Sinta Maharani dijual ayah kandungnya seharga Rp 500 juta untuk lunasi hutang judi.
Pembelinya adalah Arga Wijaya, CEO Rogue terkaya dan paling kejam di Jakarta. Pernikahan kontrak 1 tahun demi warisan triliunan.
Namun di malam pertama, Arga berbisik dingin, "Keluarga Maharani adalah pembunuh keluargaku. Sekarang giliranmu yang membayarnya."
Sinta terjebak. Menikah dengan musuh yang membenci darahnya, sambil menyembunyikan rahasia bahwa dia adalah serigala terakhir berdarah murni.
Mampukah Sinta bertahan di tengah dendam dan cinta terlarang? Ataukah dia akan hancur oleh masa lalu keluarganya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R. AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: LAMARAN ULANG DAN RAHASIA IBU KANDUNG SINTA
Setelah konferensi pers yang menghebohkan satu Indonesia itu, hidupku berubah total dalam satu malam.
Jika kemarin aku masih dikenal sebagai "istri kontrak 500 juta yang dijual ayahnya", hari ini semua media memanggilku "Nyonya Wijaya, pemilik 50% saham Wijaya Group senilai 1 Triliun dan istri sah CEO Rogue".
Foto lamaran ulang Arga yang berlutut di depanku dengan cincin 10 karat viral di mana-mana. Di Instagram, TikTok, Twitter, semua orang membahasnya. Hastag #ArgaSintaSelamanya trending nomor 1 selama 3 hari berturut-turut.
Tante Mira resmi ditahan di Polda Metro Jaya dengan ancaman hukuman seumur hidup karena pembunuhan berencana. Semua asetnya yang 500 Miliar dari uang asuransi pabrik disita negara dan dikembalikan ke Wijaya Group. Keadilan akhirnya ditegakkan untuk orang tua Arga setelah 10 tahun.
Ayahku, Pak Herman, kini dirawat di kamar VIP terbaik di Rumah Sakit Wijaya Group. Dokter bilang kondisinya membaik pesat karena tidak stres lagi. Dia tidak lagi jadi buronan, namanya sudah bersih di mata hukum dan masyarakat.
Malam setelah konferensi pers, aku dan Arga tidak langsung pulang ke penthouse. Arga membawaku ke sebuah tempat yang sangat spesial.
Mansion keluarga Wijaya di Bandung. Rumah masa kecil Arga.
Rumah itu sangat besar, megah, tapi sudah lama tidak ditinggali sejak orang tuanya meninggal. Debunya tebal, tapi masih terlihat kehangatan keluarga di setiap sudutnya.
"Kenapa Mas bawa saya ke sini?" tanyaku sambil menggandeng tangan Arga yang dingin karena udara Bandung malam itu.
"Karena saya mau lamar kamu lagi dengan benar, bukan di depan wartawan, tapi di tempat di mana orang tua saya dulu tinggal, agar mereka bisa jadi saksi kalau anaknya akhirnya menemukan cinta sejatinya."
Arga membawaku ke taman belakang mansion yang penuh dengan bunga mawar putih. Di tengah taman, ada sebuah meja kecil dengan 2 cangkir teh hangat dan lilin-lilin kecil yang menyala, sudah disiapkan oleh Bibi Sari yang ternyata sudah datang duluan ke Bandung.
Arga melepas jas mahalnya, berlutut lagi di atas rumput yang basah, kali ini tanpa kamera, tanpa wartawan, hanya ada aku, dia, dan bintang-bintang di langit Bandung.
"Sinta Maharani," kata Arga dengan suara yang bergetar, tidak ada lagi nada CEO yang dingin, hanya ada nada seorang pria yang sedang jatuh cinta setengah mati.
"Pertama kali saya lihat kamu di warung gorengan itu, saya pikir kamu hanya gadis miskin yang bisa saya beli dengan uang. Saya sombong, saya kejam, saya pikir semua bisa dibeli dengan 500 juta. Tapi saya salah. Kamu tidak bisa dibeli. Hati kamu tidak bisa dibeli. Dan justru karena itu saya jadi tergila-gila sama kamu."
Air mataku mulai jatuh, aku menutup mulutku dengan tanganku.
"Selama 14 hari menikah sama kamu, kamu ajarin saya banyak hal. Kamu ajarin saya cara tertawa lagi setelah 10 tahun saya lupa cara tertawa sejak orang tua saya meninggal. Kamu ajarin saya cara peduli sama orang lain lagi. Kamu ajarin saya kalau rumah bukan tentang penthouse 50 Miliar, tapi tentang siapa yang ada di dalamnya. Dan saya mau rumah saya selamanya ada kamu di dalamnya."
Arga membuka kotak beludru yang sama, cincin berlian 10 karat itu berkilau terkena cahaya lilin.
"Maukah kamu, Sinta Maharani, menjadi istri saya selamanya? Bukan 1 tahun kontrak, tapi 100 tahun, sampai kita tua, punya anak, punya cucu, dan sampai maut memisahkan kita?"
Aku tidak bisa berkata-kata lagi, aku langsung berlutut juga di depannya dan memeluknya erat sambil menangis bahagia.
"Mau Mas... Sinta mau jadi istri Mas 100 tahun... Sinta mau punya anak sama Mas... Sinta mau tua sama Mas..."
Arga memakaikan cincin itu lagi ke jariku, kali ini dengan tangan yang gemetar karena bahagia, dan menciumku dengan sangat lembut dan dalam di bawah bintang-bintang dan bunga mawar putih. Ciuman yang bukan karena kontrak, bukan karena warisan, tapi karena cinta yang tulus.
Malam itu kami menginap di mansion Bandung, di kamar orang tua Arga dulu. Kami tidur berpelukan tanpa ada lagi jarak, tanpa ada lagi garis bantal.
Pagi harinya, saat kami sarapan di taman bunga itu, ayahku menelepon dengan suara yang panik dan terburu-buru.
"Sinta! Nak! Kamu di mana? Ayah harus bicara penting! Tentang ibumu!"
Ibu? Ibuku sudah meninggal saat aku umur 5 tahun karena sakit, itu yang selalu ayahku ceritakan padaku.
"Kenapa Ayah? Ibu kenapa? Bukannya Ibu sudah meninggal?"
"Tidak Nak... Ibu kamu tidak meninggal... Ibu kamu masih hidup... dan dia... dia adalah orang yang sangat dekat dengan keluarga Wijaya... Ayah harus ketemu kamu dan Arga sekarang juga di rumah sakit!"
Jantungku berhenti berdetak. Apa maksud ayahku ibu masih hidup?
Arga yang mendengar telepon itu langsung berdiri, wajahnya kembali tegang.
"Ayo ke Jakarta sekarang."
Perjalanan Bandung-Jakarta yang biasanya 3 jam, Arga tempuh hanya 1,5 jam dengan kecepatan tinggi.
Di rumah sakit, ayahku sudah menunggu di ruang VIP dengan seorang wanita tua yang aku tidak kenal, wanita itu memakai kebaya mahal dan rambutnya disanggul rapi.
Saat aku masuk, wanita tua itu langsung menangis dan memelukku erat.
"Sinta... anakku... akhirnya Ibu bisa ketemu kamu lagi setelah 17 tahun..."
Aku bingung, aku mendorong pelan wanita itu.
"Maaf Bu... Ibu siapa? Ibu saya sudah meninggal..."
Ayahku menangis dan memegang tanganku.
"Sinta, maafkan Ayah... selama ini Ayah bohong sama kamu... Ibu kamu tidak meninggal karena sakit... Ibu kamu... dia adalah... dia adalah kakak kandung dari almarhumah Ibu Arga..."
Dunia seakan berhenti berputar. Kakak kandung Ibu Arga? Berarti...
"Berarti Ibu saya adalah... Tante kandung Mas Arga?" bisikku dengan suara gemetar.
Wanita tua itu mengangguk sambil menangis.
"Benar Nak... Nama Ibu Rina Wijaya... Ibu adalah kakak sulung keluarga Wijaya... Ibu dan adik Ibu, yang adalah Ibu mertuamu yang sudah meninggal, sangat dekat... Tapi Ibu dulu dijodohkan dengan orang kaya lain dan Ibu menolak karena Ibu hamil kamu hasil cinta Ibu dengan Ayahmu Herman yang hanya sopir... Keluarga Wijaya malu dan mengusir Ibu... Ayahmu bawa Ibu kabur..."
Ayahku melanjutkan dengan suara sesal.
"Setelah kamu umur 5 tahun, keluarga Wijaya menemukan Ibu dan memaksa Ibu kembali ke keluarga karena mau dijodohkan lagi... Ibu menolak dan mereka ancam akan bunuh kamu kalau Ibu tidak pergi... Makanya Ibu terpaksa pergi dan Ayah bilang Ibu meninggal agar kamu tidak cari Ibu... Ibu selama ini tinggal di Singapura, dikurung oleh keluarga... Baru setelah Tante Mira ditangkap, Ibu berani pulang..."
Aku terduduk lemas di lantai rumah sakit. Jadi aku... aku masih keluarga Wijaya? Aku keponakan dari mertuaku sendiri? Darahku masih darah Wijaya?
Arga yang mendengar semua itu juga terkejut bukan main, dia menatap wanita tua itu, Rina Wijaya, dengan tatapan tidak percaya.
"Tante Rina? Tante yang hilang 17 tahun lalu yang Mama bilang meninggal di Singapura?"
Wanita tua itu, Tante Rina, ibuku, mengangguk dan memeluk Arga juga.
"Arga... kamu sudah besar sekarang Nak... mirip sekali dengan Papa kamu... maafkan Tante dulu tidak bisa jaga kamu waktu Papa Mama kamu meninggal karena Tante masih dikurung di Singapura..."
Arga memeluk Tante Rina, ibuku, dengan erat. Air mata yang selama 10 tahun tidak pernah jatuh dari mata CEO kejam itu, akhirnya jatuh juga hari itu.
Jadi inilah rahasia besar yang disimpan ayahku 17 tahun. Ibuku masih hidup dan dia adalah bagian dari keluarga Wijaya.
Aku dan Arga ternyata tidak sedarah, karena Ibu Arga dan Ibuku adalah saudara kandung, tapi Ayah kami berbeda. Jadi kami masih bisa menikah, kami adalah sepupu jauh karena pernikahan, bukan sedarah.
"Jadi Sinta... selama ini kamu adalah... sepupu saya?" tanya Arga dengan suara yang masih terkejut tapi ada senyum lega di wajahnya.
Aku mengangguk dengan air mata bahagia.
"Berarti Mas tidak bisa buang Sinta lagi dong, kan masih keluarga," kataku dengan nada manja.
Arga tertawa, tawa lepas pertama yang aku dengar darinya, tawa yang sangat tampan dan menular.
"Tidak akan pernah saya buang. Justru sekarang saya punya alasan lebih kuat untuk jaga kamu selamanya. Kamu bukan hanya istri saya, kamu juga keluarga saya."
Ibu kandungku, Rina, memelukku dan Arga bersamaan.
"Maafkan Ibu ya Nak, Ibu janji mulai sekarang Ibu akan tebus 17 tahun yang hilang, Ibu akan jadi Ibu yang baik untuk kamu dan menantu yang baik untuk Arga."
Hari itu, di kamar rumah sakit VIP, keluarga yang terpisah 17 tahun karena keserakahan dan gengsi keluarga konglomerat akhirnya berkumpul kembali.
Kebahagiaan yang selama ini terasa mustahil, akhirnya menjadi nyata.
Tapi apakah kebahagiaan ini akan bertahan? Karena di luar rumah sakit, seorang pria misterius dengan jas hitam sedang mengawasi kami dari mobil Alphard hitam, pria yang ternyata adalah tunangan paksa ibuku dulu dari keluarga konglomerat Singapura yang belum pernah merelakan ibuku menikah dengan ayahku.
Dan dia datang untuk mengambil ibuku kembali.
(Bersambung...)