi lewat empat puluh lima menit, suara deru mesin sepeda motor terdengar mendekat.

Dua sepeda motor dinas kepolisian berhenti tepat di depan pagar rumah Pak RT di ujung gang.

Tak lama kemudian, Pak RT dan Pak Wo bergegas mendampingi dua petugas Polsek.

Dua petugas Polsek berseragam cokelat rapi bergerak menyusuri teras rumah kami bersama pengurus RT.

"Selamat pagi, Bu Sari," sapa Pak RT menganggukkan kepala dari balik pagar teras.

"Selamat pagi, Pak RT, Pak Wo, Pak Petugas Polsek," balasku menyambut kedatangan mereka.

"Niki petugas dari Polsek yang bakal memeriksa rumah Bu Maya secara resmi pagi ini," terang Pak RT.

"Kulo Bripka Haryono, Bu Sari. Kami datang untuk menindaklanjuti laporan resmi warga," ujar petugas polisi itu.

"Matur nuwun sanget atas kedatangan Bripka Haryono dan tim Polsek di gang kami," sahutku menghaturkan terima kasih.

"Wonten perkembangan punapa lagi sejak kemarin sore di rumah Bu Sari?" tanya Bripka Haryono mencatat di buku laporan.

"Tepat tengah malam tadi, ada benturan keras dan benda jatuh di depan pintu samping kami, Pak," terangkan pelan.

"Benda jatuh seperti apa yang terhempas semalam, Bu Sari?" tanya Bripka Haryono mengejar detail.

"Ada seikat karung goni basah yang terhempas kaku di ubin samping, Pak Bripka," jawabku memperjelas.

Aku membimbing Bripka Haryono, Pak RT, dan Pak Wo menuju lorong samping rumah kami.

Di atas ubin semen depan pintu samping, seikat karung goni basah berkerak tanah merah masih tergeletak.

Bripka Haryono berjongkok perlahan, mengamati wujud karung goni kusam itu tanpa menyentuhnya.

Petugas polisi kedua mengambil sarung tangan karet transparan dari dalam tas dinas hitamnya.

"Karung goni ini kondisinya sangat lembap dan tertutup kerak tanah merah kering," ujar Bripka Haryono.

"Kira-kira apa isi di dalam karung goni ini, Pak Polisi?" tanya Pak RT penasaran.

"Biar kami buka ikatan karung goni ini dulu untuk memastikan isinya di depan panjenengan semua," jawab Bripka Haryono pelan.

"Iya, Pak Bripka. Tolong dibuka hati-hati supaya kainnya mboten rusak," panggil Pak Wo memperhatikan.

Petugas polisi membuka tali pengikat kain karung goni dengan hati-hati di hadapan kami semua.

Di dalam lipatan karung goni basah itu, tersimpan selembar daster kain kusam milik Maya.

Daster kain itu berwarna pudar dengan bercak tanah merah basah yang menempel kaku di seratnya.

"Lho... niki kan daster kain motif bunga milik Mbak Maya?" cetus Pak Wo terkejut mengenali wujud baju itu.

"Iya, Pak Wo. Daster motif bunga pudar ini memang sering dipakai Maya waktu menyapu pekarangan," sahutku membenarkan.

"Daster ini kondisinya kotor terkena tanah merah basah dan tersimpan di dalam karung goni," ujar Bripka Haryono.

"Kami amankan dulu daster dan karung goni ini sebagai barang bukti pemeriksaan resmi," tegas Bripka Haryono.

"Inggih, Pak Bripka. Langkah amankan barang bukti niki pun sangat tepat," timpal Pak RT setuju.

Petugas memasukkan daster kusam dan karung goni tersebut ke dalam kantong plastik transparan khusus.

"Oh inggih, Pak Polisi. Dua potongan kain perca yang kulo temukan kemarin masih terkunci di laci," tambahku.

Aku bergeser menuju kamar tidur utama, memutar kunci kecil laci meja rias jati.

Klek!

Laci kayu terbuka, memperlihatkan Kain A dan Kain B yang terbungkus rapi di dalam plastik.

Aku membawa dua kantong plastik berisi Kain A dan Kain B menuju koridor depan.

"Niki Kain A yang terselip di pintu Maya, dan Kain B yang terselip di pintu samping kulo," terangkan.

Bripka Haryono menerima dua kantong plastik kain perca tersebut dan mencatat keteranganku di lembar laporan.

"Matur nuwun sanget, Bu Sari. Semua barang bukti kain perca ini kami catat secara resmi," ujar Bripka Haryono.

"Sekarang kami bakal lanjut melakukan pemeriksaan fisik ke dalam rumah Bu Maya," tegas Bripka Haryono.

"Inggih, Pak Polisi. Kulo dan warga siap mendampingi pemeriksaan secara tertib," sahut Pak RT setuju.

Bripka Haryono, petugas polisi kedua, Pak RT, dan Pak Wo bergerak menuju teras rumah Maya.

Warga gang yang baru selesai belanja dari warung mulai berkumpul di sekitar pagar teras.

Suasana di depan rumah tetangga sebelah kami itu mendadak ramai oleh bisikan penasaran warga.

"Pak RT, rumah sebelah benar-benar mau dibongkar pintunya sama polisi pagi ini?" tanya seorang warga gang.

"Inggih, Pak. Niki pemeriksaan resmi dari Polsek untuk mengecek keberadaan Rian dan Maya," jawab Pak RT.

"Warga harap tenang dan mboten mendekat ke dalam pekarangan rumah sebelah," imbau Pak Wo mengingatkan warga.

"Iya, Pak Wo. Kami cuma mau lihat dari balik pagar teras saja," sahut warga gang menanggapi.

Petugas polisi kedua mengeluarkan alat pemotong rantai besi dari dalam bagasi motor dinasnya.

Krik... krik...

Ceklek!

Rantai besi tebal yang mengikat gembok perak pagar depan Maya terputus kaku dihantam alat pemotong.

Pak Wo menggeser daun pagar besi yang berderit kaku melintasi ubin teras rumah sebelah.

Bripka Haryono bergeser masuk ke dalam pekarangan rumah Maya yang tampak berdebu dan terbengkalai.

Daun-daun kering pohon mangga berserakan kusam menutupi ubin teras depan rumah tetangga kami itu.

Aku, Pak RT, dan Pak Wo berjalan mengikuti petugas polisi dengan cermat menyusuri pekarangan.

Bripka Haryono mengetuk pintu kayu depan rumah Maya tiga kali memakai ujung jarinya.

Tok! Tok! Tok!

"Permisi, Polsek Malang Kota, wonten tiang teng dalam?" seru Bripka Haryono.

Keheningan melingkupi rumah sebelah tanpa ada sahutan kata atau pergerakan sama sekali dari dalam.

Bripka Haryono memutar gagang pintu depan, namun kunci selot besi di dalam masih tertahan kaku.

"Pintu depannya terkunci rapat dari dalam, Pak Bripka," ujar Pak Wo memperjelas kondisi pintu.

"Kita periksa pintu dapur belakang yang kemarin kelihatan terbuka renggang," usul Pak RT mengarahkan.

"Mari kita putar lewat lorong samping kanan menuju dapur belakang," sahut Bripka Haryono setuju.

Bripka Haryono bergerak menyusuri lorong samping kanan rumah Maya menuju dapur belakang.

Kami beriringan menyusuri koridor sempit yang berbatasan langsung dengan dinding rumahku.

Di ujung lorong samping pekarangan belakang, pintu kayu dapur rumah Maya berdiri membisu.

Daun pintu dapur belakang itu memang tampak terbuka agak renggang dua jari tangan.

Bripka Haryono mendorong perlahan daun pintu kayu dapur tersebut menggunakan ujung tongkat polisinya.

Kreeek...

Suara engsel besi yang haus minyak berbunyi kencang memecah kesunyian pekarangan belakang.

Hawa dingin lembap dan aroma debu tua menguar keluar melintasi ambang pintu dapur.

Aroma tanah merah yang agak amis kusam tercium samar dari dalam ruangan dapur rumah sebelah.

Bripka Haryono mengarahkan lampu senter dinasnya menyinari bagian dalam dapur rumah Maya.

Aku, Pak RT, dan Pak Wo berdiri tepat di balik ambang pintu belakang, memperhatikan setiap detail.

Di atas ubin semen dapur yang tertutup debu tipis, kondisi ruangan tampak berantakan tak teratur.

Sebuah kursi kayu terletak miring di samping meja makan yang permukaannya tertutup kerak kering.

Beberapa cangkir kaleng tua dan piring porselen tergeletak kusam di atas permukaan meja dapur.

Di atas ubin semen dekat meja makan, terlihat bekas seretan kusam berwarna tanah merah.

Bercak tanah merah yang mengering itu membentuk garis seretan samar menuju arah lorong kamar tengah.

"Lihat ini, Pak RT. Ada bekas seretan tanah di atas ubin dapur," ujar Bripka Haryono menunjuk ubin.

"Iya, Pak Bripka. Bekas tanah merah ini mirip sama jejak yang kelihatan di pekarangan kemarin," sahut Pak RT.

"Seretan tanah ini kelihatan seperti menarik sesuatu menuju arah kamar tengah," tambah Pak Wo mengamati.

"Kami bakal periksa ke dalam kamar tengah dan kamar utama sekarang," tegas Bripka Haryono.

Bripka Haryono bergerak masuk ke dalam ruang tengah rumah Maya dengan kewaspadaan penuh.

Petugas polisi kedua mengekor di belakang Bripka Haryono sembari memeriksa setiap kamar tidur.

Beberapa menit berlalu saat kami menanti pemeriksaan petugas di dalam rumah.

Bripka Haryono kembali keluar menuju pintu dapur belakang dengan raut wajah sangat serius.

"Pripun hasil pemeriksaan di dalam rumah sebelah, Pak Bripka?" tanya Pak RT mengejar kepastian.

"Rumah dalam keadaan kosong. Tidak ada keberadaan Bu Maya maupun Pak Rian di dalam," terang Bripka Haryono.

"Lemari pakaian di kamar utama terbuka dan sebagian isi pakaian kelihatan hilang," lanjut Bripka Haryono.

"Lalu bekas tanah merah di ubin dapur itu pripun, Pak?" tanya Pak Wo penasaran.

"Bekas tanah merah itu mengarah dari pintu dapur belakang menuju ruang tengah dan mengering," jawab Bripka Haryono.

"Kami belum bisa menyimpulkan apa pun sebelum ada tim identifikasi yang memeriksa lebih dalam," tegas Bripka Haryono.

"Kami bakal pasang garis polisi di sekitar rumah niki sekarang," tambah Bripka Haryono memberi tahu.

Bripka Haryono mengeluarkan gulungan pita plastik berwarna kuning hitam dari dalam tas dinasnya.

Pita plastik bertuliskan garis polisi itu dibentangkan melintasi pintu depan dan pintu dapur belakang Maya.

"Rumah niki resmi kami pasang garis polisi untuk kepentingan penyelidikan resmi Polsek," ujar Bripka Haryono.

"Warga dilarang keras melintasi atau masuk ke dalam pekarangan rumah ini tanpa izin," tegas Bripka Haryono.

"Inggih, Pak Bripka. Kami pengurus RT bakal memastikan warga mematuhi garis polisi niki," sahut Pak RT mantap.

"Bu Sari, kalau ada perkembangan atau kabar dari Rian, langsung hubungi kulo, nggih?" pesan Bripka Haryono.

"Inggih, Pak Bripka. Kulo pasti langsung memberi tahu Pak RT dan Polsek," balasku mengangguk mantap.

Bripka Haryono menancapkan pasak kayu terakhir untuk mengikat ujung pita kuning di tiang teras.

Pita plastik berwarna kuning hitam itu terbentang kaku menutupi seluruh jalan masuk menuju pintu depan.

Di atas tanah merah dekat selokan pembuangan lorong samping, gulungan bekas tali pengikat daster tergeletak kusam.

Aku mendekati tiang pagar teras, memperhatikan gulungan tali kusam yang tertinggal di atas ubin semen.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!