Kael seharusnya tidak mati, tetapi kesalahan seorang dewa mengubah takdirnya selamanya. Diberi tubuh baru yang sempurna dan tiga kemampuan luar biasa—Adaptation, Infinite Growth, dan Absolute Regeneration—ia direinkarnasikan ke dunia Elyndra. Namun, alih-alih terlahir di tempat aman, Kael justru terlempar ke Death Forest, wilayah terlarang yang dipenuhi monster mematikan. Sambil mencari jalan keluar, ia mulai memahami kultivasi, sihir, dungeon, kerajaan, dan ras-ras kuat yang menghuni dunia tersebut. Pertemuannya dengan seorang Ancient Vampire bernama Seraphina menjadi awal perjalanan panjangnya. Di tengah konflik sekte, peperangan, rahasia kuno, dan cinta, Kael perlahan menyadari bahwa kedatangannya mungkin bukan sekadar kesalahan yang belum pernah diketahui manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14 — Pertarungan Pertama
Pengundian babak pertama diadakan malam itu juga, disaksikan oleh seluruh peserta dan perwakilan delegasi di aula besar dekat arena.
Ketika giliran Kael tiba untuk mengambil undian, seluruh mata di ruangan itu tertuju padanya—hasil dari reputasinya yang sudah menyebar luas berkat duel melawan Reyes dan status Holy Son yang disandangnya.
Dia mencelupkan tangannya ke dalam kotak kristal berisi nama-nama peserta lain, dan mengeluarkan sebuah gulungan kecil.
"Kael dari Heavenly Sword Sect," pembawa acara mengumumkan dengan suara lantang, "melawan Marcus Dravencourt dari Dravencourt Kingdom!"
Sorak-sorai dan bisik-bisik langsung memenuhi ruangan. Marcus Dravencourt, seperti yang segera dijelaskan Aria kepadanya, adalah putra bangsawan tinggi Dravencourt Kingdom, dikenal karena kekuatan elemen petirnya yang jarang dimiliki kultivator seusianya.
"Dia cukup kuat," Aria memperingatkan Kael malam itu, ketika mereka berkumpul untuk strategi terakhir sebelum pertarungan esok hari.
"Elemen petirnya bisa melumpuhkan sistem saraf lawan hanya dengan sentuhan, dan kecepatannya sebanding dengan kilat itu sendiri."
"Terdengar seperti tantangan yang menarik," Kael berkata dengan senyum santai yang sudah menjadi ciri khasnya menghadapi bahaya.
Keesokan paginya, arena dipenuhi puluhan ribu penonton yang antusias menyaksikan babak pertama turnamen dimulai.
Kael berdiri di salah satu sisi lapangan pertarungan yang telah ditentukan untuknya, mengamati lawannya—seorang pemuda berambut pirang dengan mata biru tajam, mengenakan zirah ringan berwarna biru gelap khas Dravencourt Kingdom, listrik kecil sesekali berkilat di sekitar tangannya sebagai tanda kekuatan elemennya yang sudah aktif bahkan sebelum pertarungan dimulai.
"Aku sudah mendengar banyak tentangmu, Holy Son," Marcus berkata dengan nada percaya diri, "tapi rumor sering kali dibesar-besarkan. Mari kita lihat kebenarannya."
"Silakan," Kael menjawab tenang, menghunus pedangnya.
Wasit pertandingan—seorang tetua netral yang dipilih khusus dari sekte yang tidak berpartisipasi dalam turnamen—mengangkat tangannya untuk memulai pertandingan.
"Mulai!"
Marcus langsung melesat dengan kecepatan yang benar-benar menyerupai kilat, tubuhnya diselimuti aura listrik biru yang membuat setiap gerakannya meninggalkan jejak cahaya singkat.
Dia muncul tepat di depan Kael dalam sepersekian detik, tangannya yang dialiri listrik menyambar ke arah dadanya.
Kael berhasil menghindar dengan miring badan, meski ujung jarinya masih menyentuh lengannya, mengirimkan sengatan listrik yang membuat ototnya berkedut tidak terkendali sesaat.
[Peringatan: Elemen Petir terdeteksi.]
[Efek: gangguan sistem saraf sementara.]
"Menarik," Kael bergumam, meski rahangnya mengeras menahan sensasi tidak nyaman itu.
[Adaptation terhadap Elemen Petir: 4%.]
Marcus tidak memberinya waktu untuk pulih sepenuhnya, langsung melancarkan serangan kedua dengan kecepatan yang sama mengejutkannya. Kael mulai memperhatikan pola pergerakannya—setiap kali Marcus menggunakan kecepatan petirnya, ada jeda sepersekian detik sebelum dan sesudah pergerakan itu, momen ketika elemennya harus "mengisi ulang" sebelum bisa digunakan lagi dengan intensitas yang sama.
"Kau selalu berhenti sejenak setelah bergerak secepat itu," Kael berkata sambil menghindari serangan ketiga dengan lebih baik dari sebelumnya.
Marcus tersentak, menyadari kelemahannya sudah terbaca secepat itu. "Kau ... bagaimana kau bisa—"
"Aku belajar cepat," Kael menjawab sederhana, mengulangi kalimat yang sudah mulai menjadi semacam mantra pribadinya.
[Adaptation: 21%.]
Kael mulai membalas serangan, menggunakan jeda singkat setelah setiap ledakan kecepatan Marcus untuk melancarkan tebasannya sendiri.
Pertama kali dia berhasil menggores lengan Marcus, cahaya listrik di sekitar tubuhnya berkedip tidak stabil sesaat.
Penonton mulai riuh menyaksikan pertarungan yang semakin seimbang, meski awalnya terlihat seperti Marcus akan mendominasi sepenuhnya berkat kecepatan superiornya.
"Aku tidak akan kalah semudah ini!" Marcus berteriak, mengerahkan lebih banyak Qi ke dalam elemen petirnya, menciptakan ledakan kecepatan yang lebih besar dari sebelumnya, disertai gelombang kejut listrik yang menyebar ke seluruh area di sekitarnya.
Kael merasakan sengatan listrik menghantam dari berbagai arah sekaligus, membuat ototnya berkedut tidak terkendali lebih parah dari sebelumnya. Dia jatuh berlutut sesaat, giginya bergemeletuk menahan rasa sakit.
[Absolute Regeneration menstabilkan sistem saraf.]
[Adaptation terhadap Elemen Petir: 47%.]
Dia bangkit kembali, meski tubuhnya masih sedikit gemetar.
Marcus mendekat dengan seringai kemenangan, mengira pertarungan sudah hampir berakhir.
Namun ketika dia melancarkan serangan finalnya, Kael sudah cukup beradaptasi untuk merasakan pola listrik yang mengalir di udara sebelum benar-benar menyerang, memberikan waktu sepersekian detik lebih banyak untuk bereaksi.
Dia menyamping tepat pada waktunya, membiarkan serangan itu melewati sisi tubuhnya, lalu membalas dengan tebasan Tebasan Seribu Prajurit yang sudah dia kuasai lebih baik sejak duel melawan Reyes.
[Tebasan Seribu Prajurit — Mahir 12%.]
Tebasan itu mengenai bahu Marcus dengan kekuatan penuh, membuatnya terlempar mundur beberapa meter dan jatuh tersungkur di luar batas arena.
[Marcus Dravencourt keluar dari batas arena.]
[Pertandingan dimenangkan oleh Kael.]
Sorak-sorai riuh memenuhi seluruh arena, dan Kael berdiri terengah-engah namun puas, merasakan kepuasan yang berbeda dari sekadar bertahan hidup di Death Forest—ini adalah kepuasan dari pertumbuhan yang bisa dia rasakan dan buktikan secara langsung di depan ribuan orang.
Dia membantu Marcus berdiri, yang menerima uluran tangannya dengan ekspresi kagum yang tulus. "Kau benar-benar layak dengan reputasimu, Kael. Aku belum pernah melawan seseorang yang bisa beradaptasi secepat itu terhadap elemenku."
"Pertarungan yang bagus," Kael menjawab jujur.
"Kecepatanmu benar-benar mengesankan."
Ketika Kael kembali ke area istirahat delegasi, Aria menyambutnya dengan senyum lebar. "Kemenangan pertama. Bagaimana rasanya?"
"Melelahkan, tapi memuaskan," Kael menjawab sambil duduk untuk beristirahat. "Marcus jauh lebih kuat dari yang kubayangkan."
"Tunggu sampai kau menghadapi lawan-lawan di babak selanjutnya," Aria berkata dengan nada memperingatkan sekaligus antisipasi.
"Turnamen baru saja dimulai, Kael. Dan aku punya firasat perjalanan kita masih sangat panjang."
Di tribun penonton, tersembunyi dengan sempurna di antara kerumunan, Seraphina tersenyum tipis menyaksikan kemenangan Kael, meski di baliknya, kewaspadaannya terhadap kemungkinan gerakan Dravos tidak pernah benar-benar mereda sedikit pun.
---
Hari-hari berikutnya di Kingdom Tournament berlalu dalam rangkaian pertarungan yang semakin menegangkan.
Babak kedua mempertemukan Kael dengan seorang murid dari Azure Cloud Sect yang mengkhususkan diri dalam teknik pedang ilusi, menciptakan puluhan bayangan palsu yang membingungkan lawan.
Namun setelah pengalamannya melawan Seribu Bayangan Pedang milik Reyes, Kael sudah cukup terlatih untuk mendeteksi perbedaan kepadatan Qi dengan lebih cepat, memenangkan pertandingan itu dengan lebih efisien dari yang dia perkirakan.
[Adaptation terhadap Teknik Ilusi Pedang: 68%.]
[Qi Gathering 3★ — Progres: 92%.]
Babak ketiga membawanya melawan seorang gadis dari Moonlight Sect yang menggunakan sihir ilusi murni, menciptakan medan pertarungan palsu yang membuat lawannya kebingungan mengenali arah dan posisi sebenarnya.
Pertarungan ini jauh lebih sulit—Kael untuk pertama kalinya menghadapi sesuatu yang tidak bisa dia atasi hanya dengan membaca pola Qi fisik.
"Di mana aku..." dia bergumam, dikelilingi ilusi hutan yang identik dengan Death Forest, membuat jantungnya berdegup kencang dengan kenangan yang tidak sepenuhnya menyenangkan.
Namun justru pengalaman nyatanya di Death Forest yang menyelamatkannya.
Ilusi itu, meski meyakinkan secara visual, tidak memiliki tekanan miasma yang sebenarnya, tidak ada bau darah tua yang khas, tidak ada suara-suara halus yang biasanya menyertai hutan sungguhan.
"Ilusi ini tidak lengkap," Kael berkata, menutup matanya dan mengandalkan indra lain yang telah dia latih tajam-tajam selama bulan-bulan di hutan sesungguhan.
Dia bergerak berdasarkan insting, menemukan sumber ilusi—gadis Moonlight Sect yang bersembunyi di balik lapisan sihirnya sendiri—dan mengakhiri pertandingan dengan tebasan yang tepat sasaran.
[Adaptation terhadap Sihir Ilusi: 55%.]
[Body Tempering pengalaman kini juga berlaku pada pertarungan sihir.]
Setiap kemenangan membawa Kael semakin dekat ke perhatian publik yang lebih besar.
Namanya mulai disebut-sebut sebagai salah satu kandidat terkuat untuk memenangkan seluruh turnamen, bersaing dengan nama-nama besar lain seperti Ragna Fenrir yang juga terus memenangkan pertandingannya dengan kekuatan fisik brutal, dan seorang pemuda misterius dari Arkhaven Kingdom bernama Theron yang jarang berbicara namun selalu mengalahkan lawannya dengan cara yang efisien dan dingin.
Namun bersamaan dengan meningkatnya perhatian, kewaspadaan Seraphina juga semakin meningkat.
"Sesuatu terasa salah," dia berkata suatu malam setelah pertandingan babak ketiga Kael, duduk di sudut gelap pavilion mereka dengan ekspresi tegang.
"Aku merasakan konsentrasi energi aneh di sekitar arena hari ini, mirip dengan yang kurasakan malam ketika Ren menyusup, tapi jauh lebih besar."
"Kau pikir Dravos ada di sini? Di arena?" Kael bertanya, menegang mendengar kemungkinan itu.
"Aku tidak yakin dia akan mengambil risiko muncul secara langsung," Seraphina menjawab, "tapi pengikutnya, mungkin. Dan jika mereka merencanakan sesuatu, turnamen dengan begitu banyak orang berkumpul di satu tempat adalah kesempatan sempurna untuk kekacauan yang bisa menyembunyikan niat sebenarnya."
Kael menghela napas, merasakan beban tanggung jawab ganda—harus fokus memenangkan setiap pertandingan sekaligus waspada terhadap ancaman tersembunyi yang bisa muncul kapan saja.
Keesokan harinya, babak perempat final dimulai, dan Kael mendapati dirinya berhadapan dengan Theron dari Arkhaven Kingdom—pemuda misterius yang belum pernah terlihat berbicara dengan siapa pun selama turnamen berlangsung.
"Aku sudah menantikan ini," Theron berkata dengan suara datar sebelum pertandingan dimulai, matanya yang berwarna abu-abu gelap menatap Kael tanpa emosi yang jelas.
"Kau menarik perhatian yang tidak biasa untuk seorang pemuda tanpa latar belakang jelas."
"Kau juga cukup misterius sendiri," Kael menjawab, mencoba membaca situasi dari nada bicara lawannya yang aneh.
"Aku hanya melakukan tugasku," Theron berkata, dan sebelum Kael sempat bertanya lebih lanjut tentang maksud kata-kata itu, wasit sudah mengumumkan dimulainya pertandingan.
Theron bertarung dengan gaya yang sangat berbeda dari lawan-lawan sebelumnya—efisien hingga ke titik dingin, setiap gerakan dihitung dengan presisi matematis tanpa emosi yang terlihat, seolah dia bukan bertarung untuk kemenangan pribadi, melainkan menjalankan sebuah misi.
[Peringatan: Pola pertarungan tidak konsisten dengan murid sekte biasa.]
Notifikasi itu membuat Kael semakin waspada. Ada sesuatu yang tidak beres dengan cara Theron bertarung—terlalu terlatih, terlalu terkontrol, seperti seseorang yang dilatih khusus untuk tugas tertentu, bukan sekadar kultivator yang mengejar kekuatan untuk dirinya sendiri.
Di tengah pertarungan, ketika Theron melancarkan serangan yang tampak seperti tebasan biasa, Kael merasakan sesuatu yang berbeda—jejak energi asing yang familiar tersembunyi di balik teknik pedangnya, energi yang mirip dengan yang pernah dia rasakan sekilas dari cermin bayangan yang tanpa sadar sempat terlihat Seraphina gambarkan tentang Dravos.
"Kau bekerja untuknya," Kael berkata pelan, matanya menyipit dengan realisasi yang mengejutkan. "Untuk Dravos."
Untuk sesaat, ekspresi Theron yang biasanya datar retak sedikit, menunjukkan keterkejutan singkat sebelum kembali menjadi topeng tanpa emosi. "Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan."
Namun keraguan singkat itu sudah cukup bagi Kael untuk mengonfirmasi kecurigaannya.
Dia mengubah pendekatannya, tidak lagi sekadar bertarung untuk memenangkan pertandingan, tetapi juga mencoba menggali informasi lebih lanjut tentang hubungan sebenarnya antara Theron dan musuh tersembunyi mereka.
Pertarungan berlanjut dengan intensitas yang semakin meningkat, dan di tribun penonton, Seraphina yang merasakan perubahan tiba-tiba dalam pola pertarungan itu mulai bersiap untuk kemungkinan intervensi, meski dia tahu turun tangan secara terbuka bisa mengungkap keberadaannya kepada terlalu banyak orang yang tidak seharusnya tahu tentang statusnya sebagai vampir kuno.
*Bertahanlah, Kael*, pikirnya, tangannya secara refleks menggenggam Crimson Moon Chalice yang tersembunyi di balik pakaiannya. *Aku akan turun tangan jika benar-benar diperlukan.*