Dijadikan ladang emas oleh sang paman. Fio yang semula setuju dijodohkan oleh anak politisi sekaligus pengusaha besar oleh pamannya memilih berontak.
Fio bersekutu dengan Gio, mafia yang ternyata sudah lama memendam perasaan padanya. Hingga, perlahan semua tabir keluarganya terungkap.
"Aku bukan laki - laki yang bisa menyentuh perempuan sembarang. Tapi, aku juga bukan laki - laki yang bisa menahan untuk tidak menyentuh kamu." -Giorgio Abraham-
Sequel Gairah Cinta Sang Pembalap
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elis Kurniasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terkejut
Kring
Di dalam mobil, Fio menerima telepon dari Pamannya.
“Halo. Ya, Paman.”
“Kamu sudah bersama Gala?”
Fio menoleh, pria di sampingnya langsung tersenyum.
“Iya.”
“Baguslah. Sebentar lagi, Paman juga tiba. Hati – hati!”
“Iya, Paman.”
Arif memutuskan sambungan dan Fio kembali menatap lurus ke jalan. Ingatan kedekatannya dengan Gio tadi masih terngiang. Dua kali, sang mafia itu mencuri ciuman membuat tanpa disadari, Fio menyentuh bibirnya.
“Kenapa?” tanya Gala menoleh sekilas ke wajah Fiona yang langsung menurunkan tangannya. “Kamu mikirin apa?”
Kepala Fio langsung menggeleng.
Tiba- tiba, tangan Gala menyentuh tangannya. Dia menggenggam tangan itu erat sembari berkata. “Tenang saja, tidak perlu pusing memikirkan wedding. Semua sudah Mama atur.”
Fio tidak memikirkan tentang itu. justru, dia sedang memikirkan ‘apa keputusannya benar?’
Fio menatap Gala. “Gal, kamu menyukaiku?”
“Tentu,” jawab Gala tegas dengan senyum sumringah. “Sejak, Papa memperkenalkan aku padamu. Aku langsung suka. Kamu menarik, Fio. Kamu cantik, energik, pintar. Apalagi? Lagi pula, kita bukan orang asing sebenarnya. Dulu, kita satu sekolah kan?"
Fio mengangguk. Ia pikir, Gala tidak tahu kalau mereka satu almamater saat SMA karena waktu itu Gala terlalu terkenal sedangkan Fio tidak.
"Aku membutuhkan perempuan sepertimu untuk mendampingiku," sambung Gala lagi.
“Bukan karena kepentingan?”
Gala tertawa. “Ya. itu juga, iya. Ibaratnya, sekali dayung, dua tiga pulau terlampau.”
“Maksudnya?”
"Ya, aku mendapatkan mu dan simpati masyarakat terutama para pemegang saham."
“Aku bukan siapa - siapa," sanggah Fiona. "Hanya keponakan Paman Arif saja.”
“Kamu terlalu merendah, Sayang. Kamu itu kesayangan. Kesayangan Papa, Mama, dan Om Arif tentunya."
Fio diam. Dia memang merasakan hal itu. Arif memang benar – benar merawatnya dengan baik layaknya anak kandung. Bahkan kasih sayangnya melebihi dari anak kandungnya sendiri.
“Dan, kamu tidak menolak perjodohan ini karena tidak ingin mengecewakannya, right?” tanya Gala tiba – tiba.
Fio tidak menjawab.
Gala memang bukan orang asing untuknya. Gala adalah pria famous di SMA nya. Fio pernah sangat menyukainya. Entah, Gala tahu atau tidak karena Fio memilih menyukai dalam diam hingga mereka dipertemukan lagi dalam sebuah acara keluarga dan langsung dijodohkan. Setahun berjalan, terasa biasa saja. Ada kehadiran lain yang justru membuat getaran lain di hati Fio.
Fio menggelengkan kepala. Bahkan, dia memukulnya ringan agar ingatan tentang Gio hilang.
“Hei, kenapa?”
“Entahlah.”
Gala melirik dan bertanya lagi. “Tadi, kamu masih diruang Lab?”
“Hah!” Fio membalas lirikan itu dengan panik. “Hm … tidak.”
Kepalanya langsung menggeleng.
“Terus, ke mana?”
“T0il3t. Aku berdandan di sana cukup lama. Ya.”
“Oooo …” Gala membulatkan bibirnya.
Fio tidak bertanya lagi. Padahal, dia juga ingin bertanya, ke mana Gala setelah mengetuk pintu dan tak lagi terdengar ketukan serta suaranya. Namun, dia memilih diam dan tidak memperpanjang.
Setelah tiga puluh menit berada di perjalanan melalui jalan bebas hambatan, mereka sampai ke tujuan. Selayaknya seorang pangeran memperlakukan ratunya, Gala membukakan pintu untuk Fio dan menggandengnya masuk ke dalam. Namun, tatapan Gio beralih pada seseorang di sana.
Perempuan itu melambaikan tangan dari kejauhan. Gala sudah tak sabar ingin menghampiri Vania.
“Fiona,” sapa ibu Gala yang bernama Anggi.
“Mama, Papa.”
Fio membalas sapaan itu dan sengan sopan mencium punggung tangan kedua orang tua Gala bergantian.
Fio juga membalas pelukan Anggi dan Restu Pramadana.
“Apa kabar menantu Papa.”
“Baik, Pa.”
Ayah Gala menyapa sayang calon menantunya. Sementara Gala, usai membawa Fio kepada kedua orang tuanya, malah langsung meninggalkan Fio begitu saja demi menemui Vania.
“Ayo, sini duduk samping Mama, Fio!” ajakan itu membuat Fio menurut. Dia duduk di samping Anggi hingga tak lama kemudian suara Arfi menggema.
“Wah, sudah pada kumpul ya. Maaf, aku terlambat.”
Restu langsung berdiri, begitu pun dengan Anggi dan Fio.
“Paman.” Fio langsung menghampiri orang yang paling berjasa dalam hidupnya.
“Hai, Sayang. Maaf, Paman agak terlambat.”
“Belum terlambat. Acaranya belum dimulai, tenang saja,” jawab Restu santai.
“Kau mau makan apa, sobat?” tanyanya pada Arif.
“Apa saja.”
“Oh ya, mana Gala?” Arif mengedarkan pandangan.
Fio juga baru menyadari ketika tunangannya tidak ada. Dia melihat Arif menatapnya. “Hm … tadi di sini sama Fio. Mungkin ke kamar mandi. Biar, Fio yang panggil.”
Dengan inisiatif, Fio keluar dari ruang vvip yang sudah dipesan Restu untuk makan malam antar dua keluarga di restoran mewah ini.
Fio keluar, dia mencari keberadaan Gala hingga tangannya ditark seseorang.
“Akh!”
Tubuhnya langsung dibawa ke ruang sempit, lalu diapit. Bahkan, mulutnya dij3pit. Sedetik kemudian. Kedua mata Fiona membola.
“Kamu!”
Gio tersenyum. “Ya, ini aku. Kita ketemu lagi. Sesuai janjiku, dokter. Kita bertemu lagi.”
Jantung Fio kembali dag dig dug. Dadanya naik turun. irama napasnya tak menentu. Serasa, semua sedang berpacu.
“Awww!” jerit Gio tiba – tiba, karena Fio menggigit tangannya.
“Apa maumu?” tanya Fio kesal.
“Kamu.”
“Sudah berapa kali aku bilang, aku tidak suka mafia. Aku tidak suka padamu. Karena, aku tidak suka penj4h4t. Mengerti!”
“Aku bukan penjahat,” jawab Gio.
“sebutan apa untuk pengedar obat terlarang kalau bukan penjahat?”
“Aku bukan.” Gio menggeleng. “Itu dulu. sekarang, bisnisku legal.”
“Mimpi! Mana yang legal? Kamu pikir aku tidak tahu?” tanya Fio galak.
Namun, justru wajah garang itu membuat Gio tertantang.
“Cantik,” ucapnya menggoda.
Namun, ucapan menggoda itu justru sebenarnya membuat Fio salah tingkah hingga memilih memalingkan wajah.
Bugh!
Fio mendorong dada Gio yang tidak terbalut luka di dalamnya sambil berkata, “Jangan buang waktumu. Sebentar lagi, aku akan menikah.”
Mendengar kalimat itu, Gio naik pitam dan menarik tubuhnya lagi.
“Aaa … Mmmmpphh!”
Ini ketiga kalinya pria itu membungkam bibir Fio dengan bibirnya.
Sementara, di sana Gala merapihkan jasnya. Baru saja, dia mendapat amunisi kilat dari Vania. Sama seperti saat di rumah sakit, dia juga mendapat amunisi yang sama, meski rasanya berbeda karena milik Vania ternyata lebih ketat dan menggoda.
“Gala.”
Anggi melihat putranya masuk seorang diri. Gala menghampiri orang tua dan menyalami Arif, lalu duduk tenang di sana.
“Kamu tidak bertemu Fiona?” tanya ibunya lagi.
“memang Fio ke mana?”
“Mencarimu.”
Gala mengangkat bahunya, hingga tak lama kemudian Fio yang tampak ngos – ngosan masuk ke ruangan itu.
“Fio.”
“Maaf, Maaf. tadi Fio ngejar Gala tapi Gala tidak mendengar.”
Deg
Semua mata tertuju pada pria yang hobby bersenang – senang tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya. Selama ini, pria itu pintar menutup kebiasaan buruknya, serta menutup para media yang hendak meliput sisi buruknya.
“Maksudnya, kamu menemukanku, Fio? Kamu melihatku?”
Fio mengangguk. “Ya.”
Duar
Gala kikuk. “Kamu melihatku bersama siapa?”
“Tidak dengan siapa – siapa. Tadi kamu berbelok dan hendak ke sini, lalu aku memanggilmu dari belakang.”
Gala pun lega. Ternyata, Fio tidak melihatnya bersama Vania.
“Hola.”
Tiba – tiba, suara itu membuat semua orang di ruangan ini menatap pintu.
“Gio?” gumam Fio dalam hati. Dia terkejut.
“Aku belum terlambat kan?” tanyanya dengan mencuri lirikan ke arah Fio.
Restu menyambutnya dengan riang. Anggi tersenyum. Namun, Arif terlihat tidak terlalu menyukai.
“Gala, kenalkan. Ini relasi kita dari Italia.”
Gala langsung menyambutnya. Tapi, tidak dengan Fiona. Gio bisa melihat wajah galak sang dokter yang pernah menjadi intel dan memata – matainya itu.
Saat melintas, Gio mengedipkan matanya pada Fio membuat perempuan itu memutar bola matanya malas.
“Kebetulan, saya tidak sendirian,” ucap Gio. “Saya juga membawa pasangan. Ini dia.”
Mata Gala membulat. Perempuan dengan pakaian sexy yang diperkenalkan Gio dan sedang berjalan mendekati mereka adalah …
“Vania?”