Demi menyelamatkan nyawa adiknya yang kritis di ICU, Dania Kirana terpaksa menerima syarat gila dalam surat wasiat seorang konglomerat: menikah dengan Arvin Dirgantara, CEO dingin yang penuh prasangka.
Arvin menganggap Dania wanita matre yang memanfaatkan kakeknya demi harta dan 51% saham perusahaan. Sementara Dania bertaruh harga diri demi bertahan dalam pernikahan rahasia berdurasi satu tahun.
Di balik pernikahan penuh ancaman dan perjanjian kertas ini, bahaya besar mengintai dari Dion—sepupu Arvin yang haus kekuasaan. Mampukah Dania membuktikan dirinya di tengah kepungan musuh, ataukah pernikahan rahasia ini justru menjebak mereka dalam benih cinta yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Jejak Brankas Tua
Malam makin larut di lantai 45. Suasana penthouse terasa sunyi setelah mereka menghabiskan makan malam sederhana yang disiapkan Arvin—sepiring steak ayam panggang dengan salad yang dimasak dengan tingkat presisi tinggi khas sang CEO.
Dania duduk di meja ruang kerja Arvin, dikelilingi oleh cetakan dokumen audit lama dan peta silsilah kepemilikan aset Dirgantara Group. Di depannya, Arvin baru saja meletakkan sebuah kotak besi hitam berukuran sedang dengan sistem pengunci kombinasi angka klasik.
"Apa ini?" tanya Dania, mengalihkan pandangannya dari layar tablet.
"Kotak deposit pribadi Almarhum Kakek Wijaya," jawab Arvin seraya mendudukkan tubuhnya di kursi sebelah Dania. "Rian baru saja mengambilnya dari brankas penyimpanan bank utama sore ini, setelah izin akses dari tim hukum keluar."
Dania mengernyit bingung. "Kenapa kotak ini baru diambil sekarang?"
Arvin memutar tiga digit kombinasi angka pada kunci pemutar kotak tersebut dengan gerak jemari yang terlatih. Klak. Pintu kotak besi itu terbuka renyah.
"Karena Kakek meninggalkan instruksi khusus," kata Arvin dingin. "Kotak ini hanya boleh dibuka jika terjadi ancaman keselamatan fisik pada pemegang saham utama—yaitu kamu."
Arvin mengeluarkan satu bundel amplop cokelat tua bermaterai resmi yang sudah agak menguning di bagian pinggirnya. Di atas amplop itu, tertera tulisan tangan rapi yang sangat dikenal Arvin: Wasiat Tambahan & Catatan Histori Keluarga Dirgantara.
Arvin membuka amplop tersebut, membentangkan dua lembar kertas tebal di tengah meja. Dania melongokkan kepalanya sedikit, membaca kalimat demi kalimat yang tertulis di sana.
Mata Dania mendadak melebar saat membaca baris ketiga.
> "Untuk cucuku, Arvin Dirgantara... Jika kamu membaca surat ini bersama Dania Kirana, artinya bahaya dari dalam keluarga kita sendiri telah mengancam keselamatan kalian.
> Ketahuilah bahwa pemilihan Dania sebagai pendampingmu dan penerima lima puluh satu persen saham perwalian bukan sekadar keputusan mendadak. Dua puluh tahun lalu, ayah Dania—almarhum Hendra Kirana—adalah sosok arsitek utama yang menyelamatkan Dirgantara Group dari kebangkrutan saat terjadi kecurangan sistemik yang dilakukan oleh mendiang suaminya Helen dan kelompoknya.
> Helen dan Dion tidak pernah berniat membangun perusahaan ini. Mereka menyimpan dokumen pengalihan aset ilegal sejak lama. Dania adalah kunci pelindung tunggal yang diakui hukum untuk membatalkan seluruh hak klausul Helen."
>
Dania mematung. Jantungnya berdetak kencang membaca nama almarhum ayahnya terukir di dalam surat resmi pendiri Dirgantara Group.
"Ayah saya..." suara Dania bergetar tipis. "Ayah saya pernah bekerja untuk Kakek Anda?"
Arvin menatap Dania dengan raut kaku yang sangat dalam. Tidak ada prasangka tersisa di matanya, hanya kebenaran pahit yang kini terhampar jelas di antara mereka.
"Ayahmu dihancurkan secara karier oleh kelompok Ibu Helen setelah beliau menolak menandatangani laporan manipulasi struktur bangunan proyek masa lalu," kata Arvin pelan, suara baritonnya merendah. "Kakekku menyimpannya rapat-rapat untuk melindungimu dan adiknya sampai kalian cukup dewasa."
Dania mengepalkan jemarinya di atas meja. Rasa sesak merayapi dadanya saat menyadari bahwa pernikahan rahasia ini bukan sekadar transaksi takdir yang kebetulan—melainkan sebuah benang merah keadilan yang sengaja dirajut oleh Kakek Wijaya untuk membayar utang masa lalu organisasinya.
"Jadi... Dion dan Ibu Helen melakukan semua sabotase ini bukan cuma untuk merebut kursi CEO," bisik Dania seraya menatap Arvin lurus-lurus. "Mereka takut fakta kejahatan orang tua mereka terbongkar."
"Tepat," tegas Arvin seraya berdiri, mengambil ponselnya dari saku. "Dan malam ini, dokumen asli transaksi pengalihan aset ilegal milik Ibu Helen yang tersimpan di dalam kotak ini... akan menjadi umpan terakhir kita."
Arvin menatap Dania dengan keteguhan mutlak. "Besok malam, kita akan mengadakan pertemuan tertutup di rumah lama Kakek. Kita selesaikan permainan ini, Dania."
Dania berdiri dari kursinya, menatap pria tegap di depannya tanpa ada sedikit pun getaran ragu di matanya.
"Saya ikut, Arvin," kata Dania mantap. "Demi nama ayah saya... dan demi mengakhiri semua sandiwara ini."